All About You

All About You
Hal Baru



🌹


🌹


"Kalian hampir terlambat!!" Angga dengan raut kesal. Pasalnya, tiga menit lagi pintu keberangkatan di tutup, dan anak juga menantunya datang di saat yang tepat.


"Aku harus menyiapkan banyak hal, Dimitri hari ini pengesahan jabatan di perusahaan, tapi aku nggak bisa nemenin dia karena harus pergi." jawab Rania.


Angga hanya melirik menantunya sekilas.


"Hanya pengesahan biasa, tidak usah dipikirkan. Hanya di hadiri anggota dewan, dan papi." Dimitri menyela.


"Beneran?"


"Iya." pria itu mengangguk.


"Aku merasa nggak enak, kamu lagi ada acara penting tapi aku nggak ada disana."


"Sudah aku bilang nggak apa-apa, kan?"


"Satu menit lagi." Angga menyela.


"Sudah, pergilah sana! perjalanan ke Argentina sangat jauh, ..."


"Baiklah kalau begitu. Aku pergi ya?" pamit Rania, seraya memeluk tubuh suaminya.


"Hati-hati ya, jangan melakukan hal gila, atau aku akan menyeretmu dari lintasan jika kamu berani melakukan hal itu!" Dimitri berbisik, sementara perempuan itu malah tertawa.


"Aku serius." ucap Dimitri lagi, lalu mengurai pelukannya dari tubuh istrinya.


"Udah?" Angga kembali berucap.


"Udah pah, ayo?" jawab Rania.


"Titip Rania, Pah. Dia ..." Dimitri menggantung kata-katanya saat melihat perempuan itu membulatkan kedua bola matanya.


"Mm ... titip Rania." katanya lagi, kemudian berdeham.


Angga hanya menjawabnya dengan mendelikan mata, sebelum akhirnya mereka berjalan memasuki gerbang keberangkatan.


"Hati-hati, Zai." pria itu masih disana.


Rania menoleh sambil melambaikan tangan.


"Jaga dirimu, oke? dan ... anak kita." diakhir kalimat dia berbisik.


Dan perempuan itu menganggukan kepala sambil mengangkat jempolnya keatas sebelum akhirnya mereka menghilang dibalik gerbang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat pagi?" Arfan memulai rapat beberapa menit begitu Dimitri tiba di gedung Nikolai Grup. Setelah mereka sedikit mengulur waktu akibat sang calon pimpinan utama yang harus mengantar istrinya terlebih dahulu ke bandara.


"Saya hanya akan menyampaikan beberapa hal disini, mengenai kepemimpinan dan beberapa hal lainnya. Untuk itu saya meminta perhatian anda semua." pria itu melanjutkan.


"Seperti yang kita ketahui, bahwa posisi saya disini adalah sebagai pengganti pimpinan utama, yaitu bapak Satria Nikolai. Dan akhir bulan ini adalah merupakan masa akhir jabatan saya sebagai pengganti. Maka dari itu, saya akan menyerahkan surat pengunduran diri," seketika saja ruang rapat hari itu berubah riuh. "Bersama dengan surat dan beberapa dokumen laporan masa akhir jabatan yang akan saya serahkan kepada pimpinan yang baru." katanya.


"Saya masih akan menyelesaikan pekerjaan hingga tiba saatnya di akhir bulan nanti, tapi hari ini saya akan menyerahkan jabatan ini secara resmi kepada Bapak Dimitri Alexei Nikolai, yang kita ketahui merupakan putra dari Bapak Satria, yang akan mengambil alih posisi, dan menggantikan beliau di pucuk kepemimpinan Nikolai Grup." suasana semakin riuh saja, dan perhatian semua orang kini tertuju kepada Dimitri.


Mereka sudah mengetahui hal tersebut, bahwa sang putra dari pemimpin tertinggi akan menjadi pengganti berikutnya. Tentu saja, sebagai putra pertama dari keluarga Nikolai, posisi pria itu tak bisa tergeser. Namun tidak ada yang menyangka bahwa hal tersebut akan terjadi secepat ini.


"Maka dari itu, saya mohon kerjasama dari semua pihak untuk membantu beliau menjalankan perusahaan ini, dan membawa kita pada keadaan yang lebih baik lagi. Terimakasih" Arfan mengakhiri pidato singkatnya.


Kemudian serah terima jabatan pun berlangsung, di hadapam semua anggota dewan. Beberapa pimpinan anak perusahaan, dan para pemegang saham yang sengaja di undang dalam acara tersebut.


Disaksikam pula oleh Satria sebagai pemilik perusahaan, Sofia sebagai pemilik 25 persen saham, dan Dygta yang menjadi pemegang masing-masing 10 persen saham bersama Arfan suaminya. Dan segalanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti.


***


"Selamat pak?" Clarra masuk ke ruangan yang kini telah resmi menjadi tempat Dimitri bekerja untuk beberapa tahun kedepan. Mungkin belasan, atau puluhan tahun berikutnya hingga ada pengganti lain setelahnya. Entah itu kedua adiknya, atau mungkin keponakan-keponakannya, yang akan mengambil alih bisnis keluarga ini yang tentunya merupakan tanggung jawab yang sangat besar yang harus dia pikul.


"Diamlah, ... apa kamu yang akan menjadi sekertarisku mulai sekarang?" jawab Dimitri.


"Tentu saja, kecuali jika aku mengundurkan diri dari perusahaan ini, atau kamu mendapatkan sekertaris yang lebih baik dari aku."


"Sombong, ...


"Aku hanya percaya diri, Dimi."


Pria itu hanya mencebik.


"Eh, kok nggak marah?" ucap Clarra sambil terkekeh.


"Apa?"


"Kamu diam saja, padahal biasanya suka protes kalau aku memanggilmu Dimi!" gadis itu tertawa.


"Nggak penting, ucap Dimitri yang kemudian membuka laptop di depannya.


"Serius mau langsung bekerja?" tanya Clarra.


"Memangnya apa yang harus aku lakukan? bukankah memang seharusnya aku bekerja?"


"Ya, ... aku kira kamu masih ingin main-main?"


"Main-main kepalamu! aku ini pemilik perusahaan sekarang, tidak ada namanya main-main."


"Belum. Perusahaan ini masih milik Om Satria,"


"Tapi aku yang memimpin sekarang."


"Yeah, ... memimpin bukan berarti memiliki, Dim."


"Terserah apa katamu!"


"Baiklah, yakin mau bekerja sekarang?"


"Tentu saja, bring it!!" pria itu dengan semangatnya.


"Baklah, hari ini seperti biasa ada beberapa dokumem yang harus kamu tanda tangani, persetujuan atas beberapa proyek yang akan dimulai. Kesepakatan kerja, dan lain-lainnya." Clarra menunjuk tumpukan dokumen di siai meja kerja Dimitri. Yang membuat atasan barunya itu membulatkan mata.


"Sakitnya om Arfan kemarin membuat beberapa hal terbengkalai. Tapi tenang, om Arfan akan segera membereskannya untukmu. Dia tidak akan meninggalkan pekerjaan begitu saja sebelum benar-benar pensiun dari Nikolai Grup."


Dimitri terdiam.


"Setelah makan siang ada pertemuan dengan investor dari Korea Selatan, kemudian klien dari Turki, dan ada beberapa rekanan juga dari Cina yang sudah mengatur perjanjian sejak dua minggu yang lalu. Karena satu dan lain hal, pertemuan dengan mereka selalu diundur." Clarra menyudahi laporan jadwalnya.


"Banyak sekali Cla!" Dimitri menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kamu pikir jabatan ini akan mudah? tidak tuan muda! tanggung jawab dan kewajibanmu lebih besar dari siapapun." Clarra berujar.


"Bisa dikurangi sedikit? kamu akan mengurangi banyak waktu bersama istriku kalau begini caranya."


"Tidak bisa pak. Maaf, pekerjaan kita sedang banyak beberapa bulan ini."


"Aku bisa tumbang seperti om Arfan kalau begini."


"Tidak akan, kamu masih muda, dan harus bisa mengatur waktu dan tubuhmu agar tak tumbang seperti kakak iparmu."


"Tapi Cla??"


"Selamat bekerja Pak? jangan lupa nanti setelah makan siang kita pergi untuk pertemuan pertama, dilanjutkan pertemuan kedua, dan selanjutnya."


"Astaga!! ini bahkan hari pertamaku bekerja, Cla!"


"Memang. Welcome to Nikolai Grup, dan selamat bekerja. SEMANGAT!!" Clarra mengepalkan tangan di udara, gadis yang terpaut usia hampir dua tahun dengannya itu berusaha memberinya semangat sebelum akhirnya dia keluar untuk membiarkan atasan barunya itu bekerja di hari pertamanya.


🌹


🌹


"Makan Ran!" Angga memperhatikan putrinya yang hanya menatap deretan piring berisi makanan khas Argentina di meja. Tepat beberapa jam setelah mereka mendarat di bandar udara imternasional Ushuaia, dan beristirahat di sebuah villa megah yang terletak di kota Tierra Del Fuego, tak jauh dari bandara utama negara itu.


Juga terletak beberpa kilo meter dari Sirkuit Autrodomo Termas De Rio Hondo, sirkuit terkenal di Argentina yang telah melahirkan beberapa pembalap kelas dunia.


"Aku masih kena jetlag, pah. Kepalaku pusing. Penerbangan 35 jam nonstop itu bikin aku hampir gila. Jauh amat ya?" keluh Rania sambil memijit kepalanya yang terasa pening.


"Hmm ... nanti setelah makan kita istirahat lagi deh." ucap Angga yang memulai acara makannya.


"Nih nggak ada nasi apa? orang lapar malah di kasih pastel?" perempuan itu menatap makanan di piringnya yang memang berbentuk pastel.


"Itu empanadas, oneng." sahut Galang yang sejak tadi menyimak obrola ayah dan anak di sampingnya.


"Buat aku kayak pastel. Bentuknya aja gitu?" dia memotong salah satu makanan tersebut yang isiannya kurang lebih sama dengan apa yang dia sebutkan. Irisan sayuran, daging dan bahan lainnya.


"Ini lagi, ada daging tapi nggak dikasih nasi." dia bergidik menatap makanan asing lainnya juga, yang jumlahnya lebih banyak dari yang biasa dia makan.


"Udah ah, aku nggak mau makan." katanya, yang hanya meraih satu wadah salad buah yang dia lihat berada di tengah meja. Yang membuatnya hampir meneteskan air liur sejak tadi. Kemudian membawanya ke kamarnya di lantai atas.


"Biasanya dia paling semangat makan? itu lagi, tumben-tumbenan mau makan buah? biasanya nggak mau kalau nggak di jus." gumam Angga sambil menggelengkan kepala.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


😁😁😁


like komen sama kirim hadiah lagi dong.😘😘