
🌹
🌹
🥀 Flashback On 🥀
Mereka sama-sama tertegun begitu menyadari kehadiran masing-masing. Dimitri yang baru saja menerima telfon dari Clarra mengenai pekerjaan, sementara Amara yang baru saja berdebat dengan Galang, yang malam itu tak dapat memenuhi undangannya untuk datang dan berkumpul bersama keluarganya.
"Bagaimana keadaanmu?" mereka duduk bersisian di gazebo yang berjarak beberapa petak dari rumah bertingkat dua milik Hari. Tempat para pekerja mengumpulkan hasil panen setiap hari.
"Baik. Kakak gimana?" jawab Amara.
"Baik juga."
"Syukurlah."
"Kuliahmu bagaimana?"
"Lancar."
"Hubungan dengam Galang?"
"Baik."
"Baguslah. Tadinya kakak merasa khawatir dengan keadaanmu."
"Nggak usah, aku nggak apa-apa."
"Iya, dan melihat keadaanmu sebaik ini membuat kakak merasa lega."
"Hmm ..." Amara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sebentar lagi kakak jadi papa." Amara menatap wajah pria itu yang kini tampak lebih sumringah.
"Memang, bukankah itu bagus?" Dimitri dengan bangga.
"Yeah, ... keren juga. Mana bayinya kembar lagi?" gadis itu berkelakar, membuat pria di sampingnya tergelak.
"Kamu ada rencana nikah muda juga? sepertinya bagus, apa lagi kalau bisa punya anak kembar. Semakin ramai keluarga kita."
"Nggak, ... masih jauh. Kuliah aja baru setahun, masih banyak banget yang harus aku kejar. Apa lagi kak Galang," jawab Amara.
"Memangnya mau menikah dengan Galang?" Dimitri tertawa lagi.
"Eh, ... nggak tahu deh. Kan baru jadian. Lagian kabarnya udah papi tawarin kerja di Nikolai Grup ya? udah pasti masih jauh banget."
"Oh iya, ... memangnya dia setuju bekerja di Nikolai Grup?"
"Nggak tahu, tapi udah sempet aku larang sih."
"Kok di larang?"
"Nanti kerjanya kayak mesin, nggak tahu waktu, nggak ada jeda juga. Kan sebel."
Pria itu tak dapat menahan tawanya yang terus mengudara, mendengar nada kesal dari suara Amara membuatnya merasa lucu sendiri. Mungkin itulah yang Rania rasakan juga sekarang ini. Sering di tinggal bekerja hingga larut malam, juga di hari libur. Membuatnya sering merasa kesepian.
"Ketawa terus? seneng bener lihat orang menderita?" Amara mendelik.
"Ucapanmu sama seperti Rania. Jika dia terus mengomel, mungkin itu jugalah yang akan dia katakan."
"Ya iyalah, habis kalian tuh kalau kerja kayak nggak ada lagi hal lain di dunia ini selain kerja terus. Masih mending kak Rania nggak bawel kayak aku."
"Hhmmm ... true. Aku beruntung dia nggak terlalu rewel soal pekerjaan. Hanya saja kelakuannya amazing."
"Kakak ngeluh?"
"Bukan ngeluh, cuma bicara."
"Sama aja. Itu kan pilihan kakak, jadi ya terima aja. Kurang lebih nya, baik buruknya, senang susahnya."
"Dari mana asalnya kata-kata seperti itu?"
"Nggak tahu, muncul gitu aja." kini Amara yang tertawa. "Mungkin efek bertambahnya umur."
"Mungkin. Tapi itu bagus."
"Yeah ... Tapi nggak kebayang nanti setelah bayinya lahir bakal gimana?"
"Yang pasti dunia jadi lebih ramai."
"Semakin seru ya? kayak kita dulu waktu kecil."
"Hmm ...
Lalu mereka berdua terdiam.
"Oh iya ..." Dimitri merogoh dompet di saku celananya, kemudian membuka dan menarik sesuatu dari dalam sana.
"Sepertinya kamu yang sekarang harus menyimpannya." dia menyerahkan selembar foto masa kecil mereka. Dirinya, Amara dan dua adik kembarnya yang tengah saling berpelukan.
"Ini foto kita waktu kecil." Amara menatapnya lekat-lekat.
"Iya."
"Kenapa kakak kasih ke aku?"
"Tanpa bermaksud buruk, tapi keadaannya sekarang memang sudah berbeda. Sudah ada Rania dan sebentar lagi kami punya anak. Kakak pikir foto ini nanti akam kakak gatikan dengan foto mereka bertiga." tawa Dimitri terdengar lagi.
"Oh, ...
"Terserah kamu, mau di buang atau bagaimana. Karena kenangannya tidak akan pernah kakak lupa. Masa kecil kita sangat bahagia, bukan?"
"Iya. Tapi nggak akan aku buang, mau aku kasih bingkai, terus aku pajang di rumah."
"Tidak apa-apa?"
"Nggak akan, cuma foto waktu kecil."
"Baiklah kalau begitu. Harus segera kembali ke sana, Rania sedang menunggu kakak." pria itu bangkit.
"Oke."
"Iya, siapa tahu kak Galang nelfon lagi."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, udaranya sangat dingin di sini."
"Oke kak."
Dan pria itupun pergi. Hingga akhirnya setelah beberapa saat Amara pun memutuskan untuk kembali ke dalam rumah, dan dalam perjalanannya itu dia menemukan dompet yang di hafalnya milik Dimitri. Dan pada saat dirinya bermaksud akan memberikannya kepada pria itu, keadaannya benar-benar tidak memungkinkan ketika orang yang di maksud tengah bercengkerama mesra dengan Rania.
🥀 Flashback Off 🥀
Galang masih terdiam setelah Amara selesai bercerita. Memilah, tindakan apa yang mungkin harus dia ambil. Karena menurutnya hal ini memang murni kesalah fahaman semata. Namun tak bisa dia anggap sepele juga, karena di dalamnya melibatkan perasaan, terutama bagi Rania yang nampaknya memang merasa tersinggung dengan apa yang terjadi.
Pemuda itu menghela napas, dan dia mencoba untuk seobjektif mungkin. Tanpa memihak salah satu di antara mereka.
"Kamu cuma nggak ngerti gimana harus bersikap, ditambah kalian memang tumbuh bersama, jadi membuat kamu merasa terbiasa berbuat kayak gitu. Tapi ada yang harus di rubah juga karena sekarang keadaannya berbeda. Udah bukan hak kamu lagi melakukan apa yang kamu lakukan sama Dimitri." katanya, dan dia berusaha untuk setenang mungkin. Meski kenyataannya ada yang mengganjal di hati.
Sebagai seorang laki-laki, dan tentunya menjadi kekasih dari gadis ini yang sama-sama berusaha melupakan cinta lama seperti dirinya memang sulit. Dan pada kenyataannya hal itu terkadang membuat frustasi, di mana mereka selalu bertemu dan bahkan berinteraksi. Seperti dirinya juga dengan Rania.
Tapi memang benar-benar harus ada yang di rubah, tentang cara pandang dan cara bersikap. Karena memang sudah seharusnya begitu.
"Aku nggak menyalahkan kamu, tapi memang terkadang kita masih selalu terbawa perasaan. Dan itu yang paling fatal. Kita nggak tahu keadaan orang lain kayak gimana, makanya harus bisa menjaga diri, dan bisa menjaga perasaan orang lain. Mungkin sedikit menempatkan diri kita sebagai orang lain itu lebih baik, agar kita tahu bagaimana harus bersikap." katanya lagi, dan kali ini lebih serius.
Amara baru saja membuka mulutnya untuk berbicara, namun Galang masih melanjutkan ucapannya.
"Sekali lagi aku nggak berpihak sama siapapun. Rania memang sahabat aku, dan aku tahu gimana dia. Dia hanya melampiaskan kemarahannya, dan itu wajar. Dan kamu juga, yang masih belum benar-benar terbiasa dengan keadaan kayak gini. Makanya kita harus membiasakan diri."
Amara menutup mulutnya rapat-rapat.
"Dan harus jadi pelajaran, lain kali jangan gitu lagi. Ingat, keadaannya udah beda sekarang. oke?" pemuda itu memiringkan kepalanya untuk melihat wajah gadis itu lebih jelas, dan Amara menganggukkan kepalanya.
"Jadi, apa kita udah jelas soal ini?" ucap Galang lagi.
"Udah."
"Kamu akan ingat untuk nggak mengulangi hal yang sama?"
Amara mengangguk lagi.
"Dan aku harap kita bisa saling jaga perasaan. Bukankah kita berusaha untuk move on sama-sama? jadi jangan berbuat hal-hal yang bikin kita gagal move on."
"Iya."
"Ya udah."
"Tapi kalau kakak semalam datang pasti nggak gini kejadiannya."
"Iya, maaf. Soal itu aku yang salah. Kalau aja nggak kecelakaan waktu tracking dan harus di pijit karena kaki aku sempet terkilir mungkin aku bisa datang kayak yang kamu minta. Tapi kan ...
"Apa? kakak jatuh?" Amara terkejut mendengar penuturan Galang.
"Cuma terpeleset, bannya selip jadinya ya ...
"Apa aja yang kena? mana? uda di obatin belum?" gadis itu meraih tangannya, kemudian memeriksa keadaannya.
"Udah nggak apa-apa, semalam kan udah di pijit makanya nggak bisa kesini." Galang menggerak-gerakkan kakinya yang masih terasa sedikit sakit. Namun harus dia paksakan datang untuk memenuhi permintaan Amara.
"Maaf, aku nggak ngerti keadaannya, tapi malah maksa-maksa. Gini deh kejadiannya."
"Nggak apa-apa, yang penting jangan di ulangi lagi."
"Hmm ...
"Ya udah, aku harus pergi sekarang. Tugas dari pak Satria berat nih." pemuda itu bangkit dari duduknya.
"Kakak mau nyari kak Rania juga?"
"Ya iya, orang aku yang tadi antar dia ke terminal."
"Carinya ke mana?"
"Nggak tahu, kan ini baru mau."
"Aku mau ikut boleh?"
"Jangan dulu deh, tar aja kalau udah ketemu. Dan keadaan dia benar-benar tenang. Si oneng kalau marah nyeremin, apa lagi dia lagi hamil. Pak Dimi aja kena pukul."
"Nanti kalau kakak kena pukul juga gimana?"
"Nggak akan. Dia nggak akan berani."
"Masa?"
"Iya. Dia cuma berani mukul sama orang yang dianggap salah, kalau aku kan nggak tahu apa-apa."
Amara terdiam lagi.
"Gitu-gitu juga dia care sama orang, nggak mungkin sembarangan bertindak kalau nggak ada penyebab yang fatal."
"Ya udah."
"Nanti aku kabarin lagi kalau udah ketemu." ucap Galang yang berjalan sedikit tertatih ke arah motornya yang terparkir di halaman.
"Pergi sekarang?" Satria yang tengah bercakap-cakap di teras samping.
"Iya pak, mudah-mudahan nggak terlalu jauh kaburnya." Galang menjawa.
"Hubungi Andra juga, siapa tahu dia sudah dapat kabar."
"Ya pak, saya pamit." ucap Galang lagi, seraya menganggukkan kepala, begitu juga dia lakukan kepada Arfan.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
selamat hari vote, tapi jangan lupa like, komen sama hadiahnya jiga. 😉