All About You

All About You
Ekstrapart #7



*


*


Keduanya tampak sumringah ketika mengetahui jika hari itu dua bayi kembar mereka sudah di izinkan keluar dari ruang perawatan bayi.


Rania bahkan tidak bisa menahan diri sehingga berkali-kali Dimitri harus membujuknya. Walau hasilnya tetap sama saja, perempuan itu semakin merasa tak sabar.


"Ah, ... lama! kita kesana aja yuk?" Rania turun dari tempat tidurnya.


"Sebentar lagi Zai, papi dan papamu sedang menjemput mereka kan?" Dimitri menahannya.


"Tapi mereka lama!"


"Sabarlah sedikit, nanti juga mereka datang."


Rania mendengus sambil mengerucutkan mulutnya, namun tak urung juga dia menuruti ucapan suaminya.


Dan setelah menunggu beberapa saat, dengan perasaan antara kesal, bosan dan sedikit jengah, akhirnya yang di nanti-nanti pun tiba.


Satria dan Angga masuk, dengan masing-masing satu bayi dalam dekapan. Diikuti Sofia dan Maharani juga dokter dan perawat.


"Oh, ... babynya!!" Rania segera mengulurkan tangannya.


"See? kamu tidak sabaran. Padahal tidak selama itu kan?" Dimitri mengoceh.


"Mana babynya mana?" Rania dengan segala ketidak sabarannya. Dia bahkan tak mendengarkan ucapan suaminya.


Angga yang lebih dulu mendekat, lalu dia duduk di tepi ranjang.


"Sini papa! aku mau peluk." Rania meminta kepada sang ayah.


"Tunggu." Angga dengan ragu-ragu.


"Memangnya kamu bisa? papa khawatir, jangan-jangan kamu nggak bisa?" katanya.


"Ck! bisa lah, kalau cuma meluk doang mah." Rania menjawab.


"Tuh kan? cuma meluk doang." Angga mengeratkan pelukannya pada cucu perempuannya.


"Maksud aku, ... bisa lah, papa nggak usah khawatir."


"Hati-hati nih, ini bukan bantal guling yang setiap malam kamu peluk kalau tidur. Terus bisa kamu uyel-uyel kalau kesel." pria itu melirik ke arah menantunya. Dan ucapannya sukses membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan itu tertawa bersamaan.


"Papa ini apaan sih, nggak jelas deh?" Rania bergeser untuk mendapatkan putrinya.


"Tapi bener ya, kamu bisa? kalau nggak bisa, nggak apa-apa biar papa aja yang pegang." Angga tetap mendekap cucunya dengan erat.


"Papa!"


"Iya iya oneng! Tapi hati-hati." namun akhirnya pria itu meyerahkannya juga.


"Uuuhh, ... baby ..." Rania menyentuh pipinya yang begitu lembut.


"Yang ini perempuan kan?" dia kemudian bertanya.


"Iya, ... dia lahir lebih dulu." Angga menjawab.


"Dan dia lahir lima menit kemudian." Satria maju mendekat.


"Oh iya, ..." Ranian menyerahkan bayi perempuannya kepada Dimitri, kemudian dia beralih kepada bayi laki-lakinya saat Satria menyerahkannya.


"Eh, mereka belum kita kasih nama kan ya?"


"Hmm ..." Dimitri menatap bayi mungil dalam dekapannya, dan hatinya semakin menghangat. Apa lagi di tambah dengan si bayi yang berada dalam pelukan istrinya, rasanya lebih luar biasa lagi.


"Aku belum punya nama, kan baru tujuh bulan." perempuan itu mengeluh.


"Kamu sendiri gimana?" dia beralih kepada suaminya.


"Belum juga." Dimitri menggelengkan kepala.


Angga da Satria menghela napas sambil memutar bola matanya bersamaan.


"Tugas kita belum selesai, Pak." Angga berujar.


"Memang, ..." Satria mengamini, kemudian mereka tertawa.


"Ye, malah pada ketawa? bukannya cariin nama buat cucunya?" Rania mengomel.


"Yang sopan Oneng! ini di depan ada mertua kamu!" Angga mencubit hidung putrinya dengan gemas. Dan hal itu membuat Satria dan yang lainnya kembali tertawa.


"Lain kali, kalau dia bicaranya macam-macam, Bapak boleh kok kalau mau pasang lakban di mulutnya. Biar dia bisa jaga ucapannya." Angga beralih kepada besannya.


Dan Satria hanya menganggukkan kepalanya, masih sambil tertawa.


"Apaan? aku kan cuma ngomong doang? nggak bilang macam-mscam kan Pih?" Rania mencari pembelaan kepada ayah mertuanya.


"Jangan di jawab Pak, nanti dia bisa jadi besar kepala." Angga menyela.


"Papa gitu sama anaknya sendiri?"


"Sudah biasa."


Kemudian Rania mencebikkan mulutnya.


"Baik, apa Bu Rania bisa memberikan asinya sekarang?" Dokter menyela percakapan.


"Nyusuin maksudnya, Dokter?" perempuan itu bertanya.


"Iya, ..." sang dokter sambil tersenyum.


"Sudah bisa ya?" Dimitri bereaksi.


"Sudah, dan memang seharusnya sudah di berikan sejak hari pertama lahir. Tapi karena keadaan bayi yang kurang stabil, makanya baru di izinka sekarang."


"Gitu ya? oke." Rania membuka kancing pakaiannya, namun segera di hentikan oleh Dimitri.


"Tunggu Zai." dia memegang tangannya.


"Kenapa? aku kan mau kasih asi sama baby nya?" Rania dengan segala keluguannya.


"Iya, tapi masa mau di depan orang banyak seperti ini?" Dimitri kenatap kedua orang tua dan mertuanya secara bergantian.


"Emangnya kenapa? kan cuma ngasih asi?" ucap Rania.


"Astaga!" Dimitri menepuk kepalanya. Dia lupa bagaimana istrinya ini.


"Sebentar ... umm, ... papi ...


"Tahu, tahu ... kita keluar dulu lah ... sambil mau mikirin nama apa yang bagus buat mereka." Angga mengerti dengan perdebatan di antara anak dan menantunya. Kemudian dua pria yang kini telah menjadi kakek itu keluar dari ruangan tersebut, diikuti dokter yang sudah menyelesaikan pekerjaannya hari itu.


"Terus mama kenapa masih di sini?" Dimitri kepada dua perempuan yang kini telah menjadi nenek.


"Mau bantu Rania lah, sebaiknya kamu minggir." Sofia segera mengambil alih situasi, bersama Maharani yang segera memberi tahu banyak hal kepada Rania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini kita pulangnya kapan sih?" Rania menyerahkan bayi yang terakhir di susui kepada suaminya. Sementara bayi yang satunya lagi sudah Dimitri tidurkan di box khususnya tak jauh dari perempuan itu. Sementara kedua ibu mereka memilih menyusul para kakek yang berada di luar sejak tadi.


"Kalau kamu dan mereka sudah benar pulih." Dimitri hampir meletakkan bayi keduanya di dalam box lainnya.


"Tidak akan, aku hanya ..." namun tanpa sengaja ujung sepatu Dimitri tersandung bagian bawah penyangga box sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, yang membuat dua bayi yang baru saja tidur kembali terbangun.


"Dim!!" Rania bereaksi.


"Maaf, aku tidak sengaja." kemudian dua bayi itu pun menangis bersamaan.


"Ah, kamu!!" Rania menghempaskan punggungnya pada sandaran di belakang.


"Susui lagi saja?" pria itu mengangkat salah satu bayi mereka, kemudian dia serahkan kepda Rania.


"Tapi dua-duanya nangis."


"Ya, ... bergantian saja," ucap pria itu yang meletakan bayi tersebut ke pangkuan istrinya, kemudian dia mengambil bayi yang satunya lagi.


Namun nyatanya mereka tidak berhenti menangis.


"Kenapa dia nggak mau menyusu?" Rania mengeluh ketika bayi dalam dekapannya tidak mau menyesap asinya.


"Aku tidak tahu, coba posisinya di ganti?" Dimitri mencoba menenangkan bayi dalam pelukannya.


"Tetep aja!" keluh Rania lagi.


Dan tangis kedua bayi itu semakin menjadi.


"Mungkin mereka poop?" Dimitri berujar.


"Masa? coba kamu lihat?" Dan Rania menyuruhnya melakukan hal yang paling tidak pernah pria itu bayangkan dalam hidupnya.


"Apa? tidak mau!" Dimitri tentu saja menolak.


"Aku udah lihat yang ini, tapi dia nggak poop. Mungkin dia juga nggak."


"Oh ya?"


"Iya, lihat aja."


Lalu Dimitri melakukan apa yang di katakan oleh istrinya.


"Tidak kelihatan?"


"Terus mereka kenapa?"


"Aku tidak tahu, aku juga tidak berpengalaman dengan bayi."


"Emangnya kamu pikir aku punya pengalaman sama bayi? ya sama aja dong."


"Terus apa yang harus kita lakukan?"


"Ngga tahu, paggil aja suster!"


Dan bersamaan dengan itu, ibu mereka pun kembali dari acara diskusi yang cukup serius itu.


"Ini ada apa?" Sofia lebih dulu masuk.


"Babynya nangis dari tadi." keluh Rania.


"Popoknya basah?" Maharani segers menghampirinya.


"Tadi aku lihat nggak."


"Terus kenapa?"


"Nggak tahu."


"Sudah di coba kamu susui?" Kedua nenek itu sama-sama mengambil alih cucu mereka.


"Udah, tapi nggak mau. Udah gantian juga." jawab Rania.


"Coba susui mereka bersamaan." Maharani dan sofia mengatakan hal yang sama.


"Apa?" Rania dan Dimitri pun beraksi bersamaan.


"Itu yang mama lakukan dulu kalau Darren dan Daryl menangis seperti ini." Sofia mengingat-ingat.


"Iya, waktu Amel dan Adel juga dulu begitu." Maharani mengamini.


"Serius?" Dimitri setengah tidak percaya.


"Dua-duanya gitu barengan?" Rania pun menimpali.


Dan dua perempuam paruh baya di depan mereka pun mengangguk bersamaan.


"Umm ...


"Pasti mereka berhenti menangis." ucap Sofia.


"Tapi ...


"Dari pada mereka menangis terus?" Sambung Maharani.


"Hhh ... ya udah lah, ..." Rania pun menyerah pada akhirnya. Dia mencoba melakukan apa yang di katakan oleh ibu dan mertuanya.


"Jangan masuk!!" Dimitri berteriak ketika ayah dan mertuanya juga turut masuk.


Dia bahkan berlari ke arah pintu, dan mengusir keduanya agar keluar.


"Hey, Dim? apa-apaan ini?" Satria menahan pintu yang hampir di tutup oleh putranya, sementara Angga menjulurkan kepalanya ke dalam.


"Tunggu di luar dulu pih!" pria itu kemudian keluar kamar sambil mendorong ayah dan mertuanya, kemudian menutup pintu rapat-rapat.


"Ini ada apa sih?" Angga tentu saja bereksi karenanya.


"Jangan masuk dulu, bayinya sedang menyusu." katanya, yang berdiri di depan pintu.


"Memangnya kenapa? bukankah itu biasa?" Satria berujar.


"A-apa?"


"Mama mu juga menyusui kalian dulu, dan itu bukan hal besar."


"Ada-ada saja kamu ini." Angga hampir menerobos pintu, namun Dimitri kembali menghalanginya.


"Bagaimana kalau kita ke kafetaria di bawah?" tawar pria itu.


"Apa? kami baru saja dari sana tadi." Satria menjawab.


"Kita kembali lagi ke sana. Temani aku minum kopi." Dimitri segera menarik dua pria yang telah menjadi kakek itu menjauh dari pintu.


Huh, masa mereka juga harus melihat istriku yang sedang menyusui dua bayi sekaligus? enak saja! gumam Dimitri dalam hati.


*


*


*


Hadeh, kang ngomel 🤣🤣🤣


mulai sekarang, setiap malam minggu kita up di sini ya