
🌹
🌹
~ Falshback On ~
"Sebaiknya kita benar-benar mengamankan posisi. Reputasi kita di pertaruhkan sekarang ini."
"Kau benar, aku tidak percaya pembalap baru itu bisa mengejar kita. Tidak mungkin."
"Kita tidak bisa membiarkan orang lain apalagi pembalap baru menjadi juara. Kita sudah sepakat soal itu sejak awal. Posisi empat besar hanya boleh kita kuasai."
"Mungkin kita harus menjalankan rencana awal. Sudah lama tidak melakukannya, bukan? selama ini posisi kita aman-aman saja sebelum gadis dari Indonesia itu muncul. Dan lihat, semua perhatian tertuju kepadanya."
"Martabat negara kita hampir jatuh hanya karena gadis itu."
"Jadi tunggu apa lagi? atur semuanya seperti yang sudah-sudah, dan kita harus kembali mendominasi."
"Baik, kita mulai di Cheznya nanti. Kalau dia tidak menyingkir juga, mungkin harus kita jatuhkan di Argentina."
Ketiga pembalap lainnya menyetujui.
~ Flashback Off ~
"Bagaimana tanggapan anda soal berita semalam?" seorang wartawan bertanya di konferensi pers yang diadakan pagi-pagi sekali. Setelah semakin memanasnya berita tentang insiden terakhir yang kembali mencuat setelah beredarnya video percakapan beberapa pihak.
Rania menatap kerumunan pencari berita yang menunggu jawabannya, dengan puluhan mikrofon di depannya.
"Mm ...
"Itu memang mengejutkan, dan tidak terduga sama sekali. Hanya saja kami memang sedang berusaha mendapatkan keadilan disini." Angga mengambil alih wawancara. Dia segera melesat ke gedung Nikolai Grup begitu tiba di Jakarta setelah Dimitri menelfonnya semalam.
"Benarkah isyu kecurangan itu? apalagi insiden yang menimpa Rania di Argentina." wartawan lainnya melontarkan pertanyaan.
"Kami sedang menyelidiki hal itu," jawab Angga lagi.
"Apakah sudah ada hasilnya?"
"Sejauh ini masih kami simpan. Kami masih menunggu instruksi dari federasi."
"Bagaimana dengan bukti bahwa bukan hanya Rania saja yang mengalami insiden tersebut?"
"Kami sudah menghubungi beberapa pihak dan berdiskusi. Hasilnya tetap menunggu federasi melakukan konfirmasi."
"Apa pihak federasi sudah menghubungi anda?"
"Sudah. Tidak lama setelah balapan berakhir."
"Lalu bagimaimana keputusannya?"
"Mereka masih melakukan penyelidikan"
"Bukankah buktinya sudaj jelas dari video percakapan semalam?"
"Mereka harus melakukan penyelidikan lebih dalam soal itu."
"Apakah Rania akan kembali ke sirkuit jika mereka terbukti bersalah?"
Semua mata tertuju kepadanya yang tetap terdiam.
"Mm ... nggak bisa, soalnya aku lagi ...
"Kami hanya akan menunggu hasil penyelidikan federasi, baru setelahnya akan memutuskan." Dimitri menjawab.
"Baik, kami rasa konferensi pers hari ini cukup." pria itu memutuskan untuk mengakhiri wawancara.
"Tapi pak ...
Namun permintaan wartawan tak mereka indahkan, ketiganya segera meninggalkan tempat tersebut dengan pengawalan ketat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu minggu kemudian ...
"Kami mengutarakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak Ducati secara umum, para sponsor dan semua pihak yang telah dirugikan atas peristiwa ini. Kami pastikan tidak ada campur tangan pihak Superbike di dalamnya. Hal itu terjadi murni sebagai tindakan pribadi pihak pembalap." seorang pria yang diketahui sebagai ketua federasi balapan motor dunia berbicara di depan kamera utama, pada saat telekonferensi internasional di kantor pusat federasi di negara Italia.
"Kami juga meminta maaf kepada para pembalap yang telah dirugikan akibat kecurangan yag dilakukan beberapa orang atas mereka. Sungguh hal ini merupakan hal yang sangat memalukan bagi federasi, dan khusus saya mewakili negara Italia meinta maaf kepada Rania, atas insiden yang terjadi akibat kecurangan pembalap kami. Dan kami menyayangkan hal tersebut. Secara kenegaraan kami meminta maaf atas kesalahan warga negara kami." ucapnya lagi dengan berlapang dada.
"Empat pembalap yang disinyalir melakulan kecurangan telah di diskualifikasi, dan gelar juara mereka dibatalkan. Seluruh hadiah ditarik kembali dan akan diberikan kepada masing-masing yang pantas mendapatkannya. Mereka terkena pinalti dan dilarang mengikuti ajang balapan internasional dimanapun hingga waktu yang tidak ditentukan." semua orang tampak menahan napas sebentar.
"Hukuman harus dijalankan, dan konsekuensi harus diterima. Karena telah berani menodai semangat sportifitas dunia dalam hal ini. Sekali lagi, kami meminta maaf. Dan kepada Rania, secara khusus kami mengundang untuk kembali mengikuti balapan di akhir musim ini. Kami berharap Rania bisa ikut ambil bagian dan menyempurnakan gelar juaranya di Mandalika minggu depan. Terimakasih." pria tersebut mengakhiri pidatonya.
Mereka semua terdiam. Lima orang di dalam ruangan itu sama-sama berkutat dengan pikirannya masing-masing. Antara tidak percaya dan merasa puas. Meski menyayangkan pula bahwa apa yang mereka curigai itu ternyata benar.
"Jadi keputusan kalian bagaimana?" Satria akhirnya buka suara.
"Well, lega juga rasanya. Mereka dapat ganjaran dan Rania mendapatkan keadilan. Begitu juga pembalap yang sebelumnya menjadi korban." Dimitri menyahut.
"Sayang sekali mereka menyia-nyiakan hidup hanya untuk meraih kebanggaan dengan cara yang curang seperti itu. Membuat malu negara, menghancurkan diri sendiri." ujar Satria yang beralih menatap menantunya yang belum bereaksi.
"Kamu mau ikut balapan akhir musim ini Ran?" dia kemudian bertanya.
"Apa? tidak mungkin. Dia kan sedang hamil. Mana bisa balapan?" Angga menjawab.
Rania mendongak, kemudian menatap ayah dan mertuanya secara bergantian. Sebuah harapan tersirat dari pancaran mata dan raut wajahnya.
"Nggak Ran, nggak mungkin." Angga menggelengkan kepala ketika menangkap gelagat tak biasa dari sikap putrinya.
"Jangan coba-coba ya?" ancamnya.
"Tapi ini terakhir, ...
"Nggak."
"Cuma balapan biasa."
"Skill aku bagus, papa tahu sendiri. Dan kondisi aku juga baik."
"Nggak bisa, Nggak mungkin. Kamu mau bikin papa mati berdiri melihat kamu ngebut di lintasan dalam keadaan hamil begini?"
Rania terdiam.
Dia kemudian beralih kepada Dimitri.
"Astaga! perasaanku nggak enak." pria itu bergumam.
"Jangan kasih ijin Dim, kamu tega melihat istri kamu ada di lintasan? bawa badan sendiri aja bahaya, apalagi sambil bawa janin?" Angga mengintimidasi.
"Ah, ... iya. Kalian bener. Aku egois kalau cuma mikirin piala doang. Baiklah ..." Rania dengan raut kecewa yang akhirnya membuat sang ayah mampu bernapas lega.
Dimitri meraih tangannya, dan merematnya dengan lembut. Kemudian Rania menatapnya untuk beberapa lama.
"Apa kamu yakin bisa melakukannya?" Dimitri bertanya.
Rania mengerjap, dan mulutnyan menganga. Dia hampir tak mempercayai pendengarannya.
"Kenapa rasanya aku nggak tega untuk melarangmu ya?" lanjut pria itu yang seketika membuat Angga kembali bereaksi.
"Nggak mungkin Dim!"
"Apa kamu yakin bisa melakukannya?" sekali lagi Dimitri bertanya.
"Apa kamu percaya aku?" Rania balik bertanya.
"Apa kamu bisa menjaga kepercayaan aku?"
Rania terdiam sebentar.
"Hanya jawab aja, apa kamu percaya aku? karena itu yang membuat semua hal berjalan lancar, dan aku bisa melakukannya dengan benar."
"Sekarang cuma kamu satu-satunya yang bisa membuat aku bisa melakukan segala hal, dan kepercayaan kamu akan menguatkan aku."
Dimitri masih menatapnya untuk meyakinkan. Dan kepercayaan itu menguat seiring pandangannya pada wajah perempuan.
"Itu akan membuatmu bahagia bukan? menjalani balapan hingga akhir musim adalah mimpimu. Terlepas dari jadi juara atau tidak?"
Rania menganggukan kepala.
"Then do it! ( maka lakukanlah! )" ucap Dimitri kemudian.
"Beneran?"
Pria itu pun menganggukan kepalanya.
"Kalian gila!" Angga menggeram frustasi.
"Dengan satu syarat, harus ada dokter yang mendampingimu sejak latihan. Dan jika dia menemukan sesuatu, maka kamu tidak boleh pergi."
"Oke!" Rania menghambur kedalam pelukannya. "Aku janji akan baik-baik aja,"
"Ini nggak mungkin beneran kan? kamu nggak mungkin ijinin dia balapan kan?" Angga meyakinkan pendengarannya.
"Dia butuh mentor Pah," Dimitri menjawab protes mertuanya.
"Ah, ... kamu udah ketularan gilanya si oneng!" Angga setengah berteriak karena kesal.
"Pak? masa mau membiarkan menantunya yang hamil balapan? apa kata dunia nanti?" dia beralih kepada Satria. Berharap besan sekaligus pamannya itu akan memghentikan kegilaan ini.
"Memangnya orang-orang sudah tahu Rania hamil ya?" Satria malah bertanya.
"Astaga!"
"Secara teknis belum ada yang tahu selain kita. Lagipula dia masih terlihat normal kan?" Andra menyahut dari belakangnya.
"Lu apaan? lu temen gue Ndra, lu kagak dukung gue?" Angga memutar posisinya menghadap sahabatnya.
Namun Andra hanya menggendikan bahu.
"Kita percayakan saja kepada dokter, kalau setelah observasi kondisi Rania baik, maka kita biarkan dia mengakhiri musim ini. Tapi kalau tidak, kamu harus menurut ya, Rania?" ujar Satria.
"Iya pih." jawab Rania dengan sumringah. Jelas saja, ini adalah hal yang paling diinginkannya.
"Hah? serius?"
"Baik, kalau begitu kasus kita tutup. Andra, siapkan semuanya." Satria bangkit dari duduknya.
"Baik pak."
"Dih, senengnya banyak yang bela." ujar Angga kemudian sambil mendelik kepada putrinya. Namun orang yang dimaksud malah tidak menghiraukannya sama sekali.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
omegaat!! si oneng mau balapan padahal lagi hamil? nggak salah tuh? nggak terkesan maksa?
dih, nggak relate sama kenyataan!!
Biarin, novelku dunia haluku, apapun terserah aku 😜😜 mau yang benar-benar relate dan sesuai keinginan kamu? bikin cerita sendiri! 🤣🤣🤣
cuss lah like kome sama kirim hadiah yang banyak. Keluar dari ranking nih. 🙄
lope lope sekebon cabe 😘😘😘