
🌹
🌹
Arfan terlihat berdiri di teras rumah Lita saat motor milik Galang tiba di pekarangan. Dua muda mudi itu tampak terkejut karena tak menyangka kehadirannya di hari biasa seperti ini.
"Papa?" Amara turun dan segera melepaskan helmnya. "Papa kok ada disini?" katanya yang kemudian mendekat.
Arfan menatap jam di pergelangan tangannya, lalu dia menatap putrinya dan pemuda yang dia kenali sebagai anggota tim crew dari Rania.
"Papa tadi menjemput ke kampus, tapi orang sana mengatakan jika kelas kamu sudah bubar sejak siang." dia menjawab dengan pernyataan.
"Mm ... iya, memang aku pulang jam 1." jawab Amara setelah menoleh kepada Galang yang masih berada di belakangnya.
"Terus kenapa kamu baru sampai rumah sekarang?" Arfan bertanya.
"Mmm .. itu, aku habis ...
"Maaf om, saya nggak ijin dulu bawa Ara." Galang akhirnya maju.
"Hmm ... kamu bawa anak saya pergi kemana?" Arfan beralih kepada Galang dengan wajah datar dan pandangan menyelidik.
"Cuma main Om." jawab Galang tanpa basa-basi.
"Main kemana?" Arfan mengerutkan dahi sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Hanya keliling Om."
"Keliling? definisi main dan keliling itu bisa berarti banyak hal. Dan untuk saya, tidak ada toleransi untuk sebuah pelanggaran." pria itu berujar.
"Nggak aneh-aneh kok pah, cuma keliling aja naik motor, tapi tadi kejauhan sampai ke Pangalengan." Amara menyela, tahu sang ayah sedang bersikap posesif kepadanya kali ini. Karna ini pertama kali dirinya diketahui pulang dengan seorang pemuda.
"Pangalengan? kalian jalan sampai sejauh itu untuk apa?" Arfan menaikan nada suaranya.
"Cuma, ... iseng." jawab Galang sekenanya.
"Iseng?" Arfan bereaksi.
"Mm ... nggak pah, maksudnya bukan gitu tapi ...
"Masuk!" ucap Arfan kepada Amara.
"Tapi pah, aku mau ...
"Masuk Ara, sudah sore." katanya, dengan wajah datar dan tegas.
"Iya, papa." gadis itu tak punya pilihan lain selain menuruti ucapan sang ayah.
"Dan kamu, pulang. Bukankah kamu akan berangkat kr Jeres lusa? seharusnya sudah bersiap dari sekarang." dia beralih kepada Galang.
"Iya Om, maaf."
"Hmm ..." Arfan hanya bergumam, lalu dia membawa sang putri masuk kedalam rumah.
***
"Kamu membuat papa khawatir, kak." Arfan mengikuti Amara hingga ke kamarnya. "Kamu tidak ada di kampus, dan hape kamu sulit dihubungi."
"Iya maaf." gadis itu duduk di pinggir tempat tidur setibanya di dalam kamar.
"Tadinya papa haya mampir setelah ada pekerjaan dengan Dimitri, mau bertemu kamu. Tapi kamu tidak ada."
"Maaf papa." Amara menunduk.
"Tidak apa-apa, lain kali jangan diulangi, oke?" dia berusaha untuk setenang mungkin.
"Oke."
"Ingat, kuliah yang baik, sampai lulus. Sampai kamu bisa meraih apa yang sudah kamu cita-citakan dari awal." katanya, dan dia duduk disamping putrinya.
Amara terdiam.
"Ara?"
"Ya?"
"Kamu berhubungan dengan Galang?" Arfan tanpa basa-basi.
"Nggak."
"Tapi kamu sepertinya dekat dengan Galang?"
"Cuma temenan."
"Temenan?" Arfan terkekeh. "Baru sekarang kamu punya teman dekat laki-laki?" katanya.
"Bukan teman dekat, cuma temenan."
"Tapi kalian sering pergi bersama?"
Amara mendongak. "Papa tahu?"
"Tahu. Kamu kabur ke arena turnamen motorcross waktu pernikahan kak Dim juga papa tahu."
"Hah?"
Arfan mengangguk.
"Ish, ... lupa. Intel papa kan banyak ya?" gadis itu menepuk kepalanya sendiri.
Arfan terkekeh lagi.
"Apapun yang kamu lakukan, jangan sampai menghambat pendidikan, apalagi cita-cita kamu. Karena papa tidak akan mengijinkan itu sama-sekali."
"Nggak kok. Cuma main sesekali, biar nggak terlalu jenuh."
"Yakin?"
"Yakin." Amara mengangguk.
Kini Arfan yang terdiam.
"Papa percaya aku nggak?"
"Kenapa papa harus percaya kamu?"
"Ya karena aku nggak akan berbuat macam-macam."
"Yakin tidak akan berbuat macam-macam?"
"Yakin pah."
"Kalau sudah bertemu teman laki-laki papa jadi tidak yakin."
"Nggak ih, serius."
"Hmm ..
"Aku janji."
Arfan terdiam lagi.
"Jadi jangan galak-galak sama kak Galang." sang putri tergelak. "Kasihan, padahal dia baik."
"Iya."
"Baik tapi mencurigakan."
"Apanya yang mencurigakan?"
"Semuanya. Mana ada anak laki-laki yang mau berteman dengan anak gadis tanpa maksud lain."
"Masa? papa kayanya pengalaman?"
"Hah, ... kamu tidak akan tahu sejauh mana para laki-laki akan mencari cara."
"Hmmm ...
"Untung papa tahu Galang sebagai timnya Rania, jadi gampang kalau ada apa-apa." pria itu bangkit.
"Papa ih, kejauhan mikirnya."
"Tidak ada yang namanya kejauhan, papa cuma mengantisispasi."
"Iya, tapi ini nggak kayak yang papa pikirkan."
"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?"
"Yakin."
"Baiklah, kita lihat saja nanti." pria itu keluar dari kamar anaknya.
🌹
🌹
"Baik, terimakasih atas semuanya, selamat sore." Rania menutup pintu setelah perempuan pegawai apartemen yang biasa membersihkan unit mereka itu pergi.
"Ah, ... tinggal mandi." dia menepukan kedua tangannya sambil menatap meja makan yang sudah di penuhi beberapa macam makanan. Hasil kreasi perempuan tadi, dibantu dirinya yang mencuci dan memotong bahan-bahan yang dia pesan lewat aplikasi online.
Setidaknya dia sudah menyediakan makanan sebelum suaminya tiba sore itu. Dan dia terkekeh mengingat kelakuannya sendiri yang lebih banyak mengacau dari pada membantu.
Rania kemudian memutuskan untuk membersihkan diri.
***
Dimitri tiba pada hampir petang di apartemennya, dengan tas yang hampir dia seret, dan jasnya sudah tak serapi biasanya. Pekerjaan hari itu benar-benar membuat lelah. Dia harus menghadapi beberapa pertemuan dengan klien, bersama Arfan. Lalu menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya di kantor.
"Zai?" dia memanggil saat tak ada yang menyambut kepulangannya.
Ruangan itu tampak sepi namun dia mencium bau masakan yang tidak seperti biasanya. Dimitri berjalan ke arah ruang makan, dan dia heran melihat meja makannya yang sudah terhidang beberapa jenis makanan. Ada daging, campuran sayuran, dan pendamping lainnya. Bahkan ada juga kerupuk yang pernah dia lihat sewaktu makan bersama di rumah mertuanya.
"Dia masak?" pria itu mendekati meja.
"Zai, kamu bisa masak?" dia berteriak lagi, kemudian tertawa.
Rania tidak menjawab, membuat Dimitri berusaha mencarinya kedalam kamar mereka yang juga sepi. Hanya terdengar suara air yang mengalir, perkiraan dari shower di dalam kamar mandi yang terletak di ujung ruang ganti mereka.
Dimitri menempelkan kedua tangan dan telinganya di pintu, "Zai, kamu di dalam?" dia bertanya.
"Hmmm ..." terdengar suara Rania bergumam.
"Oke." dia memundurkan kepalanya, namun posisi kedua tangannya membuat pintu kamar mandi yang tidak dikunci membuat benda itu perlahan terbuka.
Dan tampaklah Rania yang berada di bawah shower dalam keadaan telanjang. Berdiri memunggunginya, dan membilas dirinya dengan air yang mengalir.
Dimitri menarik kembali pintu, lalu mundur dan berbalik saat pikirannya dipenuhi ide yang sangat cemerlang. Dia melepaskan seluruh pakaiannya dan membiarkannya jatuh berserakan dilantai, lalu masuk kedalam kamar mandi dimana perempuan itu berada.
Segera saja dia menghimpit Rania diantara dinding kamar mandi dan kedua tangannya. Membuat kulit hangatnya, dan kulit basah nan dingin milik Rania bersentuhan.
Perempuan itu tentu saja terkejut, dan dia hampir menjerit karenanya.
"Sore-sore begini mandinya air dingin?" Dimitri memeluk pinggangnya dari belakang.
"Ngagetin aja! biar seger, habis bantuin si bibi masak tadi." jawab Rania.
"Masak?" pria itu menundukan wajahnya.
"Hu'um." Rania menganggukan kepala.
Tangan basah Dimitri menarik wajahnya hingga dia dapat meraih bibir kemerahan milik Rania. Menyesapnya seolah dia ingin menghabiskannya, lalu melum*tnya untuk merasainya seperti biasa. Sementara tangan yang lainnya sudah menjelajah setiap lekuk tubuh perempuan itu.
"Mmm ... aku udahan mandinya," Rania melepaskan cumbuan.
"Aku belum." namun Dimitri berusaha melanjutkan.
"Tapi aku ... ah, ..." dia menggigil saat sentuhan pria itu turun ke pusat tubuhnya. Mencari titik paling lemahnya, dan segera saja dia melancarkan serangannya.
Napas Rania memburu cepat, membuat dada indahnya naik turun menggoda, dan Dimitri merasa tidak tahan untuk menyentuhnya. Mengusapnya perlahan, merematnya dengan lembut, dan mempermainkan puncak dadanya yang sudah mencuat.
Dimitri dengan mudah membalikan tubuh Rania, lalu menatap wajahnya sebentar yang sudah tampak berharap. Hasrat sudah menguasai perempuan itu karena godaannya.
Dia kemudian kembali meraih bibirnya yang bergetar, memagutnya dengan penuh gairah dan melanjutkan sentuhannya.
Dia menyusuri wajah Rania, kemudian turun ke leher jenjangnya. Mengecup dan menjilat tulang selangkanya yang menggoda, menyesapnya dengan keras sehingga meninggalkan bekas kemerahan disana.
Rania semakin gelisah saat ciuman Dimitri semakin turun menyusuri dadanya, mengecupi perut ratanya, dan akhirnya dia berjongkok dengan kedua lututnya bertumpu di lantai kamar mandi. Dan Rania menahan napasnya saat wajah Dimitri tiba di depan pusat tubuhnya.
Pria itu mendongak sebentar, kembali menatap wajah Rania yang begitu terlihat mempesona dari bawah sini. Dimitri kembali menyentuhnya dan segera membuat perempuan itu hilang akal. Dia mengerang keras saat Dimitri bermain-main disana.
Rania bahkan memekik ketika merasakan sentuhan lain pada miliknya, saat lidah Dimitri menerobos kedalam sana dan dia benar-benar membuatnya gila.
Tubuhnya semakin menggigil, antara kedinginan dan hasrat yang semakin bergejolak minta di puaskan.
"Oh sayang, ..." Rania meremat rambut basah Dimitri dengan tidak sabar saat pelepasan hampir menggulung seluruh indera di tubuhnya.
Namun pria itu tampak tak akan menghentikan aksinya. Dia malah menambah dengan permainan tangannya yang semakin membuat Rania kehilangan kendali pada tubuhnya. Dan pertahanannya rubuh seketika saat dia mendapatkan kl*maks pertamanya petang itu.
Tubuh Rania hampir saja ambruk ketika Dimitri menangkapnya disaat yang bersamaan. Kemudian membawanya keluar dari kamar mandi, untuk meneruskan pergumulan mereka di tempat tidur.
"Ah, Dimi!" Rania mengerang saat merasakan naga ajaib milik Dimitri menerobos inti tubuhnya. Dan dia segera menghentak tanpa menunggu untuk menyesuaikan diri. Hasratpun telah menguasai akal dan pikirannya sejak pertama kali dia menatap tubuh polos Rania, dan setiap detikpun dia memang selalu merasa begitu.
"Panggil aku sayang," ucap Dimitri dalam geraman rendah, lalu dia menggigit gemas telinga Rania saat merasakan miliknya di cengkeram kuat dibawah sana.
"Nghh ..." perempuan itu menggeliat, dan hasratnya kembali naik seiring dengan pertautan tubuh keduanya yang semakin tak terkendali.
"Sayang, ... just say it!" bisik Dimitri lagi di sela hujamannya pada Rania.
"Sayang!" ucap perempuan itu dengan kedua tangannya yang menggapai-gapai tubuh diatasnya.
"Say it!" Dimitri terus menghentak dan menyentuh setiap bagian sensitif di tubuhnya.
"Sayang!!" Rania setengah merengek, saat setelah beberapa lama merasa hujaman keras pria itu semakin mengobrak-abrik bagian paling dalam dari tubuhnya, dan dia sudah merasa tak tahan lagi.
Dan tubuhnya menggeliat-geliat tak karuan dengan erangan dan des*han yang semakin keras mengudara.
Dimitri mempercapat hentakannya saat merasakan bagian di bawah sana berdenyut kencang dan mengetat kuat, dan tubuh Rania melengkung indah diikuti lenguhan panjang saat pelepasan menghantamnya tanpa ampun. Dan pada saat yang bersamaan hal itu terjadi pula pada dirinya. Dia menekan pinggulnya begitu kerasa saat sesuatu menyembur di dalam Rania.
🌹
🌹
🌹
Selamat malam Minggu...🤣🤣🤣