
*
*
Rania terbangun karena suara gaduh di sekitarnya. Dahinya mengernyit kala cahaya terang dari lampu di langit-langit kamar menerpa matanya. Kemudian kepalanya bergerak perlahan ke asal suara yang di dengarnya. Tampak kedua mertuanya yang sepertinya baru saja tiba.
Dia sedikit mengerang ketika merasakan sakit di bagian perut ke bawah, dan tubuhnya yang terasa remuk. Bahkan setelah mengalami kecelakaan saat mengendarai motornya pun tidak separah ini.
"Oh, Rania! Sayangku! kamu berhasil nak!" Sofia segera menghambur menghampirinya.
"Maaf, kami baru saja turun dari peswat dan segera ke sini. Pesan Dimitri kami terima begitu sampai di bandara." sambung Satria, lalu mereka memeluknya bergantian.
Sofia bahkan menciumi dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Perasaannya tentu saja bahagia begitu mengetahui menantunya tersebut berhasil menjalani proses persalinannya dengan lancar, walau ada sedikit drama yang mengiringinya.
"Umm, ... Dimitri ...
"Dimitri sedang di ruang bayi, dia melihat bayi kalian." Maharani memberitahukan.
"Bayinya nggak apa-apa?" tanya Rania dengan suara lemah.
"Tidak apa-apa, hanya membutuhkan sedikit perawatan khusus karena lahir sebelum waktunya." Maharani menjawab lagi.
"Mereka prematur?" perempuan itu hampir menangis.
"Nggak, mereka baik-baik saja, hanya membutuhkan sedikit perawatan."
"Mama nggak bohong?" Rania mendongak ke arah ibunya.
"Ya nggak lah, kenapa mama harus bohong?"
Setelah itu pintu pun terbuka, dan sosok Dimitri masuk bersama Angga. Dua pria itu baru saja memastikan keadaan bayi yang dini hari tadi Rania lahirkan.
Kedua orang tuanya menyambutnya dengan suka cita, memeluknya erat-erat dan mengucapkan selamat kepadanya.
Kemudian dia menghampiri Rania yang tetap berbaring di tempat tidurnya.
"Are you oke, Zai?" Dimitri duduk di sisinya.
Sebelah tangannya terulur untuk merangkul pundaknya.
"Hmm ..."
"Bercanda ya? bagaimana bisa oke setelah melahirkan dua bayi sekaligus? kamu ini ada-ada saja." Sofia memutar bola matanya.
"Hanya bertanya, Mom." Dimitri menjawab.
Pria itu menatap Rania sambil tersenyum, kemudian memeluk dan mencium keningnya dengan penuh cinta. Tentu saja perasaannya kini bertambah besar, apa lagi setelah bersama-sama melewati saat-saat paling luar biasa sekaligus menakutkan dalam hidupnya.
"Thank you." bisiknya, dan dia memeluknya dengan erat.
"Karena sudah melahirkan keturunanku, dan menjadi ibu dari anak-anakku." katanya, seraya membenamkan wajah Rania dalam pelukannya.
Perempuan itu tak menjawab, tapi isakan terdengar keluar dari mulutnya.
"Kamu menangis!" Dimitri membingkai kepala Rania, lalu melihat wajahnya.
"Anak kita nggak apa-apa kan? mereka baik-baik aja kan?" Perempuan itu kemudian menanyakan hal yang sama kepadanya.
"Tentu mereka baik-baik saja, mereka hanya perlu mendapatkan perawatan khusus sebentar. Hanya beberapa hari." jawab Dimitri.
"Karena lahir sebelum waktunya ya?"
"Kurang lebih begitu."
Isakan Rania menjadi semakin keras.
"Hey, hey ... they're oke. Mereka tidak apa-apa."
"Terus kenapa?"
"Dia pikir mama bohong." Maharani bereaksi.
"Mereka tidak apa-apa Zai, aku serius. percayalah."
Rania masih terisak.
"Tidak percaya? nanti aku akan membawamu melihat mereka ya?"
"Beneran?" perempuan itu mendongak dan dia berhenti menangis.
"Ya." Dimitri meyakinkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan di sinilah mereka, menatap dua bayi mungil, buah hati mereka yang tengah terlelap di dalam boxnya. Hanya di balut selembar kain dan di pakaikan topi kecil, tapi mereka terlihat menggemaskan.
Rasanya tidak dapat di gambarkan dengan kata-kata, dan mereka tak bisa menahan air mata karenanya.
"Mereka lucu ya?" Rania yang duduk di kursi rodanya, menatap ke dalam dua box bening itu secara bergantian.
"Sekarang aku tahu gimana perasaan mama dan papa. Dan cara mereka lahir membuatnya jadi lebih istimewa lagi." Rania menyeka pipinya yang basah.
"Kamu benar Zai." Dimitri mengamini.
"Belum bisa di gendong ya?" Rania menoleh kepada parawat jaga di dekat pintu.
"Sayangnya belum bisa bu, mungkin sekitar dua hari lagi." jawab perawat tersebut.
"Hmmm ..." Rania dengan raut kecewa.
"Hanya dua hari Zai, dan setelah itu kita bisa memeluk mereka sepuas hati." Dimitri dengan penghiburannya.
"Tapi mereka belum di beri nama kan?" Rania mendongak ke arahnya.
"Nanti kita pikirkan, atau minta papi memberi nama."
"Papa juga bisa. Nama dari papa juga bagus-bagus."
"Iya, tapi sekarang kita kembali dulu ke kamarmu ya? harus istirahat lagi. Agar lusa mereka di bawa, kamu sudah benar-benar pulih.
"Apa harus? aku mau di sini aja, suasananya enak. Mana wangi bayi lagi." Rania merengek.
"Kita harus kembali Zai."
"Sebentar lagi ya?"
"Waktunya sudah habis."
"Tapi Dim, ...
"Besok pagi kita lihat lagi oke?" Dimitri mendorong kursi rodanya ke arah luar.
"Tapi ...
"Aku janji."
*
*
*
Masih mau? 😆😆