
🌹
🌹
"Ya, halo?" Dimitri menjawab panggilan telfon pada ponsel Rania yang terus berbunyi sedari tadi.
"Rania mana, udah bangun?" Angga bertanya dari seberang.
"Ada, mmm ... sedang mandi pah." jawab Dimitri, mencoba untuk setenang mungkin.
"Tolong tanya, mau berangkat bareng kita atau gimana? kalau mau bareng, kita tunggu dirumah." ucap Angga.
"Mm ... duluan saja tidak apa-apa, Rania biar saya yang antar, sekalian ada keperluan juga ke Jakarta." jawab Dimitri lagi.
"Gitu ya? baiklah. Kita duluan kalau begitu."
"I-iya pah." Dimitri meletakan ponsel di pinggir bantal setelah mengakhiri panggilan. Lalu kembali melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda.
"Ngh ... siapa ... itu tadi?" Rania menahan erangan ketika pria diatas melanjutnya hentakannya.
"Papamu." Dimitri kembali menyentuh tubuh di bawahnya.
"Bilang apa?" Rania menggeliat.
"Cuma tanya." Dimitri menenggrlamkan eajahnya di belahan dada Rania.
"Tanya apa?"
Pria itu tak menjawab, dia sibuk melahap buah dada kenyal milik Rania.
"Uuuhhh, ... cepetan, nanti aku ketinggalan pesawat." keluh Rania dengan tidak sabar, klim*ks hampir diujung, namun Dimitri tampak belum akan menyudahi pergumulan ini.
"Diamlah Zai, sedikit lagi." pria itu kembali membungkam mulut Rania, sementara bagian bawah tubuhnya menghentak semakin cepat. Dan setelah sekian menit kemudian segalanya berakhir ketika keduanya mencapai pelepasan bersama.
***
"Kalian hampir membuat kita ketinggalan pesawat!" omel Angga ketika anak dan menantunyan tiba di depan pintu keberangkatan.
"Macet." Dimitri menjawab dengan napas terengah-engah setelah berlari dari pintu deoan hingga ke gerbang keberangkatan dimana Angga bersama anak buahnya menunggu.
"Udah tahu macet bukanya berangkat pagi-pagi." pria itu berujar.
"Iya, maaf."
Lalu terdengar pengumuman dari pengeras suara bandara, memanggil penumpang berikutnya menuju Spanyol.
"Cepat-cepat." Angga menggiring semua anak buahnya untuk segera pergi.
"Oke, hati-hati disana ya?" Dimitri memegang kedua pundak Rania.
"Hu'um ..." perempuan itu mengangguk.
"Fokus saja pada balapannya, jangan ingat aku."
"Pesan yang aneh."
Dimitri tertawa.
"Kamu nggak akan nyusul?"
"Nggak janji. Tapi mudah-mudahan bisa."
"Baiklah."
"Jadilah juara, dan bawa pulang thropy nya untukku."
"Oke, tunggu aja."
"Baik, sementara itu aku akan menyiapkan hadiah untukmu."
"Hadiah apa?"
"Itu rahasia."
"Dih, main rahasia-rahasiaan."
"Karena aku suka."
"Terserah deh."
"Sudah, sana cepat pergi, atau papamu akan memarahiku lagi." Dimitri mengusap puncak kepalanya.
"Oke, aku pergi. Bye."
"Bye."
Lalu Rania melangkah ke arah keberangkatan, namun Dimitri menariknya kembali.
"Apa lagi!!"
Pria itu mengecup bibirnya untuk beberpa saat, kemudian memeluknya begitu erat.
"Oh, ... kamu belum pergi, tapi aku sudah sangat rindu."
Rania tak menjawab. Dia sibuk menenangkan debaran di dada yang selalu menggila setiap kali Dimitri memperlakukannya seperti itu.
"Sekarang pergilah, papamu menunggu." pria itu melirik ke arah depan dimana Angga menjadi orang yang terakhir menunggu di depan pintu keberangkatan. Pria itu memutar bola mata menyimak interaksi diantara anak dan menantunya tersebut.
"Ini tadi mau pergi, tapi kamu nahan-nahan aku terus."
"Aku tahu, maafkan aku." Dimitri tertawa lagi.
"Aku pergi ya? jangan kangen." Rania berjalan menjauh, sesekali dia menoleh kepada suaminya yang masih berdiri disana menunggu hingga dirinya menghilang dibalik pintu keberangkatan.
🌹
🌹
"Dim, aku disini hey!" dua orang pria seumuran dirinya berdiri di pintu kedatangan sesaat setelah Rania memasuki pesawat dan lepas landas menuju negara Spanyol.
"Ya ya," Dimitri berlari menghampiri dua sahabatnya yang baru saja tiba dari Rusia.
"Apa kabar Bro?! kalian hanya berdua saja?" mereka saling berangkulan.
"Para crew sudah lebih dulu pergi ke hotel."
"Baiklah."
"Mana istrimu? aku dengar dia akan pergi ke Spanyol untuk balapan lagi?"
"Yah, ... kami kurang beruntung. Tidak bisa bertemu pembalap wanita sekeren istrimu." sela Jacob.
"Apa itu sebuah pujian, atau gombalan?" Dimitri tampak tidak senang.
"Hanya memuji." Jacob tertawa. "Tenang, bro." dia merangkul pundak sahabatnya. "Kau terlihat mengerikan kalau cemburu, dan aku baru melihatmu seperti ini." dia tertawa lagi.
Dimitri mendengus kasar.
"Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini. Aku kira kau akan melanjutkan hubungamu dengan Irina." sela Nick, dan mereka mulai berjalan.
"Ish, ... jangan sebut-sebut nama dia lagi lah, telingaku sakit mendengar namanya disebut." protes Dimitri.
"Kau keterlaluan!" Jacob menepuk belakang kepalanya.
"Hey, hentikanlah!"
"Aku bertemu dengannya minggu lalu di Hawaii, dan kabarnya dia ada tour di sini?"
"Benarkah? kapan?"
"Entah. Dia bertanya soal kau. Dia juga tahu kau sudah menikah."
"Oh, ... baguslah."
"Kalian memang tidak pernah punya hubungan apa-apa selain have funn ya?"
"Tentu saja tidak, kalian tahu bagaimana aku."
"Yeah, ... tapi kau tahu-tahu menikah dengan orang yang tidak pernah kami duga."
"Yeah, ... itu hal yang aneh." Dimitri tertawa.
"Kau di jodohkan?"
"Tidak."
"Serius? biasanya perjodohan selalu terjadi di keluarga sepertimu."
"Tidak. Hanya jalannya saja seperti itu. Aku juga tidak menduganya sama sekali."
"Well, its good to know that. Itu berarti kau akan baik-baik saja."
"Tentu saja, memangnya apa yang mungkin terjadi?"
"I don't know, tapi setidaknya kau sudah bahagia dengan hidupmu."
"Yeah, ... im happy with that."
"Hmm ...
"Oke, jadi kemana aku harus mengantar kalian sebelum show?"
"Ke hotel sajalah. Show kami dimulai nanti malam."
"Baiklah."
"Kau akan datang bro?"
"Tidak janji. Hari ini aku ada banyak pertemuan, kemungkinan sore harus pulang ke Bandung karena besoknya ada janji mengantar adik iparku untuk seleksi timnas."
"Wah wah, ... kakak ipar yang baik."
"Begitulah, ...
"Bagus bagus ..." merekapun keluar dari area bandara.
🌹
🌹
"Kakak, udah sampai belum?" sebuah pesan dari nomor Amara masuk begitu Galang menyalakan ponselnya, dan mengatur mode internet pada jaringan hotel yang tersedia beberapa saat setelah dia tiba di hotel tempatnya menginap bersama beberapa tim otomotif peserta Grand Prix lainnya.
"Apaan?" pemuda itu bergumam sambil mengerutkan dahi. Pesan tersebut dikirim dua jam yang lalu.
"Kenapa tiba-tiba dia jadi ngeselin kayak gini?" gumamnya lagi, lalu meletakan ponselnya di nakas.
Ponselnya kembali berbunyi, dan Galang melihatnya dengan malas. Tampak Kontak Amara memanggil.
Hhhh, ... mau apa dia itu ya? bikin gue galau deh ah!! keluh di dalam hatinya.
"Kakak udah sampai?" tanya Amara dari seberang.
"Udah, Ara." Galang akhirnya menjawab.
"Gimana disana?"
"Biasa aja."
"Katanya kota-kota di Spanyol indah. Kakak ada di bagian mananya?"
"Aku di Jerez. Bagian selatannya. Tempat disini memamg bagus." dia menatap keluar jendela dimana pemandangan indah terlihat. Bangunan-bangunan unik dengan penerangan khas menjadi andalannya.
Indah, seindah kamu. Eh, ... dia memgeritkan dahi.
"Kakak mau istirahat?" ucap Amara dari seberang.
"Iya Ara. Baru banget turun dari pesawat ini." Galang melirik jam digital diatas nakas. Waktu memang sudah lewat tengah malam di kota itu.
"Ya udah, udahan dulu."
"Hmm ..." lalu percakapan itupun berakhir.
Ni anak kenapa tiba-tiba gini ya? nggak ngerti deh. pemuda itu menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, lalu memejamkan mata. Mencoba menepis perasaan yang tiba-tiba saja hadir di dalam hatinya. Seiring dengan keadaan yang mulai berubah diantara dirinya dan Amara.
Dan dia benci keadaan ini, takut sesuatu berjalan tak sesuai dengan keinginannya lagi.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
udah hari Senin aja lagi ya? mau minta vote boleh? sekalian like komem sama hadiahnya juga, biar afdol gitu. ðŸ¤ðŸ¤