
🌹
🌹
Rania melesat seperti biasa, dia seperti terbang diatas tunggangannya yang tangguh dan semakin tak terkalahkan, meninggalkan rival-rivalnya jauh di belakang.
Posisinya tak dapat di kejar lagi dan dia semakin mengukuhkan diri sebagai yamg paling unggul hari itu.
"Jaga kecepatan Ran, lintasannya mulai basah lagi." suara Angga terdengar lagi dari seberang sana.
Udara memang semakin dingin dan salju mulai berjatuhan. Membuat lintasan mulai terasa licin.
Seorang petugas di menara melambaikan bendera kuning tanda balapan harus dijeda.
"Ke pitstop Ran, kita ganti ban." ucap Angga lagi.
Rania menurut, setelah menyelesaikan satu putaran dia berhenti di pitstop area, sama halnya seperti pembalap lainnya.
Dengan cepat para crew menghampiri, dan dalam hitungan detik mereka telah mengganti sepasang ban motor dengan ban khusus untuk digunakan di lintasan bersalju.
Bendera di menara dilambaikan lagi tanda balapan harus kembali dimulai, dan para peserta balap segera melesat kembali ke lintasan.
Ini hal baru baginya, dan bagaimana hal tersebut membuatnya cukup merasa gugup. Sesekali mesin beroda duanya itu bergetar dan menimbulkan gesekan antara aspal basah dan ban motornya.
"Papa!" Rania berteriak, saat merasakan kondisi lintasan tak baik-bak saja.
"Tenang Ran." sang ayah menyahut. "Stabilkan kecepatan!" katanya, dan dia menatap layar monitor yang menayangkan kondisi lintasan dari kamera yang terpasang di depan dan belakang motor tunggangan putrinya.
"Bertahan, hanya tiga lap lagi." lanjutnya.
Dan Rania kembali menurut.
Beberapa pembalap di belakang dengan gigih mengejar ketertinggalan. Tidak terkecuali tiga diantaranya juara dunia superbike tahun lalu. Tentu saja mereka meihat ini sebagai kelemahan Rania, gadis itu belum pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Jarak mereka hanya tinggal beberapa meter saja, menanti dengan sabar saat-saat Rania lengah dan membuka kesempatan bagi ketiganya untuk menyelinap.
Dua lap terakhir mereka lewati, dan ketiganya berhasil menyusul Rania. Membuatnya kini berada di urutan ke empat.
"Papa? apa aku harus menyusul mereka?" Rania berteriak kepada sang ayah.
"Itu artinya kamu harus menambah kecepatan Ran."
"Terus aku harus gimana?"
"Papa nggak mau ambil resiko. Karena sama saja seperti membahayakan diri sendiri."
"Tapi pah, aku di posisi empat."
"Nggak apa-apa, tinggal satu lap lagi, kita nggak punya banyak waktu untuk menyusul. Resikonya terlalu besar."
"Tapi Pah?"
"Dengarkan papa nak."
"Papa nggak percaya aku?"
"Papa hanya Nggak mau kamu ambil resiko. Terlalu berbahaya."
"Gimana kalau aku ambil resiko itu?"
"Jangan nak! nggak apa-apa sekali ini di posiai empat. Kamu udah berusaha."
"Oke." Rania sekuat tenaga menahan diri.
Namun pada faktanya hatinya terasa panas, ketika garis finish sudah terlihat di kejauhan, dan tiga pembalap di depan tampak merasa diatas angin karena telah merebut posisinya kembali. Rania tak bisa menyerah begitu saja, dan dia merasa harus berusaha hingga akhir.
"Yeah, ... dalam mimpi kalian saja!" teriaknya, yang kemudian menambah kecepatan hingga di ujung saat dia melihat celah yang terbuka. Dan Ducati Panigale merahnya segera melesat bagai kilat menyambar di udara dengan hitungan sepersekian detik melewati tiga pembalap sekaligus. Dan segera mencapai garis finish sebagai juara pertama hari itu.
Lagi-lagi dia membuat hampir 160.000 orang penonton di sirkuit Benteng Grozny Autrodom, Chechnya menahan napas serentak.
Angga bahkan merasakan hampir tak sadarkan diri saat melihat putrinya lagi-lagi tak menghiraukan peringatannya.
"RANIAAAA!!!"
🌹
🌹
Dimitri segera meluncur ke area sirkuit begitu pesawat yang ditumpanginya mendarat di bandara Grozny, tak jauh dari salah satu sirkuit kebanggaan Rusia tersebut. Beberapa saat sebelum salju turun lebat di kota tersebut.
Dia memilih untuk menonton dari area atas, sengaja memilih tempat yang tak mampu dijangkau oleh gadis itu untuk membuatnya bisa tetap fokus pada balapannya.
Dimitri meyakini jika kehadirannya pada saat seperti ini mungkin saja akan membuat fokus Rania terganggu. Ingat perdebatan mereka saat terakhir kali perpisahan di bandara Jerman. Menjadikannya datang diam-diam tanpa diketahui gadis itu.
Dia bahkan menunggu dengan sabar hingga balapan selesai dan segala selebrasi kemenangan juga wawancara berlangsung hingga akhir. Walau hatinya sangat merasa tidak sabar, apalagi setelah melihat performa spektakuler gadis itu yang membuatnya berkali-kali menahan napas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tadi itu gila Ran!" Galang mensejarari langkahnya setelah menyelesaikan wawancara dengan media internasional.
"Tapi menang kan?"
"Iya, tapi bahaya. Kamu bisa aja tergelincir."
"Tapi nggak kan?"
"Iya, Tapinya...
"Kasus ditutup."
"Dih?"
"Jangan ngomel lagi, udah cukup aku tadi diomelin sama papa."
"Ya habisnya kamu keras kepala sih?"
"Kan udah tahu."
"Iya sih, tapi tetep aja."
Rania mencebikan mulutnya. Lalu dia mengedarkan pandangan saat lagi-lagi tak menemukan wajah Dimitri dalam perjalanannya melewati lorong. Biasanya pria itu akan muncul tiba-tiba dengan ssnyuman khasnya dan segera menghambur memeluknya.
Kok aku kangen ya?
Kamu tahu nggak, kalau aku juara.
Aku udah kerja keras lho, tapi sayangnya kamu nggak ada.
Kamu marah ya, setelah yang kemarin itu?
Hari Ini kamu nonton balapannya nggak?
ah, aku lupa. kamu kan sibuk?
Namun gadis itu menghentikan langkah ketika seorang pria berdiri dalam jarak lima meter di depan, dengan senyuman khasnya, dia memasukan kedua tangannya kedalam saku mantelnya dan tampak menunggu.
"Hey, juara?" sapa Dimitri kepadanya.
Rania tertegun dengan dada bergemuruh. Hatinya bergejolak, dan jantungnya berdebar hebat. Dia merasakan sesuatu yang besar menguasai perasaannya. Yang kemudian membuatnya segera berlari dan melompat ke pelukan pria itu.
"Oh, hey... apa kabar? kamu baik-baik saja?" Dimitri menyambutnya.
Rania tak menjawab, namun malah mengeratkan pelukannya. Dimitri bahkan sampai mengangkat tubuh kecil gadis itu dan membalas pelukannya lebih erat.
Dimitri menarik kepalanya agar bisa menatap wajah Rania dari dekat. Kemudian menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya.
"Are you oke?" dia bertanya.
Jantungnya pun berpacu sama cepatnya seperti gadis itu.
"Aku pikir kamu nggak datang?" Rania Mulai bersuara.
"Aku datang."
"Nonton?"
"Ya, dan aku lihat kamu melesat seperti kilat. Sangat cepat dan membuat aku takut."
Rania terkekeh.
"Apa kamu akan seperti ini terus?"
"Mungkin. Aku kangen!" gadis itu berucap, membuat wajah Dimitri berubah seketika. Dan di detik berikutnya gadis itu mendaratkan kecupan manis di bibirnya, yang lagi-lagi membuatnya kehilangan kata-kata.
Rania kemudian melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, berusaha untuk tak membuatnya terjatuh karena pelukan Dimitri di pinggangnya mulai melonggar seiring reaksinya yang tanpa di duga sedikitpun.
"Ap-apa... kamu sudah tidak marah?" pria itu tergagap, kemudian menelan ludahnya dengan susah payah.
"Nggak, marah kenapa?" jawab Rania dengan lugunya.
"Karena ucapanku di pintu pesawat waktu itu?"
"Nggak, Kan aku udah bilang kalau aku udah biasa dikatain nggak normal? malah aku pikir kamu yang marah."
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena Kamu nggak nelfon-nelfon aku."
Dimitri tertawa.
"Aku banyak pekerjaan tahu?"
"Sibuk ya?"
"Hu'um." pria itu mengangguk.
"Pantes."
Mereka berdebat masih dalam posisi seperti itu. Namun semuanya terhenti saat Dimitri melihat bayangan Angga di kejauhan, berjalan dan berbicara dengan seorang anggota crewnya.
"Ada papamu." bisiknya ditelinga Rania seraya membiarkan gadis itu turun dan melepaskan rangkulannya. Lalu mereka saling menjauh untuk menciptakan jarak.
"Pak?" sapa Angga ketika jarak mereka sudah dekat.
"Selamat pak, Rania berhasil lagi." mereka bersalaman seperti biasa.
"Terimakasih pak, Ini juga berkat kerjasama tim." Angga menyerahkan mantel milik Rania untuk dia kenakan.
"Iya, bapak benar."
"Bapak datang sendiri? pak Satria tidak ikut?"
"Tidak pak, kebetulan saya sedang mengunjungi kakek, jadi sekalian mampir."
"Oh, ..." Angga mengangguk-anggukan kepala.
Kemudian mereka berjalan beriringan.
"Perjalanan pulang harus ditunda dulu pak, badai salju sedang melanda seluruh wilayah Chechnya dan Rusia. Sebagian besar Eropa mengalami musim dingin ekstrim tahun ini." mereka berdiri bagian luar gedung sirkuit, menunggu mobil jemputan. Hotel terdekat berjarak satu kilo meter, namun cuaca yang begitu dingin dan salju yang turun bertambah lebat membuat semua orang enggan beranjak.
"Jadi kita nggak langsung pulang?" Rania menyela.
"Begitulah, setidaknya kita tunggu sampai badai saljunya reda." jawan Dimitri.
"Baiklah."
Lalu beberapa mobil tiba secara bersamaan. Angga dan anggota crew segera masuk. Sementara Dimitri menahan Rania yang juga hampir mengikuti ayahnya.
"Sepertinya mobil penuh?" pria itu berucap. Keadaan mobil memang sudah berdesakan, dan semua orang sudah menempati tempat duduknya masing-masing.
"Mungkin Rania bisa ikut mobil saya?" tawarnya.
Mereka yang telah berada di dalam mobil saling pandang.
"Atau ada yang lain juga mau ikut?" tawar Dimitri lagi, walau hanya basa-basi untuk menghilangkan kecurigaan.
Mereka kembali saling pandang, kemudian sama-sama menggelengkan kepala.
"Pak Angga? mau ikut di mobil saya?" tanyanya kepada Angga.
"Mmm... disini sudah nyaman pak, terimakasih." tolak Angga, sebenarnya dia tak terlalu suka membiarkan anak gadisnya untuk berada di mobil terpisah, namun apa boleh buat dia tak mungkin menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengalah keluar.
Apalagi cuaca sangat dingin seperti ini, dan kelihatannya mereka juga sudah nyaman berada di dalam mobil.
"Baik kalau begitu," Dimitri mundur untuk membiarkan mobil yang membawa rombongan crew itu segera pergi meninggalkan area.
"Modus." gumam Rania saat mobil-mobil itu sudah pergi.
Dimitri hanya menaham senyum, dan pria itu segera menggiring Rania ke arah mobil yang ditumpanginya, membukakan pintu untuknya, dan membiarkan dia masuk.
"Cepatlah, saljunya semakin lebat, kita bisa membeku jika terlalu lama disini." katanya, dan dia mendorong tubuh gadis itu perlahan masuk kedalam mobil. Yang kemudian segera bergerak menuju hotel tempatnya menginap.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Hayoloh, ... cari kesempatan dalam kesempatan 😆😆
ritualnya jangan lupa ya? like komen dan kirim hadiahnya biar makin semangat update episodenya.
lope lope se Benteng Grozny 😘😘