
🌹
🌹
Rania menenggelamkan wajahnya pada bantal, dan tangannya mencengkeram kuat kain penutup tempat tidur dibawanya saat Dimitri menerobos pusat tubuhnya dari belakang. Rasanya begitu penuh, dan entah apalagi dia harus menamai perasaan itu.
Yang ada hanya keinginan lebih untuk mendapatkan pelepasan lagi entah untuk ke berapa kalinya.
Tubuhnya sudah lemas tapi gairahnya masih menuntut untuk kembali dipuaskan, dan ini semua karena Dimitri. Dia kembali menariknya untuk bercinta, mengulangi cumbuan, dan memulai lagi pertautan tubuh mereka. Dan dia memang benar-benar menggila. Dimitri tak bisa berhenti setiap kali memulai percintaan ini.
Des*han dan erangan terus menggema hingga hampir dinihari, dan hanya berjeda beberapa menit sebelum kembali dimulai. Segalanya terus berulang hingga beberapa kali, dan Dimitri selalu berhasil membimbingnya dari awal hingga ke puncak.
Pria itu mempercepat hentakannya saat merasakan pusat tubuh Rania mengetat, dan tubuh dibawahnya mengejang. Diiringi dengan lenguhan panjang dan kepalanya yang mendongak keatas. Kemudian Dimitri menekan keras alat tempurnya saat pelepasan juga menghantam dirinya. Lalu keduanya ambruk bersamaan.
***
Dimitri menyentuh punggung perempuan itu yang tidur tertelungkup setelah percintaan ganas mereka semalam. Rania tampak begitu lelap dan dia tak bergerak sama sekali. Rasa Lelah membuatnya melupakan segala hal.
Bercak merah sisa percintaan tampak sangat jelas di bagian belakang tubuhnya, dan mungkin juga di bagian lainnya, membuat Dimitri tertawa karenanya.
"Ng ...." Rania mengerang saat merasakan sesuatu merayapi punggungnya.
Pria itu mendekatkan bibirnya pada telinga Rania, "Zai, apa kamu tidak akan bangun?" katanya, sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.
"Zai? bangunlah."
Namun Rania bergeming.
"Zai?" kemudian dia menelusupkan tangannya kebawah selimut dan menemukan bokong perempuan itu lalu merematnya dengan gemas.
"Diiiimmm! jangan lagi, aku capek!" rengeknya, kemudian di membalikan tubuhnya.
Dimitri tertawa.
"Sudah lewat tengah hari Zai. Apa kamu tidak lapar?" dia melirik meja di dekat tempat tidur yang dipenuhi makanan yang sudah dua kali diganti sejak pagi, karena perempuan itu tak kunjung terbangun.
"Ng ..." Rania mengerjap, menatap wajah diatasnya dengan hati berdebar. Lalu dia kembali teringat pergumulan mereka yang terasa gila semalam.
Ah, ... mengapa rasanya begitu luar biasa. Eh, ....
Wajahnya tiba-tiba saja memerah hingga ke leher.
Malu.
"Kamu kenapa? masa tiba-tiba sakit?" Dimitri terkekeh, wajah dibawah malah terlihat mengemaskan baginya.
"Mm... aku mau bangun." ucap Rania.
"Bangunlah, tidurmu mengkhawatirkan." Dimitri menegakan tubuhnya.
Perempuan itu bangkit perlahan, sambil berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Lalu dia menyugar rambut panjangnya yang kini mulai menghitam lagi.
"Mau mandi?" Dimitri bangkit dari tempat tidur saat Rania bergeser dan menurunkan kakinya.
Perempuan itu menganggukkan kepala, kemudian mencoba untuk bangkit. Namun gerakannya terhenti saat dia merasakan lututnya bergetar.
"Ah!!" Rania kembali terduduk di pinggir tempat tidur. Sepertinya percintaan semalam sedikit keterlaluan, tubuhnya terasa remuk dan kakinya lemas.
"Kamu bisa bangun?" Dimitri kembali mendekat, sementara Rania hanya mendongak.
"Ayo, aku bantu." dia kemudian mengulurkan tangannya, yang segera diraih oleh Rania.
"Badan aku sakit semua." keluh perempuan itu, sambil memegangi kedua bahunya bergantian, namun malah membuat tawa si tersangka terpecah seketika.
"Malah ketawa?" dia bergumam.
Kemudian Dimitri berjongkok di depannya.
"Sepertinya aku sedikit lepas kendali semalam?" katanya, sambil menahan tawa.
"Sedikit? sedikit apanya? badanku sampai remuk begini?"
Dimitri tertawa lagi.
"Kamu nyebelin!" Rania mendelik.
"Tapi kamu menyukainya." pria itu lebih mendekat lagi.
"Mmm... Dim, aku mau Mandi, ingat?" Rania memundurkan kepalanya, merasa pria itu akan melakukan sesuatu lagi kepadanya.
"Baiklah, aku akan membantumu." ucap Dimitri, yang kemudian meraup tubuh kecil Rania, lalu mengangkatnya dengan mudah dan membawanya ke kamar mandi.
Dia memasukan Rania kedalam air hangat di dalam bak mandi yang dipenuhi busa sabun dan aroma yang menenangkan.
"Mau aku bantu mandikan?" tawarnya, masih menahan senyum.
"Nggak usah, aku udah besar." tolak Rania dengan wajah tersipu.
Mereka sudah terikat pernikahan, dan bahkan sudah melakukan hal yang seharusnya di lakukan. Tapi mengapa rasanya masih malu?
Namun Dimitri tak mendengar, dia malah melepaskan seluruh pakaiannya hingga tak tersisa sehelai benangpun. Kemudian masuk kedalam bak yang sama dimana Rania berada.
"Aku bilang aku mau mandi sendiri, bukannya mandi bareng!" rengeknya, dan dia berusaha menjauh. Dia mulai merasa tak aman saat pria itu duduk di belakangnya, mungkin saja Dimitri berniat mengulang kejadian semalam.
"Diamlah, bukannya kamu mau mandi? aku bantu." katanya, yang menahan Rania untuk tetap berada di dekatnya.
"Tapi kan akunya, ...
"Diamlah, ..." dia meraih shower dan menyalakannya, lalu mengarahkannya pada kepala dan tubuh perempuan itu.
Rania menurut.
"Kamu mau aku menyabuni bagian depan juga?" dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Rania sambil menyodorkan botol berisi sabun cair kepadanya.
"Nggak usah, aku aja." Rania merebut benda tersebut dari tangannya, lalu menyabuni tubuh bagian depannya. Bisa menggila lagi, jika dirinya membiarkan Dimitri yang melakukannya, begitu pikirnya.
Dimitri kembali menyalakan shower air hangat itu dan membilas kepala dan tubuh Rania hingga busa di tubuhnya menghilang.
"Mau kemana?" dia menarik tangannya ketika Rania bermaksud keluar dari air.
"Kan udahan mandinya?"
"Tidak mau berendam dulu? kamu tahu, berendam sebentar di air hangat akan menghilangkan rasa nyeri dan lelah di badan."
"Oh ya?"
"Iya. Kemarilah." Dimitri menarik Rania hingga dia kembali ke dekatnya. Tubuh mereka bahkan kini hampir menempel.
"Mm... " Rania menegang saat merasakan sesuatu mengganjal di belakang tubuhnya, dan dia tahu itu apa. Naga ajaib milik Dimitri kembali terbangun. Tentu saja, keadaan mereka yang sama-sama telanjang dan saling berdekatan seperti inilah yang menjadi penyebabnya.
Dia berusaha menjauh, namun Dimitri malah melingkarkan sebelah tangan di perutnya.
"Dim, aku..
"Diamlah Zai, kamu akan membuat aku lepas kendali lagi kalau bergerak-gerak terus!" bisik Dimitri.
"Tapi ini, ..." Rania membenahi posisinya, namun hal itu malah membuat Dimitri semakin memeluk erat.
"Aku tahu, dia bangun lagi. Tapi aku nggak berniat melakukan itu lagi sekarang, semalam rasanya sudah cukup. Tapi tidak tahu jiga kalau kamu terus bergerak-gerak seperti ini." dan ucapannya itu sukses membuat Rania segera terdiam.
"Kemarilah," Dimitri kembali menariknya sehingga punggung dan kepalanya merapat ke dadanya.
"Aku hanya ingin kita begini." lanjutnya, yang mengusap kepala Rania dengan penuh perasaan. Dia menatap wajah perempuan itu dari belakang sini, dan senyuman kembali terbit di sudut bibirnya.
"Kenapa masih sekaku ini, kita kan sudah menikah. Kita bahkan sudah melakukannya berkali-kali." bisiknya.
"Ng... nggak tahu, aku malu."
"Malu?" Dimitri terkekeh. "Konyol sekali."
"Ini rasanya masih aneh tahu?"
"Tidak apa-apa, santai saja. Nanti lama-lama akan terbiasa. Malah mungkin kamu yang akan memulainya terlebih dahulu."
"Apaan?"
"Itu."
"Hum?" Rania menoleh, dan wajah Dimitri hanya berjarak dua senti saja darinya.
Pria itu hanya menatapnya sambil tersenyum.
"Apa semuanya kayak gini dulu?" dia bertanya.
"Mungkin."
"Terus semuanya jadi biasa aja karena udah terbiasa?"
"Bisa jadi."
"Terus akhirnya aku bisa memulainya sendiri?"
"Hmm...
"Apa nggak akan malu ya?"
"Entah." Dimitri tersenyum lebar.
"Mengapa semakin lama kamu semakin menggemaskan saja Zai?"
"Nggak tahu, perasaan kamu aja kali." Rania sekenanya, dan itu membuat Dimitri kembali tertawa.
"Apa kita mau begini terus?" ujar Rania setelah beberapa lama.
"Iya, Aku rasa."
"Nanti kedinginan."
"Nggak apa-apa, kita masih bisa saling menghangatkan bukan?" Dimitri mengeratkan pelukan.
"Mmm... pelukan?"
"Iya, atau mungkin sedikit ..." dia menarik wajah perempuan itu hingga bibir mereka bertemu, kemudian saling memagut dengan lembut. Rania bahkan langsung membalas di kecupan pertama, dan bagi Dimitri rasanya itu sangat menyenangkan.
"Mmm ... Dim?"
"Diamlah, aku tidak akan melakukan hal yang lebih. Nanti bisa kena masalah jika terjadi sesuatu kepadamu." katanya, yang melepaskan bibirnya, kemudian kembali memeluk Rania denga erat. Dan mereka dalam keadaan seperti itu untuk beberapa saat.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
kok menggigil ya? ðŸ¤
biasa atuh geks, like komet sama kirim hadiah yang banyak.
😘😘😘