
🌹
🌹
WARNING LAGI!!
Tidak disarankan untuk dibaca, karena anu ...
ah sudahlah, kalian pasti nekad.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, kenapa ya mama sukanya ngasih baju yang begini amat?" Rania keluar dari ruang ganti setelah mengenakan pakaian pemberian mertuanya.
"Berasa malu deh pakainya." perempuan itu tertawa. Kemudian berputar-putar di depan cermin di dekat ranjang mereka, melihat penampilannya sendiri yang cukup membuatnya malu.
Sementara Dimitri menatapnya dengan dada yang berdebar tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Dia bahkan merasakan tenggorokannya seperti mengering saat Rania berlenggak lenggok di dekatnya.
Dengan pakaian sangat kekurangan bahan yang hanya menutupi ar*a sens*tifnya saja.
Kain tipis berwarna hitam yang begitu menerawang menutupi area dadanya, namun tak menyembunyikan isi didalamnya. Juga segitiga mini berenda dengan warna yang sama melapisi bagian bawah tubuhnya. Yang semakin menonjolkan keindahan tubuh Rania yang mulai berkembang seiring umur kehamilannya yang bertambah.
Dimitri menggigit bibirnya keras-keras. Ini bahkan masih sore, namun perempuan itu sudah berhasil menggodanya. Hasratnya bangkit begitu saja, dan tentunya naga ajaibnya terbangun dengan sendirinya. Membuatnya merasa begitu sesak.
"Tapi bagus juga kan?" tanya nya kepada suaminya yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya udah, ..." Rania kembali ke ruang ganti.
"Zai?"
"Ya?" dia mundur lalu menoleh.
"Mau apa?"
"Mau ganti baju. Masa sore-sore begini udah pakai ginian?" jawab Rania dengan lugunya.
"Ti-tidak usah Zai."
"Hah?"
"Tidak usah diganti."
"Kenapa?"
"Aku suka melihatmu seperti itu."
"Ye, ... kalau keluar kamar masa aku pakai beginian?" Rania meneruskan langkahnya kedalam ruangan tersebut.
"Tidak usah keluar, ..." Dimitri turun dari tempat tidur dan segera melesat mengikutinya.
"Apaan? masa jam segini ..." perempuan itu sedikit terkejut ketika suaminya sudah berada di belakangnya, dan langsung meraup tubuhnya.
"Aku mau pakai baju, ... kamu mau ngapain!" Rania memekik ketika Dimitri mengangakatnya dengan mudah kemudian mendudukannya diatas meja aksesoris.
"Aku mau ganti baju Yang."
"Tidak usah." Dimitri tersenyum. "Aku bilang aku suka melihatmu begini."
"Tapi kan ... ahh, ..." Rania mendes*ah dengan mulut terbuka saat Dimitri meremat buah dadanya.
Pria itu kemudian membungkamnya dengan cumbuan yang memabukan. Lidahnya bermain-main di dala mulut Rania, merasainya seperti dia baru pertama kali melakukannya.
"Mmm ..." Rania mengerang kala sentuhannya merayap ke segala arah.
Dimitri mengusap punggungnya, meremat pinggulnya, kemudian merayap dari bokong hingga ke pahanya. Sebelum akhirnya tiba di pusat tubuhnya, menyentuhnya dengan penuh godaan. Lalu menarik benda tersebut agar terlepas.
Pria itu kembali tersenyum saat merasakan perempuan dalam kuasanya telah siap. Dengan cepat dia melepaskan seluruh pakaiannya hingga tak tersisa sehelai pun.
"Masih sore ... ahhh!!" Rania mendes*h keras saat naga ajaib menerobos tanpa aba-aba. Dia menatap wajah yang rahangnya mengeras itu lekat-lekat.
Ekspresinya sungguh mendebarkan, pria itu menutup dan membuka matanya dengan perlahan. Sorotnya yang tajam menyiratkan hasrat yang tak tertahankan, dan dirinya tak yakin akan bisa menolak apapun yang diinginkanya.
Dimitri mulai menggerakan pinggulnya, mendorong perlahan lalu menariknya kembali. Sedikit menyesuaikan diri dengan perempuan itu yang kembali mendes*h dengan mulut terbuka.
"Oh, ... kamu mau menyiksa aku!" racau Rania saat pria itu masih melakukannya dengan perlahan, sementara dirinya mulai tak sabar.
Seluruh tubuhnya terasa meremang, dan semakin sensitif menerima setiap sentuhan Dimitri, sehingga dia terus bereaksi setiap kali pria itu bergerak.
"Why? kamu mau aku lebih cepat?" Dimitri berbisik dengan suara rendahnya, lalu dia meyeringai.
"Hmmm ..."
"Just say it."
Tubuh Rania sedikit melengkung sehingga kepalanya terdongak, dan des*ahan semakin mengudara. Seluruh tubuhnya merespon begitu baik, dan hasratnya sudah sangat menuntut.
Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, rasa gemas dan tak sabar menguasai ketika pria itu masih bergerak tak secepat biasanya.
"Oh. ..."
"Say it!"
Napasnya tersengal-sengal dan dadanya naik turun dengan cepat.
"Say please!" ucap Dimitri lagi yang kemudian menggigit daun telinga Rania dengan gemas. Diapun sama tak sabarnya, namun berusaha menahan diri karena senang dengan penyiksaan ini.
Rania berpegangan pada pinggiran meja, mencoba menahan gelora hasratnya yang semakin membuncah, namun setelah beberapa saat dia akhirnya menyerah.
"Please!" rintihnya dengan tatapan memohon.
"Lagi," Dimitri menyeringai.
"Please!"
Seringaian pria itu semakin lebar.
"Please!" ucap Rania lagi, dan segera setelahnya Dimitri menuruti keinginannya.
Dia berpacu seperti yang diinginkan Rania, tanpa menghentikan rematan tangannya pada setiap bagian tubuh perempuan itu.
Hingga beberapa saat lamanya tubuh mereka bertautan dan saling menikmati sentuhan. Dan Dimitri mempercepat hentakannya ketika merasakan tubuh Rania mengejang diikuti denyutan hebat di bawah sana. Serta lenguhan panjang yang membuatnya cepat menggapai pelepasan secara bersamaan.
🌹
🌹
"Saya pulang dulu Non, pak." pamit Lina setelah memastikan semua pekerjaannya selesai petang itu.
Rania hanya mengangguk sambil mengangkat ibu jarinya tanda dia setuju, sementara mulutnya penuh dengan makanan.
Kemudian Lina segera pergi dari tempat itu.
"Lapar Bu?" Dimitri duduk di kursi kosong di sampingnya.
"Hmm ..." Rania masih sibuk dengan kegiatan makannya.
"Cara makanmu membuatku ngeri Zai, hati-hati." dia mengingatkannya.
"Perut aku lapar banget, rasanya mual kalau telat makan sedikit aja." Rania meneguk minumannya.
"Iya tapi hati-hati, nanti kamu tersedak." dia mengusap punggungnya perlahan.
"Ish, ... diamlah jangan pegang-pegang dulu." Rania bergeser.
"Hanya seperti ini."
"Jangan dulu, nanti aku anu."
"Apa?"
"Itu."
"Apa?"
"Mm ... hehe .." perempuan itu malah terkekeh ketika bayangan kejadian sore tadi melintas di kepalanya. Dan seketika saja wajahnya memerah.
"Pikiranmu kotor!" Dimitri tertawa.
"Gara-gara kamu."
"Aku hanya melakukan apa yang mau aku lakukan."
"Iya, bikin otakku tercemar."
"Salahmu sendiri."
"Apaan?"
"Selalu menggodaku."
"Aku nggak godain, aku cuma lagi cobain baju dari mama kamu. Kan kamu yang ngikutin aku ke ruang ganti terus ...
"Mau lagi? ayo kita ulangi? yang tadi itu seru."
Rania menelan makananya dengan cepat.
"Eh, ... aku lupa, malam ini ada balapan kan? aku mau nonton, mau tahu sehebat apa mereka setelah kamu nggak ikut." pria itu bangkit.
"Aku ikuuutt." Rania segera menyelesaikan acara makannya.
***
Motor-motor super itu melesat melewati lintasan beraspal yang terlihat begitu terik. Padahal waktu masih pagi di kota Austin, Texas, Amerika serikat. Tempat diadakannya laga terakhir women superbike sebelum nantinya laga paling akhir diadakan di Mandalika.
Puluhan pembalap dari seluruh dunia saling berlomba untuk mendapatkan gelar juara pada hari itu, yang cukup penting untuk menggenapi gelar-gelar lainnya yang sudah mereka dapatkan terlebih dahulu.
Dimitri menoleh ke samping dimana istrinya yang begitu fokus menyaksikan laga hari itu tanpa sepatah kata pun dia ucapkan.
Dia tahu, hati dan jiwanya meronta-ronta karena memang disitulah hidupnya, tapi keadaannya tidak memungkinkan. Selain karena kehamilannya, kasus insiden beberapa minggu sebelumnya memang menjadi pertimbangan baginya untuk absen di laga penting ini.
"It's oke, nanti setelah si kembar lahir kamu boleh balapan lagi." Dimitri memegang tangannya.
Rania menoleh, lalu tersenyum tipis.
"Sekarang nikmati saja hari-hari ini. Kita bisa lebih sering sama-sama."
"Hmmm ...
"Jangan sedih." Dimitri mengulurkan tangannya untuk merangkul pundak perempuan itu.
"Tapi kamu diam?"
"Ya terus aku harus ngapain?"
"Aku kalau nonton kamu balapan pasti teriak-teriak saking serunya."
"Masa?"
"Iya."
"Lebay banget sih?"
"Habisnya aku ngeri melihat kamu ngebut di lintasan, apalagi kamu sering berbuat hal gila."
Rania tertawa.
"Kan, malah tertawa, padahal aku selalu ketakutan kalau kamu sedang balapan."
"Oh ya?"
"Serius. Rasanya aku mau pergi kesana dan menghentikan kamu."
"Nggak bisa pak."
"Justru itu, jadinya aku teriak-teriak." kini Dimitri yang tertawa.
"Duh, ... hidupku jadi seperti naik rollercoaster setelah ketemu kamu."
"Hmm ... mulai." cibir Rania.
"Naik, turun. Belok, ngebut."
"Iya, apalagi kalau lagi anu."
"Itu apalagi, jangan ditanya."
Rania tertawa lagi.
"Kayaknya kamu punya bakat untuk jadi pelawak deh?"
"Masa?"
"Iya, habisnya kamu lucu." dia mencubit pipi Dimitri dengan gemas.
"Benarkah?"
"Iya."
"Lucu dalam hal apa?"
"Kelakuan kamu selain nggemesin juga bikin ngakak."
"Aih, ... orang tivi nggak akan kuat bayar aku."
"Masa?"
"Iya, bayaran aku kan mahal."
"Dih, ..."
"Lagipula mana ada pelawak seganteng aku."
"Narsis!"
"Memang."
"Kamu selain pinter ngelawak juga narsisnya minta ampun."
"Begitulah, ... memang sudah ada dalam darahku."
"Oh ya? emang papi juga gitu ya?"
"Sedikit."
"Iya, banyak yang nurunnya ke kamu."
Dimitri tergelak.
"Duh, anak kita nanti se narsis kamu nggak ya?"
"Memangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuma takut aja dia lebih narsis dari papinya."
Dimitri mencebikan mulutnya.
Pembawa acara di televisi terdengar berteriak-teriak, pantasa saja karena balapan itu berakhir saat tiga pembalap yang Rania kenal melewati garis finish dengan kencang. Diikuti pembalap-pembalap lainnya di belakang.
Penontonpun terlihat bersorak karena pembalap andalan mereka berhasil menjadi juara.
Namun perlahan sorakan itu melemah ketika layar besar yang tersebar di beberapa titik tempat penonton tiba-tiba saja menayangkan sebuah video percakapan.
Disana terdapat beberapa orang pria yang tampak tengah mendiskusikan sesuatu dengan serius. Terdengar suara mereka bercakap-cakap yang kemudian muncul terjemahan dalam bahasa Inggris.
Semua orang menyimak dengan seksama ketika pada akhirnya mereka mengenali kumpulan anggota diskusi itu sebagai manager dari beberapa pembalap. Yang kemudian diperjelas oleh keterangan nama dan tempat di dalam video.
Semua orang tercengang setelah mengerti dengan apa yang mereka diskusikan. Yang isinya kurang lebih tentang perencanaan untuk menyingkirkan siapapun yang memungkinkan untuk menjadi juara selain dari empat pembalap yang selama ini mendominasi secara bergantian.
Jagat mayapun seketika di ramaikam dengan berita yang tak kalah menggemparkannya. Ketika beredar juga video empat pembalap yang dimaksud tengah beraksi di lintasan.
Bersamaan dengan munculnya beberapa rekaman kejadian sebelum insiden kecelakaan yang melibatkan mereka dan beberapa pembalap lain yang kemudian tumbang. Semua kejadiannya persis seperti yang Rania alami.
"Apa yang ..." Rania menegakan tubuhnya. Sementara Dimitri memperhatikan dengan teliti. Setiap video, setiap perkataan, dan setiap komentar yang muncul setelahnya.
Tayangan berakhir beberapa saat setelah semua orang di seluruh dunia sepertinya telah menyadari apa yang tengah terjadi. Dan dua orang di rumah itu pun sama-sama terdiam menatap layar televisi.
"Ternyata bukan cuma aku." Rania akhirnya bersuara.
"Dan bukan kali ini saja." Dimitri menyahut.
Kemudian ponsel Rania berbunyi setelahnya.
"Galang." perempuan itu bergumam.
"Ya Lang?"
"Kamu udah nonton balapan barusan?" pemuda di seberang sana bertanya.
"Udah, kok bisa kaya gitu ya? itu pembalap Itali juga kok gitu amat? mereka bikin rencana yang nggak terpikirkan. Dan lagi bukan cuma aku yang ...
"Semuanya ketahuan kan?" ucap Galang.
"Yang aku ungkap satu, tapi yang kebuka malah beberapa kasus." Galang terdengar tertawa.
"Hebat kan aku?" lanjut pemuda itu, terdengar bangga.
"Maksud kamu?"
"Eh, ... temennya mertua kamu deh yang hebat. Aku cuma ngikutin apa yang dia perintahkan."
"Apa?"
"Aku cuma mengungkap kasus kamu, tapi yang bisa aku bongkar banyak kasus yang sama." ucap Galang lagi.
"Itu seriusan kerjaan kamu?" Rania dengan perasaan terkejut.
"Iya, dibantu temennya pak Satria."
"Terus semua rekaman itu?"
"Aku dapat waktu mencoba masuk ke server mereka."
"Kamu juga ngehack situs superbike?"
"Itu ngerti."
"Galang!!!" Rania setengah berteriak.
"Nggak usah bilang makasih, itu udah kerjaan aku." Galang tergelak.
"Gimana bisa?"
"Bisa lah. Aku." terbayang pemuda itu yang menggendikan bahunya dengan bangga.
"Selamat menerima kabar baik sebentar lagi, aku yakin kamu akan sibuk." kemudian percakapan pun diakhiri.
"Galang ..." Rania meletakan ponselnya di meja. Sementara Dimitri masih bersedekap di sisinya.
"Kamu pasti tahu soal ini." katanya kepada pria itu.
Dan Dimitri hanya tersenyum karenanya.
"Kamu udah tahu?"
"Tidak."
"Bohong."
"Hanya saja aku tahu kalau papi meminta bantuan kak Adrian untuk menyelidiki hal ini, tapi aku nggak menyangka jika eksekusinya ternyata Galang yang melakukan." jawabnya dengan meyakinkan.
"Sepertinya dia hacker yang handal." katanya, diikuti tawa yang menggema.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
wah wah wah, ... ada kejutan apalagi setelah ini ya?
kita tunggu episode selanjutnya.😜
kirim like, komen sama hadiah yang banyak dulu oke?
lope lope se Amerikah😘😘