All About You

All About You
Cinta



🌹


🌹


Gadis itu memutuskan untuk menjauh. Disaat semua orang tengah berunding mengenai masalah pesta pernikahan Dimitri.


Amara memilih untuk duduk di tepi tebing yang berjarak belasan meter dari rumah, menyepi. Dia tak mau semua orang mengetahui kesedihannya, tapi juga dirinya tak bisa berpura-pura untuk terlihat bahagia. Karena jujur saja, hal itu sangat sulit dilakukan.


Menyadari bahwa dirinya memiliki perasaan lebih terhadap Dimitri, pria yang dia kenal sejak bayi. Mereka tumbuh bersama, dan sering berinteraksi. Membuatnya merasa memiliki teman sepermainan. Belum lagi karena memang adik dari ibu sambungnya itu selalu memperlakukannya berbeda, membuatnya memiliki perasaan lain yang lebih dari sekedar adik kepada kakaknya. Walau pada kenyataannya begitulah Dimitri.


"Kamu marah?" pria itu tiba-tiba saja muncul di sampingnya.


"Marah karena apa?" terkejut, namun Amara berusaha untuk tetap tenang.


"Entahlah, kakak merasa kamu marah. Sejak kamu kakak bawa bertemu Rania, sejak hari itu juga kamu nggak mau bicara. Kakak merasa kamu marah."


"Aku hanya ....


"Maaf." ucap Dimitri. Dia berdiri dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana.


"Kenapa kakak malah meminta maaf?"


"Karena tidak bisa membalas perasaanmu."


"Hum?"


Dimitri menatap gadis ini yang sangat dikenalnya. Si anak manja yang tangguh hasil didikan ayahnya, yang tumbuh bersamanya sejak bayi. Ketika ibunya mengalami koma pasca melahirkan.


Dia ingat, saat pertama kali memeluknya, hatinya langsung jatuh cinta kepada bayi cantik yang di asuh ibunya itu. Seperti sudah memiliki hal yang ingin dia miliki. Namun kenyataan bahwa Amara merupakan anak dari kakak iparnya membuatnya membuang jauh-jauh perasaan itu. Yang kemudian juga membuatnya memutuskan untuk pergi sejauh mungkin. Dan Rusia menjadi pilihan.


Dia berhasil bukan? pergaulan luas membuatnya melupakan perasaannya kepada Amara, walaupun malah menjerumuskannya pada hal-hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Tapi itu berhasil. Dia yakin perasaannya telah berubah. Dari ingin memiliki menjadi hanya menganggap gadis itu sebagai adik, atau keponakam seperti seharusnya.


Iyakah?


Amara menatapnya lekat-lekat.


"Kakak tega, malah meninggalkan aku."


"I know, im sorry."


"Kakak tega!" air mata gadis itu meluncur begitu saja.


Dimitri berjongkok dihadapannya, kemudian segera memeluknya erat-erat.


"Dengarkan kakak."


"Kakak tega!" Amara meraung dalam pelukannya.


"Walau bukan dengan Rania, kakak akan tetap pergi. Entah itu bersama orang baru, teman atau siapapun. Yang bukan kamu."


"Aku sayang sama kakak."


"Kakak juga sayang kamu. Tapi nggak bisa seperti yang kamu mau. Perasaan ini harus ditolak."


"Aku nggak bisa."


"Pasti bisa, kakak juga bisa."


"Kakak tega!" ucap Amara lagi seraya memukul punggung pria itu dengan kepalan tangannya.


"Itu harus!"


"Kita tumbuh sama-sama, sampai sebesar ini. Tapi kenapa kita nggak bisa bersama selamanya?"


"Tidak mungkin."


"Kenapa?"


Dimitri memundurkan tubuhnya untuk menatap wajah sembab gadis itu.


"Kamu bayangkan, kalau kita memaksa bersama." dia menatap dua bola matanya yang berkilauan ditimpa cahaya sore.


"Akan jadi apa hubungan kita? apalagi kalau sampai menikah?"


Amara sesenggukan.


"Silsilah keluarga kita jadi kacau. Bagaimana kakak harus menyebut papa dan Mommy mu? atau, ... bagaimana kamu menyebut papi dan mama? semuanya pasti akan membingungkan."


Gadis itu berpikir, kemudian tangisnya terhenti.


"Itulah kenapa kakak menjauh hingga ke Moscow. Tapi kakak bersumpah, akan terus menyayangi kamu. Meski dalam bentuk yang berbeda. Kita keluarga, bukan?" dia menguncakan tubuh Amara.


"Kakak menikah, dan kamu akan menemukan orang lain. Mungkin yang lebih baik dari kakak. Dan kita akan sama-sama bahagia. itu harus." Dimitri memegangi pundaknya.


"Lagi pula perjalananmu masih sangat panjang. Kamu bahkan baru saja memulai. Banyak hal baru yang akan kamu temukan nanti. Orang baru, pekerjaan baru, dan kegiatan lain yang lebih berarti. Kamu harus bisa mewujudkan mimpimu, dan membanggakan keluargamu. Terutama papamu." ucap Dimitri, mencoba membesarkan hatinya.


Dia tahu, dan menyadari jika Amara sekarang ini tengah mengalami patah hati, dan itu karena dirinya. Tapi itu tak dapat dihindari bukan? memang jalannya sudah seperti itu. Selalu ada resiko dari setiap pilihan.


***


"Apakah dia sangat baik sehingga membuat kakak bisa mengambil keputusan besar seperti ini?" Amara berbicara lagi, dan kini keadaannya sudah lebih tenang. Mereka duduk bersisian dengan posisi menghadap matahari terbenam.


"Siapa? Rania?"


Amara mengangguk.


"Apa karena dia keren?"


"Mungkin. Tapi dia lebih dari itu."


"Apa?"


"I don't know. She just make me falling in love."


"Hanya itu?"


"Ya, apalagi?"


"Bukan karena dia cantik dan juara balap?"


"Itu bisa jadi alasan tapi intinya hanya perasaan saja yang mengerti. Dan nggak bisa di ungkapkan lewat kata-kata."


"Kakak konyol."


"Memang, bukankah semua orang akan berbuat konyol ketika sedang jatuh cinta?" Dimitri tertawa.


"Aku nggak."


Akankah?


"Kakak yakin dia adalah orang yang tepat?"


"Yakin."


"Gimana kakak bisa yakin?"


"Entahlah, hanya... yakin."


"Jadi, apa kita baik-baik saja sekarang?" Dimitri meyakinkan perasaannya.


"Soal apa?"


"Setelah pembicaraan ini tidak ada lagi hati yang terluka karena perasaannya tak terbalas, dan karena kakak tinggalkan menikah."


Amara terdiam.


"Ara? are we oke?"


"Akan aku coba, kak."


"Harus bisa ya? lakukan untuk kamu sendiri, bukan untuk kakak."


"Oke?"


Mau tidak mau Amara menganggukan kepala. Karena apa yang dikatakan pria ini ada benarnya juga. Tidak mungkin dirinya memaksakan perasaan, karena selain Dimitri akan segera menikah, juga memang karena keluarga. Apa jadinya jika keluarga mereka mengetahui perihal perasaannya.


Meski sebuah rasa itu tidak bisa memilih kepada siapa dia akan singgah, tapi hal ini adalah pengecualian. Dimitri sudah melakukan hal yang benar dengan berusaha menghilangkan perasaannya dulu, dan kini gilirannya untuk berjuang menghilangkan rasa itu. Pasti tidak akan mudah, tapi itu suatu keharusan.


"Jadi, berbahagialah. Kamu akan memiliki hidup yang indah." dia merangkul pundak Amara. Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya sebagai dua orang manusia yang miliki perasaan. Dan melepaskan hal itu untuk mereka tinggalkan kemudian, agar tak terbawa saat keduanya menyongsong masa depan.


Sementara Arfan menyimak adegan tersebut dengan perasaan tak percaya. Adik ipar dan putrinya hampir saja terlibat cinta yang rumit.


Dia hampir saja menghampiri mereka sebelum akhirnya seseorang menahannya, lalu menariknya kembali kedalam rumah.


"Biarkan saja mereka." Satria berujar.


"Tapi pak?"


"Biarkan saja mereka melepaskan apa yang harus di lepaskan. Menyelesaikan apa yang memang seharusnya dia selesaikan. Agar tidak ada beban disaat nanti mereka menjalani bidup masing-masing." lanjut Satria.


Arfan berpikir.


"Aku yakin Ara mampu melakukannya, seperti juga Dimitri. Mereka menyadari banyak hal, dan seharusnya kita merasa lega. Mereka pasti akan baik-baik saja."


"Tapi Ara...


"Biarkan saja mereka menyelesaikannya sendiri. Aku yakin mereka bisa." yang akhirnya membuat Arfan membiarkannya juga.


🌹


🌹


"Ini." Angga menyerahkan sebuah buku tabungan bersama dengan kartu ATMnya, dengan nama Rania yang tertera diatasnya.


"Apa ini?" anak gadisnya itu mendongak.


"Tabungan kamu."


"Tabungan?" Rania membeo.


"Semua uang yang kamu dapat dari hasil menjuarai balapan, iklan, dan transfer pembayaran endorse."


"Wah?" dia membuka dan membaca setiap tulisan dan angka yang menunjukan jumlah uang yang cukup banyak.


"Semua keterangannya ada di dalam sana. Kamu bisa baca, udah papa print dari mulai awal Kamu dapat uang. Nggak ada sepeserpun yang papa ambil."


"Dikurangi uang mingguan aku dong?" Rania meraih benda tersebut.


"Nggak."


"Lho? terus uang mingguan aku?"


"Itu dari papa."


"Kok dari papa?"


"Iyalah, kamu masih anak papa. Masih kewajiban papa ngasih uang jajan, meskipun kamu udah punya penghasilan." Angga duduk di tepi ranjang putrinya.


"Tapi besok... kamu udah jadi milik orang lain." Angga merasa tenggorokannya tercekat. "Papa nggak akan lagi ngasih uang jajan, karena akan ada yang ngasih uang yang mungkin lebih besar dari pada yang papa kasih sama kamu." katanya.


"Nanti baik-baik ya? harus nurut sama suami, kalau dia baik. Tapi kalau nggak baik ya hajar aja." pria itu tergelak, meski rasa sesak mulai menguasai dada.


Sementara Rania terdiam menatap wajah cinta paling pertamanya itu lekat-lekat. Wajah paling tampan yang dia kenal sejak pertama kali membuka mata. Dan wajah yang selalu ada di setiap detik kehidupannya.


"Masih ada dua hari, papa."


"Papa tahu, tapi tetep aja, papa harus bilang ini sekarang. Kalau besok takutnya lupa apa yang mesti papa omongin." Angga tertawa lagi.


"Kamu jangan sungkan, biarpun udah berumah tangga, pintu rumah ini akan tetap terbuka kapanpun kamu datang. Jangan malu juga untuk cerita Apapum masalah yang mungkin kamu hadapi nanti. Walau udah nikah seorang perempuan udah jadi milik suaminya, kamu tetap anak papa. Nggak akan papa biarkan kamu menderita sedikitpun."


"Iya papa."


"Ya udah, tidur gih. Udah malam." pria itu bangkit dari posisinya. Kemudian bermaksud pergi ketika Rania memeluknya dari belakang.


"Makasih, papa udah membesarkan aku dengan baik. Maaf belum bisa membalas apa Yang udah papa lakukan untuk aku." ucap gadis itu.


Angga kemudian memutar tubuh, lalu balas merangkul putrinya, memeluknya begitu erat seolah mereka akan berpisah jauh. Dia mengecupi puncak kepala Rania hingga beberapa kali.


"Janji ya, kamu nggak akan menjauh dari kami."


"Hu'um." Rania mengangguk dalam dekapannya.


"Anak papa!" dan mereka berangkulan seperti itu untuk beberapa saat.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...