All About You

All About You
Barter



🌹


🌹


Tiga hari kemudian ...


"Pergi dulu ya?" Dimitri merapatkan kancing jasnya sambil berjalan keluar dari ruang ganti. Sementara Rania malah kembali bergelung diatas tempat tidur mereka yang masih berantakan sisa pergumulan semalam.


"Nggak mau sarapan dulu?"


"Nanti sekalian dengan Clarra."


"Clarra?" Rania bangkit.


"Sekertaris aku."


"Sekertaris?" dia membeo.


Dimitri terkekeh seraya mendekat, "Dia masih sepupu, waktu itu datang sebentar ke pernikaha kita tapi hanya sebentar, jadi jangan cemburu." katanya.


"Siapa yang cemburu? orang aku cuma nanya. Mantan temen bobo aja nggak aku cemburuin, apalagi cuma sepupu. Jauuuuhhh ..." Rania kembali merebahkan kepalanya diatas bantal.


Sementara Dimitri hanya mencebik.


"Kamu udah nggak mual lagi?" dia kemudian bertanya.


"Sedikit."


"Syukur deh. Terus aku harus ngapain selama kamu kerja?"


"Terserah."


"Main motor boleh?" Rania dengan bersemangat.


Dimitri tak menjawab, namun menatap dengan dingin dan tajam kepadanya.


"Eee ... nggak boleh ya? ya udah, biasa aja ngelihatnya jangan kayak elang lagi ngintai mangsa gitu. Hehe ..." perempuan itu menarik sebuah bantal hingga menutupi wajahnya.


Kenapa dia jadi menakutkan kayak gitu ya? batinnya.


"Nanti ada dua orang pegawainya mama yang datang." mereka berjalan keluar dari kamar.


"Mau apa?"


"Mau beres-beres rumah, apalagi? memangnya kamu mau membereskan rumah sendirian?"


"Ogah, rumah segede gini mana bisa aku beresin sendiri? mendingan disuruh ngerangkai mesin aja aku mah seharian juga nggak apa-apa."


"Hmm ...


"Mereka sekalian masak juga nggak?" Rania tersenyum lebar.


"Tidak tahu, kamu suruh saja kalau mau. Belanja juga sekalian, dirumah ini sepertinya belum ada makanan dan kebutuhan yang lainnya juga. Mereka pasti tahu." keduanya tiba di teras.


"Hmm ..."


"Dari tadi hmmm, hmmm ... melulu?" pria itu hampir saja masuk kedalam mobilnya.


"Habisnya aku bingung." Rania terkekeh.


"Bingung kenapa?"


"Nggak ada yang bisa aku kerjain."


"Ck! bongkar-bongkar mobil atau apa gitu ..." pria itu sekenanya.


"Ngapain bongkar mobil?"


"Ya kan biasanya kamu merangkai mesin?" pria itu tertawa. "Bongkar dulu mobil kamu, setelah itu rangkai lagi."


"Ish, ... kurang kerjaan banget?"


"Lagipula mau apa juga, ... diam saja dulu. Istirahat, bukankan kamu baru saja kecelakaan?"


"Hmm ... iya sih, kecelakaan. Tapi itu nggak berlaku kalau kamu ada dirumah."


"Oh jelas, ... harus memanfaatkan kesempatan yang ada." pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Ish!!"


"Pergi dulu lah, ... lama-lama kamu bisa membuatku tidak jadi ke pertemuan hari ini. Bisa ngomel Clarra kalau itu terjadi."


"Ya omel balik. Masa atasan kalah sama sekertarisnya? lemah amat."


"Masalahanya dia senior aku."


"Lah, bosnya siapa?"


"Ya aku."


"Clarra?"


"Sekertaris."


"Jadi bos sama sekertaris lebih berkuasa siapa?"


"Bos."


"Terus salahnya dimana?"


"Nggak ada yang salah, aku hanya menghormati dia sebagai senior."


"Ck! senior." Rania mendelik.


"Sudahlah, ... aku pergi dulu." Dimitri mengecup puncak kepala petempuan itu dengan cepat.


"Nanti pulangnya bawa capucino cincau ya?"


"Kenapa nunggu nanti? beli saja sekarang kalau mau."


"Maunya nanti kok."


"Suruh orang, nunggu aku takutnya telat."


"Aku maunya kamu yang beli."


"Ehhhh ... kalau pulang malam gimana?" pria itu menggerakan mobilnya perlahan menuju pintu gerbang yang terbuka dengan sendirinya begitu kendaraannya mendekati pagar. Sementara Rania berjalan disamping mengikutinya.


"Nggak apa-apa yang penting kamu bawa."


"Ck!" sejenak Dimitri menghentikan mobilnya.


"Oke sayang." perempuan itu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda.


"Oke, tapi nanti barter ya?" pria itu segera menutup kaca dan kembali melajukan kendaraannya keluar dari pekarangan rumah mereka.


"Barter?" Rania malah mengerutkan dahi.


🌹


🌹


"Kamu bisa Nak?" Satria menyesap kopi yang dipesankan Dimitri saat dia menemui putranya itu setelah pertemuan dengan klien di sebuah restoran tak jauh dari gedung Nikolai Grup.


"Sejauh ini bisa." putranya itu menjawab. "Bukannya mama sudah melarang papi minum kopi ya? apa tidak apa-apa aku pesankan?"


"Tidak apa-apa. Asal mamamu tidak tahu." sang ayah tertawa.


"Berarti tidak boleh."


"Sesekai tidak apa-apa."


"Jangan membantah, pih. Nanti kena batunya lho."


"Tidak akan, kalau tidak terlalu sering."


"Maksudku kalau mama tahu, papi akan kena hukuman." kini anaknya yang tertawa.


"Makanya jangan beritahu mamamu."


"Nggak janji ya."


"Awas saja kalau sampai mamamu tahu, pasti itu darimu."


"Papi mengancam ya?"


"Seperti itulah." pria 63 tahun itu merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Mengerikan sekali, papi membuatku takut." Dimitri berlagak seolah-olah dia sangat ketakutan.


"Heh, dasar anak durhaka!"


"Padahal penyelidikan Adrian sudah hampir selesai. Apa papi hentikan saja ya, biarkan saja orang-orang itu bebas kembali beraksi di lintasan." Satria berucap, dengan keningnya yang berkerut dalam hingga alis tebalnya tampak saling berkaitan.


"Realy?" Dimitri bereaksi.


"Hmm ..." sang ayah merogoh ponsel dari saku kemejanya.


"Ah, ... bukan hal penting kan? lagi pula Rania juga tidak akan balapan lagi, dia akan berhenti bukan?" lanjutnya.


"Papi ancamannya serius?"


"Hmm ...


"Ck! begitu saja ngambek, sampai ancam-ancam." Dimitri memutar bola matanya.


"Terserah, disini papi yang berkuasa." sementara Satria menatap layar ponselnya.


"Baiklah baik. Aku tidak akan mengatakannya kepada mama."


"Hmm ..." ayahnya bergumam.


"Serius, pih."


Pria itu sedikit tersenyum kemudian meletakan ponselnya di atas meja.


"Jadi bagaimana perkembangannya?" Dimitri mencoba mengorek keterangan dari sang ayah.


"Hum? Soal apa?"


"Soal balapan kemarin."


"Bagus."


"Bagus apanya?" Dimitri mengerutkan dahi.


"Perkembangannya." Satria menenggak kopi hitam kesukaannya hingga habis, kemudian bangkit.


"Ck!"


"Pulang dulu, oke? mamamu pasti menunggu. Tadi papi cuma pamit untuk menemuimu sebentar, bisa khawatir kalau dia ditinggal lama-lama."


"Cuma begitu saja?"


"Ya apalagi?"


"Kenapa meminta bertemu kalau kabarnya cuma begitu?"


"Demi kopi." Satria dengan santainya, kemudian dia pergi meninggalkan sang anak dengan kekesalan dihatinya.


🌹


🌹


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam ketika Dimitri tiba di rumah. Mendapati Rania yang masih menonton tivi diruang tengah.


"Kamu belum tidur Zai?" dia menghampirinya, lalu mengusap kepalanya.


"Belum." perempuan itu mendongak. "Aku nunggu kamu."


"Manis sekali, Zaichik!" dia terkekeh gemas.


"Pegawainya mama udah pulang tadi, begitu selesai masak sama beresin baju ke lemari."


"Benarkah?"


"Hu'um, kok mereka nggak nginep?"


"Sengaja, memang aku meminta jam kerjanya dari pagi sampai sore saja."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Kasihan." pria itu menarik Rania hingga dia bangkit dari sofa.


"Kasihan kenapa? justru lebih kasihan kalau mereka pulang pergi kayak gitu? bolak-balik lebih capek lho."


"Hmm ... aku hanya ... tidak suka terlalu banyak orang dirumah." Dimitri menjawab seraya menggiringnya menaiki tangga menuju kamar mereka berdua.


"Cuma dua orang, nggak banyak-banyak. Kayak kamu nggak punya saudara banyak aja?"


"Bukan begitu maksudnya ... tapi ...


"Eh, capucino cincaunya mana?" mereka sudah berada di depan pintu kamar ketika Rania tiba-tiba saja ingat dengan pesanannya.


"Capucino ... cincau?" Dimitri membeo.


"Iya, capucino cincau. Kan tadi pagi aku pesen sama kamu."


Tubuh Dimitri menegang, dia tidak ingat hal itu sama sekali karena seharian ini memang sangat sibuk.


"Mana?" Rania menengadahkan tangannya.


"Itu ... anu ...


Mati aku.


"Anu apa? masih di mobil, nggak kebawa?" tanya Rania.


"Mmm ...


Wajah perempuan itu berubah kecewa seketika.


"Nggak beli ya?" katanya kemudian.


"Aku lupa ...


Rania mendengus kasar.


"Besok lah aku belikan, hari ini ...


Namun perempuan itu segera masuk kedalam kamar mereka dan membanting pintunya dengan keras.


Dimitri mengusap wajahnya, dan dia bermaksud mengikutinya masuk ketika terdengar suara kunci berputar ssbanyak dua kali.


"Zai?" dia menekan handle pintu dan berusaha membukanya, tapi gagal.


"Zai aku mau masuk, kenapa kamu kunci pintunya?"


"Zai?" Dimitri mengetuk pintu.


"Aku udah nungguin dari pagi." Rania merengek dari dalam sana. "Tapi kamu malah lupa. huhuhu ..." dia terdengar menangis.


"Astaga!! kan sudah aku bilang minta dibelikan tadi siang atau order online saja? kamu tidak mendengar?" pria itu setengah berteriak.


"Aku maunya kamu yang beli sendiri sambil jalan pulang." jawab Rania.


"Iya, tapi aku lupa."


Lalu tak terdengar lagi suara.


"Zai, buka pintunya. Aku mau mandi,"


Rania tak menjawab.


"Zai?"


Kemudian terdengar dia membuka kunci dan pintupun terbuka. Dimitri bersiap untuk masuk namun dia tak melanjutkan langkahnya ketika perempuan itu menyodorkan handuk dari dalam kamar.


"Mandinya di kamar lain aja." katanya.


"Hah?"


Kemudian Rania juga menyerahkan sebuah bantal dan selembar selimut kepada suaminya.


"Barternya nggak jadi." katanya lagi, seraya kembali membanting pintu di depan wajah Dimitri dan memutar kuncinya lagi.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


haduh, makanya nggak boleh lupa bang 😂😂😂 gagal barter kan jadinya? 🤭🤭


cuss ritualnya shaaayyy


lope lope sekebon toge, katanya jangan cabe mulu takut sakit perut. 🤣🤣🤣