All About You

All About You
Ayam Geprek Spesial



🌹


🌹


"Rania belum bangun?" Sofia menyesap teh hangat yang dibuatnya barusan, begitu juga Satria, yang mau tidak mau harus terbiasa dengan apa yang perempuan itu hidangkan beberapa bulan ini untuknya. Bukan kopi hitam yang selama ini dia konsumsi, agar lebih sehat katanya.


"Belum." Dimitri duduk di dekat sang ibu, jetlagg masih terasa karena mereka baru saja tiba sekitar dua jam yang lalu. Namun dirinya tak bisa istirahat karena merasa hari sudah terlalu siang.


"Kenapa tiba-tiba pulang? bukannya kamu minta cuti selama satu minggu? apa ada masalah?" sahut Satria.


"Gara-gara ayam geprek." sang anak menyeruput latte panas yang baru saja diantarkan asisten rumah tangga mereka.


"Ayam geprek?" Sofia dan Satria bersamaan.


"Hmm ... tiba-tiba saja dia mau makan ayam geprek. Tadi sebenarnya mau langsung mendarat di Bandung saja, tapi aku pikir nanti malah bolak-balik lagi. Tapi Rania malah ngambek, akhirnya dia tidur."


"Hmm ... suruh bu Lily buatkan."


"Sudah aku bilang begitu, tapi tidak mau. Maunya ayam geprek di dekat Gedung Sate." Dimitri kembali menyesap latte panasnya.


"Memangnya ada?"


"Ada. Waktu itu kami pernah jajan disana."


"Jajan?" Satria tergelak.


"Iya, waktu awal bertemu."


"Aih, ... dia melankolis juga ternyata. Suka dengan kenangan-kenangan semacam itu."


"Tapi agak merepotkan juga."


"Resikomu, Dim." Sofia menepuk pundak sang putra. "Apalagi kalau nanti dia ngidam, akan dibikin repot kamu." katanya.


"Ngidam?" pria itu mengerutkan dahi.


"Hamil."


"Hamil?"


"Ya, ... belum ya? hahaha ..." Sofia tertawa.


"Belum terpikir."


"Rania pakai kb?" Sofia bertanya.


"Sepertinya tidak."


"Benarkah? kalian tidak menunda punya anak?"


"Entah."


"Kok entah? kalau dia hamil bagaimana dengan balapannya?"


Dimitri terdiam, hal itu baru terpikirkan. Saking sibuknya melewati masa pengantin baru sampai-sampai dia tak berpikir ke arah sana.


"Ya berhenti." Satria menyela.


"Berhenti?"


"Ya masa, sedang hamil masih saja harus balapan?" ucap sang ayah lagi.


"Benar juga ya?"


"Bisa marah papanya kalau Rania nanti hamil." gumam Dimitri.


"Kenapa marah?"


"Ya, karir balapan anaknya terhenti. Apa lagi? selama ini kan papanya yang lebih ngotot soal balapan."


"Benarkah?"


"Aku lihatnya begitu."


"Kamu ngaco, mana ada orang tua yang marah kalau mau punya cucu? aneh."


"Ya mungkin bukan marah karena mau punya cucunya, tapi karir Rania yang harus berhenti, Mom."


"Ya, kan bisa berhenti dulu sampai melahirkan. Nanti lanjut lagi. Bisa kan?"


"Bisa sih, tapi bagaimana dengan sponsor? mereka tidak akan mungkin bisa menunggu selama itu."


"Ya mestinya kamu sudah bisa mengantisipasi masalah itu."


"Maksudnya gimana Pih?"


"Pakai kb, setidaknya sampai Rania menyelesaikan kontraknya."


"Hmm ...


"Pakai kb di awal pernikahan itu tidak baik untuk perempuan papi," Sofia menyela.


"Oh ya?"


"Iya, bisa mengganggu kesehata rahim. Nanti mereka malah susah punya anak. Kan sayang."


"Kalau begitu, kamu pakai pengaman saja." Satria tertawa.


Sementara Dimitri bereaksi dengan manarik satu sudut bibirnya ke atas. Baru membayangkannya saja sudah malas.


"Buat apa menikah kalau masih harus pakai pengaman?" katanya.


"Memangnya sebelum menikah kamu pakai pengaman ya?"


"Tentu saja, bisa kacau keturunan Nikolai kalau aku nggak pakai pengaman. Eh ..." pria itu menutup mulut dengan tangannya.


"Kamu ini!" Sofia membelalakan matanya, kemudian memukul lengan anak laki-lakinya itu dengan keras.


"Aduh, sakit mama!"


"Anak nakal! berani-beraninya kamu berbuat seperti itu ya!" lalu dia mencubit paha Dimitri.


"Aww!! jangan begitu! aku ini sudah dewasa, sudah menikah juga! masa mama masih memperlakukan aku seperti anak kecil!" protesnya sambil mengusap-usap pahanya yang terasa perih akibat cubitan sang ibu.


"Terus mama harus bahaimana? memukul kepalamu dengan balok kayu?"


"Jangan! kenapa mama kejam sekali?"


"Sepantasnya kamu diperlakukan seperti itu! ish, ... gemas sekali rasanya! kenapa kamu jadi seperti itu?" geram Sofia, sementara Satria hanya tertawa melihat kelakuan anak dan istrinya.


"Entah ya, kalau Rania tahu soal ini, habis kamu." lanjut Sofia.


"Dia tahu." Dimitri dengan santainya.


"Apa?"


"Dia juga sudah tahu bagaimana aku sebelum menikah."


"Terus bagaimana reaksinya?"


"Biasa saja."


"Apa? dan dia menerima keadaan kamu yang seperti itu?"


"Dia bukan orang yang suka memusingkan hal tidak penting. Dia santai."


"Ah, ... syukurlah. Tidak banyak orang yang seperti itu, kebanyakan dari mereka akan mempermasalahkan masa lalu seseorang."


"Tidak Rania, mama."


"Iya, mama harap seperti itu. Dan kamu harus bisa menjaga itu dengan baik!" Sofia memberi peringatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania duduk di tengah-tengah tangga sambil mendengarkan percakapan suami dan kedua mertuanya diruang keluarga. Tanpa sengaja, karena dia hanya mencari suaminya yang tak dia temukan saat terbangun tadi.


"Zai, kamu sudah bangun?" Dimitri muncul kemudian. "Sudah lama duduk disana?" dia menaiki tangga.


"Nggak, baru aja. Pas bangun kamu nggak ada di kamar."


"Iya, aku nggak bisa tidur lagi tadi. Sudah mandi?" tanya Dimitri.


"Udah."


"Mau makan sekarang?"


"Boleh."


"Ya sudah, ayo?" pria itu mengulurkan tangannya.


"Ada ayam geprek?"


"Astaga! ini masih pagi Zai, bisa sakit perut kamu kalau makan pedas pagi-pagi begini."


"Nggak ih, aku udah biasa. Lagian ini nggak pagi-pagi amat." dia melirik jam yang sudah menunjukan hampir jam 9 pagi.


"Tapi nggak terlalu baik juga, Zai." ucap Dimitri lagi.


"Hmm ..." Rania mengerucutkan mulutnya.


"Selamat pagi, sayang?" Sofia dan Satria sudah siap di meja makan.


"Mama sama papi sarapannya jadi kesiangan gara-gara nunggu aku ya? aku susah bagun pagi, apalagi kalau habis pergi-pergi."


"Tidak apa-apa, kami santai." Sofia menepuk kursi disampingnya, lalu Rania duduk disana.


"Waktu itu aku udah bisa bangun pagi, tapi kadang tidur lagi kalau Dimi udah pergi kerja." perempuan itu tertawa dengan polosnya.


"Benarkah?" Sofia ikut tertawa.


"Dimi?" Satria tergelak. "Panggilan yang paling dia benci sejak kecil." dia melirik kepada putranya yang tak bereaksi. Karena biasnya Dimitri akan protes keras jika seseorang memanggilnya seperti itu.


"Oh ya?"


"Iya, dia kesal kalau ada yang memanggilnya seperti itu."


"Masa? nggak ah, kan aku manggil dia gitu. Ya, Dimi?" Rania kepada suaminya, sementara pria itu hanya memutar bola matanya.


"Tuh kan, nggak?" ucap Rania lagi, lalu dia memulai sarapannya.


"Jelas saja." Satria pun tertawa.


"Cepatlah, kita selesaikan sarapannya." Dimitri mengalihkan pembicaraan.


"Emangnya mau kemana? buru-buru amat?"


"Kamu tidak mau melihat hadianya? sudah selesai lho." jawab Dimitri.


"Hadiah?"


"Hmm ...


"Sekarang, ayo?" perempuan itu menenggak minumamnya hingga hampir habis, kemudian menyeka mulutnya yang basah dengan punggung tangannya.


"Sarapannya?"


"Nanti aja, lagian aku nggak berselera makan. Mulut aku rasanya hambar pagi ini." jawab Rania lagi.


"Baiklah."


"Pergi dulu Mama, papi." dia berpamitan kepada mertuanya.


"Langsung pergi?"


"Iya, dari kemarin bilang soal hadiah melulu. Bikin penasaran." jawab Rania.


"Ya sudah, nanti pulang lagi kesini?"


"Tidak tahu, lihat saja nanti." Dimitri menjawab.


Kemudian mereka melangkah beriringan keluar dari rumah besar tersebut.


"Tapi nanti di jalan kalau ketemu kang ayam geprek berhenti dulu ya?" Rania terdengar berbicara lagi.


"Astaga! masih ingat makanan itu." Dimitri terdengar mengeluhm.


"Kan udah aku bilang, mau pulang karena kangen ayam geprek."


"Nanti aku minta Bu Lili yang buatkan."


"Jangan."


"Kenapa?"


"Astaga Tuhan! itu jauh Ran."


"Makanya, pulang ke Bandung."


Satria dan Sofia terdiam mendengarkan percakapan samar di depan rumah mereka. Lalu keduanya saling pandang.


"Apa pikiranmu sama denganku?" ucap Satria.


"Mungkin."


"Baiklah, kita sepertinya harus bersiap untuk sebuah kejutan."


"Ya sayang." Sofia tersenyum lebar.


🌹


🌹


Sebuah rumah berlantai dua menjadi persinggahan mereka pada siang itu. Berjarak tak terlalu jauh dari pusat kota Jakarta, dan terletak di jalan paling strategis di kota itu.


"Silahkan pak, ini kuncinya." seorang pria menyerahkan sebuah kunci kepada Dimitri.


"Semuanya sudah selesai?"


"Sudah pak."


"Baiklah, terimakasih."


"Ya pak. Saya pamit."


"Baik."


"Katanya mau lihat hadiahnya, ni malah masuk kerumah orang?" keluh Rania dengan wajah cemberut.


Dimitri mengulurkan tangannya. "Come." katanya, seraya menggendikan kepala.


"Hhhh ..." dengan malas Rania mengikutinya.


Mereka memasuki bangunan bertingkat dua tersebut yang sepi tak berpenghuni. Suasanya terasa hening selain suara gemericik air mancur dari samping rumah.


"Eh, ... itu kayak mobil aku." Rania mendekati jendela besar di samping ruang tengah. Melihat sebuah mobil berwarna merah serupa dengan Bugatti miliknya.


"Memang." Dimitri mengikutinya.


"Beneran?"


"Hmm ...


"Kenapa bisa ada disini?" dia berjalan ke arah pintu tak jauh dari jendela besar itu.


"Memang seharusnya ada disitu."


"Hah?" dia mendekati benda tersebut yang memang benar-benar merupakan mobilnya.


"Setelah nanti aku pindah kerja kesini, aku harap kamu juga mau ikut. Dan kita tinggal disini." ucap Dimitri.


"Tinggal disini?"


"Iya, tinggal disini."


Rania terdiam.


"Welcome home." pria itu tersenyum. "Aku nggak tahu kamu sukanya rumah seperti apa, tapi aku berusaha memberimu yang terbaik." katanya lagi.


"Semoga kamu suka dengan rumahnya." lanjutnya, dan dia merangkul pundak perempuan itu dengan erat.


"Rumahnya?"


"Hmmm ... inilah hadiah yang aku maksud."


"Wow, ... nggak berlebihan apa?"


"Reaksimu datar sekali, tidak suka ya dengan hadiahnya?"


"Bukan!" Rania terkekeh, "Hadiahnya kebesaran."


"Hmmm ...


"Kenapa juga harus pindah kesini? emangnya apartemen nggak cukup ya?"


"Kan sebentar lagi aku juga pindah kerja, mau tidak mau harus tinggal di Jakarta. Apa kamu mau ikut denganku?"


"Apa harus? takutnya aku nggak betah."


"Dicoba dulu saja."


Rania terdiam.


"Nggak sekarang, masih beberapa bulan lagi."


"Latihan aku gimana kalau pindah?"


"Itu lebih gampang."


"Masa?"


Pria itu menarik Rania melewati rumah menembus ke bagian belakang, dimana ada lahan yang cukup luas menyerupai sebuah lapangan beraspal. Sebuah garasi cukup besar terletak di sisi lainnya. Ducati hitamnya bahkan sudah terparkir juga di dalam sana.


"Kamu bisa latihan disini sambil menunggu aku bekerja." katanya. "Kamu tidak akan merasa bosan."


"Kamu gila!"


"Memang. Apapun agar kita tetap sama-sama." pria itu tergelak.


"Hmm ... lebay!" cibir Rania.


"Diam, aku sedang mencoba untuk romantis tahu!"


"Udah aku bilang nggak usah, duh ..." dia memegangi perutnya.


"Kenapa?"


"Lapar."


"Ck!" Dimitri berdecak.


"Gara-gara terlalu bersemangat mau lihat hadiahnya, sampai lupain sarapan."


"Kebiasaan kamu buru-buru."


"Habisnya kamu bikin aku penasaran." Rania terkeleh lagi.


"Mau pulang kerumah mama atau mau pesan?" tawar Dimitri.


"Pulang lama. Pesan aja." Rania menjawab.


"Baiklah, mau pesan apa?" pria itu merogoh ponsel pintarnya dari saku celana.


"Ayam geprek sama capucino cincau."


"Ck!" Dimitri berdecak.


"Please, aku mau makan itu. Dari pada pulang ke Bandung kejauhan," Rania tersenyum lebar, menunjukan giginya yang berjejer rapi.


Lalu dimitri mendelik, tapi tak urung juga dia melakukan apa yang diminta.


"Tunggu lah, paling lama satu jam pesananannya sampai kesini." dia kembali memasukan ponselnya kedalam saku celananya.


"Lama amat, keburu lapar." Rania memegangi perutnya yang memang teasa tidak nyaman. Terasa perih, agak mual, tapi juga memang lapar.


"Tunggu saja."


"Haahhh, ... nunggunya lama." perempuan itu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa saat mereka kembali kedalam rumah.


"Mau tahu cara agar menunggunya nggak terasa lama?" Dimitri tiba-tiba saja punya ide.


"Apa?"


"Kita ke atas."


"Ke atas?"


"Hmmm ..." pria itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah atas.


"Lantai dua?"


"Iya."


"Ada apa di lantai dua?"


"Sesuatu."


"Apaan?"


"Ayam geprek spesial."


"Hah? kan belum datang?"


Dimitri tersenyum.


"Senyum kamu mencurigakan."


"Mau modus ya?"


"Kamu sudah faham." dia tergelak, kemudian mendekat.


"Siang-siang mau modus?"


"Sambil menunggu pesanan kamu."


"Nanti pesanannya ...


Pria itu menunduk, lalu tanpa aba-aba segera meraup tubuh kecil Rania, kemudian memanggulnya di pundak.


"Aaa ... nanti aku jatuh!" tangan Rania menggapai-gapai mencari pegangan.


"Tidak akan, aku memegangimu." Dimitri setengah berlari menaiki tangga menuju ke lantai atas.


Sebuah kamar besar yang sudah lengkap dengan perabotannya menjadi saksi bisu saat pria itu menjatuhkan Rania diatas tempat tidur.


Dimitri segera melucuti pakaian mereka berdua, lalu mengungkung tubuh perempuan itu diantara kedua tangan dan tubuh tingginya. Dan tanpa menunggu lama, diapun melahap bibir menggodanya yang terbuka.


"Ngghh ..." Rania menahan ******* saat ciumn itu terus turun hingga menemukan buah dadanya yang masih ranum menggoda, yang hanya pria idiatasnyalah yang menyentuhnya.


Pria itu kemudian bangkit namun tak melepasakan tangannya dari dada Rania, lalu tangannya itu menelusuri belahan dada, hingga turun ke perutnya. Mengusapnya dan bermain-main disana, hingga ******* tertahan keluar lagi dari mulut perempuan di bawahnya.


Rania menahan napas menatap benda yang sudah tegak menegang milik Dimitri. Walau ini bukan pertama kalinya dia melihat, namun masih saja membuatnya berdebar.


Kemudian dia beralih menatap wajah Dimitri yang sudah memerah menahan hasrat. Rahanganya terlihat mengeras dan giginya terdengar bergemeletuk. Dia seperti singa lapar yang menemukan mangsa sepadan.


Rania merasakan tubuhnya sedikit merinding, menatap wajah dan mendengar suara rendah suaminya terasa sedikit mengerikan.


"Kamu ... jangan bikin aku takut." dia mencicit, namun segera menutup mulutnya saat tangan pria itu mulai menyusuri kakinya dari bawah hingga merayap keatas.


Dimitri mengusap paha, kemudian merayap lagi ke bagian dalam seraya melebarkan kedua paha Rania.


"Nggghhh..." kepala perempuan itu terdongak keatas dengan matanya yang terpejam saat Dimitri menancapkan alat tempurnya pada miliknya.


Lalu hentakan pun dimulai perlahan pada awalnya. Sentuhan diteruskan ke segala arah, hingga tak ada sejengkalpun dari tubuh keduanya yang terlewat. Menghadirkan desiran-desiran yang membuat hasrat semakin bergelora.


Des*han dan erangan kian mengudara pada hampir tengah hari itu. Dan suara percintaan memenuhi langit-langit kamar sebuah rumah baru yang menjadi hadiah kemenangan bagi Rania. Hingga setelah beberapa lama, kegiatan tersebut berlangsung semakin panas.


Rania mengerang, dan meremat kencang punggung pria diatasnya ketika merasakan sesuatu di dalam dirinya mendesak begitu hebat.


"Ah, ..." dia mendes*ah keras saat tak bisa lagi menahan rasa itu, yang terus berkumpul di perut bagian bawahnya, lalu mendesak ke pusat tubuhnya. Hingga membuat bagian itu berdenyut tak karuan.


Sementara Dimitri menggeram saat dia juga merasakan hal yang sama. Kedutan pada naga ajaibnya membuatnya semakin menggila. Dia memacu tubuhnya lebih cepat, tahu perempuan dibawah hampir saja mendapatkan pelepasannya.


"Tunggu aku Zai, tunggu aku." racaunya saat Rania terus mengerang dan mendes*h dengan tubuhnya yang menggeliat-geliat. Hingga akhirnya, lenguhan panjang keluar dari mulut mereka dan pusat tubuhnya mengetat diikuti denyutan yang begitu kencang. Dan disaat bersamaan Dimitri menghujam keras dan menekan pinggulnya saat pelepasan juga menghantamnya tanpa ampun.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


kurirnya udah datang belum ya? 🤭🤭