All About You

All About You
AAY 3 : Lembaran Baru



#21 Tahun yang lalu


#Flashback


Ryan kecil, saat itu berusia 8 tahun. Ia keluar dari kamarnya dengan wajah setengah sadar. Tidurnya terganggu.


Malam itu suasana tegang terjadi di rumah keluarga Candra, hujan dan petir semakin membuat dingin suasana. 2 lelaki separuh baya yang tengah bertatap muka sama-sama menahan marah.


“Beraninya kau menipu perusahaanku, dan mengalihkan seluruhnya menjadi mikikmu,!!!” ujar laki-laki berparas tampan dengan usia bekisar 37 Tahun. Ayah Kandung Delista.


“Tenanglah,, kau membuat anak perempuanmu takut,,!!” ujar Candra sambil memandang gadis kecil, yang sedari tadi hanya menunduk ketakutan di balik tubuh temannya itu. “Tapi... ini juga jadi kesalahanmu...kau tahu... kau terlalu bodoh untuk ditipu."


Ferry menggenggam tangan Putri kecilnya dengan erat “Apa kau benar-benar temanku?? Kenapa kau tega sekali melakukan ini,,”


“Teman?? kau yang pertama kali tak menganggapku sebagai teman, kau yang ingin merebut sahamku, kau diam-diam bekerja sama dengan Perusahaan lain untuk menusukku dari belakang!!”


“Apa yang kau bicarakan,”


"Kau sekarang bisa jadi aktor yang baik, kau bahkan bisa berpura-pura tidak tau...sekarang keluar dari rumahku! rumahmu sekarang sudah menjadi milikku. Jadi segeralah berkemas dan pergi dari rumah itu, aku berencana akan pindah besok pagi!"


"CANDRA!" Ferry menghentak, "Bagaimana aku bisa membuat Gisella menderita karenaku?" Ujarnya, saat namanya disebut, gadis itu mendongak menatap sang Ayah.


"Ahh, baiklah. Aku bisa sedikit berbaik hati padamu, tinggalah dirumah lamaku ini bersama putrimu, setidaknya dia tidak harus jadi korban atas perbuatan ayahnya,,” ujar Candra angkuh.


“Ayah,??” panggil Gisella lirih.


“Pergilah ke mobil terlebih dahulu, tunggu Ayah di mobil” ujar Ferry tenang, Gissella mengangguk patuh dan keluar.


Setelah kepergian Gissella, Ferry menatap Candra. “Jika yang kau maksud tentang kontrak mantan istrimu, kau sudah salah besar tentangku. Della datang sendiri padaku dan memohon untuk berinvestasi di butiknya, aku menerimanya karna aku butuh butik itu untuk mendapatkan sponsor seragam. Maaf aku tak pernah menceritakkannya padamu, karna Della memintaku untuk merahasiakannya darimu. Kau juga menjaga jarak dengannya kan?"Jelas Ferry.


Wajah Candra memerah, “Ah,, sudahlah jangan berdebat lagi denganku. Toh, sekarang akulah pemiliknya sekarang. Besok pagi, tinggalkan rumahmu, dan pindah kesini!" Bentak Candra kasar, ia tak peduli lagi dengan alasan yang dibuat temannya itu. Wajah putus asa Ferry terlihat jelas, dengan tenaga tersisa, laki-laki itu pergi.


Setelah temannya pergi, Candra merogoh sakunya, dan menelfon seseorang.


“Bunuh mereka!”


Ryan kecil menutup mulutnya, ia mendengar semuanya dari lantai atas dan bergegas menyusul teman ayahnya. Pria kecil itu tau siapa yang disuruh sang Ayah melakukan pekerjaan kotor. Frans. Supir pribadi ayahnya, ia sudah siap dengan setelan hitamnya. Tanpa sepengetahuan pria itu, Ryan masuk ke mobil dan berjongkok di belakang jok mobil pengemudi, disusul Frans dengan membawa koper kecil.


Ryan melotot kaget, saat Frans membuka koper kecilnya, sebuah pistol hitam dan beberapa peluru. Laki-laki itu mengisi peluru dan menaruhnya kembali, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Mata kecilnya menatap rintikan hujan yang mulai membasahi mobilnya. Ia sama sekali tidak menduga, kalau ayahnya berani menyuruh seseorang untuk membunuh.


Dia merasa, laju mobil semakin meningkat dari sebelumnya. Ryan berusaha tidak menimbulkan kecurigaan dan bertahan pada posisinya.


'Braaakkkkk!!!!'


Suara hentaman keras terdengar. Ryan menutup mulutnya rapat menahan teriakan karena terkejut. Ia lalu mendengar pintu mobil terbuka, Frans bergegas turun dari mobil, derap kaki Frans berderu dan semakin kecil menandakan semakin jauh Frans pergi. Saat merasa keadaan sudah aman, Ryan keluar dari mobil. Suara hentaman yang tadi dia dengar berasal dari sini, mobil yang ditabrak Frans terdorong jauh 4-5 meter.


Ryan melangkah mendekati mobil. Kosong. Mungkin, teman ayahnya tau nyawanya terancam dan berlari menyelamatkan diri. Tangannya membuka pintu belakang, sebuah boneka tedy tergeletak di kursi pengaman bayi.


'DOORRrr!!'


Anak laki-laki itu tersentak. "Tidak!" lirihnya pelan.


#Flashback Off


Nafas deru Ryan terdengar, wajahnya sudah dipenuhi peluh keringat. Mimpi itu lagi. Ia mengusap wajahnya, penjelasan Erlangga tentang luka masa lalu yang didapat Delista membuat dirinya kembali ke mimpi itu. Ryan menatap gadis yang masih tertidur, lalu sekilas menatap jam. Sudah jam 3 Pagi. Ia lalu merogoh sakunya dan mencari nomor tujuan.


"Suruh Victoria untuk bersiap, aku akan pulang sebentar lagi!" Ujarnya. Dirinya bangkit, membuka kulkas, dan meneguk air dingin sampai tandas. Ia kembali menghela nafas.


.


.


"Saranghae!!" pernyataan gadis itu membuat langkah Ryan terhenti, ia berbalik menatap Delista. "Semoga harimu menyenangkan! Fighting!!" Gadis itu menyemangati Ryan dengan senyuman manisnya. Ryan hanya mengangguk kecil dan pergi.


'Tidak. Jangan baik padaku! ku mohon, setelah kau tau apa yang dilakukan ayahku pada keluargamu. Apakah kau akan tetap tersenyum seperti itu?'


"Aku pergi dulu!"


Gadis itu hanya bisa menatap punggung Ryan yang menghilang dari pandangannya. "Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa dia sama sekali tak menatapku?" gumamnya. "Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun?"


*****************


Dilain tempat, seseorang dengan pakaian lusuh menemukan barang-barang Delista. Ia membuka tas, matanya berbinar saat menemukan sejumlah uang dari dompet.


"Bisakah aku memakainya?" gumamnya senang. Ia menemukan selembar kertas yang terselip diantara kartu ATM, disitu tertulis beberapa digit angka. Matanya lalu beralih pada foto seorang wanita. "Siapa dia? Kenapa dia begitu ceroboh meninggalkan barang-barangnya disini?" tanpa basa-basi ia langsung menarik koper yang baru ia temui dan membawanya pergi.


********


Gilang menyesap tehnya pelan, "Kau mau makan sesuatu?" Tanya Hera padanya.


"Aku tidak lapar,"


"Bagaimana bisa kau tidak lapar? Kau bahkan tidak makan sejak semalam" keluh Hera.


"Lalu bagaimana dengan Delista? Apa dia juga sudah makan?"


"Sayang, dia pasti baik-baik saja. Apa kau benar-benar tidak takut dengan ancaman Resti?"


"Resti anakku! Begitupula dengan Delista!" Suaranya meninggi, "Jika kau lapar, makanlah. Jangan khawatirkan aku" ujarnya lalu kembali masuk ke kamarnya.


Hera hanya bisa menghela nafas kesal, "Apakah Delista akan mengingatmu juga?" gumamnya


***********


Resti menarik kopernya, ia akan bertolak dari Bandara Internasional John F. Kennedy New York, dan kembali ke Seoul. Belum 24 jam sejak kepergian Delista dari hidupnya, berita dan gosip yang meliputi gadis itu semakin melantur untuk didengar.


'*Delista dijadikan pacar gelap presdir'


'Nomor Hp Delista mati, kemungkinan karna perintah Presdir*'


Dia muak mendengar semua hal konyol tentang Delista. Walaupun pada kenyataannya dia sendiri juga tidak tau pasti bagaimana keadaan anak itu. Mustahil, anak pungut itu berubah menjadi Cinderella dalam satu malam.


Resti memeriksa kembali pakaiannya, disaat itulah Sherly datang. "Apa Delista sedang sakit parah?"


"Apa maksudmu?" Ia memang muak mendengar berita terkait Delista, tapi tetap saja ia harus update kan?


"Seseorang melihat Presdir keluar dari Rumah sakit saat subuh"


"Lalu apa hubungannya dengan Delista. Kenapa kau selalu mengaitkan mereka berdua?"


"Karna ini aneh! Pertama, Delista ditunjuk sebagai pramugari VVIP atas perintah Presdir. Kedua, sekretaris prepaparazi menemukan mereka menikmati waktu luang. Ketiga, Delista menghilang tanpa jejak. Dan yang terakhir, Presdir keluar dari rumah sakit saat subuh!"


"Mungkin, dia sedang menjenguk keluarganya?"


"Apa kau sudah lupa? Adryan itu hidup sebatang kara versi pangeran."


"Mungkin, dia membutuhkan sesuatu disana?"


"Hanya dengan menelfon, semua yang ia butuhkan akan datang kerumahnya."


Resti kesal mendengar semua sanggahan Sherly, "Lalu apa yang kau pikirkan?"


"Seperti katamu kemarin, kemungkinan Delista hamil" jawab gadis itu santai.


"Omong kosong apa ini. Jangan menyebarkan hoax yang tidak-tidak atau nanti kau bisa dipecat, Sher!!" Hardik Resti, "Aku sudah bilang berapa kali untuk tidak membahas Delista di depanku, kembalilah bekerja"


"Baiklah,,"


Resti melengos pergi, rahangnya mengeras. Semakin dipikirkan semakin gila rasanya. "Harusnya aku bunuh saja langsung dia ditempat! Jadi aku tidak perlu mendengar omong kosong ini!" Umpatnya.


***********


Victoria datang membawa beberapa setel pakaian. Wanita itu mondar-mandir menyiapkan segalanya. "Kau bisa duduk Nyonya? akan ku panggilkan stylish untuk memperbaiki rambutmu"


"Kenapa begitu merepotkan? Aku hanya perlu pulang dan istirahat" keluhnya


"Jika kau hanya wanita biasa, mungkin kau sudah bisa pulang siang tadi. Tapi kau adalah tunangan Presdir." jawabnya. Ia sudah menyiapkan kursi lalu menepuknya, "Ayo, aku bantu kau"


Victoria menuntun gadis itu turun dari tempat tidur. "Ngomong-ngomong sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak mengingat apapun. Kau hanya memberitahu namaku"


"Tuan melarangku untuk menceritakannya padamu. Katanya kau bisa shock nantinya. Percayalah padanya, Ny. Gisella"


"Entahlah, semua terasa asing bagiku. Ryan sepertinya tidak terlalu antusias saat mengobrol denganku." Gisella mengambil posisi duduk yang nyaman. "Apa aku berbuat kesalahan? Apa sebelum kecelakaan ini, kami bertengkar?"


Victoria sedikit kebingungan, Ryan hanya menyuruhnya untuk memberitahu nama gadis ini dan tentang mereka yang bertunangan. "Tuan, mungkin sedang banyak pikiran. Jangan terlalu khawatir, tunggulah disini aku akan memanggil stylish-nya. Gisella mengangguk, ia menatap dirinya dalam cermin. "Aku tidak suka dengan keadaanku sekarang" gumamnya pelan.


*********


Ryan menatap layar Tab-nya dengan wajah datar, artikel tentang dirinya bisa saja mengalahkan selebritas. Ini karena Artikel sebelumnya, dan itu mengakibatkan semua kegiatannya langsung terasa dikelilingi paparazi.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Wildan.


"Biarkan saja. Aku tidak mau ambil pusing. Bagaimana dengan Delista? Ah... maksudku Gisella?"


"Mereka sedang bersiap-siap keluar dari rumah sakit. Tapi, mungkin itu tidak mudah...."


"Kenapa? Apa lagi masalahnya? Bukankah aku menyuruhmu menjaganya? Dimana anak buahmu? Apakah kita bisa mempercayai mereka? Kenapa kau tidak turun langsung ke lapangan?" Rentetan pertanyaan Ryan membuat Wildan memutar bola matanya.


"Aku akan melakukan yang terbaik demi... tunanganmu" ledeknya, Ryan melempar pandangan tak senang.


"Aturlah sendiri. Aku tidak mau mendengar kabar yang tidak-tidak lagi. Satu lagi, jangan sampai wartawan tau tentang Gisella. Kita tidak boleh membocorkannya sampai waktu yang tepat! Aku tidak mau rencanaku gagal lagi."


"Baiklah,"


************


Suasana diluar rumah sakit dipenuhi puluhan wartawan. Mereka siap meliput siapapun yang mereka curigai sebagai kekasih Presdir maskapai termansyur di seluruh negeri.


"Ibu... sadarlah! Ibu... kumohon bertahanlah!"


Salah satu wartawan wanita berhasil menyelinap masuk diantara para petugas ambulans. Rumah Sakit ini milik Adryan, jika keamanan diperketat pasti ada yang berusaha ia sembunyikan.


Verta. Ia mengintip lorong VVIP. Beberapa pengawal berdiri mengawas. Tidak ada yang istimewa atau memang belum ada pergerakan.


.


.


Victoria melihat para wartawan dengan waspada, "Kenapa mereka begitu rajin mengamati kehidupan orang lain?" Ia berbalik, Gisella sudah siap begitu pula dengan para bodyguard. "Ini tidak akan berhasil," Matanya beralih pada salah satu bodyguard wanita. "Kau ganti bajumu, ayo kita alihkan mereka!"


Semua yang mengikuti apa yang diperintahkan Victoria, "Aku akan membawa Catrine ke pintu belakang, kalian kawal Ny. Gisella ke pintu utama!"


"Baik!"


Semua wartawan teralih, dan langsung menyerbu pintu belakang. Dari dalam, Gisella keluar mengenakan masker, diiringi satu bodyguard langsung berlari keluar. Verta mengetahui rencana ini begitu jelas, langsung mengambil gambar. Lensa kameranya sudah siap membidik objek yang diincar. Tapi, objeknya terhalang.


Adryan.


Verta terpaku sesaat,


"Maaf, bisakah kau mengambil gambarnya lain hari?" ucap Ryan memberi penawaran.


"Hah?"


"Bisa aku minta kartu namamu?"


Verta patuh dan menyodorkan secarik kartu nama, "Apa....Dia...benar-benar tunanganmu, Tuan?"


"Kau akan menjadi orang pertama untuk berita eksklusif dariku. Percayalah. Aku akan menghubungimu!" Ryan menyudahinya dengan senyuman, meninggalkan Verta yang berusaha untuk sadar.


"Apa dia benar-benar manusia? Kenapa dia begitu tampan?"


************


Gisella menelusuri setiap ruangan dirumah mewah itu. Berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya, mencoba mengingat puing-puing ingatannya. Usahanya masih belum membuahkan hasil, memorinya benar-benar hilang. Ia membuka pintu berukuran besar. Ruang kerja Ryan.


'Bruukk!'


Asal suara itu berasal dari sudut ruangan, Ryan terlihat kewalahan membawa beberapa buku.


"Apa yang kau lakukan?"


"Duduklah, aku tau kau bosan. Jadi, aku mencari beberapa buku untukmu" Jawab Ryan, ia kembali ke rak buku. Gisella menurut,


"Apa aku terlihat seperti.... hobi membaca?"


Ryan datang dengan setumpuk buku tentang keuangan lalu meletakkannya diatas meja. Gisella menatap Ryan bingung. "Cara cepat menjadi pemimpin? Kau ingin aku membaca ini?"


Laki-laki itu mengangguk, "Belajarlah mengurus perusahaan,"


"Aku? Kenapa? Bukankah ada kau?"


Ryan menyilangkan tangannya, "Kau yang memintanya dulu."


"Aku? Tidak mungkin, aku bahkan tidak ingat apapun tentang ini. Maaf, aku tidak bisa. Ini... ini semua terlalu asing untukku."


Ryan berlutut, menggengam tangan Gisella dan menatap gadis itu lembut. "Aku hanya menjalankan perusahaanmu, dan kau adalah pemiliknya."


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya menggantikanmu untuk sementara, jadi aku mohon bekerjasamalah denganku. Besok kau akan dibantu beberapa tutor, aku akan sibuk beberapa hari kedepan, semangatlah!" Ryan mencium kening Gisella, "Aku akan pergi tidur, jangan tidur terlalu larut"


Gisella menahan tangan Ryan, "Jangan menghindariku. Jika kau belum siap mengatakan apapun padaku sekarang, aku akan menunggu kau siap. Hanya aku... hanya aku sendiri yang belum paham keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang terjadi diantara kita? Kau... Victoria... bahkan rumah ini, tidak secuilpun bisa kuingat. Tunggu, Apa aku punya keluarga?" Ryan tertegun, melihat ekspresi laki-laki itu, Gisella hanya bisa menghela nafas, "Bahkan aku tidak boleh mengetahui keluargaku?" Matanya lalu mengarah pada jari manis Ryan, "Kita bahkan tidak mengenakan cincin. Apa benar kita bertunangan?" Gadis itu bangkit dari tempatnya. "Ceritakan padaku saat kau siap. Aku akan membawa mereka ke kamarku" Ia membawa beberapa buku dan kembali ke kamarnya,


Ryan terdiam sesaat, ia menatap jari manisnya dengan pandangan kosong, "Karna semua serba mendadak. Karna semua tidak sesuai rencanaku. Aku sampai melakukan kesalahan" Gumamnya.


********


Gilang masih tidak berselera makan, ia hanya menyudahi makannya dalam suapan keempat. Resti yang sudah bergabung kembali, merasa itu hanya cara Ayahnya untuk membuatnya mundur.


"Aku sudah selesai makan. Lanjutkan makan kalian, aku ada sedikit pekerjaan," Ujarnya lalu bangkit berdiri.


"Makanlah sedikit lagi, ini ikan kesukaanmu" Pinta Hera pada sang Suami.


"Aku sudah kenyang,"


"Ayah... jangan memaksakan diri. Berhentilah membuat Ibu khawatir padamu," Ujar Resti. "Delista tidak akan pulang. Akan kupastikan itu!" lanjutnya sembari melanjutkan makan malamnya.


Gilang menghela nafasnya, tanpa menjawab ia langsung masuk ke ruang kerjanya.


"Sejak Delista pergi, nafsu makannya menurun drastis. Aku takut jika kesehatannya memburuk." Resti tak peduli dan fokus pada makanannya, "Apa kau tau dimana Delista berada?"


Sumpitnya terhenti.


"Aku tidak tau"


"Sebenarnya, dimana kau meninggalkan anak itu?"


"Apa ibu ingin aku kehilangan selera makanku? Ibu tau? Sekarang Delista menjadi topik hangat diseluruh maskapai, aku sampai muak mendengar namanya disebut! Tidak bisakah Ibu mengerti?" Resti menyudahi makan malamnya dengan kasar lalu naik ke kamarnya.


"Sebenarnya, apa yang membuatnya takut dengan Delista?" pertanyaan itu muncul. Ia tau, anaknya bukan tipe pendendam tanpa sebab, walaupun ini keterlaluan, tapi rasanya tidak nyaman dengan keadaan yang seperti ini.


*************


Esoknya, Gisella sarapan sendirian. Ryan sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali, Victoria yang memberitahukannya. Gadis itu tidak terlihat menikmati sarapannya.


"Ny. Gisella, Tutor pertama akan datang satu jam lagi. Jadi, bersiap-siaplah," Ujar Victoria. Gadis itu mengangguk lemah.


Gisella mengikuti permintaan Ryan untuk belajar tentang perusahaan. Mungkin perlahan ia bisa mendapatkan kembali memorinya yang hilang. Pembelajaran diakhiri dengan minum teh, Tuan Dicsen tutor yang mengajarinya tentang keuangan itu menyesap tehnya pelan. Mata Gisella tak luput dari cincin yang dikenakan pria itu.


"Kau sudah menikah rupanya?"


Tuan Dicsen mengikuti arah mata Gisella, lalu tersenyum, "Tidak, kami baru bertunangan, rencananya tahun depan kami menikah"


"Benarkah? Selamat untukmu, semoga rencanamu berjalan dengan lancar"


"Terimakasih. Aku juga mendoakanmu dengan Tuan Ryan, kalian begitu serasi" ungkapnya.


Gadis itu tersenyum simpul, "Berapa lama kau mengenal Ryan?"


"Sejak dia berkuliah sampai sekarang."


"Hmm... Apa menurutmu, ada yang harus ku ketahui?"


"Tentang?"


"Pertunangan kami. Apa benar kami bertunangan?" Tanya Gisella, Dicsen terlihat pucat pasi,


"Lalu... jika kau bukan tunangannya, bagaimana bisa kau tinggal disini?"


Gisella memperlihatkan jari manisnya, "Tidak ada cincin?" Dicsen menelan ludah,


#Flashback On


Ryan memanggilnya ke ruang kerjanya. Memberikan Dicsen tugas untuk menjadi salah satu tutor Gisella.


"Ajari dia semuanya. Ingat! Apapun yang terjadi, jangan ceritakan apa yang kau dengar dan apa yang kau lihat saat kau berada dirumahku. Jadilah dinding tanpa telinga. Jangan katakan apapun padanya tentang hal yang tidak berguna. Tugasmu hanya satu, mengajarinya tentang keuangan" Jelas Ryan


Dicsen mengangguk paham.


#Flashback Off


Gisella menyesap tehnya dengan tenang, pikirannya kusut hanya memikirkan sebuah cincin.


****************


Sudah dua minggu Gisella tidak bertemu Ryan. Laki-laki itu dijadwalkan berangkat ke luar negeri untuk beberapa hari. Tidak ada kabar, tidak mengucapkan apapun. Gisella tidak lagi bertanya menyangkut ingatannya. Apapun yang disampaikan Victoria ia lakukan dengan baik. Semua arahan Ryan, semua keinginan Ryan, dan semua buku dari Ryan datang bertubi-tubi. Laki-laki itu menuntutnya sempurna, entah apa tujuannya, Gisella hanya menuntutnya satu hal. Pengakuan.


"Tutor Bahasa Asingmu akan datang satu jam lagi. Nikmati makan malammu, Ny. Gisella"


"Terimakasih Victoria!"


Gisella menyuapkan beberapa udang ke mulutnya. Tata cara makan yang diajarkan Victoria dipraktikkannya dengan baik.


Gerakannya terhenti, ada yang salah dengan tenggorokannya, dadanya juga tiba-tiba terasa sesak dan suaranya tercekat. Ia meneguk air putih hingga tandas.


"Ny. Gisella, kau tidak boleh minum seperti itu," Tegur Victoria. Gisella tidak menjawab, rasa gatal di tenggorokan berganti dengan rasa perih mencekik. Victoria mengerutkan kening, perlahan ruam kemerah-merahan muncul di permukaan kulit area tenggorokan gadis itu. Ia langsung menghampiri Gisella "Kau baik-baik saja Nyonya?" gadis itu menggenggam tangan Victoria kuat.


"Teng...tenggorokanku...ahh...aku.. merasa dicekik.. uhuukk... uhukkk!!" Gisella terus memijat arena lehernya, ini sungguh menyiksa.


"Panggilkan dokter Erlangga! CEPAT!"


**********


"Alergi Seafood??" Ryan mematung setelah mendengar kabar dari rumah.


Wildan mengangguk, "Keadaannya cukup buruk, untungnya dia tidak makan terlalu banyak"


"Kosongkan jadwalku, kita pulang ke Seoul malam ini!!" Perintah Ryan.


"Baik!" Wildan meninggalkan Tuannya. Sepeninggalan sekretarisnya itu, mata Ryan beralih pada bingkisan kecil diatas meja.


***********


Rena menyiapkan hidangan aneka seafood yang menggiurkan, Resti datang disusul Gilang dari belakang.


"Uwaahhh,,, seafood! Kenapa tiba-tiba makan semeriah ini? Ibu, kita tidak akan bangkrut besok kan? Aku merasa kau sedang menghabiskan stock bahan"


Hera tertawa mendengarnya, "Tidak,, aku hanya sedang rajin menyiapkannya. Ayo kita makan!"


"Delista alergi seafood. Bagaimana jika dia terluka? Keadaannya akan memburuk walaupun hanya makan satu udang saja" Ucapan sang Ayah membuat senyuman Resti hilang seketika.


"Ayah"


"Ayo makan, lagipula kalian juga sudah tidak menganggap Delista ada" Gilang menyumpit satu kerang dan mencicipinya. Resti hanya bisa menatap kursi kosong disampingnya, tempat duduk Delista saat makan bersama. Secuil hatinya merasa rindu, tapi segera ia tepis.


*********


Ryan tiba dirumah pukul 2 dini hari. Laki-laki itu mempercepat langkahnya menuju kamar Gisella, tapi ia tahan saat melihat Victoria.


"Apa yang dikatakan Erlangga?"


"Untuk beberapa hari ini, dia harus menjaga vital suaranya. Maafkan aku Tuan, aku tidak mengetahui hal ini" Jawab Victoria.


"Tidak apa, aku juga salah. Istirahatlah, aku akan menjaganya untuk malam ini." perintah Ryan, Victoria mengangguk.


Di kamar, Gisella tertidur pulas. Lehernya dibaluti handuk hangat untuk meredakan ruam gatalnya. Ryan masuk tanpa suara, menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya. Dilihatnya keadaan Gisella yang perlahan membaik. Ryan mengusap wajahnya. Bagaimana mungkin, hal ini dilewati olehnya?


Perlahan, laki-laki itu menarik tangan Gisella. Sebuah cincin perak sudah terpasang di jari manisnya. Kini giliran Gisella dengan pelan, Ryan memasangkan cincin ke jari manis gadis itu.


"Tolong... tolong bertahanlah Gisella. Untuk Ayah dan Ibumu, kumohon bertahanlah" Gumamnya pelan sembari mengusap tangan gadis itu pelan. "Apapun yang aku lakukan, adalah untuk mengembalikan semuanya padamu."


"Ayo kita mulai lembaran baru,"