
Mobil Resti berhenti di tepi tebing, Delista bingung tapi tetap mengikuti kakaknya turun. "Kenapa kita kemari?"
"Aku ingin memberitahu sesuatu"
"Tentang apa? bukankah kita bisa bicarakan ini dirumah?"
Resti menoleh, ia menyilangkan tangannya. "Apa kau tau kenapa hanya kau sendiri yang menyukai Seafood? Apa kau tau, kenapa golongan darahmu berbeda dari ayahmu?"
"Mungkin aku mengikuti ibuku"
"Bukan. Itu karena kau bukan anak kandungnya!" pernyataan Resti sukses membuat Delista terdiam. "Kita benar-benar tidak bisa dikatakan sebagai saudara tiri"
"Apa maksudmu? Aku...tidak mengerti. Aku.... aku bukan anak kandung ayah?"
"Iya, itu faktanya." Resti mengulurkan amplop putih bercap rumah sakit, "Lihatlah, ini hasil tes DNA."
Gadis itu mengambil amplop putih dan membukanya. Raut wajahnya berubah pucat, tangannya meremas surat hasil DNA itu. "Lalu? Kenapa aku harus peduli dengan ini? Tidak apa jika aku memang bukan anak kandungnya, tapi aku dan kau tidak berbeda. Ayah menyayangi kita berdua walaupun kita bukan anak kandungnya!"
Senyum tipis terbentuk di wajah Resti, "Aku dan Kau berbeda. Aku akan mengampunimu jika kau anak kandungnya. Tapi, nyatanya kau malah anak pungut!!"
"Resti!"
"Kenapa? Kau marah? Bersaing denganmu membuatku kesal karna akhirnya aku yang selalu kalah darimu. Kalah dari anak pungut."
"Aku tidak pernah merasa bersaing denganmu. Aku tau kau bekerja keras untuk hidupmu, tapi aku juga harus bekerja keras untuk hidupku juga."
"Kau? Apa yang kau tau tentang kerja keras? Hanya tersenyum kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan!"
"Itu karna kau terlalu serakah!! Bukan salahku jika mereka memilihku, kau hanya kurang bersyukur dengan apa yang kau punya. Jika saja, kau bisa mengurangi rasa iri dan dengkimu, semua orang pasti menyukaimu!"
"Diam! Apa yang kau tau tentangku! Aku tidak butuh belas kasihan darimu!"
"Lalu, apa yang kau inginkan? Kau sudah memberitahuku fakta tentang kelahiranku. Apa kau senang?"
"Aku ingin kau mati! ENYAH KAU DARI HIDUPKU!! Pergilah yang jauh! Jangan kembali lagi kerumah!" Delista shock mendengar permintaan Resti, kebencian gadis itu terhadap dirinya membuatnya sakit.
"Kenapa? Kenapa kau mengingkan itu dariku? Kita bisa perbaiki ini, jangan buat Ibu dan Ayah kecewa kepadamu." Delista mencoba menenangkan Resti.
Gadis itu tersenyum sinis, "Ibu dan Ayah mana yang kau maksud? Mereka orangtuaku!! Pergilah, temui orang tuamu di surga sana. Ah, iya. Ataukah, orangtuamu juga tidak menginginkan kau hidup? Mereka memilih membawamu ke panti ketimbang merawatmu," Resti tertawa mengejek, "Haha, setidaknya aku tidak dibuang. Pergilah, dan jangan kembali, atau aku benar-benar membunuhmu!" Resti mengeluarkan semua barang-barang Delista dari mobilnya, dan tanpa basa-basi ia meninggalkan Delista sendirian.
Setelah Resti pergi, yang tersisa hanya Delista seorang diri. Anak pungut. Anak buangan. Anak yang tak dianggap. Sehina itukah dirinya? Takdir apa yang sudah disiapkan untuknya?
******************
Resti tiba dirumah, kepulangannya disambut Hera dan Gilang antusias. Tapi, wajah keduanya langsung heran karna anak gadisnya tidak pulang bersama Delista.
"Lho, Delista kemana?" Tanya Gilang "Bukannya tadi kau ke Bandara?"
"Ayah, tujuanku kesana bukan untuk menjemputnya? Berhentilah khawatir, biarkan dia putuskan sendiri mau pulang atau tidak" Jawab Resti acuh.
"Aku akan menghubunginya," Hera menawarkan diri untuk menelfon. "Mungkin dia masih....."
"Ibu, berhentilah berpura-pura. Aku tau Ibu yang paling bersyukur jika Delista tidak pulang," potong Resti.
"Resti,,"
"Kalau kalian menghubunginya, aku akan bunuh diri!" Lanjutnya
"RESTI!!" Gilang menghardik.
"Resti tau, Delista bukan anak Ayah. Jadi berhentilah mengkhawatirkannya. Hanya aku. Hanya aku anak kalian!!" Ia tidak mau dibantah sekalipun. Apapun yang terjadi, keputusannya adalah yang terpenting menyangkut Delista. Selain itu, ia akan menuruti perkataan Ayah dan Ibunya.
Tanpa ketiganya sadari, ada kehadiran orang lain yang mendengar percakapan mereka. Tangannya mengepal erat menandakan suasana hatinya yang marah.
*************
Dilain tempat, Delista menggeret koper dan tasnya lesu. Ia sudah berjalan lebih dari 2 jam, tapi masih belum melihat tanda-tanda pengendara yang lewat. Gadis itu merogoh sakunya, layarnya bersih tanpa notif apapun.
Matanya berlinang, apakah Ayah dan Ibunya sudah tidak peduli lagi? Apa kesalahannya adalah lahir ke dunia ini? Delista mengusap air matanya. Haruskah ia pulang? Haruskah ia mencobanya? Haruskah ia kembali memohon pada Resti untuk menerimanya?
Gadis itu terduduk, tangisannya pecah, "Ke...kenapa jadi seperti ini...aku mau pulang.....ayah...ibu... hiks.. hiks... aku benar-benar ingin pulang...kenapa Resti begitu jahat padaku... apa salahku..." Delista meraung di tengah jalan yang sepi itu.
**********
Kepolisian metropolitan Seoul tengah sibuk diruang CCTV, Wildan bersama beberapa petugas mengamati setiap layar sudut kota. Sedangkan, Ryan duduk manis menunggu di mobil. Tangannya meraih foto Delista berseragam Pramugari.
"Aku tidak boleh kehilanganmu" gumamnya
"Ketemu!!" seorang petugas berseru, ia berhasil menemukan mobil yang membawa Delista pergi.
"Kemana mereka?"
************
Gilang melirik ponselnya, lalu kembali melirik Resti yang tengah menikmati makan malamnya.
"Ibu ini enak sekali," Puji Resti
"Benarkah? Padahal Ibu baru coba-coba. Makanlah yang banyak" sahut Ibunya antusias. Sikap Resti yang terlihat biasa saja, seolah-olah ketidakhadiran Delista bukan masalah besar baginya.
"Ayah. Cobalah cicipi ini, ini benar-benar enak!" ucap Resti, ia memberikan sedikit lauk di piring nasi ayahnya. Gilang mengangguk dan menikmati lauk.
"Ahh... aku takut seragamku tak bisa kugunakan besok, aku tidak bisa menghentikan mulutku!" keluhnya
"Makanlah sepuasmu, jangan menahannya." ujar Hera senang, melihat putrinya makan dengan lahap membuatnya gembira walaupun, ia tahu bahwa sang suami masih mengkhawatirkan Delista.
"Resti," Gilang memanggil putrinya
"Iya"
"Apa kau benar-benar tidak menjemput Delista saat ke Bandara tadi?" Tanya Gilang memastikan.
'Brakk!'
Resti menggebrakkan sumpitnya ke meja, ia kehilangan nafsu makanya saat mendengar pertanyaan dari sang Ayah. "Tidak, aku tidak menjemputnya" Ujarnya datar. "Aku sudah selesai makan, terimakasih untuk makanannya. Aku akan tidur cepat malam ini, besok aku harus bertugas" gadis itu langsung beranjak dari tempatnya.
"Resti," Gilang kembali memanggil putrinya, Resti berhenti. "Ayah tidak pernah membandingkanmu dengan Delista sama sekali, kalian Putri Ayah dan selamanya juga begitu. Ayah mohon, biarkan Ayah menelfon Delista" Pinta laki-laki itu.
Tanpa basa-basi Resti langsung mengambil gunting disekitarnya dan menempelkan benda tajam itu ke lehernya.
"RESTI!!!" Hera memekik terkejut.
"Jika, ayah mencintai Ibu. Aku adalah putrimu satu-satunya. Jangan menyebut nama anak pungut itu dirumah ini atau Ayah akan kehilangan aku!" ancamnya, gadis itu menempelkan ujung gunting itu lebih dalam ke kulitnya.
"Hentikan Resti!! Baiklah, Ayah tidak akan menghubungi Delista, hanya kau satu-satunya putriku. Jadi, ayah mohon buang gunting itu. Jangan sakiti dirimu sendiri, nak!" Ucap Gilang memohon, Resti langsung membuang gunting itu seperti permintaan Ayahnya.
"Aku tidak akan menyakiti diriku sendiri. Itu semua tergantung padamu Yah. Jika Ayah menyebut namanya dirumah ini, aku mungkin benar-benar menusuk diriku sendiri!" jawab Resti dingin, ia lalu berbalik dan naik ke kamarnya.
Suasana tegang di ruang makan itu perlahan mereda, Hera menatap sang suami, "Maafkan aku, aku tidak bisa mengajari anakku dengan benar. Kehilangan sosok seorang Ayah mungkin jadi faktor, dimana Resti tidak ingin kasih sayangmu terbagi. Percayalah, Delista pasti baik-baik saja."
Gilang hanya terdiam tak merespon. Separuh jiwanya hilang, Delista yang sudah ia rawat sejak umur 4 tahun itu harus pergi karna saudara tiri yang tak menginginkan kehadirannya. Ia menghela nafas berat.
***************
Hujan turun membasahi tubuh Delista, dirinya yang sudah terlihat berantakan masih berusaha mencari jalan keluar. Serbuan rintikan hujan dikepalanya perlahan membuatnya sakit kepala, ia kedinginan, Hpnya juga sudah mati total sekarang.
'Tiiiiiiittttttt!! Ciiiitttttt'
Suara klakson mobil disertai gesekan ban akibat rem mendadak, membuat Delista kaget. Perlahan tubuhnya luruh ke aspal, samar-samar matanya melihat seseorang menghampiri dirinya, memeluknya erat.
'Ayah?'
"Panggilkan Dokter Erlangga! Aku akan membawanya pulang!"
Adryan.
Laki-laki itu membopong tubuh Delista masuk ke mobilnya, ia meninggalkan semua barang-barang Delista dan menyuruh Wildan mengebut.
"Cepat! Ya tuhan, tubuhnya dingin sekali!" Ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan mantelnya. Sesuai permintaan Tuannya, Wildan menginjak pedal gas full meninggalkan tempat itu.
1 jam perjalanan ditempuh Wildan selama 39 menit. Rumah mewah bergaya modern menyambut kedatangan mereka, seperti yang sudah diperintahkan Ryan, Dokter Erlangga sudah tiba terlebih dahulu di kediamannya.
"BAWAKAN BAJU GANTI! CEPAT!" perintah Ryan langsung membuat beberapa pelayan pergi menuruti perintahnya.
Ryan membawa Delista ke kamarnya. Ia keluar saat pelayannya datang membawa baju ganti. Selang beberapa menit, giliran Dokter Erlangga yang bekerja. Laki-laki itu menghentikan salah satu pelayannya.
"Pergilah dan beli beberapa baju wanita beserta dalamannya," Ujar Ryan, ia memberikan black Card pada pelayannya, "Wil, antarkan dia. Aku akan disini menunggu" laki-laki itu mengangguk dan langsung bergegas pergi.
Ryan kemudian menyusul Erlangga masuk kedalam. Wajah mungil Deslita terlihat pucat, ia menunggu Dokter pribadinya mendiagnosa wanita itu.
"Bagaimana keadaannya?"
"Demamnya tinggi, aku akan meresepkan obat penurun panas, dan memberinya infus. Biarkan dia istirahat, dia terlihat sangat kelelahan.
"Tidak ada yang lain?"
"Sejauh ini tidak, kalau kau masih khawatir, besok bawa saja ke Rumah sakit, aku akan memeriksanya secara keseluruhan. Btw, siapa dia? Dia mengenakan seragam pramugari maskapai naunganmu, apa dia salah satu pegawaimu?"
"Anggap saja begitu. Terimakasih sudah mau aku repotkan,"
"Tidak masalah. Aku pamit dulu"
"Baiklah, pelayanku akan mengantarmu keluar" Erlangga mengangguk dan mengikuti salah satu pelayan Ryan. Setelah Dokternya pergi, Ryan mengambil tempat disisi tempat tidur. Ia menghela nafas. "Padahal, belum 24 jam sejak pertemuan terakhir kita. Kau masih tersenyum saat melayaniku sore tadi, kenapa kau malah jadi seperti ini sekarang?"
**************
Resti menghampiri teman-temannya dengan riang. Hari ini ia siap memenuhi jadwal penerbangan ke New York.
"Selamat pagi!"
"Pagi,"
"Resti, apa kau sudah baca highlight harian hari ini? Ini berita besar!" Sherly salah satu pramugari setingkat dengannya langsung mengarahkan layar ponselnya ke wajah Resti. "Bukankah ini Delista? Dia berkencan dengan Presdir di Jepang kemarin!"
Resti merebut ponsel Sherly dan membaca artikel berita itu. Sebuah foto yang memperlihatkan Delista dan Ryan tertawa sambil membuat Ramen.
"Presdir berkencan dengan salah satu pramugarinya? Ahh,, Paparazi memang pintar membuat artikel." Lanjut Sherly.
"Mungkinkah mereka benar-benar berkencan? Minggu lalu, alih-alih Resti yang ikut tapi Sanjaya lebih memilih Delista, aku dengar sendiri dari pramugari yang lain kalau itu bukan kebetulan." balas Clarish.
"Biarkan saja, bukankah ini memalukan? Harusnya Delista berhati-hati. Nama pramugari bisa tercoreng karena ulahnya. Bukankah tugas pramugari melayani di pesawat, bukan di kamar hotel?" ucap Resti tak acuh.
"Kamar Hotel?? Jaga ucapanmu, jika ada wartawan yang mendengar, ini bisa jadi berita Hot untuk dipublish!" Ujar Sherly cepat, mendengar reaksi teman-temannya ia hanya tersenyum sinis.
"Sudahlah,, ayo kita ke atas"
Bukan hanya dikalangan Pramugari dan Pilot saja. Berita itu juga masuk ke pencaharian utama, hingga akhirnya sampai ke telinga Ryan. Laki-laki itu membaca artikel yang memuat dirinya dengan malas.
"Bersihkan ini, jangan sisakan satupun. Bilang pada media kalau itu hanya liburan tak disengaja" Suruhnya.
"Apa mereka akan mempercayai itu?" Tanya Wildan, Ryan menghela nafasnya, "Baiklah, akan aku atur untukmu. Ngomong-ngomong bagaimana keadaannya?"Delista masih belum siuman, demamnya memang sudah kembali normal, tapi tidak dengan kesadarannya.
"Kau ada pertemuan dengan Klien jam 11 nanti sekalian makan siang bersama mereka, lalu jam 2 kau harus ada di Singapura untuk mendatangi peresmian gedung baru disana, dan terakhir kembali ke Korea makan malam bersama Perdana menteri" Wildan menjabarkan jadwal Ryan hari ini.
"Baiklah, panggilkan aku kepala pelayan."
"Saya disini, Tuan"
"Sejak kapan kau disini? Ah, itu tidak terlalu penting. Tolong bersihkan kamar depan. Design-kan sesuai dengan apa yang aku minta. Semua barang yang aku pesan akan datang siang nanti, tolong kau atur semuanya." Perintahnya
"Baik, Tuan!"
"Kamar untuk Delista? Kau menyiapkan kamar untuknya?" Tanya Wildan memastikan. "Ryan, kau tidak boleh gegabah seperti ini, kita belum tau kondisinya memungkinkan untuk tinggal disini atau tidak. Aku rasa kau terlalu cepat mengambil keputusan!"
Wajah Ryan berubah datar, "Jika kondisinya tidak memungkinkan, aku akan membuatnya menjadi harus. Tunggulah di Mobil, aku akan bersiap-siap" Ujar Ryan tak mau dibantah, ia kembali pada kepala pelayannya "Kalau dia siuman, hubungi aku"
"Baik, Tuan!"
***********
Gilang menatap foto dirinya dan Delista saat gadis itu berusia 4 tahun. Foto mungilnya sukses membuat laki-laki itu tersenyum.
"Dimana kau sekarang? Apa yang Resti katakan padamu hingga kau tidak mau menghubungi ayahmu ini," Ingatan Gilang kembali pada saat ia menemukan Delista pertama kali.
#Flashback On
#21 Tahun yang lalu
Gilang menemukan Delista kecil tertidur di bangku taman, setelah pulang dari kantornya. Anak itu tidak tertidur karna mengantuk tapi pingsan dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya. Saat itu keadaan ekonominya masih buruk, dan dia nekat membawa Delista ke rumah sakit. Operasi yang membutuhkan biaya yang cukup tinggi membuat Gilang kewalahan memohon pinjaman dari rekan kerjanya. Walaupun banyak yang harus ia atur, membuat gadis kecil itu tam tertolong sama saja membuatnya seperti pembunuh.
Kondisi Delista kala itu membaik seiring nya waktu. Ia tidak mengingat apapun dan memanggil dirinya dengan sebutan 'Ayah'. Kehadiran Delista membuat keadaannya membaik. Entah memang pembawa keberuntungan, atau memang sudah saatnya ia sukses, tapi kehadiran Delista sangat ia syukuri.
Berkali-kali dirinya, mencari informasi terkait anak hilang, tapi wajahnya tidak masuk dalam list pencarian polisi saat itu. Hingga akhirnya Gilang memutuskan untuk mengadopsi Delista sampai sekarang.
Gadis periang, pintar dan cerewet itu menghiasi hari-harinya selama 21 tahun belakangan ini. Dia sendiri juga bingung dengan keputusan orangtua kandung gadis itu, mengapa meninggalkan gadis malang itu sendirian? Apalagi dalam keadaan kritis seperti itu?
#Flashback Off
"Pulanglah, Nak" lirihnya
****************
Hera mengangkat ponselnya saat nada deringnya terdengar. Telfon dari Resti.
"Ada apa Nak?"
'Aku sudah tiba di New York, bagaimana keadaan disana?'
"Semuanya baik-baik saja, Ayahmu belum pulang dari kantornya mungkin sebentar lagi pulang," Hera meletakkan pisaunya, "Dan....anak itu benar-benar tidak pulang lagi kerumah"
'Baguslah,'
"Jujurlah pada Ibu, apa kau yang merencanakan semua ini?" Tanya Hera
'Iya, aku yang membuatnya tak berani menginjakkan kakinya dirumah lagi. Untunglah, malam itu aku mendengar apa yang Ayah dan Ibu bicarakan. Kalau tidak, mungkin sekarang aku masih meminum obat penenang setiap melihat wajah anak pungut itu! kenapa Ibu merahasiakan hal ini dariku?'
"Aku hanya ingin ayahmu tetap sepenuhnya percaya padaku, jadi semua terjadi tanpa membuka mulut. Kau tau sendiri, kalau Ayahmu sangat sayang padanya!"
'Ah, lupakan saja. Aku akan istirahat, Ibu dan ayah jaga kesehatan. Aku tutup telfonnya'
"Baiklah!"
Hubungan telfon pun terputus, Hera menyukai rencana anaknya itu, sekarang ia hanya perlu fokus dengan anak dan suaminya. Inilah keluarga yang ia inginkan.
*****************
Ditempat lain, Delista yang sudah tertidur lama akhirnya membuka matanya, perlahan ia mengumpulkan sebagian nyawanya dan mencoba mengambil posisi duduk. Bola matanya mengelilingi ruangan yang di desain mewah, kepalanya yang sakit masih bisa ia rasakan.
"Di....dimana aku?"
Gadis itu mendorong infusnya keluar dari kamar, langkahnya tertatih menelusuri lorong rumah. Ia sama sekali tidak ingat dengan apa yang terjadi. Hingga langkahnya membawanya turun ke ruangan lainnya. Tiba-tiba pandangannya buram, matanya berkunang-kunang.....
'Praaangg!!'
Tubuhnya oleng dan menyambar salah satu pot bunga.
"Kepala pelayan!!" salah satu pelayan berseru sambil menunjuk gadis lemah itu. Victoria, sang kepala pelayan itu menoleh,
"Astaga!!" Victoria langsung bergegas menghampiri. "Panggil Ambulans cepat!!"
Ryan yang tengah menikmati makan malamnya langsung dihampiri Wildan, laki-laki itu berbisik dan membuat raut wajahnya berubah drastis.
"Ada apa? Apa ada masalah?"
"Maaf, jika aku tidak sopan. Bolehkan aku pergi sekarang? Aku ada urusan mendesak." Pinta Ryan pada perdana Menteri.
"Tidak masalah, makan malam kita juga sudah selesai. Aku hanya menyayangkan kita tidak bisa mengobrol lama," Ujarnya lembut.
"Maafkan aku perdana menteri"
"Tidak apa, pergilah. Mereka lebih membutuhkanmu"
"Terimakasih!" Ryan membungkuk memberi hormat lalu berlari kecil diikuti Wildan dari belakang.
"Bagaimana keadaanya sekarang?"
"Kepala pelayan mengatakan, kalau mereka sedang menjalankan tes keseluruhan. Delista terbangun lalu jatuh pingsan, itu membuatnya khawatir dan langsung membawanya ke Rumah Sakit!" Jelas Wildan
"Antarkan aku kesana!"
"Baik!"
Ryan berlari menuju kamar VVIP, ia menemukan Delista kembali tertidur. Victoria dan Erlangga setia menunggu di ruangan.
"Apa yang terjadi?"
Erlangga menghampiri Ryan, "Ikutlah denganku, akan ku jelaskan padamu"
Ryan menurut dan mengekori Erlangga ke ruangannya. "Bagaimana keadaannya?"
Erlangga tak menjawab, ia memperlihatkan hasil scanning otak Delista. "Sepertinya Delista pernah melakukan operasi pada kepalanya. Aku menelusuri namanya untuk berjaga-jaga, dan benar!" Laki-laki itu beralih ke komputer lainnya. "21 Tahun yang lalu, tepatnya tanggal 27 Agustus 1999. Delista dioprasi disini, kepalanya menghantuk benda keras, seperti dinding?"
Ryan mengusap kepalanya, "Lalu bagaimana sekarang?"
"Delista kecil, tak bisa mengingat apapun, begitu juga dengan sekarang. Dia mengalami Amnesia retrogarade, Pada kondisi ini, penderita tidak bisa mengingat informasi atau kejadian di masa lalu. Gangguan ini bisa dimulai dengan kehilangan ingatan yang baru terbentuk, kemudian berlanjut dengan kehilangan ingatan yang lebih lama, seperti ingatan masa kecil. Pukulan berat psikologisnya juga bisa berpengaruh" Jelas Erlangga
"Selain itu? Apa ada yang lebih parah lagi?"
"Tidak ada, semua baik-baik saja. Vital-nya juga sudah kembali normal sekarang. Kau belum cerita apapun tentangnya padaku. Sebenarnya siapa dia?"
"Nanti kau akan tau sendiri. Jika ada yang perlu aku ketahui, tolong beritahu aku secepatnya." Erlangga hanya mengangguk.
Ryan kembali ke kamar tempat Delista beristirahat, langkahnya yang lemah menuntunnya mendekat. Gadis itu masih tertidur dengan tenang. Perlahan ia mengambil tangan Delista dan menggengammya.
"Apa yang telah kau lakukan pada keluarganya dulu? Kenapa kau begitu serakah? Apa salahku, sehingga harus menanggung tanggungjawab atas kesalahanmu ini ayah..." ujar Ryan lirih, ia menunduk menutup matanya.
Tiba-tiba, ia merasakan kepalanya di elus. Ryan mengangkat kepalanya, matanya bertemu pandang dengan Delista. Perlahan, tangan gadis itu mengusap pipi Ryan.
"Si...siapa kau?" tanyanya lirih.
Ryan menggengam tangan gadis itu lembut. "Istirahatlah, besok baru kita bicarakan." Ia menepuk punggung tangan Delista, "Aku akan menemanimu disini" gadis itu mengerti dan menutup kembali matanya.
***************
Resti menatap kosong layar ponselnya, disana masih tertera nomor Delista. Ia mematung saat panggilannya tak mendapat respon. Hp anak pungut itu mati. Cukup sekali panggilan, ia hanya ingin memastikan lalu menghapus nomor Delista dari Ponselnya.
"Haruskah aku lakukan ini pada Ayah?" gumamnya.
"RESTI!!" Gadis itu menoleh, ia kembali ke teman-temannya. "Apa kau mendengar kabar dari Delista?" Tanya Shely
Resti menyeruput kopinya, "Tidak, memangnya kenapa?
"Sekretaris Presdir, dia menghubungi Sanjaya supaya tidak memasukkan nama Delista ke daftar pramugari. Ada apa ini? Mungkinkah Delista dipecat?"
"Aiigh,, itu tidak mungkin. Kenapa dia harus dipecat selesai melayani VVIP," balas Clarish
"Mungkin ada kaitannya dengan artikel itu"
"Tidak bisakah kita sehari tidak membicarakannya? Tanya Resti dengan nada tinggi, "Apa kalian tidak bosan?"
"Bukan itu yang aku pikirkan, ini hanya terasa begitu mendadak."
Resti diam tanpa merespon lagi, ada atau tidak Delista, dia selalu menjadi topik hangat dikalangan pramugari. Sebenarnya apa yang membuatnya bisa semenarik ini?
**************
Di rumah sakit, Ryan menyiapkan sarapan hangat untuk Delista. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Delista sudah siap dengan sendok ditangannya. Sup ayam yang dibawa Ryan membuat perutnya berdemo keras.
"Pelan-pelan, ini masih panas,"
"Terimakasih," gadis itu menyeruput sedikit kuah sup ayam. "Hmm....ini sangat lezat. Apa kau yang membuatnya?"
"Makanlah, habiskan makananmu tanpa bicara" balas Ryan, setelah selesai menyiapkan sarapan, ia kembali duduk di meja tamu dan berkutat pada Tab-nya.
"Apa kau tidak ikut sarapan denganku?"
Tidak ada jawaban dari laki-laki itu, "Victoria menemaniku saat subuh, dia bilang kau pulang untuk mandi dan berganti baju. Hmm... dia juga bilang kalau aku adalah..... tunanganmu."
Jari Ryan terhenti di atas layar Tab-nya,
"Apa itu benar?" Lanjutnya.
"Benar,"
Gadis itu terlihat terkejut, "Lalu, kenapa kita tidak memakai cincin pasangan? Dan apa yang terjadi padaku, tidak ada yang mau bercerita tentang hal ini?"
Ryan mengehela nafas, "Makan saja, tidak usah cerewet. Pelan-pelan kau juga tau akhirnya"
"Apakah kita sedang bertengkar sekarang?" Tanyanya lagi. Ryan mengangkat wajahnya,
"Maksudmu?"
"Aku bertanya padamu, tapi kau tidak melihatku sama sekali,"
"Aku sibuk. Sebentar lagi Victoria akan datang, aku pergi dulu!" Laki-laki itu mengambil Jas dan mantelnya.
"Saranghae!!" pernyataan gadis itu membuat langkah Ryan terhenti, ia berbalik menatap Delista. "Semoga harimu menyenangkan! Fighting!!" Gadis itu menyemangati Ryan dengan senyuman manisnya. Ryan hanya mengangguk kecil dan pergi.
'Tidak. Jangan baik padaku! ku mohon, setelah kau tau apa yang dilakukan ayahku pada keluargamu. Apakah kau akan tetap tersenyum seperti itu?'