
🌹
🌹
"Semuanya lancar?" Dimitri menatap layar ponselnya saat Rania melakukan panggilan video beberapa saat setelah balapan dan naik ke podium. Juga konferensi pers dan wawancara dengan beberapa media asing.
"Lancar, cuma tadi agak emosi aja." jawab Rania sambil melepaskan riding suitnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Emosi kenapa?"
"Ada yang nggak sportif deh kayaknya, tapi nggak tahu ya."
"Maksudnya?"
"Ada yang dengan sengaja mengintimidasi, terus strategi beberapa pembalap kayak nggak masuk akal gitu."
"Oh ya?" Dimitri menyesap kopi yag dibawakan Rega untuknya.
"Hu'um."
"Tapi kamu bisa melewatinya, dan mengalahkan mereka. Kamu jadi juara di balapan kali ini, dan itu bagus. Mengingat semua yang aku tonton tadi kelihatannya mustahil. Kamu sempat tertinggal jauh, tapi bisa kan?"
"Kak Dimi sampai mencak-mencak sambil teriak-teriak lho! ngomel juga yang nggak aku ngerti." Rega menyela percakapan, membuat Dimitri tertawa terbahak-bahak. Mengingat saat acara menonton tadi yang cukup membuat suasana ramai selama hampir satu jam penuh karena teriakannya di depan televisi.
"Kebiasaan." gumam Rania.
"Jadi gimana?"
"Aku nggak akan biarin mereka menang dengan cara yang curang. Enak aja! yang lain bersikap sportif, balapan dengan benar kok. Kenapa mereka gitu? berarti selama ini, usaha mereka gitu juga dong makanya bisa jadi juara?" Rania menggerutu.
"Bisa jadi."
"Asli, aku nggak bisa. Kalau mereka menangnya sportif sih, oke aku nggak akan ngotot-ngotot amat. Lah ini? sama aja kayak membahayakan pembalap lain. Bisa juga disebut mengancam keselamatan lho."
"Lapor federasi saja."
"Kata papa pasti sulit, karena nggak ada bukti yang kuat. Jadi percuma aja. Mereka juga nggak bego-bego amat, makanya ngelakuin itu dengan halus."
"Hmm ... jadi kamu maunya gimana?"
"Nggak gimana-gimana. Yang aku pikirin sekarabg cuma berusah lebih baik aja biar jadi juara terus." dia tersenyum.
"Oke."
"Jadi, ... hadiahnya apa?"
"Hum? hadiah?"
"Iya. Hadiah. Kamu bilang kalau aku jadi juara kamu bakal ngasih hadiah?"
"Jadi ceritanya kamu nagih?" Dimitri tergelak.
"Kan kamu yang bilang." Rania tersenyum lebar.
"Nanti, kalau kamu sudah sampai disini." jawab Dimitri.
"Yah, ... masih lama dong?"
"Besok kamu pulang kan?"
"Nggak. Belum ada yang lapor kalau balapan di Le Mans di majuin ya?"
"Benarkah? aku belum lihat info hari ini."
"Minggu depan udah Balapan Di Le Mans, jadi besok aku nggak pulang. Tanggung kalau bolak balik. Waktu latihan cuma sedikit, malah kecapean di jalan, jadi ya udah. Seminggu lagi kita stay."
"Begitu ya?" pria itu denga nada sedikit kecewa.
"Hmm ... maaf ya, aku tinggalnya lama." Rania tertawa.
Dimitri terdiam.
"Jadi, kamu tetep nggak akan nyusul?" perempuan itu tampak bangkit.
"Kalau jaraknya dari sini ke Jakarta sih aku pasti nyusul. Tapi ke Lemans? itu artinya aku harus meninggalkan pekerjaan penting disini."
"Hmm ..." Rania mengerucutkan bibirnya.
"Jangan begitu Zai, aku jadi nggak tega."
"Tapi aku udah ke geeran juga tadi. Lihat ke bangku penonton, berharap ada kamu disana. Atau jalan semangat di lorong, siapa tahu kamu tiba-tiba muncul, eh ... tahunya asyik nonton dirumah."
Dimitri tertawa.
"Rindu ya?" katanya, yang membuat pipi perempuan itu memerah dan dia salah tingkah.
"Nggak, cuma berharap aja."
"Cuma berharap tapi nggak bisa tidur?" Dimitri mencibir.
"Sekarang bisa."
"Masa?"
"Iya. Udah biasa. Nanti juga gitu."
"Hmmm ... " pria itu bergumam.
"Udah dulu lah, aku mau istirahat. Besok pagi udah harus ke bandara." Rania berniat mengakhiri percakapan.
"Tunggu dulu Zai, aku masih rindu." Dimitri menahan senyum.
"Aku nggak." Rania menjawab.
"Benarkah?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu."
"Hmm .. aku tutup dulu ya?"
"Oke."
"I love you Zai." ucap Dimitri yang kemudian mematikan ponselnya.
"Dih? orang dewasa kalau mesra-mesraan di telfon juga ya?" Rega yang masih memainkan ponselnya di samping Dimitri.
"Kamu menguping ya?"
"Nggak, cuma kedengaran aja. Orang telfonanya disni deket aku."
"Iya juga. Hahaha ..." Dimitri mengacak puncak kepala adik iparnya.
"Kalau pacaran emang harus gitu ya?" Rega menjeda kegiatannya sejenak.
"Nggak juga."
"Atau cuma yang udah nikah aja?"
"Mungkin."
"Tapi aku nggak lihat mama sama papa gitu deh?"
"Masa?"
"Hu'um. Makanya kakak kelihatan aneh." remaja itu mengejek.
Dimitri menggelengkan kepala sambil tertawa.
"Kakakmu sulit diajak romantis Ga."
"Nggak akan. orang dia mainanya cuma oli mesin sama kunci Inggris, dia nggak akan ngerti soal begituan." sang adik ipar terbahak-bahak.
"Begitulah."
🌹
🌹
Amara tertegun menatap layar ponselnya yang menyala. Dia menunggu balasan setelah mengirimkan pesan ke nomor ponsel Galang, namun setelah kira-kira satu jam tanda centang belum juga berubah warna juga.
"Kenapa juga aku nunggu dia membalas ya?" gadis itu bergumam.
"Kayak nggak ada kerjaan aja." dia bangkit dari kursi taman di depan kampus kemudian berjalan keluar dari area itu.
"Hari ini kamu langsung pulang Ra?" seorang teman laki-laki datang menghampiri.
"Iya, udah kesorean."
"Nggak mau ikut nongkrong dulu?"
"Nggak, makasih."
"Sekali aja, mumpung kak Galang nggak ada."
"Maksudnya?"
"Ya kan kalau ada kak Galang kamu seringnya pergi sama dia."
"Cuma pulang bereng aja kok."
"Iya, tetep aja."
"Hmmm ...
"Jadi gimana? mau ikut?"
"Kayaknya nggak dulu deh, makasih." tolak gadis itu lagi.
Lalu sebuah mobil berhenti tepat di depannya saat Amara berniat memesan taksi online.
"Ara?" suara yang sangat dia kenal memanggil.
Amara memalingkan perhatian dari layar ponselnya, dan tertegun seketika.
"Kamu mau pulang?"
"I-iya. Kakak dari mana? abis kerja?" gadis itu balik bertanya.
"Iya. Mau bareng? kakak antar."
"Mm ...
"Atau makan dulu? kakak lapar."
"Boleh." Amara berpikir sejenak, namun kemudian masuk kedalam mobil.
***
"Gimana kuliah kamu?"
"Lancar. Kerjaan kakak gimana?"
"Lancar juga."
Seorang waitres membawa pesanan mereka. Dua macam makanan dan dua gelas minuman. Yang kemudian diterima keduanya dengan semangat.
"Kamu baik-baik saja Ara?"
"Hum? aku?" Amara menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya," dan Dimitri menganggukan kepala.
"Baik. Aku baik."
"Syukurlah,"
"Hmm ... kakak nggak usah khawatir. Aku pasti akan baik-baik aja."
"Ya, .. soal itu ...
"Jangan dibahas. Bukankah seharusnya kita memang saling malupakan? jadi nggak usah dibahas lagi. Dan aku memutuskan untuk menganggap semuanya nggak pernah aku rasakan. Dan aku harap kakak juga gitu. Jadi akunya juga bisa cepet move on."
"Begitu ya?" Dimitri terkekeh. "Baiklah, itu bagus." dia merasa lega.
"Kak Rania gimana kabarnya?" Amara kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Baik. Dia baru selesai balapan di Jerez kemarin. Dan sepertinya dia terbang lagi ke Prancis hari ini." pria itu menatap jal di layar ponselnya.
"Prancis?"
"Ya, untuk balapan berikutnya." Dimitri melahap makanannya.
"Nggak pulang dulu?"
"Nggak. Tanggung, waktunya cuma seminggu." Dimitri menggelengkan kepala.
"Kalau balapan gitu, kakak sering ditinggal dong?"
"Ya, antara satu atau dua minggu sekali."
"Kakak kesepian dong?" Amara terkekeh getir. Tiba-tiba saja dia merasa menyesal mengapa harus mengikuti ajakan pria itu. Sedangkan dirinya sedang berusaha menyembuhkan hati.
"Tidak terlalu. Dia sering menelfon kalau ada waktu luang." bersamaan dengan itu ponsel Dimitri berbunyi. Dan kontak Rania tengah memanggil.
"Panjang umur," pria itu tersenyum, lalu menggeser layar ponselnya keatas untuk menjawab dalam mode video call.
"Ya Zai?"
"Hei? kamu udah pulang?" Rania sudah mengenakan riding suit khusus latihannya.
"Belum, aku masih di kafe." Dimitri menjawab.
"Kafe?"
"Makan." dia menunjukan meja dengan piring makanan yang sudah habis setengahnya.
"Oh, ...
"Dan Ara." Dimitri kemudian mengarahkan kamera ponselnya kepada Amara yang tengah melahap makanannya. Dan gadis itu kemudian tersenyum dan melambaikan tangan.
Oh, hati ... jadilah kuat! batin Amara.
"Oh, ...
"Tadi pulang dari kantor aku ketemu dia di jalan." dia mengembalikan tampilan kamera depannya.
"Hmm ...
"Kamu selesai latihan?"
"Nggak. Baru mau."
"Oh, ...
"Aku dapat gilirannya siang. Tapi cuacanya masih dingin, duh." istrinya itu mengeluh.
Dimitri terkekeh pelan.
"Kamu beneran nggak mau nyusul?" perempuan itu tampak mengerling sekilas.
"Tidak bisa Zai, ... pekerjaanku banyak sekali. Besok malah aku harus ke Jakarta."
"Oh ya? ngapain?"
"Ikut om Arfan meeting dengan klien dari Jerman."
"Oh, ... "
"Dan mungkin untuk beberapa hari ke depan juga aku ada di Jakarta. Banyak hal yang harus diurus. Sebentar lagi aku harus pindah lagi kesana."
"Hah? ke Jakarta?"
"Iya. Sudah waktunya mengambil alih pusat."
"Gitu ya?"
"Hmm ...
"Waktunya latihan oneng! jangan telfonan melulu!" terdengar teriakan samar dari belakang Rania.
"Tunggu dulu dudul!" dia balas berteriak.
"Udah giliran kamu, nanti cuacanya keburu lebih dingin lagi, dan kita nggak bisa latihan." terlihat Galang yang mendekat.
"Sebentar."
"Buruan." pemuda itu tampak menarik ujung Rambut Rania.
"Diem dudul!!"
"Makanya buruan, tar diomelin Om Angga lho!"
"Nggak akan."
"Yakin?"
"Kamu sana, cek lagi motornya yang bener."
"Udah dari tadi oneng! kamunya yang lelet." Galang kembali menarik ujung rambut Rania hingga kepala perempuan itu tertarik ke belakang.
"Galang!" dia kembali berteriak, lalu bangkit dan mengejar sahabatnya itu yang sudah berlari menjauh.
"Yang, udah dulu. Aku mau ngejar si dudul dulu." ucap Rania yang kemudian mematikan sambungan telfonnya.
"Mmm ... mereka itu memang seperti itu ya?" Dimitri bergumam sambil mengerutkan dahinya.
"Kamu sudah selesai?" dia kemudian beralih kepada Amara yang terdiam setelah mendengar pecakapan di telfon barusan.
Gadis itu mengangguk pelan.
"Kita pulang?" tawar Dimitri.
"Kakak belum habisin makanannya?"
"Hmm ... sudah kenyang." pria itu menenggak habis minumannya. Lalu memanggil pelayan untuk melakukan pembayaran.
***
"Kakak nggak mau masuk dulu?" mereka tiba di depan gerbang rumah Lita pada petang hari.
"Nggak. Tolong bilang nenek maaf kakak nggak bisa mampir. Ada urusan lain."
"Oh, ... oke."
"Kakak pergi."
"Iya." dan mobil itupun segera meninggalkan tempat tersebut. Dan Amara yang termenung menatap kendaraan tersebut hingga menghilang di tikungan.
Dia kemudian merogoh ponselnya di dalam tas, lalu menyalakannya. Menatap layar dengan nama kontak Galang, juga pesan terakhir yang dia kirim beberapa jam lalu. Yang centangnya sudah berubah biru tanda sudah dibaca oleh pemuda tersebut. Namun tak mendapatkan balasan seperti yang di harapkannya.
Hmm ... harapan apanya? memangnya dia itu siapa? Dia bahkan masih sibuk bermain-main dengan masa lalunya. Hati Amara bermonolog.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Maaf readers, hari ini telat up. Maklum ada kerempongan di dunia nyata. biasalah, emak-emakmah selalu sok sibuk yekan. 🤣
tapi tetep, mau minta like komen sama hadiah aja yang banyak.
lope lope sekebon cabe.😘😘