
🌹
🌹
Dimitri tertegun di belakang pintu, dengan jas dan dasi yang sudah dia lepaskan dalam perjalanannya dari luar rumah hingga tiba di kamar mereka. Menatap perempuan itu yang telah bergelung di bawah selimut dan terlelap begitu dalam.
Dia kemudian berjalan mendekat dan duduk ditepi ranjang, menatap wajahnya yang polos dan lugu. Cukup membuat hatinya terenyuh.
"Kamu bilang kangen kepadaku, tapi malah tidur duluan?" Dimitri meraih tangannya yang tengah memegang sesuatu.
Selembar foto USG yang di dapatkannya dari pemeriksaan kemarin.
Pria itu menghela napasnya pelan sambil meraih foto tersebut dan menatapnya lama-lama.
Ada desiran hangat di dalam hati saat menatap dua titik hitam itu, dan dia tersenyum. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan sekalipun, jika dirinya akan menjadi ayah dalam beberapa bulan ke depan.
Membayangkan akan ada dua anak yang setiap hari menantinya dirumah, dan bayangkan akan seramai apa rumah ini nantinya. Dirinya memang sudah terbiasa dengan anggota keluarga yang banyak, tapi baginya hal ini memang cukup membahagiakan. Dia memiliki keluarganya sendiri, dengan anak-anak miliknya sendiri.
Dimitri kembali menatap wajah tenang Rania yang kedua matanya terpejam erat. Rasa rindu juga nyata dia rasakan, dan memang setiap waktu dia begitu. Rasanya tidak akan puas hanya dengan melihatnya saja walau dalam jarak sedekat ini. Ada banyak hal yang ingin dia lakukan tapi melihatnya setenang ini dia merasa tak tega.
Kemudian dia memutuskan untuk tidak mengganggunya, dan membiarkan Rania tetap lelap dalam tidurnya.
***
Dan Dimitri menemukan Rania yang tiba-tiba saja terbangun ketika dirinya telah menyelesaikan urusannya. Perempuan itu duduk di pinggir tempat tidur sambil menutupi mulutnya.
"Are you oke?" Dimitri mendekatinya sambil mengusak rambutnya yang basah, kemudian meletakan handuknya di ujung ranjang.
"Kamu habis mandi?" Rania bereaksi.
"Iya, ...
"Bau!!"
"Apa?"
Perempuan itu mengendus-endus udara di sekitarnya, lalu dia kembali menutup mulut dan hidungnya.
"Kamu bau!!"
"Bau?"
"Mandi lagi sana!!"
"Mandi lagi?"
"Tapi kamu masih bau! pakai sabun apa sih? Masih bau?"
"Bau katamu? aku pakai sabun yang biasanya, dan kamu tidak pernah protes sebelumnya? kenapa sekarang baru protes?"
"Pokoknya mandi lagi! kamu bau!"
"Serius?"
Kemudian Rania segera berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya untuk beberapa lama, sementara Dimitri tertegun di belakangnya.
Ini pertama kalinya dia melihat istrinya muntah-muntah seperti itu.
Rania keluar dengan wajah pucat dan mata berair. Sepertinya dia cukup tersiksa kali ini, sambil tetap menutup mulut dan hidungnya dia kembali ke tempat tidur.
"Mandi lagi! kalau nggak, jangan tidur disin!" ancamnya dengan raut kesal.
Dimitri mengetatkan rahangnya, namun tak urung juga dia menuruti permintaan istrinya. Teringat rasa bersalahnya seharian tadi hanya karena perempuan itu tak lagi banyak permintaan seperti hari-hari sebelumnya. Apalagi dengan ancamannya soal tidak tidur bersama, yang terasa cukup mematikan baginya.
"Baiklah, ..." dia dengan langkah gontai kembali kedalam kamar mandi.
"Pakai sabun punya aku, ..." Rania berteriak.
"What?" Dimitri mundur kemudian menoleh.
"Shamponya juga pakai punya aku, pokoknya jangan pakai sabun sama shampo punya kamu. Bau!" geram Rania.
Dimtri terdiam untuk beberapa saat.
"Kecuali kalau mau tidur diluar." ancam Rania lagi.
"Astaga!!" pria itu mengusap wajahnya, kemudian melakukan apa yang diminta oleh sang istri.
Kenapa dia itu ya? kehamilan membuat moodnya bisa berubah-ubah seperti itu? ugh!! sangat menjengkelkan. gerutunya dalam hati.
Dan Rania pun kembali terlelap begitu nyenyak dalam pelukannya setelah Dimitri mengulangi mandinya, dengan menggunakan semua peralatan mandi milik perempuan itu.
Walau perasaannya sangat kesal tapi dia tak bisa berbuat banyak. Ketakutannya kembali merubah mood Rania membuatnya pasrah saja ketika istrinya itu cepat-cepat menyurukan kepala di dadanya. Yang segera saja terlelap tanpa melakukan kegiatan apa-apa yang sebelumnya sudah ada dalam bayangannya.
Pengulangan mandi yang sia-sia! sepertinya dia benar-benar mengerjai aku kali ini. dia menggerutu lagi, namun tak ada hal lain yang bisa dia kerjakan selain diam dan berusaha untuk menyusul Rania ke alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dimitri membuka mata ketika mendengar suara raungan mesin dari area belakang rumahnya. Dia mengira pastilah perempuan itu yang tengah menghidupkan motornya, pasalnya Rania memang sudah tak ada disisinya ketika dia terbangun. Dan tempat perempuan itu tertidur semalaman sudah terasa dingin. Itu artinya Rania telah lama terbangun dan meninggalkannya tidur sendirian.
"Astaga, ini bahkan masih sangat pagi. Mau kemana dia itu ya?" Dimitri melirik jam digital diatas nakas yang baru menunjukan pukul 05.30 pagi.
Matahari saja belum benar-benar muncul dan cuaca masih cukup remang-remang. Dia handak kembali memejamkan matanya ketika teringat jika perempuan itu sedang mengandung.
Segera saja Dimitri turun dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamarnya.
"Kenapa pagi-pagi begini sudah menghidupkan motor? kamu mau kemana?" pria itu segera menghampiri Rania yang tengah memanaskan motornya.
"Dih, bangun tidur bukannya mandi, malah langsung lari kesini?" dia memutar gas dengan keras.
"Kamu mau pergi? kemana? kan sudah aku katakan kalau mau pergi jangan pakai motor?"
Rania tak menjawab.
"Zai!!" Dimitri berteriak.
"Apaan ih, nggak usah teriak-teriak juga, aku nggak tuli."
"Kamu mau kemana?"
"Nggak kemana-mana."
"Tapi kamu mengeluarkan motor?"
"Iseng."
"Iseng?"
"Aku nggak bisa tidur dari subuh, malah melamun aja kayak orang b*go."
Dimitri terdiam.
"Aku nggak biasa diem terus kayak gini." dia mematikan mesin motornya. "Kepalaku rasanya mau pecah." katanya, yang kemudian masuk kedalam rumah.
***
"Aku kayaknya mau ke Bandung dulu deh. Boleh ya?" mereka kini sedang sarapan bersama.
"Apa?"
"Kayaknya aku mau balik dulu ke Bandung. Kalau disana nggak kesepian-kesepian amat sih. Bisa main ke bengkelnya papa, atau kalau dirumah juga ada mama sama adik-adik aku. Lagian bisa pergi juga ke tempat yang aku tahu."
"Ke tempat siapa? Galang?"
"Mmm ... nggak lah, dia kan kuliah. Masa mau main ke tempat yang orangnya nggak ada?"
"Kan sudah aku bilang, kalau mau kamu bisa ke tempat mama aku?"
"Ya masa tiap hari aku main kesana?"
"Kenapa tidak?"
"Mmm ... aku maunya ke Bandung."
"Apa ini ada hubungannya dengan masalah ngidam itu? yang tidak aku turuti? kamu masih marah?"
Ekspresinya biasa saja, tapi entah mengapa Dimitri merasa ada yang mengganjal dihatinya.
"Aku cuma lagi mau ke Bandung aja." lanjut Rania yang kemudian bangkit.
"Kamu sarapannya udah belum? kalau udah piringnya mau aku cuci biar kerjaannya mbak Lina nggak terlalu banyak. Kasiahan dia ngurus rumah aja udah capek."
"Mmm ..." Dimitri menggeser piring miliknya yang masih berisi potongan roti selai buatan istrinya. Kemudian dia menyeruput lattenya yang hampir dingin.
"Nanti aku pergi jam sepuluh aja, kamu nggak usah antar."
"Hah, apa?"
"Aku pergi sendiri, kamu kerja aja. Nggak pakai motor kok, aku pakai mobil."
Dimitri pun bangkiy dari kursinya.
"Nggak usah khawatir, papa aku sendiri kok yang bilang. Nggak apa-apa katanya, kalau kamu nggak bisa nganter, aku perginya sendiri. Nanti dia bakal nunggu di pintu keluar tol."
"Kamu masih marah ya gara-gara masalah itu? dan mau pulang ke Bandung agar kamu bisa mendapatkan semua yang kamu mau?"
"Nggak. Udah aku bilang nggak ada hubungannya sama itu. Cuma kangen aja pengen kesana. Deket ini, kalau bisa pergi ya pergi aja." dia memutar tubuh setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Dimitri berpikir.
"Sepertinya ucapan Clarra kemarin benar." katanya kemudian.
"Clarra?"
"Ya."
"Soal apa?"
"Soal aku yang tidak peka dengan keadaanmu."
"Hum?"
"Kamu tahu, ini semua terasa tidak masuk akal bagiku. Aku hanya tahu jika perempuan hamil itu hanya akan mengalami gejala morning sickness, atau pusing, juga sedikit perubahan mood. Tapi tidak dengan yang kita alami sekarang ini. It doesn't make sense."
"Aku juga nggak tahu. Aku pikir hamil itu cuma mual-mual doang sama perutnya aja yang membesar karena ada bayi di dalamnya. Tapi yang aku alami lebih dari itu. Aneh ya?" Rania kemudian terkekeh.
"Kamu yang bersikap ceria begini kenapa malah membuat aku merasa sedih ya? tidak biasanya kamu begini. Kamu kan orangnya ekspresif?"
"Nanti kamu bilangnya aku mengada-ada lagi?" perempuan itu ingat terakhir kali mereka berselisih faham soal keinginannya yang Dimitri sebut sebagai sikap mengada-ada.
"Nah kan, ini masih ada hubungannya dengan masalah itu."
"Nggak ih, kamu baperan. Kan kamu tadi yang ngomong gitu?"
"Tapi benar."
"Ck!"
"Maaf Zai, aku hanya ... tidak faham."
"Ya kan aku juga sama?"
"Jadi kenapa kita nggak mencoba untuk lebih saling memahami lagi? aku janji akan mendengarkanmu kali ini."
"Soal apa?"
"Soal apa saja."
"Jawaban kamu membingungkan."
Dimitri terkekeh, kemudian mendekat.
"Sikapmu akhir-akhir ini juga sama membingungkannya lho." jawab pria itu yang menghapus jarak diantara mereka.
"Ini nggak bisa di kontrol tahu? bisa aja satu waktu aku merasa biasa aja, tapi nggak lama setelah itu kadang aku merasa nggak baik-baik aja. Mama aku nyebutnya itu bawaan bayi."
"Perubahan mood."
"Iya, itu kamu tahu?"
"Dan aku nggak peka soal itu?"
"Bukan aku yang bilang lho."
Dimitri terkekeh lagi.
"Udah ah, malah ketawa-ketawa. Sana pergi kerja!"
"Tidak akan kalau kamu akan pergi ke Bandung."
"Apa?"
"Aku tidak akan pergi kerja kalau kamu tetap mau ke Bandung."
"Dih, ... bisa ya kayak gitu?"
"Bisa, aku kan bos nya."
"Dih, udah mulai seenaknya?"
"Nggak apa-apa, itu perusahaan punya keluargaku."
"Tapi nggak bisa gitu juga?"
"Bisa lah."
"Nanti Clarra ngomel?"
"Tidak apa-apa, anggap dia speaker mini." Dimitri tertawa.
"Nanti papi marah?"
"Tidak akan, kalau tahu aku bolos sehari karena kamu."
"Dih, nanti pandangannya sama aku jadi berubah?"
Dimitri terdiam sebentar.
"Jangan pergi ke Bandung, ..."
"Aku mohon." matanya berbinar penuh harap.
"Aku akan merasa bersalah kalau kamu tetap pergi ke Bandung."
Rania kini yang terdiam.
"Please." ucapnya lagi seraya membingkai wajah perempuan itu dengan kedua tangannya.
"Kita akan pergi bersama, tapi nanti."
"Please." katanya, yang akhirnya membuat Rania luluh juga.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
hadeh, kalau mau ditinggalmah takut 🙄
udah hari senin nih, vote buat aku masih ada nggak ya? ðŸ¤
like komen sama hadiahnya jangan lupa ya?
lope lope sekebon cabe 😘😘