All About You

All About You
Si Tukang Modus



🌹


🌹


Satria mengakhiri percakapan telfon setelah kurang lebih satu jam membicarakan banyak hal. Dia kemudian meletakan ponselnya diatas meja, dan segera memulai sarapannya.


"Mama marah?" Dimitri datang menghampirinya setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil yang dia temukan di dalam sana.


"Hanya sedikit merajuk." pria yang hampir genap berusia 65 tahun itu terkekeh, lalu menyesap kopi hitamnya yang baru dituangkan Dimitri.


"Kan sudah aku bilang semalam, telfon Mama begitu kita sampai. Tapi papi tidak menurut." sang anak mengingatkan.


"Kita sampai disini, di Jakarta sudah lewat tengah malam, papi kira mamamu sudah tidur. Dia tidak akan peduli hal semacam ini."


"Tapi buktinya?" Dimitri memulai sarapannya. "Papi lupa ya, kalau ini pertama kalinya papi pergi tanpa mama? kalian kan tidak pernah pergi sendiri-sendiri sejak papi pensiun. Kemanapun selalu berdua."


Satria tergelak.


"Papi juga lupa menyalakan ponsel, itu yang paling membuat mamamu marah."


"Astaga! aku juga lupa." Dimitri meraih ponselnya, lalu menyalakan benda pipih itu.


"Nah kan?" dia menunjukan layar ponselnya kepada sang ayah. Sebanyak dua puluh panggilan telfon terhitung sejak mereka mendarat di Barcelona. Juga entah berapa pesan yang masuk dari nomor ibunya.


Dim, kalian sudah sampai?


Dim, bagaimana perjalanannya?


Dim, papimu belum menelfon mama.


Dim, kalian sudah di hotel?


Dim, ingatkan papi untuk meminum obat dan vitaminnya.


Dim!


Dan banyak lagi pesan yang tak terhitung jumlahnya.


"Mamamu lucu sekali, Dim." Satria tertawa terbahak-bahak.


"Haih,. ... itu mengerikan. Mama berlebihan." sang anak mencibir.


"Dia sangat manis, tahu."


"Manis apanya? kemanapun papi pergi mama harus selalu ikut, dan dimanapun berada mama harus selalu tahu."


"Satu saat nanti kamu akan tahu, bagaimana senangnya diperhatikan seperti itu. Ketika semua perhatian-perhatian itu tidak kamu dapatkan."


"Kamu tahu, papi tidak memiliki hidup yang menyenangkan seperti kamu. Dilimpahi kasih sayang yang besar, semua orang memperhatikanmu, dan mengusahakan kebahagiaanmu. Kamu mendapatkan segala yang kamu inginkan, dan bebas menentukan pilihan."


"Kamu beruntung hidup di zaman ini, bukan di zaman papi. Ketika segala hal ditentukan oleh orang tua, dan kamu tidak pernah bisa membantah. Kamu bahkan tak memiliki pilihan bahkan untuk menentukan hidupmu sendiri."


"Jadi, bersyukurlah kamu memiliki itu semua, karena papi tidak akan pernah melakukan apa yang dulu Ded lakukan kepada papi. Dan bagaimana caramu bersyukur? dengan menghargai segala perhatian yang kamu dapatkan, sebelum semua itu menghilang karena waktu."


Dimitri tak membantah.


"Kamu tahu, mamamu adalah hal paling baik yang papi temukan. Terlepas dari bagaimanapun caranya mencintai kita, ataupun caranya memperlakukan kita. Segala kekonyolannya, perhatiannya yang berlebihan, maupun kecerobohannya. Papi hanya sangat mencintai dia."


"Kenapa aku merinding ya?" Dimitri mengusap-usap tengkuknya yang terasa meremang, kemudian tertawa.


"Kamu akan mengalaminya nanti. Dimana kamu akan jatuh bangun untuk meraih apa yang kamu inginkan. Apapun itu."


"Benarkah?"


"Tunggu saja."


"Ah, ... Itukan papi. Aku sih... sepertinya tidak mungkin."


Satria hanya tersenyum sambil menyesap kopinya yang mulai dingin.


"Belum, masalahnya hanya waktu."


🌹


🌹


"Lihat, dia keren sekali kan?" Dimitri menunjuk Rania yang sedang beraksi diatas tunggangannya. Motor besar berwarna merah dengan tampilan garang itu tampak kontras dengan postur tubuhnya yang kecil dan tidak terlalu tinggi. Kini ayah dan anak itu berada di bangku penonton sebuah sirkuit terkenal di kota Barcelona, sirkuit Catalunya. Menyaksikan babak kualifikasi untuk menentukan posisi esok hari.


"Yeah, ... seleramu bagus juga. Tapi lain kali jangan bertanya soal keren atau cantiknya seorang gadis kepada papi, apalagi di depan mamamu." Satria membenahi letak kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Memangnya kenapa?"


"Bisa marah mamamu, dan akan sangat sulit untuk merayunya lagi."


"Haih, ... seperti abege saja!"


Satria tergelak hingga wajahnya terdongak keatas.


"Oh iya, tadi kamu menemui mereka dulu kan?" Satria bertanya soal tugas yang dia berikan kepada putranya untuk menemui tim pembalap.


"Yeah, ..." anaknya itu tersenyum, dan mata dibalik kacamata hitam itu berbinar-binar saat mengingat kejadian sebelum kualifikasi dimulai siang itu.


🌺 Flashback On 🌺


Seluruh anggota crew sudah bersiap. Dua Ducati Panigale s4v sudah diturunkan untuk menjalani sesi kualifikasi. Segala peralatanpun telah tertata di tempat yang seharusnya. Semua orang telah bekerja sesuai dengan tugasnya, dan mereka tampak serius melakukannya.


Dimitri datang untuk memberikan dukungan, sebagaimana yang dperintahakn oleh Satria. Dia menemui tim ini untuk menyemangati mereka.


"Pak?" Angga telah siap dengan headphonenya.


"Semuanya lancar?" Dimitri mendekat ke area pit stop.


"Lancar Pak. Semua yang kamu butuhkan juga datang tepat waktu."


"Syukurlah."


"Ya, "


"Rania?"


"Tadi masih di belakang. Mungkin dengan Galang."


"Baiklah."


Peringatan dari pengeras suara terdengar, tanda sesi hari itu akan segera dimulai.


"Oke oke oke, kita mulai! semuanya bersiap!" Angga berteriak untuk memperingatkan anggota crewnya, dan semua orang pun bergegas.


"Baik pak, terimakasih." jawab Angga.


Kemudian Dimitri pun mengayun langkah meninggalkan pit stop dan bermaksud kembali ks bangku penonton diatas saat berpapasan dengan anggota crew yang berlarian. Begitu juga dengan Rania yang mengekorinya Galang setelah mereka berbicara cukup lama.


"Hey." Dimitri mencekal pergelangan tangannya. saat Rania menjadi orang terakhir yang berlari.


"Kamu disini juga?" gadis itu berhenti.


"Hanya melihat-lihat."


"Oke."


Pria itu melihat sekeliling, dimana keadaan sudah sepi, karena semua orang telah bersiap di sekitar pit stop untuk memulai sesi.


"Hati-hatilah disana oke?"


"Oke."


"Baiklah, ... aku melihatmu dari atas."


"Baik."


"Baik." pria itu kemudian melepaskannya dan dia bermaksud pergi ketika Rania memanggil.


"Dim?"


"Ya?" dia menoleh.


"Terimakasih udah datang." ucap Rania, dia merasa harus melakukannya karena pria itu sudah bersedia datang untuk mendukungnya. Dan itu cukup manis.


Dimitri terdiam, dan itu merupakan hal pertama yang dilakukan oleh gadis itu. Berterimakasih untuk sesuatu yang sudah dilakukannya. Dan itu juga cukup membahagiakan baginya.


"Kamu tahu, dukungan kayak gitu sangat berarti." lanjut Rania.


Pria itu tak menjawab, namun dia melesat kembali ke hadapannya, kemudian tanpa basa-basi meraup pinggang Rania. Lalu menunduk dan dengan cepat meraih bibir gadis itu untuk dia sesap beberapa detik dan melepaskannya sebelum Rania bereaksi.


"It's oke, itu bukan apa-apa. Hanya sponsor yang mendukung pembalapnya bukan?" katanya, yang segera menjauh untuk menciptakan jarak aman.


Rania tampak membeku, matanya mengerjap-ngerjap dan dia berusaha menarik kesadarannya yang menghilang selama beberapa detik.


"Semangat!" ucap Dimitri yang mengepalkan tangannnya di depan gadis itu.


"Mm...


"Aku keatas lagi. Bye." ucap Dimitri lagi, dan dia segera berlari meninggalkan gadis itu.


🌺 Flashback Off 🌺


Dimitri tertawa mengingat hal tersebut, betapa banyak cara yang bisa dia lakukan untuk mencuri-curi kesempatan. Dan sepertinya kini dirinya sudah tahu bagaimana caranya mendekati gadis itu tanpa babak belur terkena pukulannya.


"Ada apa kamu ini? seperti baru saja mendapatkan lotre?" Satria bereaksi, setelah melihat sikap putranya itu yang memang begitu ceria.


"Memang." Dimitri melipat kedua tangannya di dada.


"Apa?"


"Rahasia." dia tertawa lagi.


🌹


🌹


Rania berhenti tepat setelah menyelesaikan sesi kualifikasinya. Dengan rasa kecewa setelah dia finish di urutan 12.


"Ada apa kamu ini?" Angga menghampiri sang putri seraya melepaskan headphonenya dengan keras.


"Kamu lagi ada masalah?"


Rania terdiam. Jelas dia sedang ada masalah, karena konsentrasinya buyar begitu saja.


"Rania! Ada apa?"


Gadis itu membuka helmnya, dan dia segera turun dari motornya.


"Ini serius, kamu nggak bisa kayak gini. Kamu nggak mendengarkan papa, kamu kehilangan fokus. Apa masalahnya?" Angga mengikuti langkahnya.


Rania duduk di kursi yang tersedia, lalu meraih minumannya. Kemudian meneguknya dengan cepat.


"Rania, jawab!"


"Lagi minum loh, masa aku harus ngomong?" Rania menyeka bibir yang basah dengan punggung tangannya.


"Ya terus, sekarang kenapa kamu kayak gini? lagi ada masalah apa?"


"Papa cerewet ih!"


"Ya gimana papa mau diam aja? kamu finish di posisi 12, dan sebagai juara di balapan kemarin itu fatal! senggaknya kamu harus ada di posisi 5 lah."


Rania mendengus keras.


"Kamu nggak konsentrasi, kehilangan fokus, juga nggak dengerin papa. Mau apa sih? kalau mau gagal jangan sekarang."


"Cuma gugup Pah." Rania akhirnya menjawab.


"Gugup kenapa? karena ada sponsor kita? kenapa harus gugup? seharusnya itu jadi motivasi agar kamu lebih baik. Bukannya malah mundur." Angga bersungut-sungut.


"Mereka itu datang untuk ngasih dukungan. Jangan kecewakan mereka lah. Kamu bikin papa malu!"


Rania mencebikan mulutnya. Kemudian melirik ke arah bangku penonton dimana pria itu terlihat duduk santai menyandarkan punggungnya. Dia hafal sosok Dimitri, yang walaupun dari kejauhan pria itu tampak mencolok. Dengan kemeja biru muda melapis kaus putih didalamnya. Mengenakan kaca mata hitam untuk menghalau sinar matahari yang cukup terik pada siang itu. Bibirnya tampak melengkung membentuk sebuah senyuman.


Ish, dasar tukang modus! bikin gue nggak bisa fokus! batinnya, yang masih mendengarkan ayahnya mengoceh membicarakan banyak hal.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


biasa, like komen, sama hadiahnya kirim ya?


mau ke Barcelona dulu cari ilham. Biar bikin cerita yang beda dari punya orang 🤣🤣🤣