All About You

All About You
Extrapart#2



🌹


🌹


"Kamu habis dari mana?" Dimitri turun dari kamarnya dengan penampilan rapi seperti biasa. Stelan jas berwarna navy, di padukan dengan kemeja putih dan dasi hitam. Rambutnya tampak sangat rapi dengan kaca mata yang sudah bertengger di hidung mancungnya.


"Jogging." jawab Rania yang baru saja tiba.


"Jogging di mana?"


"Halaman belakang lah, di mana lagi?"


"Dengan siapa?"


"Papi."


"Berdua?"


"Ya nggak lah, sama mama. Masa berdua? bisa timbul fitnah."


"Oh, ... aku pikir ..." pria itu tertawa.


"Ngaco. Padahal orang tua kamu sendiri, tapi di cemburuin."


"Aku nggak cemburu."


"Nggak cemburu tapi suka sewot kalau aku ngobrol sama papi juga. Padahal ngobrol doang?"


"Aku hanya tidak senag kamu dekat dengan pria lain selain aku."


"Itu papi kamu tahu, orang tua kita sama kayak papa."


"Aku tau, tapi tetap saja."


"Heleh ..." Rania memutar bola matanya.


"Eh, itu jas yang aku pilihin tadi pagi?" dia menunjuk pakaian yang di kenakan suaminya.


"Entah, aku menemukannya di meja aksesoris, ya aku pakai saja." Dimitri menjawab.


"Iya, aku pilih tadi pagi, terus aku taruh di meja. Apa cocok?"


"Lumayan."


Rania kemudian tersenyum.


"Kenapa? aku tampan kan?" pria itu dengan senyum khasnya.


"Dih? narsisnya kumat?"


"Ayo, katakan kalau aku ini memang tampan," dia menabrakan sikutnya pada pundak Rania.


"Duh, ... pagi-pagi udah mual." Rania berguman seraya melenggang ke ruang makan diikuti Dimitri yang tertawa di belakangnya.


***


"Sayang, tehku mana?" Satria dengan tidak sabaran, menunggu minuman yang biasanya Sofia hidangkan untuknya.


"Sabar papa bear, minum air putih dulu yang banyak. Kita kan habis lari pagi?" Sofia menyodorkan segelas air putih yang segera di tenggak oleh pria itu hingga hampir habis.


"Pelan-pelan sayang, memangnya kamu ini mau ke mana?"


Satria malah tertawa.


"Sepertinya hari ini papi sedang senang?" Dimitri pun menyesap kopi miliknya.


"Tentu saja, setiap hari papi selau senang." jawab sang ayah yang menerima cangkir teh buatan istrinya. "Terimakasih sayang." katanya, yang di balas senyuman penuh cinta dari perempuan itu.


"Wow, itu luar biasa. Dan senang juga mendengarnya." Dimitri kembali menyesap kopinya.


"Bagaimana tidak senang? anggota keluarga kita sebentar lagi bertambah," ucap Satria yang juga meyesap tehnya.


"Serius kamu megganti latte dengan kopi?" Sofia bereaksi. Pasalnya dalam beberapa minggu ini Dimitri tak lagi meminum latte kesukaannya. Padhal minuman itulah yang paling dia gemari sejak kecil.


"Tidak, sekarang aku minum cappucino." jawab Dimitri.


"Benarkah? sejak kapan?" Sofia terkekeh.


"Sejak sekarang." jawab sang putra.


"Apa ini juga efek kehamilan?"


"Mungkin." pria itu menoleh kepada Rania kemudian tersenyum.


"Oh ya, papi tidak lagi minum kopi hitam sekarang?" Dimitri pun bertanya.


"Tidak." dan sang ayah menjawab.


"Sejak kapan?"


"Sudah lama."


"Dan sekarang minum teh herbal seperti mama?"


"Seperti yang kamu lihat sendiri."


"Yakin?"


"Yakin. Agar lebih sehat. Tidak lucu nanti cucu papi mengajak bermain dan papi hanya bisa duduk di kursi. Apa serunya?"


Dimitri tertawa.


"Tidak akan mengajakku ngopi lagi?"


"Apa?" Sofia menyela.


"Kafe dekat kantor ada menu kopi hitam baru, aku sudah mencobanya, dan rasanya enak. Papi pasti suka."


"Kafe dekat kantor?" sang ibu mengulangi kalimat yang di dengarnya.


Sementara Satria memberi isyarat kepada sang putra untuk diam.


"Iya, yang waktu itu papi sering ajak aku." namun Dimitri malah meneruskan bualannya.


Membuat Sofia memicingkan mata kepada suaminya.


"Sudah lama sayang, sebelum aku rutin meminum teh buatanmu." pria itu akhirnya mengaku.


"Kamu kan sudah aku peringatkan! tapi nyatanya kamu ngopi di luar?"


"Dulu, sekarang tidak." jawab Satria dengan meyakinkan.


"Bohong."


"Tidak. Tanya saja pak Sam."


"Pak Sam juga pasti kamu suruh berbohong."


"Tidak. Lagi pula memangnya kapan aku keluar rumah sendirian? Dalam beberapa bulan ini aku tidak pernah keluar rumah lagi, selain denganmu."


Sofia terdiam.


"Tanya saja Dimitri."


"Kalian bersekongkol." Sofia dengan kecewa.


Percakapan tersebut tentu saja membuat putra mereka tertawa terbahak-bahak. Sungguh, melihat orang tuanya berdebat menjadi hiburan tersendiri baginya. Sementara Rania menepuk pahanya untuk menyuruhnya berhenti.


"Tidak sayang, hanya beberapa kali waktu itu." ucap Satria lagi.


"Tuh kan? beberapa kali?" Sofia memekik.


"Setelah itu tidak lagi."


"Sekali bohong kamu tetap bohong."


Dan pria itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dim, ayolah!"


"Iya, iya Mom. Waktu itu sebelum kami menikah, jadi ya sudah cukup lama." akhirnya Dimitri memberikan pembelaan kepada sang ayah.


"Hah, ... dan waktu itu papimu sudah mulai meminum tehnya." ucap Sofia lagi.


"Oh, astaga!" Satria menepuk keningnya sambil menggelengkan kepala.


"Dan aku yakinkan sekarang sudah tidak lagi Mom."


Sofia mendelik.


"Aku jamin." tidak tega juga rasanya membiarkan sang ibu marah kepada ayahnya.


"Dengar sendiri kan?" Satria pun berujar.


"Tetap saja."


"Hhh ..." Satria menempelkan punggungnya ke belakang.


"Kalian seperti abege saja." Dimitri kembali tertawa.


"Ish, ... malah memperkeruh keadaan." Rania mencubit paha suaminya hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Sakit Zai!" Dimitri mengusap-usap bekas cubitan perempuan itu yang terasa sakit dan panas.


"Ma, gimana kalau nanti siang kita pergi?" Rania menyela percakapan.


"Pergi ke mana?" perhatian Sofia pun teralihkan.


"Kemana aja, jalan-jalan. Kayaknya udah lama kita nggak keluar rumah?"


"Mmm ... boleh."


"Berdua, tapi."


Sofia tampak berpikir.


"Baiklah."


"Papi tidak di ajak?" Satria pun bereaksi.


"Ish, ... ini mau me time lah."


"Me time?"


"Iya, me timenya ibu-ibu. Bapak-bapak nggak boleh ikut." jawab Rania.


"Terus papi di tinggal sendiri di rumah?"


"Ya iya, udah dewasa ini, masa mau ikut mama terus? Sekali-sekali lah biarin pergi sendiri." Rania dengan entengnya. "Kan perginya sama aku."


Sang ayah mertua pun terdiam.


"Biar mama bahagia, dan hidup papi aman." perempua itu menaik turunkan kedua alisnya.


Kalau sudah begitu Satria tidak dapat lagi menolak.


"Sekarang mending papi kasih mama kartu kreditnya."


"Apa?"


"Ayo, cepetan."


"Kenapa tiba-tiba saja perasaan papi tidak enak ya?" Satria bergumam.


"Nggak apa-apa, nggak enaknya sekarang. Cuma sebentar. Kalau sampai besok-besok kan bahaya? apa lagi sampai nanti."


Satria memutar bola matanya. Seumur hidupnya tidak ada yang berani berbuat dan berkata seperti Rania kepadanya saat ini. Tapi anehnya dia tak merasa marah.


"Udah, mana kartunya?"


Dan dengan sedikit terpaksa pria itu mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.


"Yang hitam pih, yang hitam." Rania tertawa sambil menutup mulutnya saat melihat jejeran kartu finansial di dompet mertuanya.


Dan pria itu hanya bisa pasrah saja demi keamanan hidupnya, seperti yang Rania katakan tadi.


"Punya kamu mana?" kini perempuan itu beralih kepada Dimitri.


"Apa?"


"Kartu punya kamu?"


"Untuk apa?"


"Ya untuk shopping, untuk apa lagi?"


"Aku kan sudah memberimu satu?"


"Nggak mau, aku maunya punya kamu aja."


Dimitri mencebik, namun dirinya tetap melakukan apa yang di minta istrinya.


"Yang hitam sayang, ..." ucap Rania.


"Yang ini cukup untuk kamu." dia mencabut kartu berwarna silver.


"Nggak mau."


"Lagi pula apa yang mau kamu beli? paling cuma ayam geprek dan cappucino cincanu."


"Pokoknya sini, yang hitam."


"Ck! sekarang perasaanku yang tidak enak, duh." Dimitri bergumam.


"Nah, makanya bapak-bapak jangan berani-berani bohong ya? kalau nggak, nanti tahu sendiri akibatnya." Rania mengantongi kartu yang di berikan Dimitri kepadanya.


"Memangnya mau pergi ke mana sih? bukannya hari ini kamu harus check up kandungan ya?" Dimitri berusaha membuat dua perempuan itu mengurungkan niatnya.


"Ya nanti habis check up langsung jalan-jalan."


"Siang? kamu tidak mau menunggu aku pulang kerja?"


"Nggak usah, kamu kan sibuk. Aku pergi sama mama aja."


"What? biasanya kamu menunggu aku?"


"Sekarang nggak ah."


"Kenapa?"


"Kamu suka bikin bete,"


"Bete sebelah mananya?"


"Semua cowok kamu cemburuin. Masa sama dokter Reyhan juga cemburu?"


"Ish, ... kamu sebut nama dia lagi?"


"Ya karena itu memang namanya, gimana sih?"


Dimitri mendengus tidak senang.


🌹


🌹


🌹


Iya, pak Dimi mah semua orang di cemburuin. Dasar kurang kerjaan. 😆😆