All About You

All About You
Teman Baik



🌹


🌹


Rania berdiri di depan rumah Galang. Pagi-pagi sekali gadis itu sudah terbangun dan bergegas menuju rumah sahabatnya setelah membersihkan diri. Dengan menenteng sebuah bungkusan berisi pakaian untuk pengiring pengantin.


Pintu depan terbuka setelah penghuninya menyadari keberadaannya di depan rumah mereka.


"Masuk Ran." Maya dengan senyum ramahnya. Perempuan itu memang selalu tersenyum ramah kepada siapapun, apalagi kepada tetangganya sendiri yang sudah dia kenal sejak lama.


"Galang...


"Ada, lagi mandi. Sebentar lagi turun."


"Oke."


***


"Duduk. Kamu udah sarapan?"


Rania menggelengkan kepala. "Abis mandi aku langsung kesini. Takut Galangnya keburu pergi kuliah."


Maya hanya tersenyum, Lalu menuangkan teh hangat yang dia beri sedikit gula, kemudian memberikannya kepada Rania.


"Bu nanti kayaknya aku pulang malem, soalnya ada ..." Galang berhenti di tangga terakhir, mendapati sahabatnya yang sebentar lagi jadi pengantin malah berada di ruang makannya.


"Ngapain kamu pagi-pagi begini?"


"Sengaja mau ketemu kamu."


"Ngapain?"


"Ini." Rania menyodorkan bungkusan yang dibawanya kepada Galang.


"Apa ini?"


"Baju."


"Baju?"


"Hu'um. Buat pengiring pengantin. Aku mau kamu yang besok nemenin aku disana."


Galang mendengus kasar. Sepertinya siksaan ini tidak cukup dia terima. Malah masih ada siksaan lainnya lagi, yaitu melihat cinta pertamanya mengucap janji setia di depan penghulu dengan pria pilihannya.


"Kamu pikir hati aku terbuat dari baja apa? kuat-kuat gini juga aku sakit Ran." ucap pemuda itu.


"Maaf."


"Cuma itu yang bisa kamu bilang?"


"Terus apa lagi? apapun yang aku bilang kamu tetep marah sama aku karena nggak bisa membalas perasaan kamu."


"Aku nggak marah, aku cuma lagi sakit. Terus kamu datang, dan minta aku untuk nemenin kamu disana besok. Dimana perasaan kamu?"


"Aku nggak punya teman lain selain kamu. Dan aku... cuma merasa karena kamu sahabat aku, jadi aku juga merasa penting untuk meminta kamu datang. Aku nggak tahu mesti gimana, tapi aku mau kamu ada disana di saat paling penting dalam hidup aku."


"Dan membiarkan aku merasakan sakit karena melihat kamu sama dia ya?"


Rania terdiam.


"Kamu nggak akan membutuhkan aku lagi setelah ini. Akan ada dia yang memberikan semua yang kamu mau. Terus Kenapa malah datang dan meminta aku untuk ada disana?"


"Karena Kamu sahabat aku." jawab Rania, dengan suara pelan.


"Datanglah, ... hanya kalau kamu mau, untuk terakhir kali. Tapi kalau misalnya nggak mau, nggak apa-apa. Aku ngerti." gadis itu berlalu.


"Maaf tante." katanya kepada Maya yang berdiri diambang pintu, menyimak adegan tersebut. Sebelum akhirnya dia berlari keluar dengan derai air mata.


"Hak kamu untuk nggak datang. Hak kamu juga untuk merasa marah dan sakit. Kamu sudah dewasa, dan bisa berpikir dengan baik. Ibu harap kamu tidak akan berlarut-larut seperti ini." Maya menepuk pundak sang putra untuk menguatkannya.


🌹


🌹


Kampus sangat ramai pada siang itu, tentu saja karena bertepatan dengan jam pulang bagi mahasiswa yang kuliah pagi, dan jam masuk bagi mahasiswa yang kuliah siang. Membuat suasana hari itu terasa sibuk.


Amara baru saja keluar dari ruangan dosen ketika di saat yang bersamaan Galang juga keluar dari ruangan dosen yang lainnya.


"Hey, dari mana?"


"Habis minta izin, besok nggak masuk." jawab Amara.


"Izin? kok sama?"


"Oh ya?"


Galang mengangguk. "Izin mau kemana?"


"Mau ke nikahan OM aku."


"Lah?"


"Kakak sendiri minta izin untuk apa?"


"Mau ke nikahan temen aku."


"Kok sama ke nikahan?"


"Iya, kebetulan ya?"


"Hu'um."


Kemudian mereka sama-sama duduk di bangku taman. Dengan pikiran yang kalut dan masih menyisakan kekecewaan yang berat. Namun apalah daya, keadaan memang tak berpihak kepada mereka.


"Patah hati aku dobel-dobel kak." Amara memulai percakapan setelah mereka terdiam cukup lama.


"Kenapa?"


"Cowok yang aku suka itu... mau nikah."


Galang mengerutkan dahi.


"Om aku kak."


"Apa?"


Amara menganggukan kepala. "Aku suka sama om aku, dan dia besok menikah."


"Kok bisa?"


"Iya, sebenarnya secara teknis sih dia bukan om aku. Tapi adiknya Mommy. Tapi tetep aja."


"Terus gimana selanjutnya?"


"Nggak gimana-gimana, emangnya apa lagi yang bisa aku lakukan? sejak awal keadaan ini emang nggak berpihak sama aku. Papa aku harus menikah sama mommy, yang dia jaga dari kecil. Tapi aku malah suka sama adiknya."


"Ni maksudnya gimana sih aku nggak ngerti?"


"Papa aku nikah lagi sama mommy waktu umur aku tujuh tahun. Dan keluarga mereka emang udah aku kenal, bahkan aku diasuh mertuanya papa waktu bayi."


"Oh, jadi kamu jatuh cinta sama adik ipar papa kamu gitu?"


"Iya."


"Duh, rumit." Galang tertawa. Mendadak dia merasa lucu dengan keadaan ini. Mereka, dua manusia yang sama-sama Pata hati oleh cinta pertama dan harus melihat dan merelakan mereka bahagia dengan orang lain.


"Malah ketawa? aku lagi sedih tahu!"


"Maaf. Tapi rasanya ini lucu."


"Sebelah mana lucunya? kakak aneh deh?"


"Hhh... " dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. "Ternyata kamu lebih menyedihkan dari pada aku."


"Maksudnya?"


"Aku cuma suka sama sahabat yang besok mau nikah. Tapi kamu? masih keluarga sendiri. Hebat aja kalau kamu bisa move on, secara kamu pasti akan sering ketemu dia."


"Temen kakak yang itu yang mau nikah?"


"Hu'um." Galang mengangguk.


"Ah, ... parah!" Amara juga bersandar ke belakang. "Ternyata aku nggak sendirian." dia bergumam.


"Kalau gitu, ayo kita berjuang sama-sama!" Galang tiba-tiba saja bangkit dan menegakan tubuhnya.


"Hah?"


"Kalau sendirian kita lemah dan kesepian, tapi kita bersama dalam hal ini. Jadi, ayo kita berjuang untuk bahagia!" ucap Galang lagi.


"Berjuang untuk bahagia?"


"Iya. Bahagia itu kita yang menentukan, jadi ... ayo kita sama-sama berjuang. Karena kita nggak sendirian!"


"Baiklah, ...


"Ayolah, yang semangat!!"


"Oke."


"Besok kita harus datang ke pernikahan mereka dengan tegar, jangan nunjukin kesedihan kita." Galang dengan berapi-api.


"Barengan?"


"Maksud aku, kamu ke pernikahan om kamu, dan aku ke pernikahan temen aku. Dengan tegar!!"


"Oh...


"Ayolah, kita harus semangat!!" Galang mengepalkan tangannya di udara.


🌹


🌹


Para kerabat sudah mulai berdatangan pada sore hari, bersama para tetangga yang sudah berkumpul untuk menghadiri acara pengajian sederhana di kediaman Anggara Yudistira, yang akan menikahkan putri mereka esok hari.


Tidak ada satupun yang menyangka pernikahan itu akan tiba-tiba di gelar, pasalnya Rania memang tidak pernah terlihat membawa laki-laki ke dalam rumah selain Galang, yang mereka tahu sahabatnya sejak kecil. Hanya baru-baru ini saja mereka mengetahui seoramg pemuda asing yang sering bolak-balik kerumah tersebut, yang ternyata akhirnya membawa kabar pernikahan setelahnya.


"Nggak nyangka lho, bu Rani. Ranianya langsung nikah aja. Kirain bule yang suka datang itu temennya pak Angga." seorang tetangga berbicara.


"Ya, jodoh kita nggak tahu kan? saya juga nggak nyangka."


"Iya, habisnya dadakan banget. Sampai-sampai kita ngiranya Rania hamil loh, tapi nggak kan?"


"Duh? ya ngga lah, ..." Maharani tertawa canggung.


"Tapi bagus lah, biar nggak khawatir. Ya namanya juga anak jaman sekarang, pergaulannya suka aneh-aneh. Apalagi Rania sering keluar malam dan main motor kan? serem deh kalau ingat itu." ucap yang lainnya.


Maharani hanya tersenyum.


Hingga acarapun dimulai da doa-doa segera dilantunkan. Petuah dari orang tua dan pemuka agama di ucapkan, khusus untuk sang calon mempelai yang sebentar lagi akan menempuh hidup barunya bersama pria pilihannya.


***


"Cieee, ... oneng bakalan nikah." Sagara berkelakar sambil merangkul pundak keponakannya.


Rania hanya tersenyum dengan pipi merona.


"Duluin Agnia nih kamu." ucap Sagara, yang melirik kepada putrinya yang usianya tak terpaut jauh dari Rania.


"Hmm...


"Nggak nyangka aja, berhenti kuliah, terus balapan, tahunya malah nikah." Agnia berucap.


"Gitu deh."


"Nggak apa-apa, yang penting Semuanya dalam keadaan baik." Virra menyahut.


"Dan jangan bandel-bandel lagi!" Raja pun menimpali. "Sekarang bukan papamu yang akan kamu buat pusing, tapi suamimu."


"Jangan kabur-kaburan!" Ratna menambahkan, lalu mereka semua tertawa.


Tampak sekali kebahagiaan memancar dari wajah-wajah anggota keluarga yang hadir. Dan Rania menoleh kepada ayahnya yang hanya menyimak obrolan ringan itu dalam diam.


***


"Galang?" gadis itu bangkit.


"Iya, dia nunggu di...


"Aku kesana dulu." Rania bwrlari keluar dari rumah.


Pemuda itu berdiri di halaman rumahnya diantara tamu yang hampir pulang karena acara telah selesai pada hampir malam. Jelas sekali dia seperti menunggu.


"Kamu dari mana?"


"Aku baru pulang."


"Kuliah?"


"Bukan. Latihan."


"Latihan?"


"Iya."


"Latihan apa?"


"Cek track. Untuk final besok."


"Final apa?"


"Turnamen motocross Di Cikole."


"Oh ya? udah masuk final aja?"


"Iya, di turnamen minggu kemarin aku berhasil lolos, jadi besoknya ikut final."


"Kok aku nggak tahu?"


"Aku waktu itu ngasih tiket buat nonton, tapi cuma om Angga yang bisa datang. Kamu... sibuk."


Rania terdiam.


"Jadi mungkin besok aku nggak bisa lama dampingin kamu. Karena siangnya aku harus ke turnamen."


"Kamu mau datang?"


"Setelah aku pikir-pikir lagi, ... kayaknya iya. Mungkkn besok terakhir kalinya kita bisa barengan. Karena setelah kamu nikah, aku nggak mungkin bisa nemuin kamu. Bisa dihajar suami kamu kalau nekad." pemuda itu terkekeh.


"Nggak ada lagi yang bisa aku ajak jajan ayam geprek sama capucino cincau lagi di pinggir jalan. Atau ikutan ngetrek ke jalur trail."


Keduanya terdiam.


"Kalau gitu ayo kita pergi dulu sekarang?" Rania menarik lengan Galang dan berlari keluar dari pekarangan rumah.


"Kemana?" pemuda itu tersaruk-saruk mengikuti langkah cepat sahabatnya.


"Jajan ayam geprek sama capucino cincau untuk terakhir kalinya." mereka tiba di halaman rumah Galang.


"Cepetan!!" Rania dengan tidak sabar.


"Tapi ini malam tadyakuran, seharusnya kamu ada dirumah. Besok kamu nikahan."


"Besok. Malam ini aku masih bisa. Ayolah, kapan lagi? kalau udah nikah nggak boleh jalan sama cowok lain, walaupun sahabat aku sendiri, kan? jadi, ayo cepat!!" katanya lagi.


Dan tak ada pilihan lain bagi Galang selain menuruti kemauan sahabatnya itu. Dia kemudian menghidupkan motornya seperti yang Rania minta.


"Tante, kalau papa nyari bilang aku pergi sama Galang. Nanti juga pulang." ucap Rania kepada Maya.


"Tapi Ran...


"Cepet Lang, waktu kita nggak banyak." Rania naik di belakang sahabatnya, kemudian mereka segera pergi.


***


Sebuah tempat di perbukitan di utara kota Bandung menjadi pilihan dua sahabat ini menghabiskan waktu. Duduk bersama di pinggir jalan memakan nasi dengan isian ayam bertabur sambal ditemani capucino cincau dan es boba kesukaan Galang.


Banyak hal yang mereka bicarakan, di iringi gelak tawa ringan seperti biasanya.


"Nanti setelah nikah pasti nggak akan jajan di pinggir jalan kayak gini." Galang menyesap minumannya setelah nasi ayam miliknya habis.


"Masih lah."


"Paling sendiri."


"Nggak."


"Emang Dimitri bisa diajak ke tempat kayak gini? rasanya ngga mungkin aja."


"Bisa lah. Dia fleksibel kok."


"Dih? fleksibel. emangnya karet?"


Rania tertawa.


"Syukur deh kalau dia bisa kamu ajak ke tempat kayak ginian."


"Hmm ... tapi dia nggak bisa makan sambel."


"Masa?"


"Iya. Dua bisa diare parah kalau makan pedes sedikit aja."


"Huuhh... lemah."


"Emang."


"Tapi kamu nikah sama dia."


"Habisnya dia lucu."


"Dan aku nggak lucu ya?"


Rania menghentikan kegiatan makannya.


"Ups! maaf. Jangan dipikirkan." Galang tertawa.


"Maaf Lang." ucap Rania kemudian.


"Dimaafkan."


"Abis ini kita masih sahabatan?"


"Masih. Tapi nggak sebebas biasanya. Kamu kan udah nikah, sahabat sebenarnya ya suami kamu setelah ini."


"Aku tahu."


"Janji ya, kamu harus baik-baik aja. Harus bahagia sama Dimitri."


"Hmm... " Rania mengangguk. "Tapi kayakmya kebalik." dia terkekeh.


"Apaan?"


"Seharusnya aku yang bilang gitu sama kamu. Kan kamu yang aku tinggal nikah?"


"Aku pasti baik-baik aja."


"Janji?"


"Janji."


"Dan maaf juga Lang."


"Untuk apa?"


"Karena aku nggak mendampingi kamu menggapai mimpi kayak yang kamu lakukan untuk aku."


"Itu udah jalannya."


"Kamu temen yang baik. Aku yakin hidup kamu akan sangat baik."


"Itu harus."


Rania mencoba untuk tersenyum, walau kenyataannya ada rasa perih dan ngilu di hati.


"Kalau udah selesai kita pulang. Om Angga pasti hajar aku pas sampai rumah, duh." Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sementara Rania hanya tertawa.


*


*


Rumah sudah tampak lengang ketika mereka tiba, dan sebagian lampu-lampu sudah dipadamkan. Namun masih terdengar suara orang bercakap-cakap.


Terlihat Angga, Sagara, Raja, juga Arif berbincang di ruang tamu.


"Habis dari mana kalian?" Angga bereaksi saat putri dan anak tetangganya masuk kedalam rumah.


"Jajan." jawab Rania.


"Terakhir kali om."


"Kayak mau kemana aja nyebut terakhir kali?"


"Ya kan si oneng mau nikah besok." jawab Galang.


"Cuma nikah, bukan mau perang." sergah Angga. Hatinya masih saja merasa kesal mengingat besok adalah hari dimana dia akan menikahkan sang putri dengan seorang pria.


"Sudah, sebaiknya kita istrirahat. Besok harus bersiap-siap bukan?" Raja menyela.


"Benar. Kalau begitu kami pamit?" ucap Arif seraya menghampiri putranya, lalu mereka segera pergi.


"Kamu juga, besok harus bangun subuh." Angga beralih kepada Rania.


"Iya papa."


Dan semua orang pun kembali ke peraduan mereka setelah yakin keadaan tenang.


***


Terdengar pintu kamar di ketik dari luar saat Angga da Maharani hampir saja terlelap.


"Ya?" Angga membuka pintu, dan wajah Rania yang muncul.


"Kenapa lagi?"


"Malam ini, boleh nggak aku tidur disini?" Rania dengan suara pelan.


"Apa?"


"Aku mau tidur sama papa malam ini."


Pria itu tertegun.


"Aku mau tidur sama mama papa untuk terakhir kalinya." ulang Rania.


"Masuklah." sahut Maharani dari dalam.


"Oke." gadis itu menerobos pintu dengan cepat kemudian naik ke tempat tidur, lalu masuk kedalam selimut di samping ibunya.


Tak lama kemudian Angga menyusul. Membaringkan tubuhnya di samping Rania. Membuat posisi anak gadisnya itu berada di tengah.


Rania kemudian merangkul sang ayah, diikuti Maharani yang merangkul tubuh anak dan suaminya. Dan Angga pun melakukan hal yang sama. Merangkul anak dan istrinya bersamaan, persis seperti saat Rania masih kecil dan tak mau tidur sendirian karena takut mengalami mimpi buruk. Lalu mereka terlelap hampir bersamaan.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


duh, kok emak mewek ya 🤧


kirim like komen sama hadiah yang banyak


lope lope sekebon cabe 😘😘