All About You

All About You
The Sweet Thing



🌹


🌹


"Pertemuan selanjutnya, setelah makan siang di hotel Indonesia, atau kamu mau makan siang disana biar sekalian?" Clarra mengingatkan lagi.


"Aku baru selesai Cla, astaga!" protes Dimitri yang baru saja menjatuhkannya pada sofa di ruangan Arfan, yang sebentar lagi akan menjadi ruang kerjanya setelah kakak iparnya itu menyelesaikan pekerjaan terakhirnya sebelum pensiun.


"Hanya mengingatkan, Dim."


"Bisa tidak, kamu tunggu lima menit saja? aku baru saja menyelesaikan rapat di bawah."


"Aku tahu, tapi aku sedang bekerja sekarang ini," tukas Clarra, yang mendekap macbook di dadanya.


"Kamu pikir, aku sedang liburan?" pria itu dengan nada kesal kepada sepupu sekaligus sekertarisnya itu.


"Ish, ... kamu ini kenapa? marah-marah terus dari kemarin? aku pikir setelah menikah kamu akan lebih kalem, tahunya malah semakin menjadi." omel Clarra.


"Tidak ada hubungannya, Cla."


"Itu, buktinya?"


Dimitri merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Bukan hanya lelah karena pekerjaan, tapi juga hal lainnya yang tak bisa dia hilangkan dari pikirannya. Tentu saja ini ada hubungannya dengan Rania, yang tak bisa dia hubungi sejak semalam, dan siang ini, dia hanya bisa melihat beberapa storry terakhir dari perempuan itu yang berfoto di suasana sunrise bersama beberapa anggota crewnya. Dan pada satu storry yang berbentuk video, Rania bahkan tengah bercanda dengan Galang, hingga mereka tertawa terbahak-bahak. Dan itu sukses membuatnya kesal setengah mati.


Dirinya tahu, pemuda itu merupakan sahabatnya sejak kecil, dan dia juga mengerti hubungan mereka bagaimana. Namun justru karena itu pula dia merasa tak suka. Apalagi jika mengingat Galang yang pernah memiliki perasaan kepada istrinya. Semakin kesal pula lah dirinya.


"Hanya dua pertemuan lagi siang ini, Dim. Dan besok kamu bisa santai."


"Oh ya? memangnya hari apa sekarang?"


"Jari Jum'at." jawab Clarra, yang membereskan meja kerja atasannya.


"Jum'at?" Dimitri tiba-tiba saja bangkit.


"Ya." Clarra mengangguk.


"Meetingnya dimulai jam berapa?"


"Jam 1.30." Clarra menatap jam tangannya.


"Oke, ayo kita selesaikan hari ini!!" pria itu tiba-tiba saja bersemangat.


"Apa?"


"Aku pergi sekarang."


"Tapi ini masih jam 11.45? kamu bahkan belum istirahat dan makan siang?"


"Aku makan siangnya si hotel Indonesia saja." Dimitri berjalan menjauh.


"Dia itu kenapa?" Arfan masuk ke ruangannya dengan raut keheranan.


"Entah,"


"Dia itu memag aneh. Tadi mengeluh terus karena kelelahan, sekarang malah bersemangat?" Arfan bersungut-sungut.


"Hmm ... bapak mau makan siang? mau saya pesankan?"


"Tidak usah, sebentar lagi Dygta kesini."


"Benarkah?"


"Ya, dia bilang mau membawakan makan siang untukku."


"Wow,


"Bagus bukan?"


"Dia memang sudah pandai memasak sekarang ya?" Clarra berkelakar.


"Begitulah. Hampir setiap hari dia memasak menu baru."


"Dan semuanya berhasil?"


"Tentu saja, dia itu peniru ulung." Arfan dengan bangganya.


"Syukurlah, ... senang juga mendengarnya." gadis itu terkekeh.


"Hmm ... sesekali kamu harus mampir untuk makan malam Cla, ajak juga mama papamu. Mereka sudah jarang terlihat akhir-akhir ini. Mentang-mentang sudah pensiun."


"Ya, mama dan papa hanya sedang menikmati masa tuanya, Pak."


"Itu bagus kan?"


"Ya. Sudah saatnya mereka beristirahat."


"Oh, ... aku juga sudah tidak sabar. Dan berharap Dimitri berhasil di bulan-bulan terakhir ini. Agar aku bisa pensiun secepatnya."


"Apa harus secepat itu pak?"


"Sudah waktunya, Cla."


"Saya malah khawatir."


"Soal apa?"


"Dimitri."


"Memangnya kenapa?"


"Apa dia bisa menjalankan perusahaan sebaik bapak?"


"Dia pasti bisa. Di Bandung Dimitri cukup berhasil. Dan sekarang saatnya dia menjalankan hal yang lebih besar lagi. Dengan sedikit dorongan dan kepercayaan, dia bisa maju."


"Hmmm ...


"Jadi, bantulah dia nanti. Oke?" Arfan menoleh kepada gadis itu.


Clarra terdiam menatap sang atasan yang memang sudah dia kenal sejak kecil. Dan sudah memberinya kesempatan untuk melakukan banyak hal sebagai pembuktian diri.


"Kamu bersedia membantunya nanti?" Arfan mengulang kalumatnya.


"Ya pak. Baik."


"Bagus. Maka aku tenang meninggalkan perusahaan ini bersamanya, dia akan di kelilingi orang-orang baik."


"Ucapan bapak bikin saya ngeri."


"Yang mana?"


"Bapak merasa tenang akan meninggalkan perusahaan ini. Seolah bapak akan pergi sangat jauh."


"Bicara apa kamu ini?" kemudian Arfan tertawa.


Bersamaan dengan itu pintu terbuka perlahan dari luar, dan wajah Dygta muncul dari celah yang terbuka.


"Apa aku mengganggu?" perempuan itu kembali mendorong pintu hingga terbuka lebar.


"Hey? kamu sudah sampai? aku kira masih dirumah?" Arfan melirik jam yang sudah menunjukan pukul 12 tepat tengah hari. Lalu dia bangkit untuk menyambut istrinya itu.


Peluk dan cium seperti biasa, menjadi iteraksi paling interns diantara mereka, sekaligus membuat malu bagi siapapun yang melihat. Karena atmosfir segera berubah menjadi agak canggung karena melihat keromantisan mereka. Walau di usia yang terpaut cukup jauh, hal tersebut tak berpengaruh sama sekali.


Keduanya berpelukan begitu erat seolah tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama.


"Bagaimana jalannya?" Arfan menenggelamkan kepala perempuan itu di dadanya.


"Macet." Dygta mendongak.


"Itu sudah biasa bukan?" pria itu terkekeh, tiba-tiba saja suaranya menjadi begitu lembut di telinga.


Ah, ... dia memang selalu selembut itu ketika bertemu dengan pawangnya. Manis sekali. Eh, ... Clarra membatin.


"Ehmm ..." gadis itu kemudan berdeham untuk menghilangkan kecanggungan.


"Hai Cla, lama tidak bertemu ya?" Dygta mengalihkan perhatian, tanpa melepas pelukannya dari Arfan.


"Hai kak, apa kabar?"


"Aku baik. Kamu sendiri?"


"Seperti biasa kak, sibuk."


"Sudah makanan sehari-hari ya Cla?"


"Benar kak. Baik, kalau begitu aku tinggal dulu ya?"


"Kamu nggak mau ikit makan siang dengan kami?"


"Nggak kak, terimakasih. Aku ada janji makan dengan teman."


"Teman?"


"Sesama sekertaris kak."


"Oh, .. aku pikir pacar?" Dygta tertawa.


"Belum kepikiran kak."


"Kenapa? aku pikir bagus juga kamu menyusul Dimitri?"


"Ish, ... nggak dulu lah, nanti aku emosian kayak dia." Clarra pun tertawa.


"Emosian?"


"Sudah ya kak, aku tinggal." gadis itu kemudian keluar dari ruangan tersebut.


"Dimitri emosi kenapa?" Dygta kemudian bertanya kepada suaminya.


"Entahlah, dua hari ini dia marah-marah terus."


"Marah-marah?"


"Ya."


"Terus, bagaimana pekerjaannya?"


"Kalau masalah pekerjaan, dia seperti papimu. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap bekerja dengan baik dan dengan hasil yang sempurna. Hanya saja dia lebih sering mengomel tidak jelas."


"Pasti pakai bahasa Rusia?"


"Begitulah, hampir semua yang di temuinya kena omelan." mereka berdua tertawa.


"Mungkin ada masalah denga Rania?"


"Tidak tahu."


"Ah, ... ya sudah. Kalau dia masih bekerja dengan baik, pasti bukan masalah serius. Biarkan saja dia seperti itu." Dygta baru saja melepas pelukannya, kemudian menarik Arfan untuk duduk di sofa.


"Kamu bawakan aku apa hari ini?"


"Menu baru. Tadi pagi aku melihatnya di youtube, dan sepertinya cocok untuk makan siangmu." dia mengeluarkan kotak makan yang berukuran sedang.


"Baiklah, kedengarannya enak." Arfan mempersiapkan diri untuk kembali menjadi kelinci percobaan untuk masakan istrinya.


"Memangnya selama ini masakan ku nggak enak ya?" Dygta menghentikan kegiatannya.


"Enak kok, sayang. Enak." pria itu merebut kotak makan dari tangan istrinya, lalu membukanya dengan cepat.


"Wow?"


"Aku sedang belajar membuat bento, jika kamu suka, besok aku akan memberikan anak-anak bekal ini juga. Bagus kan?" katanya, dengan senyum sumringah.


"Kok bentonya mirip aku ya?" Arfan menatap isi kotak tersebut yang berupa nasi, sayuran, daging, dan semacam mie goreng yang dibentuk menyerupai sebuah wajah dengan rambut keritingnya.


"Memang. Ingat waktu nikahan kak Andra?"


"Hmm ... " Arfan mulai melahapnya.


"Aku namai ini bento edisi nikahan kak Andra." Dygta kemudian tertawa.


"Aneh sekali namanya?"


"Aku suka nama itu, dan aku juga suka momentnya. Kamu kelihatan sangat tampan waktu itu."


Arfan menghentikan kegiatannya sejenak, dia menahan senyum dengan kedua pipinya yang merona. Perempuan itu memang selalu bisa membuatnya merasa ke geeran. Padahal usianya sudah tak muda lagi.


"Sayang, kamu kenapa? makanannya pedas ya? wajahmu memerah seperti itu?" Dygta bereaksi. "Minum dulu." dia menyodorkan air minum kepada Arfan, yang kemudian di tenggak pria itu dengan segera.


"Apa makanannya enak?" Dygta kemudian bertanya.


"Enak." jawab Arfan.


"Benarkah?"


Pria itu mengangguk.


"Aaaa ... baiklah, besok aku akan membekali anak-anak dengan makanan ini. Aku sesuaikan dengan wajah mereka."


"Apa tidak repot membuat hal seperti ini?" Arfan kembali menenggak minumamnya.


"Tidak. Aku senang melakukannya."


"Baguslah." kemudian mereka makan bersama-sama.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


edisi spesial inimah 🤭🤭 buat yang kangen.