
🌹
🌹
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini sayang?" Dygta menyambut suaminya yang naik ke tempat tidur mereka, setelah pria itu pulang terlambat, seperti biasa.
"Kamu tahu sendiri, aku masih pulang larut, dan pekerjaan masih sangat banyak, seperti biasa." jawab Arfan yang merebahkan tubuhnya disamping Dygta.
"Dimitri masih belum ada kemajuan?" perempuan itu menyurukan kepalanya di dada bidang suaminya.
Arfan menggelengkan kepala.
"Sebenarnya dia punya potensi, tapi entah apa yang membuatnya tidak ingin menonjolkan diri. Padahal dia tahu jika suatu hari nanti dirinya akan memimpin perusahaan kalian, tapi sepertinya Dimitri tidak terlalu bersemangat dengan itu."
"Dia tidak terlalu serius ya?"
"Aku lihat begitu, dia masih senang bermain-main, dan mengabaikan semua jadwal yang diberikan Clarra. Menyebabkan satu hari ini semua orang di lantai atas lebih sibuk dari biasanya."
"Hmm...
"Dimitri masih terlalu sibuk dengan dunianya."
"Papi tahu soal ini?"
"Tentu saja papimu tahu, semua hal dia pasti dia tahu. Dia tidak akan pernah melepaskan pengawasan dari anak-anaknya."
"Lalu kenapa papi seolah membiarkan Dimitri begitu saja ya? kamu bahkan bilang dia suka main perempuan?"
"Begitulah...
"Lalu kenapa papi diam saja? dia itu benar-benar jauh dari sifat papi."
"Entahlah, sepertinya papimu punya rencana sendiri dengan membiarkan Dimitri berbuat semaunya seperti itu."
"Ini aneh, buka tipikal papi."
"Sepertinya pensiunku masih harus diundur lagi." ucap Arfan dengan nada kecewa.
"Tidak apa-apa Papa, sabar." Dygta mengusap-usap dada suaminya.
"Tapi aku sudah lelah seperti ini. Aku ingin menikmati waktu bersama kalian, banyak hal yang aku lewatkan. Pertumbuhan anak-anak tidak terllau aku perhatikan. Aku bahkan baru sadar jika Ara sudah sebesar itu."
"Apa sebaiknya aku yang maju? kamu berhenti, dan aku menggantikanmu?"
"Apa? tidak, tida usah. Lebih baik kamu dirumah saja bersama anak-anak. Lihat, anak-anak lebih menurut kepadamu daripada kepadaku, dan mereka lebih baik dalam pengawasanmu."
"Hmm... baiklah. Tadinya aku pikir sebaiknya aku saja yang bekerja, selagi Dimitri belum bisa diandalkan."
"Tidak usah sayang, sepertinya aku masih bisa bertahan beberapa tahun lagi."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Baiklah kalau begitu." perempuan itu baru saja menarik selimutnya saat kedua tanga Arfan menyelinap di balik gaun tidurnya.
"Sayang, katamu kamu lelah?" Dygta menahan gerakan tangan suaminya yang mulai menjelajah ke segala arah.
"Masih ada sisa, mau aku habiskan sekalian." Arfan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ish, ...kamu... " Dygtapun tersenyum penuh arti, dan dia bergelayut manja kepada Arfan. Segera menariknya untuk melakukan aktifitas yang selalu menjadi kesenangan mereka berdua di setiap ada kesempatan.
🌹
🌹
Sofia menepuk lengan suaminya ketika putra mereka itu turun pagi-pagi sekali dengan penampilan yang sudah rapi, tak seperti biasanya. Padahal semalam dia pulang larut dan dalam keadaan setengah sadar.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Sofia mencoba bertanya.
"Ya Mama, i'm oke." Dimitri menjawabnya diikuti dengan senyuman paling manis yang dia berikan pagi itu.
"Ah, ... tampan sekali anakku ini. Semalam kamu dari mana saja?" dia mulai bertanya.
"Ketemu teman SD ma. Jadinya ngumpul sebentar."
"Oh, ... teman SD... " Sofia mengangguk-angguka kepala. "Laki-laki, atau perempuan?"
"Laki-laki Mam."
"Hmm...
"Bagiamana pekerjaanmu Nak? apa ada kesulitan?" Satria menyela percakapan.
"Lumayan pih. Sedikit bikin pusing."
"Lebih pusing mana? pekerjaan atau minum di klub bersama temanmu?"
"Sama aja," pemuda itu tertawa, "Tapi pekerjaan itu lebih pusing deh, karena nggak berhenti-berhenti. Setelah selesai ada lagi, ada lagi. Begitu seterusnya."
"Tapi bermanfaat. Tidak seperti minum-minum dan pesta yang bisa merusak dirimu Dim." sang ayah menjawab.
"Iya juga sih." pemuda itu tergelak.
Kalian tidak tahu saja, aku sedang berusaha melupakan gadis itu, tapi tidak bisa. Dia terus saja berputar-putar di kepalaku. Dan ini rasanya menyiksa. batin Dimitri.
"Oke Mom, Pih aku harus pergi." Dimitri menyelesaikan sarapannya.
"Yeah, ... pekerjaanku banyak Mom. Om Arfan akan memukuli kalau aku terlambat. Hari ini banyak dokumen yang harus aku pelajari." dia bangkit.
"Sayang, apa Om Arfan selalu begitu kepadamu?"
"Apa?"
"Memukulmu kalau kamu melakukan kesalahan?"
"Sayang, kamu tahu itu hanya istilah saja." tukas Satria.
"Ish, ... aku merasa dia benar-benar melakukannya. Awas saja jika dia memukul anakku, akan aku suruh Dygta dan anak-anaknya pulang kemari."
"Kamu tahu dia tak begitu." Satria melirik ke arah putranya, dan dia memberi isyarat kepadanya untuk segera pergi.
"Oke, aku pergi." pemuda itu mencium pipi sang ibu dan punggung tangan ayahnya, kemudian meninggalkan kediaman mereka.
🌹
🌹
"Pagi Cla, pagi Om, ..." pemuda itu menyapa tiga orang yang tengah berbincang di depan meja sekertaris, lalu tanpa basa basi masuk keruangannya sendiri.
Ketiganya hanya menatap heran tanpa menjawab sapaannya.
"Apa akan ada badai?" Arfan bergumam.
"Entahlah, mungkin." Clarra menjawab.
"Saya curiga, sebentar lagi akan ada bencana alam pak, tanda-tandanya sangat jelas." mereka menatap pintu ruangan itu yang tertutup rapat.
Ketiganya saling pandang, kemudian mereka tertawa.
"Padahal bagus ya, tapi kenapa rasanya aneh?" ucap Clarra.
"Hmm... kebiasaan yang berubah itu memang aneh."
"Tapi bagus kan? ada sedikit kemajuan. Setidaknya dia tidak datang terlambat lagi." mereka tertawa lagi.
***
"Dia sedang berlatih Pak." Andra mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit, saat hampir saja memasuki ruangan Dimitri. Dimana pemuda itu tengah mondar-mandir di dekat jendela dengan dokumen ditangannya yang sesekali dia baca.
Dimitri tampak sedang menghafal. Sesekali dia berhenti, dan berdiri menatap keluar. Lalu dia nampak berpikir, dan di detik berikutnya terkadang dia tertawa sendiri sambil menggelengkan kepala atau menepuk keningnya menggunakan dokumen ditangannya.
"Apa pukulanku tempo hari berefek pada kepalanya ya?" Arfan Ikut mengintip kedalam sana.
"Bisa jadi."
"Hah, ... mujarab juga ternyata ya?" pria itu terkekeh.
"Apa kita perlu mengajaknya menghadiri rapat dewan komisaris?" Andra menoleh kepada atasannya.
"Aku rasa tidak perlu. Biarkan dia berlatih sampai selesai. Kita lihat hasilnya nanti."
"Baiklah, ...
"Oh iya, bagaimana perkembangan di sirkuit? apa ada kemajuan?" mereka berjalan beriringan.
"Ada pak. Ujicoba kemarin pagi Rania menduduki sepuluh besar. Dan di balapan nanti sore dia akan start di urutan ke delapan. Dan itu bagus."
"Bagus juga anak itu ya? dia punya bakat."
"Benar pak, bakat ayahnya lebih kuat daripada bakat ibunya." Andra tergelak, membayangkan gadis kecil nan imut itu kini berubah menjadi gadis yang garang dilintasan. Dia tidak akan pernah lupa bagaimana cengengnya Rania saat masih kecil yang selalu menempel kepada Angga.
Sahabatnya itu bahkan harus selalu menggendongnya sepanjang hari selama Maharani menyelesaikan kuliah dari siang hingga sore, karena Rania tidak mau dititipkan kepada orang lain.
Bahkan ada satu waktu dimana Angga memperbaiki mobil di bengkel dengan Rania dia gendong di belakang. Tidak heran gadis itu sangat dekat dengan ayahnya, karena apapun yang dia lakukan selalu bersama putrinya. Dan segala yang ada pada pria itu menurun kepadanya, termasuk kepandaiannya dalam menunggangi kuda besi, yang bahkan jarang mampu dilakukan oleh gadis-gadis seumurannya. Dan ke bar-barannya pun tampaknya menurun juga.
Namun Andra seketika bergidik ketika mengingat kelakuan sahabatnya itu semasa muda, yang sering bergonta-ganti teman tidur. Dalam pikirannya, apakah Rania juga seperti itu?
Ah sayang kalau iya, tapi semoga tidak. batinnya. Seperti halnya juga netizen yang berharap Rania demikian.
"Apa yang kamu pikirkan?" Arfan memergoki bawahannya itu sedang melamun.
"Rania...
"Cih, ... memikirkan anak abege, ingat anak istrimu dirumah." cibir Arfan yang kemudian berjalan mendahului Andra keruang rapat dilantai bawah.
"Dih, dia nggak nyadar dulu kawin sama abege?" pria itu bergumam pelan.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
jadi intinya apa? ðŸ¤ðŸ¤
ah, ... jadi kangen Om Arfan waktu muda 😂😂