All About You

All About You
Stranaya Milaya #2



🌹


🌹


"Serius Mom, aku kaget kalian datang. Kenapa tidak mengabari dulu? kan aku bisa siap-siap." Dimitri duduk di kursi kerjanya, dengan kunci motor milik Rania ditangannya. Sementara kedua orang tuanya duduk di sofa tepat di seberangnya.


"Siap-siap untuk apa?" tanya Satria.


"Ya, ... apa saja." sang putra menggaruk belakang kepalanya sendiri.


"Bagaimana pekerjaanmu disini? apa ada masalah?"


"Tidak pih, hanya masalah kecil saja, dan aku bisa menanganinya."


"Benarkan? membuatmu cukup sibuk ya?"


"Iya Pih, lumayan."


"Jadi kamu sangat sibuk ya?" Sofia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Begitulah, seperti yang mama lihat."


"Yaaa... kamu memang benar-benar sibuk. Saking sibuknya, sampai belum pernah mengunjungi nenek lagi ya?"


"Astaga!! aku lupa Mom." Dimitri menepuk kepalanya dengan keras.


"Jelas lupa, ada hal lain juga yang mengalihkan perhatianmu?" Satria menyindir, membuat anak laki-laki pertama mereka itu tergelak dengan pipi yang merona.


🌹


🌹


Rania meraba saku celananya, kemudian saku jaketnya sambil mengerutkan dahi.


"Kenapa?" Angga mengenakan helmnya dan menguncinya dengan erat.


"Kunci motor aku kok nggak ada ya?" sekali lagi dia memeriksa saku celana dan jaket kulitnya.


"Yang bener?"


"Serius. Apa jatuh ya di dalam?" dia menoleh ke arah gedung.


"Kok bisa?"


"Nggak tahu nih Pah."


"Hahhh kamu ada-ada aja?"


"Atau ketinggalan kali ya?" dia mencoba mengingat.


"Ketinggalan dimana?"


"Di... " gadis itu menatap wajah ayahnya. "Atas... kayaknya." katanya dan dia menengadahkan wajahnya ke lantai paling atas gedung Nikolai Grup.


"Ah, ... kamu?"


"Atau mungkin jatuh pas tadi di dalam lift kali."


"Ya udah, sana cari dulu. Lagian disuruh dibonceng aja kenapa sih? jadinya gini kan?"


"Dih, ogah. Tar kita dikiranya pacaran." cibir Rania, seraya meninggalkan ayahnya disana.


"Astaga!! tuh anak kenapa gitu amat ya?" Angga menggerutu sambil menggelengkan kepala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania menyusuri tempat yang tadi mereka lewati dan berharap kunci motor kesayangannya dia temukan disana tanpa harus berlelah-lelah kembali keruangan atas dimana pria itu berada. Bisa kegeeran dia nanti, begitu pikirnya.


Namun benda tersebut tak ditemukannya dimanapun. Baik di lobby, lorong, maupun lift, yang membuatnya terpaksa harus mencarinya juga keatas.


Gadis itu memperhatikan lorong yang dia lewati, namun nihil si kunci motor nyatanya tak ada juga. Hingga dia tiba di meja sekertaris yang sedang ditinggal pemiliknya, benda tersebut tak dia temukan.


Haih, ...masa harus kedalam? Rania menatap pintu ruangan Dimitri yang terbuka sedikit.


Kan males, nanti dikiranya aku cari perhatian lagi. Ah, ... bodoh! dia menepuk kepalanya dengan keras.


Namun Rasa penasaran menuntun Rania untuk mendekat, dan dia mengintip dari celah pintu yang terbuka.


Tampak pria itu tengah tertawa terbahak-bahak, sambil memainkan kunci motor yang dia kenali sebagai miliknya itu.


"Nah kan.... itu ada?" Rania bergumam.


"Iya, dia sulit sekali ditaklukan. Nggak tahu aku harus gimana, jadinya ya... masih begini saja." Dimitri berbicara.


"Makanya, aku sengaja simpan ini," dia menunjukan kunci motor dalam genggamannya. "Sebentar lagi dia pasti kembali, kan bagus. Aku bisa bicara lagi kepadanya, dan mungkin melaukan sesuatu kalau...


Kedua mata Rania membulat seketika, mendengar pria tersebut berbicara demikian membuatnya tiba-tiba saja merasa kesal.


Sengaja katanya? Dan dia berencana melakukan sesuatu? dasar baj*ngan. geramnya, dan tanpa pikir panjang lagi Rania menerobos masuk kedalam ruangan. Membuat orang yang berada di dalam sana terkejut bukan kepalang. Terutama Dimitri tentunya.


"Bapak mau main-main sama saya?" gadis itu langsung mendorong kursi yang tengah di duduki pria itu. Menyudutkannya hingga bagian belakangnya membentur pinggiran meja, tanpa menyadari keberadaan orang lain di ruangan itu.


"Bapak pikir saya ini cewek apaan?" dia meletakan sebelah kakinya diantara kedua paha Dimitri, semangat pria tersebut mengkeret di kursinya, antara terkejut dan merasa sedikit tegang.


"Setelah berciuman bapak pikir saya bakalan baper, terus ngejar-ngejar bapak gitu?" Rania menarik kerah jas Dimitri dengan keras dan merematnya hingga meninggalkan bekas kerutan disana.


"Nggak mungkin, jangan harap!" dia memicingkan matanya dengan wajah yang berjarak beberapa senti saja dari pria itu.


Sedangkan Dimitri beberapa kali menelan ludahnya dengan kasar, dengan perasaan yang campur aduk tentunya.


"Mana kuncinya?" Rania menengadahkan tangannya. "Sini!" dia sedikit membentak.


Dimitri kemudian menyerahkan benda tersebut kepadanya. Tanpa melepaskan pandangan dari wajah gadis itu yang sangat dekat darinya.


Jika saja tak ada orang tuanya, sudah bisa dipastikan dia akan menariknya kepangkuan dan mencumbunya sepuas hati.


Oh, ... stranaya milaya! kamu membangunkan aku lagi! batinnya.


Rania merebut kunci motornya dengan kasar, setelah itu dia menurunkan kakinya dari kursi tersebut dan kembali menegakkan tubuhnya


"Terimakasih," katanya, dan dia bermaksud berbalik untuk keluar saat terdengar dehaman dari arah samping.


"Ehmmm... "


Rania menoleh, dan tampaklah dua orang paruh baya yang tadi sempat di temuinya berada disana. Sofia bahkan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Sementara Satria melipat kedua tangannya di dada.


Rania membeku


"Well Rania, Kenalkan Ini mama dan papiku." Dimitri yang baru bisa buka suara setelah mampu menguasai dirinya lagi.


"Apa kabar?" Sofia menyapa.


"Ba-baik." Rania menjawab, lalu melirik ke arah Satria yang diam tanpa suara.


"Mama, papi, ini Rania. Siapanya aku, aku belum tahu. Tapi aku pastikan dia pembalap hebat yang kita sponsori." Dimitri tersenyum lebar.


"Ee... " suasana menjadi terasa sangat canggung disini.


Ma*pus, itu kan emak bapaknya. Yang punya perusahaan ini dong? astaga!! gumam Rania dalam hati.


"Hai Rania, Kamu keren!" ucap Sofia sambil mengangkat kedua ibu jarinya untuk gadis itu.


"I-iya, terimakasih." jawabnya, dan dia merasa ingin menghilang saja.


"So Rania... " Dimitri hampir kembali berbicara ketika gadis itu juga bereaksi.


"Saya permisi dulu pak, saya harus latihan." dia berpamitan. "Permisi bu, pak." lalu mengangguk kepada Sofia dan Satria, kemudian segera menghambur dari dalam ruangan tersebut sambil menggerutu merutuki dirinya sendiri.


"Eh, ... Rania, tunggu!!" Dimitri segera mengekorinya setelah meminta ijin kepada orang tuanya.


"Sayang, sepertinya sebentar kita harus mempersiapkan pernikahan?" ucap Sofia kepada suaminya.


"Siapkan saja lah, tapi sebelum itu aku harus menemui Angga dulu." jawab Satria.


"Baik, kapan kita menemui Angga?"


"Setelah anak-anak benar-benar bersama."


"Ah, ... aku tidak sabar pergi melamar gadis itu untuk Dimitri." Sofia menepukan kedua tangannya dengan riang.


"Kamu menyukai dia?"


"Tentu saja, dia imut, lucu, dan keren. Cocok sekali dengan Dimitri."


"Tapi sepertinya Dimitri akan sulit mendapatkannya."


"Benarkah?"


"Yeah, ... sepertinya dia berbeda dari gadis kebanyakan."


"Benar juga ya?"


"Hmm.. anakmu harus berusaha keras untuk mendapatkan dia, sayang."


"Ah, poor Dimitri." Sofia denga raut sendu.


"Tapi bagus juga, dia tidak akan semudah itu mendapatkannya."


"Bagus apanya? kan kasihan anak kita?"


"Tidak apa-apa, dia harus sedikit berusaha untuk mendapatkan yang satu ini."


"Hmmm...


"Dia pasti bisa. Dia itu seorang Nikolai." Satria tergelak.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...