
🌹
🌹
Angga tertegun sambil mengerutkan dahi, menatap dua kendaraan yang masuk beriringan ke halaman rumahnya. Rania dengan motornya seperti biasa, dan mobil yang sudah dia kenali sebagai mobil milik Dimitri.
"Ada yang maksa mau ikut." ucap Rania begitu dia turun dari motornya dan mendapati sang ayah yang terdiam menatap kedatangannya.
Dimitri turun dari mobilnya, dan dengan langkah percaya diri menghampiri keluarga tersebut yang sudah siap pergi. Walaupun dia tak memungkiri rasa gugup yang menguasai hati.
"Siang pak?" sapanya kepada Angga.
"Ya." jawab pria itu, datar. Tiba-tiba saja dia merasa tak suka kepadanya.
Sedangkan Dimitri hanya tersenyum, mencoba untuk menguasai keadaan yang memang terasa canggung. Dirinya yakin Angga sudah mengetahui tentang hubungan mereka, namun dia tak yakin jika pria itu akan bisa menerimanya dengan mudah. Terlihat dari raut wajahnya yang tampak kurang bersahabat.
"Mama udah beres belum sih? lama amat?" keluh Rega disela kegiatannya menggiring dan menendang bola ke dinding pagar yang Kemudian menggelinding ke arah Dimitri, lalu berhenti di kaki pria itu.
Mereka berdua saling pandang, dan sesaat kemudian Dimitri menendang bola tersebut ke arah Rega, dan segera di terima remaja yang hampir setinggi ayahnya itu dengan sigap. Dan hal yang sama terus berulang hingga beberapa kali, sehingga dalam sekejap saja mereka berdua menjadi akrab.
"Kakak suka main bola?" Rega duduk di kursi belakang mobil Dimitri setelah memaksa kepada ayahnya dia ingin Ikut dengan sang kakak.
"Suka, dulu pernah ikut SSB." Dimitri menjawab.
"Oh ya?" remaja itu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Iya."
"Tapi nggak diterusin?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kan bagus kalau di terusin."
"Iya, tapi percuma."
"Kenapa percuma?"
"Tidak apa-apa." dia menghentikan mobilnya di parkiran sebuah sekolah menengah pertama. Tepat di sebelah SUV milik Angga.
Segera saja perhatian orang-orang tertuju kepada mereka, maksudnya kepada Rania yang memang sudah dikenal sebagai pembalap profesional.
Baru saja memasuki area sekolah dan keadaan sudah riuh. Beberapa orang meminta berfoto dan berbincang sebentar, menyapa dan berbasa-basi.
"Sudah terkenal, heh?" Dimitri menarik gadis itu dengan cepat ke bangku penonton sebuah lapangan sepak bola milik sekolah, setelah melewati drama penggemar dadakan yang tiba-tiba saja berkerumun.
"Kok bisa gitu ya?" Rania tertawa.
"Bisa lah." mereka duduk di kursi paling depan.
"Aku baru tahu kalau kamu juga suka sepak bola? aku pikir cuma suka ngegombal doang?" Rania tertawa.
"Sembarangan kamu!" Dimitri Ikut tertawa.
"Serius, hahaha... "
"Dulu waktu sd sempat ikut SSB juga."
"Kenapa nggak diterusin?"
"Tidak apa-apa."
"Nggak boleh sama orang tua kamu?"
"Tida juga. Orang tua aku membebaskan aku untuk melakukan apapun."
"Terus kenapa?" Rania terus bertanya.
"Seperti yang aku katakan tadi, percuma."
"Kenapa percuma?"
"Ya percuma, aku nggak akan bisa meneruskan itu sampai dewasa, apalagi ke tahap profesional."
"Iya kenapa?"
"Karena pada akhirnya aku tetap harus menggantikan papi di perusahaan. Makanya aku memutuskan untuk meninggalkan itu sebelum aku terjun lebih jauh."
"Hmmm..
"Ini... urusan anak laki-laki." Dimitri terkekeh.
"Nggak apa-apa. Kamu bisa main bola sama Rega, kayaknya kalian cocok. Baru ketemu aja udah langsung akrab, padahal dia paling susah ketemu orang baru."
"Benarkah?"
"Iya."
"Well, ... lumayan kan? hanya saja ...
"Apa?"
"Papamu sepertinya nggak menyukai aku." Dimitri sedikit memiringkan wajahnya untuk melihat Angga yang duduk sejauh dua kursi disamping mereka.
"Masa?" Rania menoleh. "Papa emang gitu orangnya. Nggak usah dipikirin."
"Tapi kelihatan."
"Nggak apa-apa. Nanti juga biasa."
"Hmm...
"Ayo Rega!!" Rania berteriak saat adiknya berjalan memasuki lapangan. Bersama teman satu timnya untuk bertanding.
Pertandingan berjalan dengan seru saat semua pemain bekerja sama menguasai lapangan. Tampak tim Rega yang lebih dominan menguasai lapangan. Walau sesekali bergantian dengan tim lawan yang lebih sering menguasai bola.
Dimenit ke sepuluh sorakan penonton terdengar riuh saat anak itu melesatkan tendangannya ke arah gawang dan mencetak gol.
"Goooollll!!!" semua orang berteriak, apalagi Angga yang dari tadi menonton dengan tidak sabar.
Hingga dimenit-menit berikutnya pertandingan berjalan semakin seru. Tepuk tangan dan sorakan mengudara silih berganti, saat aksi-aksi para pemain di lapangan menambah seru suasana.
"Keren Ga!" Rania berteriak kepada adiknya yang sedang beristirahat di jeda babak pertama.
Rega tersenyum dan melambaikan tangan kepada kakaknya.
"Sudah jam empat Zai, kita harus berangkat." Dimitri menatap jam tangannya.
"Tapi sepak bolanya belum selesai."
"Pemotretannya besok kan?"
"Iya, tapi masa kita mau malam-malam perginya?"
"Nggak apa-apa, santai aja."
"Oh iya, siapa yang mau pergi sama kamu nanti?"
"Nggak tahu, mungkin papa."
"Papamu?"
"Iya."
"Duh, ...
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Takut ya?" Rania terkekeh.
Dimitri hanya tersenyum.
"Bilangnya mau nikahin, tapi baru gitu aja masa takut?" cibir Rania kepadanya.
"Apa? aku bukannya takut tahu, cuma... merasa canggung."
"Canggung kenapa? kan udah kenal?"
"Ya, ... masalahnya...
Penonton kembali bersorak saat di babak kedua Rega kembali memasukan bola ke gawang.
"Yeah!! anak gue tuh!!" Angga berteriak dengan keras sama seperti penonton lainnya.
Sementara Dimitri dan Rania menoleh kepadanya.
"Papamu ekpresif juga ya?"
"Gitulah, ..." ucap Rania, kemudian mereka tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hey, ... kamu hebat!" Dimitri menyambut Rega yang berlari membawa piala dan medalinya karena hari itu timnya menjadi juara di final turnamen sepak bola remaja antar sekolah.
"Bagus kan? aku nggak kalah dari kakak. Aku juga bisa jadi juara." anak itu dengan bangganya.
Angga mengerutkan dahi, ucapan sang anak seperti mengandung sindiran untuknya.
"Iya, iya... Ega hebat." Rania mengamini ucapan sang adik.
"Abis ini aku pasti bisa nyusulin kakak, tunggu aja." sambung Rega yang sekilas melirik kepada sang ayah.
"Pastinya. Kakak tunggu." Rania menyemangati.
"Oke."
Kemudian mereka memutuskan untuk pulang.
***
"Ran, kamu aja yang pergi nemenin Rania." ucap Angga setelah berpikir cukup lama.
"Apa?"
"Kamu aja yang nemenin Rania ke Jakarta." katanya.
"Aku?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Terus anak-anak gimana?"
"Gantian aku yang jaga."
Maharani mengerutkan dahi.
"Tiga anak loh."
"Aku tahu."
"Yakin?"
"Iya. Kayaknya sekali-sekali aku juga harus menghabiskan waktu sama anak-anak. Bukan cuma sama Rania."
"Tumben?"
"Kayaknya Ega juga butuh main bola sama papanya, bukan sama orang lain aja."
"Memang....
"Ya udah, kamu aja yang ikut ya?"
"Beneran nih nggak apa-apa? kan biasanya kalau urusan Rania tuh kamu yang tanganin. Beda sama adik-adiknya yang semuanya aku tanganin."
"Nyindir nih?"
"Nggak, cuma bilang gitu aja."
Angga mencebikan mulutnya.
"Udah sana, cepetan siap-siap. Keburu malam." ucap Angga lagi.
"Oke."
Dan akhirnya Maharani pergi untuk menemani putri mereka pergi ke Jakarta.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
vote? 😆😆