All About You

All About You
The Kiss



🌹


🌹


Rania menghirup udara dingin yang hampir membekukan. Pagi-pagi sekali saat semua orang masih terlelap dia memutuskan untuk berlari mengitari sirkuit. Kebetulan tempat itu sudah dibuka sejak subuh, saat semua staff mempersiapkan banyak hal untuk balapan siang nanti.


Berbekal entry pass khusus Rania bisa memasuki tempat tersebut tanpa mengalami kesulitan.


Sudah tiga kali dia mengelilingi sirkuit sepanjang 4.657 meter dengan 8 tikungan ke kanan dan 6 tikungan ke kiri itu sendirian. Sambil mengenali lintasan itu untuk membuatnya bisa mengantisiapasi banyak hal.


Rania menyimpannya dalam ingatan, dan dia menghafalnya dengan baik.


Dia berhenti di garis finish, lalu melihat sekeliling. Sambil mengingat kata-kata ayahnya semalam.


🌺 Flashback On 🌺


"Haih,... kenapa gue ingat dia terus!!" Rania berteriak, dengan kedua kakinya yang menendang-nendang di udara.


Kali Ini pikirannya benar-benar kacau. Apa yang Dimitri lakukan tampaknya mulai berpengaruh kepadanya, karena kejadian itu terus berputar-putar di kepalanya.


"Dasar kurang ajar!" teriaknya lagi, dan bayangan itu kembali dalam ingatan.


"Aaaa... sialan!!" dan dia menutup wajahnya dengan bantal. Tempat tidurnya sudah tak berbentuk lagi, dan bantal terakhirnya bahkan sudah tergeletak di lantai. Persis seperti selimut dan bantal lainnya yag sejak tadi sudah menjadi alat pelampiasan kekesalannya kepada Dimitri.


Tapi dia tak mampu mengenyahkan bayangan pria itu dari pikirannya.


Suaranya saat dia berbicara, kekehannya saat dia menertawakan hal lucu, dan raut wajahnya saat dia menemukan hal baru. Seperti yang tak pernah mengalami apa yang dialami bersamanya. Dan semuanya Rania ingat dengan sangat baik. Terutama bagian saat pria itu mendekat kepadanya, lalu menciumnya dengan lembut walau hanya dalam waktu beberapa detik saja. Hembusan napasnya yag hangat, dan aroma yang menguar dari tubuhnya jelas tak bisa dia lupakan.


"Kacau nih kacau!!" dia mengacak rambutnya hingga berantakan.


"Apanya yang kacau?" Angga muncul setelah menyelesaikan beberapa hal bersama anggota crewnya.


Rania segera menyingkirkan bantal dari wajahnya.


"Mm... papa?" dia bangkit.


"Apanya yang kacau?" pria itu bercacak pinggang. "Baru sadar kalau kamu udah bikin kacau? performa kamu tadi sore memang sudah kacau." dia berjalan mendekat.


Sementara Rania menutup mulutnya rapat-rapat.


"Besok ada rencana bikin kacau lagi nggak? kalau misalnya kira-kira akan kacau lagi, lebih baik nggak usah di terusin deh. Bikin malu!"


"Papa Kok gitu sih?"


"Ya habisnya? kamu bukan cuma mengacaukan reputasi diri kamu sendiri yang baru sebesar biji jagung ini. Tapi kamu juga bikin reputasi tim menurun." jelas Anggara.


"Mana di tonton sama sponsor lagi? lebih parah loh Ran? kamu masih beruntung ini baru babak kualifikasi, bukan balapan yang sesungguhnya. Kalau yang terjadi tadi di balapannya, udah deh papa nggak tahu bakalan kayak gimana."


Rania kembali terdiam.


"Dengar Rania," Angga kemudian berjongkok di depan putrinya. Dia mencoba sekali lagi untuk berbicara kepadanya dari hati ke hati. Mungkin saja itu bisa mengembalikan kepercayaan dirinya yang pastinya sempat turun setelah posisinya anjlok jauh dari urutan sepuluh besar.


"Kamu sendiri tahu, apa yang kita lakukan sekarang ini awalnya cuma untuk menyalurkan hobi kamu biar nggak salah arah. Tapi kita juga nggak tahu kan, kalau akhirnya kita akan sejauh ini? papa nggak pernah mengira kita akan kayak gini sekarang. Papa pikir kita hanya akan sampai di turnamen lokal, atau cuma kumpul-kumpul di komunitas, tapi nyatanya? kita sudah berjalan sangat jauh."


"Sekarang tanggung jawab kamu sangat besar. Karena bukan hanya membawa nama kamu sendiri atau keluarga. Tapi juga perusahaan sebesar Nikolai Grup, dan negara kita. Kamu ngerti nggak?" Angga mencoba melembutkan suaranya.


"Brand terkenal Kamu bawa, belum lagi berhasilnya kamu disini akan bisa mengubah stigma kalau perempuan itu bukan hanya bisa bawa motor doang, dan sebagai pembalap liar kamu nggak cuma bisa ugal-ugalan doang. Tapi lebih dari itu. Kamu akan bisa mengangkat derajat kaummu sendiri, kaum di negaramu sendiri yang masih mengalami diskriminasi, dan selebihnya, kaum perempuan di seluruh dunia. Kamu tahu, kalau apa yang kamu lakukan sekarang ini sudah merubah banyak orang?"


Rania mendengarkan dalam diam.


"Jadi jangan kecewakan kami. Karena papa akan selalu menerima kamu apapun yang terjadi, tapi mereka? orang-orang diluar sana menaruh harapan besar kepada kamu. Terutama anggota crew. Mereka akan pulang dengan kepala tegak dan rasa bangga yang besar."


"Papa nggak minta kamu untuk selalu jadi juara, nggak Ran. Juara satu itu nggak penting buat papa. Bahkan nih ya, kalau misalnya kamu nggak masuk sepuluh besarpun nggak masalah buat papa. Tapi, satu hal. Tetap fokus pada tujuan kamu, dan apapun yang sudah kamu niatkan sejak awal. Papa akan mendukung kamu sepenuhnya."


"Tapi jangan pernah kecewakan kami karena ketidak fokuskan kamu." Angga mengakhiri kalimatnya.


"Kamu dengar Rania?"


"Iya, papa."


Angga terdiam sejenak untuk menatap wajah putrinya.


"Ya udah, kalau kamu masih bisa nerusin ini kita terusin. Kalau udah nggak bisa, kita berhenti sekarang."


"Nggak Pah!" tolak Rania.


"Ya udah. Sekarang tidur, besok pagi latihan sekali lagi, sebelum menghadapi balapan yang sebenarnya."


Rania menganggukan kepala.


🌺 Flashback Off 🌺


Rania kembali menghirup dan menghembuskan napasnya dengan pelan. Lalu dia memutar tubuh bermaksud untuk kembali. Namun langkahnya terhenti saat pria itu tengah berdiri di belakangnya. Dengan senyum samar dalam cahaya remang yang berasal dari semburat mentari pagi di kejauhan. Mengenakan pakaian olahraga, joggerpants dan hoodie seperti dirinya. Tubuhnya yang tinggi tampak menjulang dan mencolok di tengah-tengah lintasan.


"Kamu ikutin aku terus ya?" Rania masih berdiri di tempatnya.


"Iya." jawab Dimitri.


"Jujur banget sih?"


"Memang. Kamu satu-satunya gadis yang membuat aku selalu ingin berkata jujur, apapun itu." pria itu berjalan mendekat.


"Gombal."


"Kamu benar. Aku memang selalu ingin menggombal kalau bertemu kamu." dia dengan senyuman paling manis yang dimilikinya.


Tuhan, dia tampan. batin Rania mengakui.


Gue udah gila, mengakui ketampanan seorang cowok selain papa.


"Aku nggak ngerti, apa yang lagi kamu cari Dim?"


"Nggak ada. Aku hanya bangun tidur dan mengintip lewat jendela hotel, lalu melihat seseorang yang aku hafal keluar."


"Dan kamu ikutin aku sampai kesini."


"Hanya khawatir kamu akan tersesat, lalu menghilang membawa hatiku yang sudah kamu kuasai ini." Dimitri menyentuh dadanya sendiri.


Rania terbatuk dengan keras karena merasa terkejut dengan ucapan pria di depannya.


"Kamu butuh minum?"


"Kamu konyol Dim."


"Memang. Dan ini semua gara-gara kamu." pria itu tersenyum lagi.


"Astaga! kamu udah gila." Rania menepuk kepalanya sendiri.


"Benar, dan itu juga karena kamu." pria itu lebih mendekat lagi.


Rania memutar bola matanya.


"Apa kamu akan menghajar aku lagi kalau kita berdekatan seperti ini?" kini mereka berhadapan dengan jarak hanya sekitar lima puluh senti saja.


"Emangnya kenapa?"


"Nanti aku akan menjauh dan menjaga jarak aman, agar kamu nggak harus capek-capek memukuli aku." Dimitri tersenyum lebar, namun hal tersebut membuat Rania tertawa terbahak-bahak.


"Aku suka melihat kamu tertawa seperti ini, membuatku merasa lebih bersemangat karena tahu kamu pasti baik-baik saja."


"Hum?"


"Setelah kejadian kemarin yang membuatmu sedikit kehilangan fokus." Dimitri menyadari kesalahannya.


"Aku nggak bisa tidur semalam, karena ingat mungkin menurunnya performa kamu kemarin gara-gara aku menciu...


"Stop!!" Rania segera membekap mulut pria itu dengan tangannya sehingga dia menghentikan ucapannya. "Jangan dibahas."


Dimitri kemudian menggenggam pergelangan tangan gadis itu untuk kemudian menurunkannya.


"Tapi benar kan?"


Rania tak menjawab.


"Aku merasa bersalah lho." lanjut Dimitri.


"Merasa bersalah tapi kamu ulangi terus."


Dimitri tersenyum lagi, dan kali ini senyumnya lebih lebar dari ssbelumnya.


"Aku nggak bisa menahan diri kalau ketemu kamu, Zai."


"Gombal lagi." kini gadis itupun tersenyum. Dia mulai terbiasa dengan ucapan-ucapan seperti ini. Rasanya lucu dan Dimitri membuatnya selalu ingin tertawa.


"Kamu ke semua cewek suka gombal-gombalan kayak gini ya?" Rania mulai penasaran.


"Nggak. Aku nggak pernah membual seperti ini, kamu pertama dan satu-satunya gadis yang membuat aku mengatakan banyak hal hanya untuk mengajaku berbicara."


"Masa?"


"Serius."


"Terus biasanya ngapain?"


"Kenapa kamu selalu menanyakan soal itu?"


"Cuma mau tahu aja. Gimana cara kamu pacaran sebelum ketemu aku."


Dimitri terdiam.


"Biar aku punya batas. Karena mungkin aku nggak kayak cewek-cewek yang pernah kamu kenal."


"Kamu memang nggak seperti gadis-gadis yang aku kenal." satu langkah Dimitri mendekat.


"Kamu tahu Dim, prioritas aku sekarang ini ya balapan. Mungkin aku nggak akan punya cukup waktu untuk menjalani hubungan pribadi senormal orang lain."


"Aku tahu, dan aku mengerti. Makannya aku mengikuti kamu sampai kesini. Walaupun harus bernegosiasi dulu dengan papi."


"Negosiasi apa?"


"Aku harus cepat belajar agar bisa menggantikan dia di Jakarta beberapa bulan lagi."


"Kan kamu udah kerja di Bandung?"


"Bandung cuma cabang. Kamu tahu, prioritasku juga untuk menggantikan papi secepatnya. Perusahaan kami menunggu pemimpin baru, dan di Bandung aku belajar."


"Tanggung jawab kamu berat Dim."


"Aku tahu, dan tanggung jawab kamu juga sama beratnya bukan?"


Rania menganggukan kepala.


"Jadi, kenapa kita tidak memikul tanggung jawab itu bersama-sama saja?"


"Kita beda haluan."


"Itu bukan alasan. Buktinya kita bertemu, dengan cara aneh dan nggak diduga sama sekali."


Benar juga.


"Jadi kenapa kamu terus saja menolak aku Ran?" satu langkah lagi dia mendekat.


"Kita sudah resmi pacaran kan? tapi kita nggak saling memiliki."


Rania membuka mulutnya untuk berbicara.


"Maksud aku bukan masalah ciuman lho, tapi soal perasaan kita." Dimitri segera melanjutkan kalimatnya.


"Masa kamu nggak mau mencoba untuk membuka diri untuk menerima aku sepenuhnya? jadi kamu nggak akan selalu merasa kalau aku ini orang asing."


"Posisi kamu terlalu tinggi Dim."


"Kenapa? karena aku sponsor kamu?"


"Salah satunya itu."


"Hal itu nggak berlaku di dunia aku Ran."


Gadis itu terdiam.


"Aku nggak tahu ada perbedaan semacam itu selain dalam hal pekerjaan. Atasan dan bawahan, misalnya. Tapi untuk urusan sosial atau pribadi, untukku itu nggak berlaku. Seperti halnya papiku juga yang bertemu mamaku."


"Kamu akan kecewa Dim."


"Kecewa karena apa? satu-satunya yang bisa membuat aku kecewa adalah tahu kalau perasaan kamu nggak sama dengam aku."


Rania terdiam lagi.


"Apa kamu nggak punya perasaan yang sama dengan aku?" dan dia mencoba menghilangkan jarak diantara mereka.


Rania tak menjawab. Dia sendiri bingung dengan perasaannya. Apakah dirinya merasakan hal yang sama seperti yang pria itu rasaka kepadanya? ataukah dia hanya terbawa suasana saja?


Dimitri perlahan menundukan kepala. Tinggi Rania yang hanya sebatas dada saja membuatnya harus lebih menunduk untuk berbisik di telinganya.


"Katakan jika kamu memang tidak merasakan apa yang aku rasakan. Jadi aku akan menjauh setelah ini. Aku nggak akan memaksamu untuk terus bersamaku Ran."


Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kalau keberadaanku membuatmu nggak bisa meraih mimpimu, aku akan dengan sukarela menjauh." ucap Dimitri lagi, dan kini jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja.


"Rania?" panggil Dimitri, seolah gadis itu tak berada bersamanya.


Keduanya sama-sama terdiam dengan posisi seperti itu. Suasana tersa hening dan sunyi. Hanya hembusan napas mereka saja yang terdengar hampir bersamaan.


Lalu satu kekuatan kembali menggerakan Dimitri untuk meraih bibir gadis yang membeku di depannya. Seolah dia menantang Rania untuk menghajarnya lagi. Dan Dimitri tak lagi peduli dengan hal itu. Jika setelah ciuman yang satu ini Rania akan menghajarnya lagi, maka dia akan menjauh. Karena jelas gadis itu tak memiliki perasaan apapun kepadanya.


Kemudian kedua bibir itu bertemu dan saling menempel. Dimitri memagutnya secara perlahan dan dia menanti reaksi dari Rania. Namun tak ada pergerakan.


Gadis itu seolah menerima cumbuannya, dia bahkan memejamkan mata dan membiarkan Dimitri memagutnya lebih lama.


Dan desiran-desiran di dada mereka terasa semakin kuat. Menjalar hingga ke segala arah, dan memguasai sebagian besar pikiran mereka.


Rania bahkan kini berpegangan pada pakaian Dimitri dan merematnya dengan keras, untuk menahan bobot tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa melemah.


Oh, Kenapa ini? batin Rania berbisik.


Pria itu meraih pinggangnya, kemudian merapatkan tubuh mereka berdua. Dan mendapati bahwa Rania telah menyerah dalam rengkuhannya. Yang membuatnya meneruskan cumbuan. Melanjutkan pagutan yang semakin lama semakin dalam. Dan semakin membuat mereka berdebar.


Dibawah semburat langit keemasan pagi Barcelona, ditengah sirkuit Catalunya, diantara udara pagi yang menelusup hingga ke tulang, keduanya meresapi hati masing-masing. Dan yakinlah, setelah ini ada perasaan yang semakin besar bersemayam dihati.


Papa, maaf. Aku balapannya sambil pacaran. janji nggak akan ganggu konsentrasi aku deh. batin gadis itu seraya membuka mulutnya untuk membalas ciuman Dimitri.


🌹


🌹