All About You

All About You
Dua Hati



🌹


🌹


"Makasih ya kak, udah antar aku beberapa hari ini, sampai aku dapat buku yang aku butuh buat bahan makalah aku." Amara turun dari motor Galang yang mengantarnya hingga di depan pagar rumah Lita.


"Sama-sama, kebetular lagi senggang." Galang menerima halm yang dipakai gadis itu barusan.


"Abis ini kakak mau kemana?"


"Pulang lah, udah malam kan?"


"Oh iya," Amara tertawa.


Kemudian obrolan mereka terjeda ketika sebuah mobil berwarna putih tiba, dan kacanya terbuka begitu mobil tersebut mendekat.


"Ara?" seorang pria memanggilnya.


"Papa?" gadis itu sedikit terhenyak.


Arfan segera turun dari mobil dan menghampiri anak gadisnya.


"Kamu jam segini baru pulang?" pria itu bertanya.


"Iya, pulang kuliah langsumg hunting buku, Pah. Buat bahan makalah."


"Hmm... " Arfan melirik kepada pemuda sipit yang tetap berada diatas motor crossnya, yang kemudian mengangguk sambil menyunggingkan senyum.


"Ini kak Galang, kakak kelas aku dikampus. Dia yang antar aku sejak sore tadi." Amara memperkenalkan pemuda disampingnya.


"Malam Om?" Galang menyapa.


"Ya." jawab Arfan, singkat. "Sudah selesai? kalau sudah, cepat masuk. Sudah malam." lanjutnya.


"Udah Pah."


"Ya sudah. Masuk."


"Iya. Kak aku masuk dulu ya? sampai ketemu lagi besok di kampus?" pamit Amara kepada Galang, membuat Arfan memutar bola matanya, sebal.


"Iya Ara. Kakak juga pamit."


"Oke." gadis itu melambaikan tangan sebelum akhirnya Arfan menariknya ke area pekarangan rumah, bersamaan juga dengan Galang yang pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Lah, ... ada mama Fia ya?" ucap Amara saat melihat mobil lain di pekarangan.


"Kakaaakk!" ke empat adiknya segera menghampiri begitu mereka turun dari mobil.


"Hey, kalian! uuhhh... kangen!!" kelima anak itu saling berpelukan. "Kalian nggak nakal kakak tinggalin?"


"Nggak dong, sedikit." Arkhan menjawab.


"Ann?"


"Nggak. Aku baik." jawab kembaran Arkhan.


"Aksa sama Asha?"


"Sedikiiiit banget." jawab adik kembar yang lainnya secara bersamaan.


"Sedikit apanya? mereka mengacak-acak ruang kerja papa, dengan alasan main petak umpet." Arfan melewati mereka setelah menurunkan beberapa tas dari dalam mobil.


"Oh ya?"


"Berantakin ruang kerjanya papa." Dygta menyahut.


"Ish, Kalian ini. Kenapa main petak umpetnya di dalam rumah?"


"Habis bosen, kalau malam nggak bisa main diluar." jawab Aksa.


"Ya kalau malam nggak boleh main dong, kan waktunya istirahat."


"Tapi bosen, nggak ada kakak."


"Iya, kakak nggak pulang-pulang sih?" Arkhan menimpali.


"Kakak kan kuliah, banyak tugas. nggak sempet kalau pulang ke Jakarta."


"Sibuk ya?" Dygta mendekat.


"Iya Mom, banyak tugas." Amara mengangguk.


"Tugas apa tugas?"


"Maksudnya?"


"Ngerjain tugasnya sama yang tadi itu?"


"Yang mana?"


"Yang barusan pakai motor?"


"Oh, kak Galang? nggak. itu cuma nganter nyari buku doang."


"Masa?"


"Beneran."


"Ngga sekalian pacaran?"


"Pacaran?"


"Apa itu barusan?" Arfan berjalan mendekat, hendak kembali mengambil tas anak-anaknya yang masih berada di dalam mobil.


Dua perempuan beda usia itu menutup mulutnya rapat-rapat.


"Kalau mau pacaran, mending tidak usah jauh-jauh kuliah ke Bandung. Papa Nikahkan saja kamu." katanya, kemudian kembali kedalam.


Dygta mengacungkan jari telunjuknya sambil menyeringai.


"Nggak Mom, itu cuma temen. Kakak kelas." Amara menjelaskan.


"Tapi papa udah lihat dia antar kamu sampai rumah." jawab Dygta.


"Nggak sampai rumah, cuma sampai depan pagar doang."


"Sama aja."


"Beda Mommy!"


"Buat papamu sama aja kak."


"Yah!"


Dygta tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.


***


"Duh, ... anak cantik. Kenapa baru pulang?" Sofia memeluk Amara setelah bergantian memeluk anak dan ke empat cucunya yang lain.


"Mama Fia sama Papi udah dari tadi?" tanya Amara.


"Barusan."


"Kirain."


"Kamu kuliahnya sampai malam?" Satria bertanya.


"Nggak. Biasanya sore juga pulang. Ini aku habis nyari buku buat tugas Pih."


"Sendiri?"


"Diantar teman."


"Teman." gumam Arfan.


Amara hanya mendelik.


"Teman laki-laki?" Sofia Ikut bertanya. Melihat raut tak suka di wajah menantunya membuat dia penasaran.


"Kakak kelas sih sebenarnya." Amara menjawab.


"Duh, sudah ada yang ngantar ya?" perempuan itu terkekeh.


"Hmm... " Arfan terdengar menggumam.


"Putrimu sudah besar, Arfan. Sudah kenal teman laki-laki." goda Sofia, kemudian tertawa lagi, membuat Arfan memdelik dengan kesal.


"Cuma teman, Mama Fia." Amara meyakinkan.


"Iya iya, cuma teman. Sekarang. Hahahaha ..." perempuan itu tampak puas menggoda menantunya yang terlihat semakin kesal.


"Oh iya, tumben semuanya pada kesini? mau sekalian liburan ya?" Amara kini yang bertanya.


"Sebut saja begitu." ucap Sofia.


Bersamaan dengan itu Dimitri turun dari kamarnya dengan penampilan yang sudah segar. Mengenakan celana panjang dengan kaus oblong berwarna putih, bahkan rambut coklatnya terlihat masih agak basah.


"Cieee, ... calon pengantin udah turun?" goda Dygta kepada adiknya.


"Apaan?" pria itu menahan senyum dengan pipinya yang merona.


"Hidungnya biasa aja, nggak usah di mekar-mekariin." ucap Dygta lagi sambil mencubit pipi sang adik.


"Kakak!"


"Calon pengantin?" Amara menyela, dan dia menatap ke arah Dimitri yang wajahnya tersipu-sipu.


"Iya, sebentar lagi kak Dim mau nikah lho." jelas Dygta, dan dia kembali mecubiti pipi sang adik dengan gemas. "Nggak nyangka, adik kakak ini cepet nikah. Nanti baik-baik ya kalau sudah punya istri? jangan nakal lagi." katanya.


"Kak Dim mau nikah? kapan? sama siapa?" Amara Dengan suara tercekat, namun dia tampak penasaran.


"Sama Rania." jawab Sofia.


"Terus gimana akhirnya ma?" tanya Dygta kepada ibunya.


"Belum ada keputusan kapan waktunya. Tapi sepertinya segera." jawab Sofia.


"Aiiiihh... mantu mama sekarang pembalap, keren lah, kereeeennn!" Dygta tertawa.


"Jadi beneran serius ya?" Amara menyela percakapan.


"Serius. Baru saja mama dan papi ke rumahnya Rania, makanya kami minta kumpul disini. Sekalian kita berunding untuk acara pernikahannya kak Dim, Ara."


"Mmm..." Amara merapatkan mulutnya, menahan air mata yang hampir saja mengalir. Dia merasakan seperti ada sesuatu yang menghalangi tenggorokannya, membuatnya merasa sakit dan sesak.


Oh, kenapa ini rasanya sakit sekali? batinnya.


Bibir gadis itu bergetar, dan dia tak mampu lagi membendung rasa. Segera saja Amara berlari ke kamarnya di lantai dua. Menyembunyikan tangisnya yang seketika pecah begitu dia tiba di dalam kamar.


"Kenapa anak itu?" mereka sekilas memperhatikan, namun kemudian kembali pada percakapan. Sementara Dimitri menatap tangga dimana gadis itu menghilang dengan rasa bersalah yang tiba-tiba memenuhi dada.


🌹


🌹


Galang tertegun setelah mendengar percakapan orang tuanya, tentang kabar yang langsung tersiar begitu sebuah mobil keluar dari pekarangan rumah Angga. Belum lagi Angga yang memang memberi tahu kepada mereka perihal acara tak terduga yang baru saja berlangsung di rumah sahabat masa kecilnya itu.


"Rania udah ada yang lamar, Lang." ibunya melanjutkan. "Sebentar lagi dia menikah." katanya, dengan nada sendu. Perempuan itu tahu tentang perasaan anaknya kepada putri tetangga mereka, yang sudah dia sadari sejak remaja. Belum lagi, Galang memang sering bercerita tentang hal itu kepadanya.


"Nak, kamu tahu kalau jodoh itu ..." sang ayah mencoba untuk berbicara namun pemuda tersebut dengan cepat berlari keluar.


Galang segera menuju kerumah dimana gadis yang begitu dia cintai berada. Menembus gerimis yang mulai turun saat malam kian larut.


***


Rania bangkit dari posisinya, saat menemukan sahabatnya berdiri di depan garasi dimana dia tengah mengutak-atik motor merahnya. Galang tampak sengaja membiarkan dirinya dijatuhi air hujan yang mulai melebat.


"Kamu dari mana?" gadis itu bertanya.


"Katakan kalau itu nggak benar!" Galang dengan suara parau.


"Maksud kamu apa?"


"Katakan kalau apa yang aku dengar ini nggak benar!"


"Iya tapi apa?"


"Kamu nggak beneran mau nikah sama dia kan? kamu nggak beneran mau nikah sama Dimitri kan?" Galang memperjelas pertanyaannya.


Rania menggigit bibirmya keras-keras.


"Udah pada tahu aja? baru juga nemuin." Rania bergumam.


"Jawab Ran!" pemuda itu berteriak, membuat Rania terhenyak. Pasalnya sahabatnya itu tak pernah bersikap demikian sejak mereka kecil. Entah semarah apa Galang kepadanya, dia akan selalu bersikap manis dan mengalah.


"Mmm...


"Jawab!" bentak Galang.


"I-iya."


"Sial!" pemuda itu menyapu wajahnya yang sudah basah terkena air hujan.


"Masuk dulu Lang, hujan." Rania bermaksud menarik Galang untuk masuk kedalam garasi, namun pemuda itu mundur beberapa langkah.


"Aku ... berusaha untuk menahan diri dari apapun yang mau aku lakukan kepada kamu. Aku berusaha untuk nggak menganggap apapun yang kamu lakukan kepada aku serius. Dan aku berusaha untuk mengabaikan perasaan yang selama ini aku punya untuk kamu. Tapi nyatanya aku nggak bisa. Dan kabar pernikahan kamu sama Dimitri benar-benar menghancurkan aku, Ran." suaranya terdengar parau. Dengan napas tersengal dia berusaha untuk menahan emosinya.


"Aku nunggu kamu dari kecil, berusaha untuk tetap ada di dekat kamu biar kamu sadar kalau aku ada. Meskipun beberapa kali kamu nolak, tapi nyatanya itu aja nggak cukup ya? perjuangan aku harus selesai sampai disini, ketika kamu memilih orang lain yang baru kamu kenal. Yang nyatanya lebih dari aku."


"Lang, bukan itu alasannya."


Pemuda itu mundur lagi, kemudian berlari keluar. Kembali ke pekarangan rumahnya dan menghidupkan motornya.


"Lang, dengerin aku dulu." Rania berhasil mengejarnya ke halaman rumah.


Namun pemuda itu bergeming.


"Lang!" Rania berdiri di depan motor, dan menahan stang dengan kedua tangannya, berusaha menghalanginya.


"Galang dengerin aku dulu!"


Galang terus memutar gas hingga motornya hampir mendorong Rania, dan dengan terpaksa gadis itu melepaskan tangannya. Membiarkan sang sahabat melesat keluar dari pekarangan rumah mereka, dalam keadaan hujan dan patah hati untuk ke sekian kalinya.


"Galang!!" Rania berteriak, walau apa yang dia lakukan jelas tak ada gunanya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Ah, kenapa harus ada yang patah hati sih? 🤧