All About You

All About You
Alat Pelacak



🌹


🌹


"Pencarian di hentikan?" Angga bangkit demi mendengar kabar yang baru saja di sampaikan oleh Galang.


"Mereka gila apa? Andra dan Dimitri masih belum di temukan, entah bagaimana keadaan mereka sekarang." katanya, dan dia hampir berteriak. Tentu saja menantu dan sahabatnya belum di ketahui keberadaannya, dan mereka tak tahu apa yang harus di lakukan.


"Masalahnya cuaca nggak mendukung Om, hujan lebat di sepanjang kepulauan seribu, cuaca buruk dan gelombang tinggi." Galang menjelaskan, seperti kabar yang dia terima dari pihak tim pencari.


Televisi tak berhenti menyala menayangkan berita seputar kecelakaan pesawat dan pencarian dua korban tersisa, yakni Andra dan Dimitri. Yang hingga malam menjelang masih belum di temukan. Terutama karena cuaca yang tak mendukung. Membuat mereka menghentikan pencarian hingga cuaca kembali kondusif.


"Arfan?" Satria beralih kepada menantunya, yang tengah sibuk dengan peralatannya.


"Sinyal dari ponsel Dimitri terakhir kali terdeteksi di ujung utara Kepulauan Seribu. Di titik koordinat ini. Sementara ponsel Andra di tempat tim SAR menemukan bangkai pesawat." Arfan menunjuk layar laptopnya yang masih terhubung dengan peralatan Andra. Yang semuanya saling terkoneksi dengan peralatan penting yang di gunakan oleh Dimitri dan Andra. Termasuk ponsel mereka berdua yang telah di pasangi alat pelacak buatannya.


"Bisa saja terbawa hanyut atau semacamnya." lanjutnya.


"Jadi kemungkinannya kecil?" Angga menyela.


"Kita tidak tahu, karena sinyal dari ponsel Dimitri mati sekitar tiga jam yang lalu." jelasnya, dan dia menatap tiga pria di depannya secara bergantian. Satria, Angga, dan Galang yang sama-sama tengah berpikir.


"Kalau ponselnya mati tiga jam lalu, berarti ada kemungkinan terbawa oleh sesuatu, atau seseorang." Galang bergumam. "Secanggih apa ponselnya pak Dimitri?" pemuda itu bertanya.


"Cukup canggih untuk seorang pemimpin Nikolai Grup. Yang walaupun tenggelam di bawah air masih bisa hidup kurang lebih dua jam. Dan sinyalnya masih bisa terdeteksi sampai dua puluh empat jam setelahnya." jawab Arfan.


"Itu berarti ponselnya masih utuh sebelum sinyalnya mati, dan seseorang membawanya ke suatu tempat. Sebuah daratan, atau kalaupun tenggelam, berarti salah satu dari mereka masih bisa bertahan." Galang mengungkapkan teorinya.


Mereka tampak mencerna ucapan pemuda itu.


"Harapannya masih besar." ucap Galang, dan dia kembali menerima panggilan.


"Mereka benar-benar menghentikan pencarian karena cuaca semakin tidak bersahabat, pak." dia menatap Satria yang terdiam di kursinya sejak seharian.


"Hujan lebat dan angin kencang, juga gelombang menjadi semakin tinggi. Sangat membahayakan bagi tim SAR, mereka menarik diri dari tengah laut." lanjutnya.


Dan Satria menempelkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedukaan masih mendominasi pada raut wajahnya, namun dia berusaha untuk tak terpengaruh. Mengingat harapan itu masih ada, dan cukup besar untuk membuatnya tak terlalu berputus asa.


Apa lagi dirinya juga harus menenangkan keluaraganya. Istrinya yang bersedih sejak pagi, dan belum berhenti menangis, dan menantunya yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya selama seharian.


Rania bahkan memilih untuk tidur meringkuk di sofa, demi dapat mendengar segala kabar yang di terima. Ditemani Amara yang tak pernah beranjak dari sisinya.


"Baiklah, sepertinya kita tidak dapat melakukan hal lain setelah ini. Karena tentu akan membahayakan lebih banyak orang lagi, jadi ... kita lanjutkan saja pencariannya besok pagi." pria itu akhirnya menyerah. Walau kegundahan tetap mendominasi pikirannya, namun tak ada jalan lain. Dia tak bisa lebih memaksa lagi karena keadaannya memang tidak memungkinkan untuk di paksakan.


"Kalian istirahatlah, seharian ini kita sama-sama lelah. Dan Rania, ..." dia kembali menoleh ke arah memantunya yang meringkuk seperti bayi, dengan selimut yang dibawa Amara untuknya.


"Pindahlah ke kamarmu, Nak. Istirahatlah di sana." katanya.


Namun Rania menggelengkan kepala tanda menolak.


"Dia tidak akan bisa walaupun di paksa pak, jadi biarkan saja." Angga menyela, dan memang hal itu benar adanya. Rania tak akan mendengarkan siapa pun, meski itu ayahnya sendiri.


*


*


Dimitri menatap langit yang kelam dari celah bebatuan besar di sisi lain pulau, setelah memastikan tempat tersebut aman untuk di tempati. Mereka memutuskan untuk berlindung dari cuaca tak bersahabat yang menerjang kawasan pulau tersebut dalam keadaan serba terbatas. Jas basah menjadi pelindung dari hujan beberapa saat yang lalu, sementara ranting pohon sebagai penyangganya. Dan mereka duduk menekuk tubuh untuk menghalau rasa dingin yang cukup menyiksa. Dengan api kecil yang Andra nyalakan dari hasil percikan dua batu karang yang kemudian membakar ranting kering di sela bebatuan, seperti yang dia pelajari sewaktu sekolah dulu. Walaupun hujan telah reda, namun menyisakan udara yang cukup dingin hingga waktu beranjak dini hari.


Dari kejauhan pandangan Dimitri menangkap cahaya merah menyala dan meredup perlahan, dan dia menatapnya beberapa saat untuk memastikan.


Pria itu kemudian bangkit dan keluar dari celah batu, berjalan menuju cahaya kecil yang di lihatnya barusan.


"Aku pikir kunang-kunang?" gumam Dimitri seraya memungut benda pipih di atas pasir yang dia kenali sebagai ponsel miliknya, yang bagian atasnya berkedip-kedip.


"Apa Dim?" Andra datang menghampiri.


"Hapeku Om, tapi tidak bisa di nyalakan." dia menunjukkan benda tersebut kepada Andra.


Sang asisten terdiam sambil mengerutkan dahi, lalu dia merebut ponsel itu dari Dimitri.


"Alat pelacaknya." Andra bergumama.


"What?"


"Alat pelacaknya masih berfungsi." ucap Andra yang memeriksa benda pipih berukuran 5,5 inchi tersebut.


"Alat pelacak?"


"Kenapa bisa lupa!" gumam Andra lagi. "Seharusnya ini bisa membantu mereka menemukan kita." kemudian dia berlari ke celah bebatuan tempat mereka berlindung, lalu duduk di dekat perapian.


Dalam pencahayaan yang sangat terbatas Andra berusaha membongkar ponsel yang sudah mati tersebut, dan mengutak-atiknya setelah berhasil. Dia menemukan satu panel yang sangat kecil dengan kabel sebesar helaian rambut berukuran cukup pendek dengan lampu super mini di ujungnya yang cahayanya cukup lemah.


"Itu, alat pelacak?"


Andra menganggukkan kepala.


"Bagaimana bisa benda itu ada di hapeku?"


Pria itu tak menjawab.


"Om yang memasangnya?" Dimitri bertanya lagi.


Andra masih bergeming.


"Om!"


"Berhasil!" Andra bangkit setelah menekan panel dan membuat nyala lampu kecil itu menjadi cukup terang. Yang berarti mereka bisa mengirim sinyal darurat ke peralatan Arfan, atau siapa pun yang sedang menyalakan ponsel mereka. Andra yakin saat ini orang-orang sedang bersiaga akibat kecelakaan yang mereka alami.


Beberapa Andra menekan panel, dan lampu kecil di ujungnya terus berkedip. Mengirim semacam sandi pada peralatan di ujung sana.


"Kamu, pemimpin Nikolai Grup generasi ke tiga. Segalanya harus bisa di antisipasi, termasuk hal tidak terduga seperti ini, karena keselamatanmu sangat penting bagi kami dan perusahaan. Jadi, ya ... Kami memasang alat pelacak di ponselmu, Dim." jelas Andra setelah dia selesai mengirimkan sinyal.


"Bukan hanya di ponselmu. Ponsel Rania, papimu, bu fia, dan adik-adikmu.Termasuk pak Arfan dan kakakmu. juga saya. Kalian semua saling terhubung satu sama lain dengan kami, staff utama dan beberapa bodyguard. Jadi jika terjadi sesuatu dengan salah satu dari kita, maka yang lainnya akan segera menyadari."


"What? aku pikir hanya aku yang bisa melacak Rania, ternyata kalian lebih gila."


"Kamu tidak tahu saja, Dim."


Dimitri terdiam.


"Alatnya sudah mengirimkan sandi, jadi kita hanya harus menunggu saja." Andra kembali ke tempat duduknya semula, begitu juga Dimitri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Posisi?" Galang yang langsung siaga.


"Ujung utara kepulauan Seribu." pria itu menunjuk titik tersebut.


"Cuaca?" Angga menyela.


"Stabil." Arfan menunjuk sudut kiri atas layar laptopnya.


"Kondisi laut?"


"Tenang."


"Ujung utara itu semacam pulau atau hanya batu karang?"


Arfan mengetikan sesuatu di keyboard, dan sesaat kemudian muncul gambar sebuah pulau kecil berpasir putih dengan pepohonan yang rimbun.


"Tidak berpenghuni?" Galang kembali berucap, dan Arfan menganggukkan kepala.


"Bagaimana kita bisa pergi ke sana?" Angga bangkit setelah membenahi selimut yang menutupi tubuh Rania.


"Kapal kecil, mungkin speedboat, atau ...


"Yang paling cepat?"


"Helikopter?" sahut Arfan.


"Helikopter." Angga membeo.


"Apa bisa?" Satria berteriak kepada seorang penjaga yang merupakan bawahan Andra.


"Akan kami siapkan pak." jawab pria tersebut, dan dia segera pergi.


***


"Om mau ke mana?" Galang terperangah ketika mendapati Angga yang sudah bersiap. Mengenakan sepatunya, juga jaket tebalnya yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna.


"Jemput Andra dan Dimitri." jawab pria itu yang merapatkan jaketnya.


"Om mau ikut?"


"Iya lah, apa lagi?"


"Om yakin?"


"Kamu pikir saya bercanda?" jawab Angga yang menoleh ke arah halaman belakang luas itu di mana sebuah helikopter sudah mendarat tak lama setelah kabar sinyal dari ponsel Dimitri kembali terdeteksi.


"Tapi ...


"Kamu pikir saya bisa tenang sementara sahabat dan menantu saya ada di sana, dan keadaan mereka mungkin nggak baik-baik aja?" ucap Angga.


"Cepat! jangan biarkan mereka menunggu lebih lama lagi." pria itu menggendikkan kepala, seraya melangkah ke area belakang rumah besar tersebut setelah berpamitan kepada semua orang yang ada di dalam rumah besar tersebut.


Angga diikuti Galang segera masuk ke dalam heli kopter yang telah siap, diikuti Arfan yang kemudian menyerahkan sebuah alat menyerupai ponsel yang berukuran lebih kecil.


"Hey!" Arfan berteriak.


"Bawa ini dan nyalakan terus. Biasanya posisi target bisa kita lihat dari alat ini." dia menyodorkan alat yang layarnya menampilkan semacam gambar peta dengan titik kecil berwarna merah di tengah yang berkedip-kedip.


Galang menerimanya, lalu memasukkan kedalam tas selempangnya.


"Baik, pak." katanya, yang kemudian duduk di kursi yang sudah tersedia begitu co-pilot berbicara. Dia memasang safety belt dan sesaat kemudian benda tersebut perlahan melayang di udara, hingga posisinya cukup tinggi untuk bergerak ke arah yang di tuju. Ujung utara wilayah Kepulauan Seribu di mana sinyal itu di temukan.


***


Suasana masih tampak gelap namun matahari perlahan muncul di timur. Semburat jingga keemasan pun mulai menghiasi sebagian kecil cakrawala dengan garis-garis awan hitam sisa hujan semalam. Dan udara dingin cukup membuat siapa pun menggigil karenanya.


Heli kopter yang membawa Galang dan Angga terbang menuju utara, menembus keheningan pada subuh itu dengan harapan besar di dada.


Dan tak memakan waktu lama, mereka sudah berada di atas laut yang tenang namun gelap, dan hanya riak-riak kecil saja yang terlihat. Tampak aman, namun sebenarnya cukup mematikan.


Galang menatap layar alat pendeteksi sinya, kemudian mengisyaratkan kepada sang pilot untuk terus maju melewati gugusan pulau-pulau kecil Kepulauan Seribu yang sebagian besarnya tidak berpenghuni.


Hingga akhirnya mereka tiba di ujung utara, tepat seperti titik merah di layar, dan pulau tersebut merupakan pulau terluar dari gugusan kepulauan Seribu, sebelum akhirnya Samudera luas terbentang di depan sana.


Helikopter berputar sebentar mengitari pulau tersebut, melihat di mana titik aman untuk mendarat. Dan pada saat mereka menemukan area berpasir yang cukup datar, maka benda itu pun perlahan turun dan mendarat.


Angga dan Galang segera keluar, dan mereka melakukan penyisiran di sekitar. Tak ada yang mereka temukan, kecuali jas hitam yang teronggok begitu saja di atas pasir.


"Dim?" pria itu berteriak.


Hening.


Kemudian matanya memindai keadaan. Keadaan masih cukup temaram namun jelas tempat itu terlihat tenang. Tak nampak ada seorang pun di sana, atau tanda-tanda keberadaan manusia.


"Andra?" teriak Angga lagi, dan mereka merangsek lebih ke dalam hutan, di mana pepohonan tumbuh cukup rapat.


Galang kembali menatap layar alat pendeteki, dan kedipan cahaya merah itu semakin jelas seiring jalan yang mereka tempuh menuntun keduanya ke sebuah area berbatu.


Dan di sanalah mereka, dua pria berbeda usia yang tengah terlelap atau entah tak sadarkan diri. Dalam kegelapan di antara celah bebatuan karang dan pohon bakau yang tumbuh di sekitarnya. Dalam keadaan berantakan dan hampir tak bisa di kenali selain kemeja putih yang melekat erat di tubuh mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania berjalan tergesa begitu dia keluar dari mobil diikuti Amara, sementara Sofia dan Satria telah lebih dulu sampai di rumah sakit tak lama setelah mendapat kabar dari Galang jika mereka telah menemukan Dimitri dan Andra.


Perempuan itu menerobos pintu ruang gawat darurat, namun dia membeku begitu pandangannya menangkap sosok Dimitri yang tengah menjalani pemeriksaan.


Pandangan mereka bertemu, dan sesaat kemudian Dimitri turun dari tempat pemeriksaannya. Begitu juga Rania yang berjalan ke arahnya, dengan isakan dan air mata yang meluruh di pipinya.


Tanpa ada kata yang terucap, ataupun suara keduanya segera saling berpelukan. Rania membenamkan wajah di dadanya, sementara pria itu menyurukkan wajah di puncak kepalanya. Dengan perasaan yang sama-sama membuncah dan mendominasi akal sehat keduanya. Rasa rindu begitu memuncak seolah mereka baru saja bertemu setelah sekian tahun lamanya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


tetep dong, like komen sama hadiahnya di kirim. kan biar aku lanjut episode berikutnya. oke? 😉😉