All About You

All About You
Tentang Kita



🌹


🌹


Galang memacu kendaraan roda duanya menembus hujan. Jalanan lengang pada malam itu namun hatinya terasa begitu sesak. Tahu cinta pertamanya telah menerima pinangan pria lain yang jelas lebih segala-galanya dari dirinya. Dia tahu, mungkin bukan itu yang menyebabkan Rania menerimanya, karena perasaan tidak ada yang mampu mengatur. Dia bersemayam dihati siapa saja sesuka hatinya, tanpa bisa ditentukan atau diarahkan. Semuanya terjadi begitu saja tanpa diminta.


Namun sisi lain hatinya tidak bisa menerima hal tersebut sebagai hukum alam dan keniscayaan. Bahwasannya hati memiliki keinginannya sendiri.


Ah, Galang ... betapa pecundangnya dirimu. Kau mengenalnya sejak kecil tapi tak mampu membuatnya jatuh cinta kepadamu. Sedangkan orang asing yang tidak tahu apa-apa bisa dengan mudahnya menaklukan dia.


"RANIAAAAAAA!" Galang berteriak sekencang yang dia bisa.


Pemuda itu terus memacu motornya sejauh yang dia bisa, membawa lari perasaan dan emosi yang kian berkecamuk. Berharap hujan dapat meluruhkan segalanya dan menghilangkan perasaan menyakitkan itu agar semuanya hilang tak berbekas.


🌹


🌹


"Kamu kenapa? sakit?" Dimitri menatap wajah kekasihnya yang tak seceria biasanya.


"Hum?" Rania mendongak. "Nggak, cuma lagi nggak enak makan aja." jawab Rania yang hanya mengaduk-aduk nasi gorengnya sejak sepuluh menit yang lalu.


"Tumben? biasanya paling semangat makan." Dimitri meneguk air minumnya hingga habis setengahnya.


"Iya nih,... perasaan aku lagi nggak enak." keluh Rania, seraya meletakan sendok dan mendorong piring mskanannya menjauh.


"Iya, kenapa? kan setiap masalah ada penyebabnya."


Gadis itu terdiam. Dia berpikir sejenak, apakah pantas membicarakan hal ini kepada Dimitri? sedangkan mereka sebentar lagi akan terikat pernikahan. Apa tidak akan menimbulkan masalah nantinya?


"Just talk." pria itu menyelesaikan makannya.


Rania menarik dan meghembuskan napasnya dengan berat, tapi dirinya merasa tak tenang jika harus memendamnya sendirian. Dia tak terbiasa menyimpan rahasia, apalagi kepada orang terdekat. Dan bukankah Dimitri sebentar lagi akan menjadi orang yang paling dekat dengannya? dan segalanya harus dia utarakan agar tak menimbulkam kekeliruan di kemudian hari.


"Kamu punya sahabat yang deket banget gitu nggak?" dia buka suara.


"Sahabat?"


"Iya. Yang deket banget. Yang kalau apa-apa ngerjainnya bareng-bareng. Kalian kenal dari kecil, semuanya kalian tahu."


"Nggak."


"Nggak? kamu nggak punya sahabat kayak gitu?"


"Nggak."


"Kasihan amat hidup kamu."


"Kenapa kasihan? Memangnya harus ya?" Dimitri terkekeh.


"Ya nggak juga sih, tapi kan rata-rata orang gitu. Minimal punya teman sejak kecil gitulah."


"Hmmm... aku nggak."


"Kenapa?"


"Kenapa ya? aku tidak merasa membutuhkan sahabat semacam itu. Semuanya sudah aku punya."


"Ah, ... jelas. orang macam kamu mana butuh sahabat ya? aku lupa kamu ini siapa."


"Maksudnya?"


"Jelas kamu nggak akan butuh siapa-siapa, Kamu udah punya segala hal yang orang lain butuhkan. Jadi nggak akan butuh siapa-siapa lagi."


"Bukan begitu. Teman aku banyak, tapi tidak seperti yang kamu sebutkan. Aku punya orang tua yang cukup asik diajak membicarakan segala hal. Mereka bisa berperan menjadi siapapun yang aku butuhkan, jadi aku nggak merasa butuh orang lain selain orang tuaku."


"Oh, ...


"Hanya saja mama dan papi nggak bisa diajak hang out ke klub." pria itu tertawa.


"Dih, mainnya ke klub." cibir Rania.


"Sudah lama nggak."


"Masa?"


"Hmm...


"Kenapa? sibuk?"


"Begitulah."


"Kasihan."


"Iya, sibuk mikirin kamu jadi nggak sempat main-main ke tempat lain."


"Ish. ...


Dimitri tertawa lagi.


"Terus apa yang membuat kamu sampai nggak enak makan/ seperti ini? ada masalah dengan sahabat kamu?"


Rania mengerucutkan mulutnya, lalu mendengus pelan.


"Pasti ada hubungannya dengan Galang?" pria itu menebak.


"Kok tahu?"


"Hanya menebak. Kalau buka Galang, siapa lagi? sahabatmu kan cuma dia?"


"Ah, iya."


"Jadi ada apa?" Dimitri bersedekap.


"Kamu bakal marah nggak kalau aku bilang ini?"


"Apa? katakan saja."


"Galang udah tahu kalau kita sebentar lagi mau nikah." Rania menyesap minuman dinginnya yang sudah berembun.


"Terus?"


"Dia marah."


"Kenapa marah?"


"Aku pernah bilang kalau dia udah pernah membak aku?"


Dimitri menganggukan kepala.


"Kayaknya perasan dia serius deh."


"Udah dua malam dia nggak pulang setelah marah-marah sama aku malam kemarinnya."


"Oh ya?"


Rania mengangguk.


"Terus?"


"Aku salah nggak sih?"


"Kamu merasa salah?"


"Nggak. Tapi aku takut aku salah."


"Salahnya dimana? karena kamu nggak membalas perasaan dia?"


Rania terdiam.


"Terus karena sekarang dia bersikap seperti ini kamu tiba-tiba merasa bersalah? Terus apa yang mau kamu lakukan? membatalkan pernikahan kita dan menerima Galang?"


Gadis itu menahan napasnya sebentar.


"Kamu kok ngomongnya gitu?"


"Ya habisnya, kamu seperti yang mau berbelok setelah tahu bagaimana reaksi Galang."


"Aku cuma bilang ...


"Kalau misalnya masih ragu-ragu, nggak apa-apa kita batalkan pernikahannya. Mumpung orang tua kita belum melakukan persiapan."


"Lho?"


"Mungkin perasaan kamu juga nggak seserius aku. Dan sepertinya aku yang terlalu terburu-buru dalam hal ini. Hanya karena takut aku akan membuat kesalahan fatal sehingga aku membuat keputusan besar ini. Tapi kalau misalnya kamu nggak bisa nggak apa-apa, kita batalkan."


"Nggak gitu Dim."


"Kamu tahu, hal ini membuat aku jadi berpikir lagi."


"Ap-apa?"


"Apa perasaan kamu sama dengan aku?" pria itu bertanya. Sesuatu yang belum dia tanyakan sejak pertama kali mereka menjalin hubungan.


Rania mengulum bibirnya kuat-kuat.


"Karena aku punya petasaan yang sangat besar kepada kamu. Aku mencintaimu, dan aku ingin memiliki kamu. Bukan hanya ikatan seperti ini, tapi dengan hal yang lebih besar lagi."


"Tapi kalau seandainya kamu ragu, dan nggak punya perasaan yang sama dengan aku, aku akan mundur."


"Kok kamu ngomongnya gitu? bukannya kemarin kamu sama orang tua kamu udah datang nemuin orang tua aku? dan kita mau nikah?" sergah Rania.


"Apa kamu yakin? karena itu hanya sebuah rencana. Aku nggak tahu perasaan kamu yang sebenarnya seperti apa. Apalagi kalau ada hubungannya dengan Galang. Sepertinya dia cukup spesial dihati kamu? dan sepertinya juga aku sudah menjadi pengganggu diantara kalian."


"Lho?"


"Buktinya kamu sekacau ini tahu dia marah karena Kita mau menikah?"


"Kamu suka sama Galang?"


Kedua bola mata Rania membulat seketika.


"Kalau misal perasaan kamu lebih berat sama dia, nggak apa-apa, aku mundur. Aku nggak mau memaksakan kehendak. Walau sebesar apa perasaan aku kepadamu, tapi kalau perasaanmu nggak sama untuk apa? hanya aku yang bahagia, dan kamu tersiksa? sepertinya nggak fair."


"Dim...


"Kamu sudah selesai?" Dimitri melirik piring milik Rania yang makanan di dalamnya masih utuh.


"Karena aku sudah selesai." dia mengeluarkan beberapa lembar uang tunai lalu meletakannya di trey bill.


"Mau pulang sekarang atau nanti? aku masih ada pekerjaan sebentar lagi."


"Tapi kita belum selesai ngobrol, kamu bahkan belum denger penjelasan aku, tapi udah marah?"


"Aku nggak marah."


"Tapi kamu ngomongnya gitu? pakai bilang mau batalin nikah lagi?"


"Memangnya kamu mau lanjut? Sementara perasaan kamu masih bimbang seperti ini?"


"Aku nggak bimbang, aku cuma kepikiran Galang."


"Apa bedanya? jelas kita ada rencana menikah tapi kamu masih memikirkan laki-laki lain?"


"Emang kamu nggak?"


"Apa?"


"Nggak kepikiran perempuan lain?"


"Perempuan yang mana? pernah lihat aku jalan dengan perempuan lain?"


Rania memggelengkan kepala.


"Dulu, aku sering jalan dengan perempuan mana saja yang aku mau. Bahkan aku melakukan hal yang lebih dari sekedar makan dan jalan berdua."


"Maksudnya?"


"Aku nggak pernah terlibat hubungan pribadi dengan siapapun selain hanya untuk bersenang-senang. Kamu tahu, just for fun. Seperti orang-orang kebanyakan. Ketemu, minum, ... dan berakhir di hotel."


"Apa?"


"Aku akan jujur kepadamu dalam hal ini. Aku bukan pria baik-baik seperti kelihatannya, tapi lebih dari itu. Semua perbuatan buruk pernah aku lakukan, dan jika aku mau aku bisa saja melakukan itu kepadamu. Seperti kepada gadis-gadis yang pernah aku tiduri. Tapi nggak tahu kenapa aku tiba-tiba saja berhenti." sekalian saja dia membuka aibnya sendiri, dan ingin melihat bagaimana reaksi gadis di depannya ini.


"Sejak bertemu kamu, Rania."


"Aku bahkan nggak bisa berhenti memikirkan kamu, sampai nggak ada tempat kosong di dalam pikiranku ini selain kamu. Nggak ada sedikitpun tempat tersisa untuk orang lain. Bahkan gadis yang sejak kecil menungguku pun nggak punya tempat di dalam sini." dia mengetuk dada sebelah kirinya dengan ujung jarinya.


"Aneh ya?" pria itu terkekeh. "Aku, Dimitri Alexei Nikolai bisa terjatuh serendah ini karena seorang Rania." katanya, dengan kedua mata coklatnya yang menatap lembut gadis yang telah membuatnya bertekuk lutut itu.


"Just think about it. Aku nggak mau pernikahan kita nantinya terpaksa. Karena kamu merasa nggak enak kepada aku yang merupakan sponsor kamu, atau karena papiku yang merupakan kerabat papamu. Itu nggak ada hubungannya sama sekali. Ini semuanya tentang kita. Nggak ada hubungannya dengan yang lain."


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


masih galau?? komen dulu 😆