
🌹
🌹
Rania tertegun dengan hati berdebar hebat, menatap tiga alat tes kehamilan yang dia gunakan sekaligus. Dan ketiganya menunjukan garis dua yang dia fahami, berarti kini ada janin yang sedang tumbuh dirahimnya.
Dia menatap dirinya sendiri di cermin, lalu kembali menatap tiga testpack diatas wastafel.
Harus berhenti balapan.
Sponsor akan menarik dukungan.
Papamu pasti akan sangat kecewa, dan dia pasti marah kepadaku.
Jangan punya anak dulu ya? minimal sampai balapan musim ini berakhir.
Semua kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya.
Mati aku, semua orang akan kecewa, terutama papa. Dia mengusap wajahnya beberapa kali.
"Zai?" terdengar suara Dimitri memanggil.
Buru-buru Rania menyembunyikan alat tes kehamilannya ketika mendengar langkah Dimitri mendekat.
"Kamu sudah bangun." segera, pria itu merangkul tubuhnya dari belakang. Dia menyurukannya di tengkuk Rania dan menghirup aroma tubuhnya yang terasa menyenangkan.
"Hmmm ...
"Tumben?"
"Iya, cuma ingat mau melakukan sesuatu." dia berusaha melepaskan diri dari suaminya.
"Melakukan apa?"
"Mmm ...
"Oh iya, mau ke dokter kan ya? aku malah lupa. Sudah mandi?"
Rania menganggukan kepala.
"Tunggu aku mandi sebentar ya?" ucap Dimitri.
"Iya."
Pria itu lantas melepaskan pakaiannya, kemudian membersihkan diri.
***
Mereka sarapan dalam suasana hening yang tak biasa. Tentu saja, bagi Rania itu adalah pagi yang paling membingungkan dalam hidupnya.
"Kamu kenapa sih dari tadi diam terus?" Dimitri menyesap latte panasnya setelah menghabiskan lebih dari setengah roti selainya. Rania yang membuatkan.
"Hum? nggak."
"Sarapannya dihabiskan, sebelum nanti kamu pasang kbnya."
"Kb?"
"Iya." kemudian dia melanjutkan sarapannya.
"Eee ... yang?"
"Ya?"
"Kalau misalnya, ... misalnya ni yah, aku hamil ... gimana?" dia memberanikan diri untuk bertanya.
Dimitri menatapnya tanpa mengucapkan apapun.
"Misalnya." ulang Rania.
"Hamil?"
Perempuan itu menganggukan kepala.
"Ya, ... nggak apa-apa."
"Beneran?" wajahnya sedikit berbinar.
"Iya, tapi harus berhenti dulu balapannya. Sampai kamu melahirkan, kamu pulih, dan anak kita bisa kamu tinggal."
Rania mendengus pelan.
"Memangnya kenapa? kamu hamil ya?" Dimitri tertawa.
"Hanya saja aku harus siap-siap menghadapi papamu kalau itu benar." lanjutnya, dan dia kembali menyesap lattenya yang tak sepanas tadi.
"Mm ...
"Sudah selesai belum? ayo kita pergi?" katanya lagi.
"Hum?"
Kamudian ponsel Dimitri berdering.
"Ya?"
"....
"Apa?" waja pria itu memucat.
"...
"Ba-baik. Aku ke Jakarta sekarang."
"Kenapa?" Rania menghentikan kegiatan sarapannya.
"Om Arfan masuk rumah sakit."
"Hah?"
"Aku harus ke Jakarta."
"Mm ... oke. Apa aku harus ikut?"
"Tidak udah, aku saja. Ayo, aku antar kamu dulu ke dokter, setelah itu ...
"Kalau gitu, kamu berangkat aja, siapa tahu harus buru-buru."
"Terus kamu?"
"Aku bisa sendiri."
"Yakin?"
"Iya, nggak apa-apa."
"Tapi aku masih bisa kalau harus mengantar kamu dulu."
"Nggak usah, kamu berangkat aja."
"Atau sekalian kita pergi ke Jakarta, kamu periksanya disana, setelah aku melihat keadaan om Arfan."
"Mm ... tapi aku ada jadwal latihan hari ini." jawab Rania, berusaha menghindar.
"Latihan lagi?"
Perempuan itu menganggukan kepala.
"Oh, ...
"Kamu kalau mau pergi sebaiknya dari sekarang. Mumpung masih pagi." Rania bangkit, lalu meraih jas di sofa. Membantu mengenakannya kepada suaminya.
"Benar nggak apa-apa aku tinggal?" Dimitri meyakinkan.
"Iya."
"Aku pasti pulang, mungkin sore atau malam. Nggak akan menginap di Jakarta."
"Oke." dia merapikan jas yang sudah menempel di tubuh suaminya.
"Baiklah," pria itu merangkul dan mengecup kening Rania dengan penuh perasaan.
"Aku pergi sekarang, Zai."
"Iya."
"Jangan nakal ya?"
Mereka tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lang?" Rania mengirimkan pesan kepada sahabatnya.
Centang dua tapi belum terbaca.
Eh, ... kenapa juga aku hubungin Galang? kan bukan urusannya. dia meletakan ponselnya di meja aksesoris.
Namun kemudian ponselnya berbunyi, dan Rania segera meraihnya kembali.
"Ya Ran?" balasan dari Galang.
Rania berpikir.
"Mau nelfon boleh?" lalu dia balik mengirim balasan.
Beberapa saat kemudian sebuah panggilan masuk dari nomor Galang.
"Ada apa?" tanyanya dari seberang.
"Kamu lagi dimana?"
"Lagi ada urusan."
"Aku ganggu nggak?"
"Mmm ... aku bingung, mau minta pendapat."
"Soal apa?"
"Soal ...
"Ran, maaf. Kayaknya aku harus pergi. Aku buru-buru. Nanti kalau udah santai aku telfon lagi ya?"
"Oh, ...
"Bye, Ran." dan percakapan pun terputus.
Rania menatap layar ponselnya untuk beberapa saat.
Lagian, kenapa juga malah nelfon Galang? kan aneh kalau aku kasih tahu dia duluan? Rania bergumam.
Dia kembali meletakan ponselnya di meja aksesoris. Kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Rania mendekat sambil menyingkap kaus yang menepel di tubuhnya. Lalu menyentuh perut ratanya dengan kedua tangannya.
"Nggak apa-apa gitu kalau aku nggak ngasih tahu siapa-siapa dulu?" Rania bermonolog.
"Tapi ...
Berhenti dulu balapannya.
Semua orang akan kecewa.
Lagi-lagi ucapan-ucapan itu kembali terngiang.
Nanti aku harus berhenti balapan sebelum musimnya selesai. Padahal tinggal tiga balapan tersisa, kan sayang.
Dia berpikir lagi.
Tiga balapan terakhir musim ini.
Hanya tinggal tiga.
Sampai akhir musim ini kan?
Dua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyum.
Cuma tiga balapan lagi, kita bisa bertahan kan? setelah semuanya selesai aku akan memberi tahu mereka semua. Dan selama itu, kamu baik-baik ya disana? jangan bikin ulah! dia berbicara dengan perutnya sendiri.
"Iya, beneran. Gitu aja." dia kembali menatap cermin lagi.
🌹
🌹
"Ada yang nelfon?" Amara bertanya saat melihat Galang menatap layar ponselnya sejak mereka tiba di salah satu rumah sakit di Jakarta. Beberapa jam setelah dirinya mendapat kabar dari ibu sambungnya soal Arfan yang harus dilarikan ke rumah sakit semalam.
"Rania." pemuda itu menunjukan layar ponselnya.
"Mau apa?"
"Nggak tahu."
"Hmm ...
"Gimana papa kamu?" Galang mengalihkan pembicaraan.
"Masih belum sadar."
"Mommy kamu?"
"Nggak mau pergi. Maunya nunggu di dalam terus."
"Terus gimana?"
"Nggak gimana-gimana, nunggu aja dulu sampai papa sadar."
"Udah tanya ke dokter papa kamu kenapa?"
"Kecapean."
"Sampai separah itu?"
"Kurang istirahat, kerjaannya juga sih, ditambah ngerokonya yang nggak bisa dikurangin. Udah tua juga." gadis itu bergumam.
"Dasar anak durhaka, ngatain papanya udah tua?" Galang tergelak.
"Lah, emang udah tua."
"Beneran, cuma kecapean aja? Nggak ada penyakit serius lainnya?"
"Nggak. Dokter kan bilangnya gitu, ya ditambah kebiasaan ngerokok nya aja yang bikin parah. Yang lainnya sehat."
"Syukur deh." Galang merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Maaf ya." ucap Amara kemudian.
"Kenapa minta maaf?"
"Pagi-pagi kakak harus repot anterin aku ke sini."
"Nggak apa-apa, untung kuliahnya siang. Kalau kuliah pagi nggak bakalan aku antar."
"Hmm ... iya." lalu gadis itu terdiam.
"Bercanda." ucap Galang setelah beberapa lama.
"Hah, apa?"
"Aku bercanda."
"Apanya?"
"Yang aku bilang barusan."
"Yang mana?" Mara mengerutkan dahi.
"Soal nggak akan ngantar kamu kalau kuliah pagi." jelas Galang.
"Oh ...
"Cuma oh doang?"
"Terus aku harus gimana?"
"Ketawa kek, atau apa gitu?"
"Apa harus?"
"Ya kan aku lagi bercanda?"
Amara terdiam lagi.
"Candaan kakak nggak lucu." namun dia terkekeh, merasa lucu karena mendengar candaan Galang yang tidak lucu.
"Masa?"
Amara kemudian tertawa.
"Katanya candaan aku nggak lucu? kok ketawa?" pemuda itu kemudian bangkit dan menegakan tubuhnya.
"Kakak aneh. Bercanda tapi nggak lucu, tapi juga itu yang bikin aku pengen ketawa." dia tertawa lagi.
Galang hanya menatapnya dalam diam.
"Bagaimana om Arfan?" Dimitri berlari melewati lorong sepi rumah sakit begitu dia tiba.
"Kak Dim?" percakapan mereka terjeda.
"Bagaimana om Arfan? apa yang terjadi?" Dimitri mengulang pertanyaannya.
"Papa belum sadar dari semalam. Tapi kata dokter nggak apa-apa. Papa cuma kecapean." jawab Amara.
"Oh, ... syukurlah."
"Kok kakak tahu? siapa yang ngabarin?"
"Om Andra, tadi pagi."
"Oh, ... sama. Aku juga ditelfon om Andra. Tadi sempet ketemu, tapi om Andranya pulang. Mau ngurusin kerjaan dulu katanya."
"Oh, ... oke."
"Papi sama mama Fia juga baru pulang, semalam nemenin mommy."
"Oh ya? syukurlah."
"Kakak sendiri?" gadis itu melihat ke belakang Dimitri.
"Iya, Rania nggak bisa ikut, dia harus latihan."
"Latihan?" suara Galang menginterupsi dari belakang Amara.
"Kamu disini?" Dimitri malah menjawab dengan pertanyaan. Dia baru menyadari keberadaan pemuda itu di dekat mereka.
"I-iya, kak Galang yang atar aku tadi pagi." Amara yang menjawab.
"Oh, ... " pria itu terdiam, lalu menatap keduanya secara bsegantian.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
like komen hadiahnya jangan lupa.
lope lope sekebon cabe. 😘😘