
🌹
🌹
"Makanannya udah dateng?" Rania turun dari kamar dengan handuk menggulung rambut basahnya di kepala. Celana pendek dan kaus dia kenakan kembali karena memang belum memiliki pakaian baru dirumah itu.
"Sudah, tapi kurirnya nggak ada." Dimitri membuka dua bungkusan makanan yang dipesannya beberapa saat yang lalu. Berisi nasi dan ayam di penuhi sambal yang aroma pedasnya menyengat, sementara miliknya hanya nasi tanpa sambal, seperti biasa.
"Nggak ada?" Rania menghampiri sofa dimana suaminya berada.
Dimitri mengeleng. "Makanan ini cuma digantung di pintu pagar." katanya.
"Oh ya?" Rania tertawa. "Dia kelamaan nunggu kali?"
"Hmm ... mungkin." pria itupun tergelak.
"Tapi udah dibayar 'kan?"
"Sudah, tapi kasihan dia nggak aku kasih tip."
"Nggak apa-apa, nanti kalau ketemu lagi kasih yang banyak."
"Memangnya kita akan ketemu lagi dengan dia?"
"Nggak tahu, mungkin aja nanti."
"Baklah."
Rania kemudian menyesap minuman dingin yang cupnya telah berembun karena terlalu lama didiamkan diluar rumah. Dia meresapi setiap tegukannya dengan sungguh-sungguh, seperti baru pertama kali merasakannya.
"Haus bu?" Dimitri yang sejak tadi memperhatikan.
"Hum?" kemudian dia tertawa.
"Kamu sangat kehausan ya? kasihan sekali." pria itu mengusap-usap tengkuknya.
"Hu'um, udah marathon." Rania meletakan cup minumannya, kemudian membuka makanan yang dipesannya. "Wah, ... sambel." katanya dengan mata berbinar. Air liurnya bahkan rasanya mau menetes menatap ayam goreng dengan taburan sambal yang masih cukup hangat itu. Dia kemudian melahapnya dengan cepat.
"Pelan-pelan lah, tidak ada yang akan merebutnya darimu." Dimitri mengingatkan ketika cara makannya cukup menakutkan.
Rania hanya tertawa, lalu melanjutkan kegiatan makannya seperti dia baru saja menemukan makanan setelah beberapa lama. Membuat Dimitri menggeser makanan miliknya karena melihat hal tersebut.
"Kenapa? kamu nggak suka? ini lumayan enak lho, tapi masih enakan yang di deket Gedung Sate sih."
Dimitri menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Makanlah, aku nggak selapar kamu."
"Hmm ... oke." Rania meraup makanan milik Dimitri, kemudian menyatukannya ke wadah miliknya. Lalu melanjutkan kegiatan makannya tanpa merasa terganggu.
***
"Pulang ke Bandung kapan?" mereka duduk di ruang tengah dengan televisi yang menyala.
"Masih mau pulang ke Bandung? kita kan sudah punya rumah." jawab Dimitri.
"Ya masa tiba-tiba pindah aja? mana sejak dari Paris kita belum pulang ke Bandung lagi, minimal bilang dulu lah sama papa." ucap Rania.
"Oh, ...
"Papa ngijinin aku pindah kesini nggak ya? takutnya nggak."
"Ya harus, kan sudah kewajiban kamu ikut kemana suami pergi. Masa mau terus-terusan tergantung orang tua?"
"Masalahnya ini semua terjadi tiba-tiba."
"Ya mau bagaimana lagi? masa kita harus tinggal terpisah? sementara pekerjaan aku juga nggak mungkin aku pindahkan ke Bandung, kan?"
"Iya juga sih."
"Jadi bagaimana? mau hari ini ke Bandung dulu?" tawar Dimitri.
"Boleh?"
"Ya boleh, aku juga harus menyelesaikan pekerjaan disana dulu kan?"
"Oke-oke."
🌹
🌹
Angga tertegun setelah mendengarkan anak dan menantunya berbicara, tak lama begitu mereka tiba di kediamannya pada hampir sore hari.
"Untuk latihan aku nggak jauh, dibelakang rumah juga bisa. Kalau mau lebih leluasa bisa ke GBK, deket juga dari rumah. Atau kalau mau lebih leluasa lagi bisa ke Sentul."
Sang ayah terlihat menghela napasnya pelan-pelan.
"Papa boleh main sesekali kalau kangen aku, iyakan yang?" Rania menoleh kepada Dimitri, dan pria itu menganggukan kepala.
Pria itu masih terdiam, tampaknya dia masih merasa berat untuk melepaskan anak perempuannya, apalagi kini jarak mereka semakin jauh jika saja Dimitri memang sudah benar-benar membawanya pindah.
Maharani mengerti kegundahan suaminya, dia lantas meraih tangan pria itu.
Angga menoleh, dan mendapati istrinya yang tersenyum kepadanya.
"Kalian sudah menikah, Kan? dan sudah bukan hak papa lagi untuk melarang kemanapun kamu pergi. Rela nggak rela, ya papa harus rela."
Semua orang tampak bernapas lega.
"Tapi satu hal yang harus kamu ingat." lanjut Angga.
"Apa?"
"Balapannya jangan dulu berhenti sampai musim selesai." pria itu terkekeh.
"Soal itu, ...
"Selesaikan dulu balapanmu ya, sebelum memikirkan yang lain." lanjut Angga.
"Ye, ... papa gimana sih? kan emang itu kerjaan aku."
"Maksud papa, sebelum berpikir untuk punya anak, kamu beresin dulu balapannya."
"Dih, kenapa semua orang bahas itu mulu sih? nggak disini, nggak di Jakarta." Rania mengingat obrolan yang di dengarnya saat dirumah mertua.
"Ya pasti dibahas, kan tujuannya menikah salah satunya untuk punya keturunan."
"Terus?"
Angga menatap anak dan menantunya secara bergantian.
"Kalau bisa nih ya, tunggu sampai balapannya selesai dulu, baru memikirkan soal punya anak."
"Aku santai kok." jawab Rania.
"Artinya belum?"
"Ya belum lah,"
"Baguslah kalau begitu, papa sempet khawatir soal itu."
"Nggak usah khawatir, aku belum hamil." ucap Rania lagi.
"Bukan hamilnya yang papa khawatirkan, tapi kondisi kamu nanti."
"Nggak lah. Aku mau fokus balapan dulu."
"Oke kalau gitu, satu kekhawatiran papa terjawab."
"Hmm ...
"Terus seleksinya Rega gimana?"
"Sukses. Dia lolos masuk timnas, dalam tiga bulan dia akan bertanding di piala AFF u16."
"Wah, ... hebat!"
"Memang, ..." remaja yang dimaksud muncul kemudian.
"Dih, sombong!"
"Nggak apa-apa kalau mampu." jawab Rega, sekenanya.
"Tiga bulan ini latihan dong?"
"Iya."
"Terus sekolahnya gimana? kan harus tinggal di asrama?"
"Ada kelonggaran dari pihak sekolah, karena ini urusannya membela negara jadi udah diurusin juga sama oficial timnas, jadi nggak ada masalah soal itu."
"Cieee, ... bela negara. Kayak mau perang aja bela negara?" Rania sedikit tertawa.
"Ya anggap aja ini perang. Perang di lapangan, kayak kakak yang perang di lintasan."
"Hmm ... bener juga."
"Oh iya, soal pembalap yang mengintimidasi kamu itu lagi di selidiki sama oficial kita."
"Oh ya, terus?"
"Hasilnya kemungkinan mereka mau mempertahankan gelar juara dunia di tiga sirkuit utama tahun ini. Dan kita tinggal sisa tiga balapan lagi untuk musim ini kan?"
"Iya. Tapi kenapa mereka begitu?"
"Ternyata mereka berempat memang ada kerjasama, meski masing-masing berasal dari tim yang berbeda, tapi mereka menjalin kerjasama untuk hal lainnya."
"Misalnya?"
"Saling mengamankan posisi."
"Tunggu, maksudnya Rania di intimidasi pembalap lain?" Dimitri bereaksi setelah menyimak obrolan antara istri dan mertuanya.
"Iya, udah dua balapan mereka gitu."
"Mereka?"
"Empat juara dunia."
"Kejadiannya bagaimana?"
"Kadang aku disenggol, kadang ditabrak dari belakang. Kadang di pepet juga."
"Dan kamu diam saja? kenapa aku tidak tahu?"
"Aku pikir itu nggak penting untuk aku bilang sama kamu. Ini permasalahan tim."
"Nggak penting? aku kan sponsor utamanya, mana bisa aku nggak tahu permasalahan pembalapku sendiri?"
"Aki nggak mikir kesana lho, kan kalau sponsor tahunya kita menang aja."
"Nggak begitu, ini masalahnya lain lagi."
"Nggak peduli, siapapun diantara mereka berempat yang jadi juara dunia. Asalkan bukan orang lain."
"Kok gitu?"
"Jadi intinya?"
"Mereka hanya mengamankan posisi untuk salah satu diantara mereka sendiri, dan menghalangi orang lain unuk lolos. Tapi tahu-tahu Rania bisa masuk. Dan sebagai pembalap baru kayaknya kita jadi ancaman."
"Terus apa yang harus kita lakukan?"
"Sementara hanya hati-hati aja dulu, waspada juga jangan gegabah. Mereka berbahaya kalau bersatu, sementara kamu sendirian di sirkuit."
"Apa sudah lapor ke federasi?" Dimitri memikirkan banyak hal setelah ini.
Angga menggelengkan kepala.
"Kenapa? bukannya harus dilaporkan ke federasi kalau ada yang nggak sesuai?"
"Sulit."
"Kenapa sulit?"
"Mereka itu profesional. Udah pasti bisa mengantisispasi masalah federasi, apalagi empat tim sekaligus yang bekerja sama, udah pasti mereka lebih kuat. Kalau kita punya bukti yang cukup kuat jug, baru bisa meyakinkam federasi soal kecurangan ini."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Mana bisa kejuaraan dunia di dominasi hanya oleh segelintir orang? ini seharusnya bisa di capai siapapun yang mampu."
"Tapi kenyataannya nggak seperti itu, 'kan?"
"Apa aku harus melakukan sesuatu?" Dimitri setelah berpikir cukup lama.
"Memangnya apa yang mau kamu lakukan?"
"Mungkin kita harus menyelidikinya lagi agar mendapatkan bukti."
"Emangnya bisa?" Rania menyela.
"Bisa lah,"
"Sebaiknya nggak usah, cukup tau aja, dan kita harus lebih waspada."
"Tapi, ...
"Nggak apa-apa. Kita main aman aja,"
"Ish, ... main aman apanya?"
"Yang penting kamu terus mengasah skill biar bisa mengalahkan mereka tanpa membahayakan diri sendiri. Yang lainnya, biar tim yang memikirkan."
"Yakin nih, nggak akan di selidiki lagi?" Dimitri berucap.
"Nggak usah, kita fokuskan ke Rania sama motornya aja. Mereka sengaja berbuat begitu biar fokus kita terbagi."
🌹
🌹
"Kenapa aku baru tahu kalau istriku ini sudah menghadapi bahaya, ya?" Mereka sudah berada di apartemen pada malam harinya, dan hampir saja pergi tidur.
"Bahaya apanya?" Rania meletakan ponsel pintarnya diatas nakas.
"Ya, ... mendapatkan intimidasi dari lawan main merupakan bahaya kan?"
"Itu biasa, namanya juga di lintasan. Semua orang mau jadi yang terbaik, kayak aku."
"Tapi tidak dengan cara curang seperti itu. Kamu sendiri merasa kecewa saat jadi juara kedua karena kecurangan kan?"
"Iya juga sih,"
"Nah, seharusnya kita bertindak untuk membereskan masalah itu."
"Udah papa tanganin."
"Apa cukup? apa aku juga harus turun tangan?"
"Nggak usah."
"Yakin?"
"Iya, biarkan papa yang bertindak. Kamu nggak usah ikut campur."
"Tapi aku pikir sepertinya aku juga harus ikut campur untuk masalah yang satu ini."
"Nggak usah pak sponsor, papa aja udah cukup."
"Tapi aku penasaran, apa yang mereka mau ya?"
"Lebih baik kamu diam, dan ikuti aja papa maunya gimana. Jangan berpikir untuk berbuat macam-macam, bisa tandukan lagi ntar. Mana tadi udah jinak lagi mau ngobrol sama kamu kan?"
"Hum?"
"Papa paling nggak suka kalau kerjaannya di recokin orang lain."
"Aku kan bukan orang lain, tapi suami kamu."
"Iya, tapi masalahnya memang kamu nggak seharusnya ikut campur."
"Hmm ...
"Udah ya, bobo. Besok aku harus mulai latihan lagi dari pagi."
"Tidak mau pacaran dulu?" Dimitri dengan seringaian khasnya.
"Pacaran melulu, kan tadi siang udah."
"Tadi di Jakarta. Disini belum?"
"Sama aja, pak."
"Beda ..." Dimitri segera melepaskan pakaiannya.
"Dih, belum di jawab iya udah buka-bukaan aja?"
"Biar gampang." pria itu menarik piyama pendeknya sehingga terlepas. Kemudian segera mendorongnya hingga Rania terjengkang ke belakang.
"Tapi yang, aku kan ... ah,..." des*han keluar begitu saja saat Dimitri mengecupi lehernya, sementara kedua tangannya sudah bergerilya di area dada.
Meremat benda itu dari balik bra yang masih menempel, namun membuatnya merasa gemas.
Kemudian ciumannya semakin turun hingga menemukan dua gundukan indah itu. Dia mengangkatnya keatas sehingga membuatnya tampak jelas. Pay*dara yang ranum dengan kedua puncaknya yang sudah mengeras menggemaskan. Sama seperti naga ajaibnya dibalik boxer yang juga sudah sangat menegang.
"Ngh ..." wajah Rania mendongak keatas dengan mata yang tertutup dan terbuka dengan perlahan saat Dimitri melahap buah dadanya. Meyesapnya dengan penuh semangat untuk menggoda hasratnya yang memang sudah bangkit.
Pria itu bangkit, dan segera melepaskan boxernya. Dan dia bermaksud membenamkan miliknya pada Rania ketika perempuan itu mengulurkan tangan untuk menahan perutnya.
"Kenapa?"
"A-aku lapar." jawab Rania sambil memegangi perutnya.
"Hah?"
"Aku lapar." ulang perempuan itu.
"Bukannya tadi dirumah papa sudah makan?"
"Itu kan tadi, sekarang aku lapar lagi."
Dimitri tertegun.
"Sayang, aku lapar. Mau makan." dia menyentuh wajah diatasnya.
"Makannya nanti saja bisa tidak? aku kan ...
"Nggak mau, ... udah nggak kuat." rengek Rania.
"Mm ...
"Aaaa ... aku mau makan, pacarannya nanti dilanjutin." dia bangkit sambil mendorong tubuh suaminya.
"Tapi ...
"Mana hape kamu sini." Rania kemudian menengadahkan tangannya.
"Untuk apa?" pria itu menyerahkannya dengan kesal.
"Order ayam geprek."
"Astaga!! itu lagi."
Rania menatap layar ponsel suaminya sambil mengetikan suatu. Membuat pesanan, kemudian mengembalikannya kepada Dimitri.
"Bayar dulu, aku nggak bisa."
Pria itu mendengus kesal, tapi tak urung juga dia menurutinya. Melakukan pembayaran untuk sejumlah makanan yang dipesan dengan mbanking miliknya.
"Sudah, tinggal menunggu." Dimitri menunjukan layar ponselnya.
"Oke."
"Jadi?"
"Apa?"
"Sambil menunggu, kenapa kita tidak teruskan dulu pacarannya?" pria itu merangkul tubuh Rania yang hampir telanjang. Dan naga ajaibnya pun sudah kembali menegang.
"Nggak mau!!" Rania malah menghindar. "Kan udah aku bilang mau makan dulu."
"Sambil menunggu, Zai."
"Nggak." dia membenahi pakaiannya, lalu turun dari tempat tidur.
"Tapi Zai."
"Pokoknya mau nunggu makanan dulu!!" dia berlari keluar dari kamar mereka, sementara Dimitri mendengus lalu memundukan kepala, manatap naga ajaibnya yang masih menegang, menunggu beraksi kembali.
"Hah!!!" lalu dia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan rasa kesal setengah mati.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
mau ketawa tapi kasihan ðŸ¤ðŸ¤
like komen sama hadianya lagi dong
lope-lope sekebon cabe 😂😘😘