All About You

All About You
Kunjungan Kedua



🌹


🌹


"Kami pamit bu, pak?" Maharani menganggukan kepala sesaat sebelum masuk kedalam mobil Dimitri, mereka berniat pulang ke Bandung setelah Rania menyelesaikan pemotretan terakhirnya pada lewat tengah hari itu.


"Iya, semoga selamat sampai tujuan. Padahal maunya kalian menginap satu malam lagi ya? tapi besok Dimitri harus bekerja." jawab Sofia, yang sedikit merasa berat hati karena harus berpisah lagi dengan putranya.


"Iya, saya juga harus mengurus anak-anak, kasihan papa mereka kalau ditinggal terlalu lama." Maharani sedikit terkekeh, membayangkan betapa repotnya sang suami ketika dia meninggalkannya dirumah hanya bersama ketiga anak mereka.


"Ah, iya. Para suami memang tidak bisa ditinggal lama-lama kan? tidak seperti mereka yang pergi bisa berminggu-minggu, seolah lupa sudah punya anak istri." Sofia mengamini.


"Betul Bu."


"Nah, Rania jangan lupa di pikirkan untuk tawaran iklan minuman kalengnya ya? kalau kamu deal, kita bisa langsung tanda tangan kontrak, dan minggu depan siap syuting."


"Iya, bu. Mau di bicarakan sama papa dulu." jawab Rania.


"Iya, semoga papa kamu setuju dengan yang satu ini ya?"


"Mudah-mudahan."


"Baik bu, kami pamit?" sela Maharani lagi, yang kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman. Diikuti Rania yang mencium punggung tangan Sofia, juga Satria yang baru saja muncul.


"Hati-hati di jalan." pria itu menepuk punggungnya pelan-pelan.


"Pergi dulu Mom, Pih." pamit Dimitri kemudian.


"Iya, hati-hati dan baik-baiklah disana." orang tua dan putranya itu saling berpelukan, kemudian mereka benar-benar pergi.


"Baiklah, sepertinya setelah ini kita harus bersiap untuk pernikahan, sayang." ucap Satria yang masih sama-sama menatap kepergian mereka hingga mobil yang dikendarai putranya menghilang dibalik gerbang.


"Begitu?" Sofia menoleh.


"Hmm... mereka sudah terlalu dekat. Aku khawatir akan terjadi sesuatu setelah ini."


"Apa tidak terlalu cepat? mereka belum lama berhubungan, lagipula Dimitri baru saja bekerja dan Rania sedang fokus dengan karirnya."


"Masalah pekerjaan bisa diatur, dan aku rasa dua-duanya bisa berjalan seiring waktu. Aku hanya merasa harus menyelamatkan apa yang harus diselamatkan."


"Kamu bicara begitu seperti anakmu sedamg dalam bahaya saja?" Sofia tergelak.


"Bukan Dimitri yang dalam bahaya, tapi Rania."


"Hum?"


"Dan bukan anak kita yang aku khawatirkan, tapi anak gadis orang."


"Masa? segawat itu?"


Satria menganggukan kepala.


"Apa mereka sudah melakukan sesuatu?" bola mata Sofia membulat sempurna.


"Tidak, maksudku untuk sekarang ini belum. Tapi aku khawatir itu akan terjadi nanti."


"Apa keadaannya segawat itu sehingga kita harus segera menikahkan mereka?"


"Tidak gawat juga, tapi apa salahnya jika kita melalukannya sekarang? toh hal baik harus di segerakan, bukan? apa lagi yang kita tunggu? sebentar lagi Dimitri memgambil alih Nikolai Grup secara penuh, dan pada saat itu telah tiba aku ingin dia sudah menikah. Jadi kita tenang membiarkannya menjalankan semuanya secara mandiri."


"Apa itu tidak akan mengganggu fokusnya? kamu tahu, pekerjaan mereka sama-sama membutuhkan fokus yang baik. Apalagi Dimitri jika benar dia akan mulai mengambil alih perusahaan secara penuh."


"Tidak, aku rasa itu lebih baik, karena akan ada orang yang menghentikannya dari hal buruk yang mungkin akan dia lakukan jika sendirian."


Sofia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jika keadaan sudah memungkinkan kita harus berkunjung kerumah Angga."


"Begitu ya?"


"Ya... lebih cepat lebih baik kan?"


"Tapi kita tanya dulu Dimitri, apa dia setuju atau tidak?"


"Dia pasti setuju."


"Tanya dulu, siapa tahu dia punya keinginan sendiri?"


"Baiklah, nanti kita tanya dia."


🌹


🌹


"Mama!!!" anak-anak berlarian keluar ketika mengetahui mobil Dimitri memasuki pekarangan rumah.


Mereka segera saja menghambur ke pelukan Maharani ketika perempuan itu baru saja turun dari mobil.


Perasaan kalau gue pulang habis balapan reaksi anak-anak nggak gitu deh? Angga membatin.


Memang ingatannya lagi-lagi dihantam keras saat melihat reaksi anak-anaknya yang begitu bahagia ketika tahu ibu merek pulang kerumah setelah hampir tiga hari pergi ke Jakarta.


"Kalian baik-baik aja?" Maharani memeluk mereka bersamaan.


"Mama perginya lama amat? kan nggak asik kalau mama nggak ada dirumah? semuanya aku kerjain sendirian." adu Rega kepadanya.


"Masa?" Maharani melirik ke arah suaminya yang berjalan mendekat.


"Kak Ega bohong, kan aku juga bantuin beres-beres." sergah Amel malakukan pembelaan.


"Aku juga bantuin." timpa Adel.


"Tapi mereka banyak mintanya, padahal aku udah bikin makanan. Tapi minta lagi minta lagi." Rega melanjutkam aduannya.


"Beneran?"


"Hu'um."


"Dikit mama." Adel membela diri.


"Dih, ... lebay. Baru ditinggalin ke Jakarta udah ngadu segitunya? apalagi ditinggalin ke Amerika?" Rania mencibir.


"Kakak nggak pernah ada yang ninggalin, semuanya diurusin." jawab Rega.


"Dih, sirik?" gadis itu mencibir lagi.


"Iyalah, dipikirnya anak mama papa tuh cuma kakak doang ya?" jawab Rega lagi.


"Hmm... manjaaaaangngng..." Rania menghambur kedalam rumah. Diikuti Dimitri yang membawakan tas berisi pakaiannya.


"Hai papa?" sapa Maharani kepada suaminya yang tampak menunggu di dekat mereka.


Angga hanya tersenyum.


"Kamu baik-baik saja selama aku tinggalkan? apa ada yang kalian bakar dirumah?" perempuan itu tergelak.


"Diamlah!" gumam Angga seraya menariknya ke pelukan, dan mendekapnya dengan erat.


Pertemuan itu berlangsung haru seolah mereka baru saja berpisah setelah sekian lama.


"Oh, ... kangennya." Angga berbisik, sementara Maharani hanya tertawa.


"Apa semuanya lancar? apa Rania baik-baik aja? terus Kenapa dia dengan tenangnya membawa Dimitri masuk kedalam rumah? apa kita sudah mengijinkan?"


"Bersikap baik apanya? mereka bahkan udah pacaran, dan sekarang dia berani datang kerumah ini." pria itu terus menggerutu.


Maharani tertawa lagi.


"Apa kamu nggak sedih waktu kita terpisah? aku merasa kesepian kamu tinggalin disini."


"Bukannya kamu yag menyuruh aku pergi mengantar Rania?" mereka mengurai pelukan.


"Aku pikir akan mudah, Tapi nyatanya ...


"Kenapa? apa mereka menyulitkan kamu? aku pikir anak-anak cukup mandiri untuk aku tinggalkan."


"Mereka memang mandiri. Tapi terlalu mandiri."


"Masa?"


"Ya, dan kamu mendidik mereka dengan baik, sehingga aku kelihatan nggak berguna sebagai papa mereka."


"Oh ya?" Maharani tertawa lagi.


"Ketawa terus? seneng ya, suaminya kelihatan nggak berguna di depan anak-anak?"


"Nggak begitu pa." lalu merekapun masuk kedalam rumah.


***


"Udah akrab aja dia sama anak-anak?" Angga menggerutu, melihat interaksi antara ketiga anaknya dengan Dimitri, yang asyik bermain bola di halaman belakang rumah mereka yang tidak terlalu luas, tapi cukup untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga. Sementara Rania pun asyik mengecek motornya tak jauh dari mereka.


"Kayaknya kita harus mulai membiasakan diri. Bukan hal yang nggak mungkin Dimitri akan berkunjung kesini setiap hari."


"Masa? emang hubungan mereka seserius itu ya?"


"Kayaknya gitu."


"Duh, ..." Angga merasakan seperti ada sesuatu yang direnggut paksa dari dirinya.


"Kenapa? kamu nggak suka sama dia?"


"Emangnya kamu suka?"


"Mmm... kalau bilang nggak suka, aku bohong. Dia baik, juga lumayan sopan. Dia berusaha berbaur dengan kita, dan itu penting."


"Cih, ...kedok doang."


"Ya, namanya usaha kan?"


"Kamu nggak tahu sih gimana dia." sergah Angga.


"Emangnya gimana? Dia nggak baik?"


"Ya, ... pokoknya aku tahu lah."


"Apa yang kamu tahu soal dia? ngobrol aja belum pernah selain soal kerjaan."


"Banyak lah, nggak perlu ngobrol secara pribadi juga, aku udah tahu watak cowok macam dia."


"Watak cowok macam dia? maksud kamu?"


"Laki-laki kayak kamu dulu gitu?"


Angga bungkam.


"Mama... Dimi nya mau pulang." Rania mengintetupsi percakapam kedua orang tuanya.


"Oh, ...


"Saya pamit, harus mempersiapkan untuk bekerja besok." ucap pria itu.


"Mmm... nggak makan dulu? saya sudah masak banyak." tawar Maharani, berbasa-basi.


"Tidak, terimakasih." tolak Dimitri, yang sekilas melirik kearah Angga.


"Gitu ya? ya udah."


Kemudian dia keluar dari dalam rumah, dengan Rania yang mengekorinya dari belakang.


"Kamu besok latihan atau ke bengkel?" Dimitri memutar tubuhnya saat dia sudah berada di dekat mobil.


"Ke bengkel kayaknya. Kenapa?"


"Nggak, cuma tanya." pria itu terkekeh.


"Dih, nggak penting."


Dimitri menatap wajahnya lekat-lekat.


"Apa? Jangan minta macam-macam, ini dirumah."


"Berarti kalau nggak dirumah boleh minta macam-macam?" Dimitri tersenyum miring.


"Apa?" Rania mengacungkan kepalan tangannya.


"Tidak, aku hanya bercanda." pria itu tertawa. "Lebih baik tidak meminta dilu kalau begitu. Sudah pasti akan dapat kan?"


"Hmmm... " Rania mendelik.


"Aku benar-benar harus pergi Zai, papamu terus mengintip dari tadi." Dimitri melirik jendela dimana Angga terlihat memperhatikan mereka sejak keluar dari dalam rumah.


"Masa?" Rania hampir saja menoleh.


"Tidak usah dilihat." Dimitri menarik wajahnya.


"Aku pergi oke?" sambungnya.


"Ya udah."


"Ketemu lagi besok?"


"Besok? mau apa?"


"Entahlah, mungkin makan bersama." pria itu masuk kedalam mobilnya.


"Baiklah... lihat aja besok."


"Oke." kemudian pria itupun pergi.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


no caption, klik like komen sama kirim hadiahnya aja yang banyak biar novel ini terus


naik.


lope lope sekebon 😘😘