All About You

All About You
Stranaya Devushka



🌹


🌹


"Jadwalku hari ini apa Cla?" Dimitri memasuki ruangannya pagi-pagi sekali. Tak biasanya, karena pemuda itu tiba lebih awal padahal jam kerja baru akan dimulai dua puluh menit lagi.


"Apa kamu masih mimpi?" Clarra balik bertanya.


"Ck!" pemuda itu berdecak.


"Nggak pulang kerumah ya?" Clarra mengarahkan telunjuknya pada wajah sepupunya itu sambil tersenyum.


"Nggak usah banyak tanya...


"Habis kamu di omel tante Fia. Ganti baju dimana?"


"Diamlah... aku kan sudah dewasa. Dimana saja bisa."


"Ini Bukan Moscow Dim...


"Aku tahu ..


"Setahuku kakek Nikolai menerapkan aturan yang ketat soal pergaulan. Tapi kenapa kamu tidak mempan ya?"


"Aku ini berjiwa bebas, nggak ada yang mampu mengekang kebebasan ini. Apalagi karena aku juga sudah dewasa, bukannya anak TK lagi."


"Coba kamu bilang gitu di depan Tante Fia atau Om Niko, ...berani nggak?" gadis itu mendekat.


Dimitri menghempaskan bokongnya dikursi kerja.


"Pasti nggak kan?"


"Terus karena aku berjiwa bebas aku juga harus berontak sama kedua orang tuaku gitu?"


"Ah, ... anak mama yang berjiwa bebas."


"Diamlah, kamu mulai cerewet."


"Sudah tugasku tahu...


"Tapi kamu terlalu cerewet."


"Semalam kamu tidur dimana?"


"Bukan urusanmu."


"Ke klub lagi ya? sama teman-teman kuliahmu?"


"Urus saja pekerjaanku Cla, nggak usah urus kehidupan pribadiku."


"Tapi itu jadi urusanku, karena tagihan kartu kreditmu masuk dalam laporan bulananku. Dan akan aku serahkan sama om Arfan juga nantinya sampai ke Om Satria. Dan Mereka akan bertanya-tanya dihabiskan untuk apa uang sebanyak itu. Dan pada saat mereka tahu habislah Kamu..."


"Sial... "


"Hhh... si anak mama yang berubah jadi Pria bebas." Clarra menatap layar macbooknya.


"Jadwalmu hari ini... pergi ke Bogor untuk memantau latihan di Sentul."


"Hah? aku?"


"Ya, ...


"Kenapa harus aku yang pergi?" tiba-tiba saja wajah gadis itu terbayang di pelupuk matanya.


"Kan kamu yang menandatangani kesepakatan kerjasamanya?"


"Terus aku yang harus mengawasi gadis itu?"


"Gadis?" Clarra mengerutkan dahi.


"Kamu nggak tahu ya, kalau pembalap yang kita sponsori itu seorang perempuan?"


"Oh ya? aku nggak merhatiin."


"Baca yang teliti bu sekertaris."


"Oh iya, Rania Khaira Yudistira. Namanya bagus."


"Ish, ... that stranaya devushka! (si gadis aneh!)" ucapnya saat wajah Rania kembali terbayang di kepalanya.


"Apa katamu?"


"Bisa digantikan orang lain nggak? staf yang lain gitu? aku malas ketemu dia."


"Nggak bisa. Udah jadi tugas kamu secara otomatis. Memangnya kenapa?"


"Aku malas ketemu dia."


"Iya alasannya kenapa?"


"Dia menyebalkan. Lagipula aku nggak yakin dia bisa membawa nama baik perusahaan. Mana yang dia pakai merk motor terkenal lagi, nggak yakin sama kemampuan dia."


"Kalau nggak yakin kenapa kamu tandatangani kontraknya? setahun itu lama lho."


"Aku cuma disuruh tanda tangan. Om Arfan bilang seperti itu."


"Hmm... kesepakatan yang aneh."


"Ya, sama seperti gadis itu. Aneh." Dimitri bangkit.


Clarra tertawa.


"Dimi... Dimi."


"Stop it Cla, don't call me like that!"


"Tapi aku suka memanggilmu seperti itu. It's cute." gadis itu tertawa lagi.


Dimitri mulai mengomel.


"Stop!! pergilah sekarang mumpung masih pagi Dimi!"


Pemuda itu memutar bola matanya, dan dia tampak sebal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kali Ini Dimitri menggunaka sopir kantor untuk mengendarai mobilnya, karena dia belum begitu mengenal tempat dan jalan yang dimaksud. Menjadikannya dapat memejamkan mata selama perjalanan hingga dia tiba tak lebih dari dua jam menempuh jarak Jakarta-Bogor. Cukup untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa lelah sisa pesta perpisahan semalam sebelum dua temannya kembali ke Moscow yang diakhiri pergumulan panas antara dirinya dan Irina.


Mereka berhenti di area parkir, dan langsung saja mendengar raungan mesin motor yang menggema di sirkuit.


"Hhh... berisik juga nih tempat." dia terbangun tak lama setelah mobil terparkir. Kemudian keluar setelah merapikan jasnya.


"Eh, berisikan dugem di klub deh." namun dia terkekeh kala teringat suara lain yang lebih berisik dari itu. Erangan Irina yang terus meneriakan namanya saat mereka bercinta.


"Pak Dimitri?" seorang kru yang mengenalinya datang menghampiri.


"Ya?"


"Saya dari Anggara Crew, ditugaskan untuk menjemput bapak."


"Ya, baiklah... "


"Mari lewat sini." dia menunjukan arahnya. Hingga setelah beberapa saat melewati lorong dan beberapa spot tiba juga dia di bangku penonton.


Sengaja, mereka menempatkannya di barisan bangku paling depan agar mampu melihat latihan tersebut dengan jelas.


"Mana gadis menyebalkan itu? dia belum datang?" pemuda itu bergumam, dan matanya dia edarkan ke seluruh area untuk mencari wajah yang dikenalinya.


Namun yang dia temukan hanya wajah Angga yang sibuk mengecek kuda besi berwarna merah mencolok yang nampak tangguh itu, dengan seseorang di dekatnya. Yang mengenakan pakaian khusus berwarna senada dengan motor di depannya, dan helm fullface yang menutupi kepalanya.


Orang itu terlihat menaiki motor tersebut, kemudian memacunya seperti yang dia lihat. Dengan kecepatan tinggi yang bertambah dalam beberpa detik saja, yang kemudian membawanya melesat membelah arena.


Motor tersebut tampak mengitari sirkuit, melewati tikungan, kelokan, dan sedikit tanjakan. Yang akhirnya tiba di garis finish yang berada di area datar dalam hitungan tak lebih dari dua menit saja.


Motor tersebut berhenti, kemudian berputar dan kembali ke arah Angga yang tampak menunggu dengan stopwatch ditangannya. Pria itu tampak kegirangan.


"Hmm... cukup mengesankan. Dan apakah kamu semengesankan itu Rania? sehingga kamu punya keberanian untuk ikut pertandingan seperti ini?" dia bergumam.


Namun di detik berikutnya gumaman itu berubah jadi raut terkejut. Mulut Dimitri bahkan terbuka saat melihat si penunggang Ducati Panigale V4r itu membuka helmnya.


Seraut wajah imut seperti bocah abege dengan rambut coklat kopi susu yang berkibar tertiup angin. Cahaya matahari yang terik pada hampir siang itu membuatnya tampak berpendar, Rania terlihat bagai peri yang baru saja turun kebumi. Dalam bentuk lain tentunya.


Gadis itu tersenyum riang saat Angga tampak tengah berbicara kepadanya. Sesekali dia tampak tergelak, walau sesaat kemudian wajahnya berubah serius.


Rania tampak kembali menghidupkan motornya, dan dia memutar gas dengan kencang. Membuat raungan garang mesin beroda dua itu kembali terdengar.


Asap terlihat keluar dari ban belakang yang tengah berputar kencang dalam kendali Rania.


Sebuah tangan tampak melambai-lambai di depan wajah Dimitri, menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.


"Ada setan lewat ya?" suara perempuan terdengar menginterupsi. Dan wajah Dygta sang kakak langsung mendominasi saat Dimitri menoleh.


"Kakak!!!" Amara merangkul pundaknya dari belakang, kemudian disusul empat keponakan lainnya yang segera menyerbu tempat duduk di belakangnya.


"Sedang apa kalian disini?" pemuda itu memutar tubuhnya. Tampak Arfan menyusul paling akhir, dengan dua buah totebag ditangannya dan bungkusan seperti kantung kresek besar di tangan lainnya. Dia tampak sangat kerepotan.


"Mau nonton yang latihan." Amara menaiki bangku kemudian duduk disampingnya.


"Terus kalian habis dari mana?"


"Dari Villa lah, ...


"Benarkah?" Dimitri menoleh kepada sang kakak yang langsung disibukan oleh ke empat anak kembarnya.


"Ya Om... " jawab Arkhan dan Anindita secara bersamaan.


"Ngapain di villa?"


"Ya liburan lah." kini Amara lagi yang menjawab.


"Memangnya kamu sudah liburan?" tanya Dimitri kepada Amara.


"Udah dong, kan aku udah ujian."


"Masa?"


"Hu'um..."


"Sebentar lagi lulus?"


"Iyalah."


"Udah punya pacar?"


"Belum."


"Masa? kan Ara sudah besar?" goda Dimitri.


"Nggak boleh, nanti di gorok Papa." bisik Amara di telinga pemuda itu.


"Ara... " namun dengan jelas di dengar Arfan yang sudah berada di belakang mereka.


"Bercanda Papa." gadis itu terkikik sambil menutup mulutnya.


"Jangan racuni Ara dengan gayamu Dim." Arfan memperingatkan.


"Cuma tanya Om." Dimitri tergelak, "Nggak diracuni juga nanti dia keracunan sendiri." gumamnya, kemudian dia tertawa lagi.


"Jaga bicaramu!" Dygta menepuk kepala adiknya dengan topi milik anaknya.


"Aduh, ... kakak jadi galak sejak punya anak empat." pemuda itu mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit.


"Kamu sengaja datang kesini untuk melihat latihannya?" Arfan bertanya.


"Iya, tugas dari Clarra."


"Tahu begitu kita tidak buru-buru kesini." sahut Dygta.


"Iya, padahal tadi aku masih mau renang." Arkhan menimpali.


"Papa sih buru-buru, padahal kan ada Om Dimi?" sambung Anindita.


"Ish... panggil nama orang sembarangan." pemuda itu menggerutu.


"Ya mana papa tahu, om kalian ini akan datang juga. Kalau tahu ya tidak mungkin kita kesini."


"Kan udah aku bilang telfon dulu, papa main pergi aja?" tukas Arkhan.


"Papa Kan...


"Ssstt... tidak usah ribut. Kita sudah sampai disini jadi nikmatilah..."


"Kakak udah lama?" Amara mengambil alih perhatian pemuda itu.


"Lumayan... " jawab Dimitri denga santai, dan pandangan kembali dia tujukan ke arena landasan di depan sana. Pada gadis berambut coklat kopi susu yang tengah menunggangi kuda besinya dengan tangguh. Rambutnya yang indah itu terus berkibar, dan itu terlihat sangat mempesona.


Kenapa ini rasanya sangat menyenangkan? batinnya. Namun kemudian dia mengerutkan dahi.


"Ish, ... stranaya... " dia menggelengkan kepala.


"Kakak langsung dari Jakarta?" tanya Amara lagi, dan dia memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Dimitri lebih jelas.


"Iyalah."


"Kenapa nggak telfon dulu? kan bisa sekalian dari kemarin, nginep dulu di resort." gadis itu menatap wajahnya lekat-lekat, yang selalu menghias malam-malamnya selama bertahun-tahun.


"Dadakan." pemuda itu masih menatap Rania di depan sana.


"Kakak Lihatin apa sih?" Amara menatap ke arah pandangan pemuda itu.


"Lihat yang latihan Ara."


"Serius amat?"


"Ya serius lah, ini bagian dari kerjaan kakak."


"Kalau udah kerja gitu enak ya? bisa pergi kemana aja. Nggak harus sama papa melulu?" gadis itu melirik kepada sang ayah di belakang.


"Begitulah, ...


"Aku keluar SMA tadinya mau langsung kerja aja, Tapinya nggak boleh sama papa. Katanya harus kuliah dulu."


"Ya memang. Lagipula kamu mau kerja apa?"


"Apa aja, asal bisa keluar dari rumah."


"Anak gadis nggak boleh sering-sering keluar dari rumah lho, bahaya." Dimitri mencondongkan tubuhnya ke arah samping dimana Amara berada. Dia tahu gadis itu begitu polos dan lugu, hasil dari penjagaan sang penjaga itu sendiri. Siapa lagi kalau bukan Arfan. Yang menjaganya seperti dia menjaga Dygta dulu. Begitu teratur, sistematis dan tentu saja ketat.


"Lebih bahaya kalau nggak keluar rumah. Jadi nggak tahu apa-apa."


"Ada internet. Kamu tinggal nonton di hape, semuanya bisa tahu."


"Tapi kalau laki-laki bebas ya?"


"Buat laki-laki nggak terlalu bahaya Ara, ...


"Ish, ... sama aja kakak!"


"Terserah Ara deh." Dimitri kembali mengerutkan dahi saat seseorang menghampiri Rania. Pemuda yang tampak seumuran dengannya, dan mereka terlihat sangat akrab.


Rania yampak berpegangan padanya sast dia turun dari motor besarnya.


"Ish, ... stranaya devushka!!" ucapnya dengan nada kesal.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...