
🌹
🌹
"Udah kesini lagi aja tuh anak? padahal baru kemarin datang." gumam Angga saat melihat mobil Dimitri memasuki halaman bengkelnya pada lewat tengah hari.
"Apaan sih?" Rania muncul dengan penampilan yang sudah rapi, versi Rania. Skinny jeans dan jaket kulit yang melapisi kaus ketat di dalamnya. Juga sepatu kets yang membungkus kakinya.
"Sekarang mau kemana lagi?" Angga bertanya.
"Ngajak Fitting."
"Ada aja acaranya?"
"Iyalah." jawab Rania yang kemudian keluar dari tempatnya sekarang ini.
"Sudah siap?" pria itu datang menghampiri.
"Udah. Kemana kita hari ini?"
"Ketemu mama dan kak Dygta."
"Oh, ... cuma mama sama kak Dygta?"
"Mungkin."
"Oke."
"Pergi dulu pak?" pamit Dimitri kepada Angga yang masih memperhatikan.
"Hmm... " pria itu hanya menjawab dengan gumaman, lalu kembali pada pekerjaannya. Memeriksa nota pembelian dan keluar masuk uang di bengkel miliknya.
Kemudian dua sejoli itu masuk kedalam mobil dan pergi dari area tersebut.
***
"Papamu sepertinya masih nggak suka aku." Dimitri menjalankan mobilnya menembus lalu lintas yang padat pada siang yang terik itu.
"Cuma perasaan kamu aja."
"Iya, perasaan dan kelihatannya." pria itu terkekeh.
"Nggak usah diambil hati. Sikap papa emang kuyak gitu sama semua orang, kecuali kalau udah akrab banget. Nanti juga nggak."
"Masa?"
"Iya. Papa tuh sebenarnya baik. Cuma wataknya emang cuek. Mama aku aja sering di cuekin." Rania bercerita.
"Sering di cuekin tapi anaknya banyak?" cibir Dimitri, kemudian tertawa.
"Emang apa hubungannya?" Rania menjengit.
"Nggak ada." pria itu tertawa lagi.
Tak lebih dari lima belas menit mereka sudah tiba di kawasan Braga, dimana terdapat banyak tempat hiburan dari kelas menengah hingga kelas atas dengan variasi penawaran suasana yang berbeda-beda. Kafe, restoran, dan beberapa tempat nongkrong anak muda terkenal lainnya.
Juga pusat Fashion dan gaya hidup setara dengan kota-kota besar di Eropa. Bahkan konon hal tersebut yang membuat Bandung di juluki juga sebagai Paris Van Java, karena merupakan pusat mode di Jawa Barat.
Gedung-gedung kafe dan pertokoan bergaya Eropa klasik tampak mendominasi sebagian besar area tersebut. Orang-orang dengan gaya modis berlalu-lalang di trotoar dan jalan-jalan yang tidak terlalu ramai dari kendaraan bermotor karena kawasan tersebut memang sebagian besarnya di desain untuk pejalan kaki.
Hanya kendaraan-kendaraan tertentu saja yang dapat melintas disana.
"Dim!" seorang perempuan paruh baya yang masih tampak cantik melambaikan tangan dari sebuah sudut kafe outdoor bergaya garden park yang asri.
Dimitri menarik lengan Rania menuju tempat tersebut, dimana Sofia dan Dygta berada, menikmati santap siang mereka.
"Ini kak Dygta." Dimitri mengenalkan sang kakak kepadanya. "Mommy nya Ara." katanya.
"Oh, ..." gadis itu menganggukan kepala.
Perempuan ini tampak masih muda, tapi sudah punya anak kuliah. Begitu pikirnya.
"Kalian sudah makan?" Sofia bertanya.
"Aku udah." jawab Rania.
"Aku juga, tadi di kantor." sahut Dimitri.
"Ya sudah. Kita pergi sekarang?"
"Tunggu Ara sebentar." ucap Dygta, yang kemudian melambaikan tangannya saat dia melihat putri sambungnya berlari kecil dari arah depan.
"Maaf mommy, aku terlambat. Tadi ada praktek desert yang susah banget. Tapi aku bisa dan dapat nila A." dia menunjuka selembar kertas dengan banyak tulisan dan nila A yang cukup besar di sudut bawahnya.
"Aaaa... bagus sekali!" Dygta bereaksi.
"Papa Ikut? aku mau nunjukin ini, pasti papa senang." katanya lagi, yang belum menyadari kehadiran Dimitri sebelum dirinya.
"Nggak Kak, papa masih di Jakarta. Mungkin lusa kesini."
"Oh, oke. Adik-adik?"
"Ikut abah panen sayuran."
"Ah. ...pasti bikin rusuh Mom."
"Memang, tadi nenek sudah menelfon. Mereka sedang ikut memanen tomat." sang ibu tertawa.
"Duh, Nanti tomat-tomatnya malah rusak."
"Tidak akan. Kalaupun iya bisa dibikin manisan atau saus. Nanti kamu yang bikin." sahut Sofia, lalu mereka tertawa.
"Kamu sudah makan? kalau belum kita pesan dulu."
"Belum lapar mom."
"Baiklah, sebaiknya kita cepat pergi, biar semuanya cepat selesai."
"Kita mau kemana?"
"Fitting baju pengantin, juga untuk pendamping biar sekalian."
"Baju pengantin?" Mara terperangah.
"Iya buat kak Dim." Sofia menyela.
"Mmm... " gadis itu baru menyadari kehadiran dua orang lainnya di sekitar.
Dimitri bahkan mengangkat tangannya sambil tersenyum. "Hai Ara?" katanya, yang baru bertemu lagi dengan gadis itu setelah terakhir kali dia melihat reaksi mengejutkannya ketika mendengar kabar rencana pernikahannya.
"Oh, hai kak." jawab Amara, tiba-tiba saja menjadi lesu. Menyadari kehadiran pasangan ini akan membuat suasana hari itu menjadi tidak sama lagi.
"Jadi, ayo kita pergi?" ucap Sofia seraya bangkit dari kursinya.
Dan merekapun pergi ke sebuah butik yang cukup terkenal di area itu. Tempat dimana pakaian dengan merk terkenal dan desain eksklusif berada.
"Cece!!!" Sofia menghambur memeluk seorang perempuan yang tampak lebih tua darinya, namun masih tetap terlihat cantik di usia senjanya.
"Kalian datang." jawab Cece.
"Ini pengantinnya," Sofia mengenalkan Dimitri dan Rania kepada sahabatnya itu, yang merupakan pemilik dari butik terkenal tersebut.
"Oh, ...kalian. Untung ada desain baru-baru ini selesai, jadi bisa sekalian di coba. Ayo." katanya, tanpa basa-basi. Menarik pasangan tersebut ke ruang ganti bersama dua orang pegawainya.
"Lagian, nikahan dadakan amat sih, kayak di kejar waktu deh?" gumam Cece.
***
Dia membenahi jasnya, mencoba mencari kekurangannya agar bisa segera di sesuaikan, dan disaat yang bersamaan muncul Rania dengan kebaya pengantin berwarna senada.
Kebaya semi modern dengan potongan dada rendah, sangat pas melekat di tubuh mungilnya. Membentuk lekuk tubuhnya yang jarang terekspose dibalik jaket kulit berwarna hitam yang tidak pernah dia lepaskan kemanapun pergi.
"Mmm...
Rania berjalan canggung, sambil menutupi bagian dadanya yang sedikit terlalu rendah, membuat bagian atas *********** sedikit menyembul. Dia menatap dirinya di cermin, persis disamping Dimitri yang membeku.
"Kayaknya ininya terlalu terbuka deh." katanya, yang menutupi dada atasnya dengan tangan, namun masih mengagumi penampilannya sendiri. Ini pertama kalinya dia memakai pakaian perempuan yang benar-benar menonjolkan sisi feminmnya.
"Ini bagus, ditarik sedikit aja." ucap Cece seraya membenahi kebaya tersebut keatas. Namun tetap saja malah semakin membuat Rania terlihat mempesona.
"Cantik." gumam Dimitri yang hampir tak mengedipkan mata. Pertama kali sejak mereka bertemu melihat gadis itu dalam penampilannya yang berbeda.
"Iyalah, tapi ini belum seberapa. Nanti make upnya kayak gini, rambutnya gini, dan aksesorisnya... " Cece menunjuk beberapa titik yang dalam imajinasinya akan dia tata sedemikian rupa.
Kemudian pasangan tersebut mencoba pakaian lainnya. Gaun pengantin berwarna coklat keemasan bertabur permata di bagian dada. Dengan pundak dan punggung yang terbuka. Serasi denga jas untuk Dimitri dengan warna yang hampir sama.
"Untuk pengiring pengantin dan yang lainnya juga, bisa diatur nanti. Yang penting konsepnya udah kita dapat ya kan?"
"Ara mau coba?" Sofia menoleh kepada gadis yang sedari tadi asyik menenggelamkan pikirannya pada layar ponsel. Mencoba mengalihkan perhatian dari pemandangan menyesakan di depan sana. Dimana pasangan itu yang tengah saling mengagumi satu sama lainnya. Terutama Dimitri, yang tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Rania yang tampak canggung dan malu-malu.
"Ara?" panggil Sofia lagi.
"Iya Mom?"
"Mau coba gaunnya?" Dygta menunjukan sebuah gaun anggun selutut berwarna coklat keemasan, hampir sama seprti milik pengantin, namun tanpa taburan permata di bagian depannya.
"Emang harus ya?"
"Coba dulu Kak." jawab Dygta.
"Baiklah." Amara bangkit dengan malas. Kemudian dia menyambar gaun tersebut dan mencobanya di ruang ganti.
"Nah, bagus juga kan?" ucap Sofia. "Uuhhh.. kamu cantik sayang!" kayanya.
Amara hanya menarik satu sudut bibirnya kesamping, mencoba untuk tersenyum. Nmun matanya tetap melirik ke arah sana, dimana Dimitri dan Rania masih saling mengagumi penampilannya masing-masing.
Kalau sudah begini, jelas tak ada celah. Dan dirinya tak lagi memiliki kesempatan untuk kembali merebut hati kak Dim nya.
"Hufftthh... " dia menghembuskan napasnya dengan keras.
"Habis ini kita kemana lagi?" mereka telah menyelesaikan urusannya.
"Aku mau pulang aja." ucap Amara dengan lesu. Saat ini, rumah sepertinya menjadi pilihan paling baik untuk dirinya.
"Ahh, nggak asik. Kenapa kita nggak ke mall dulu?" sahut Dygta.
"Ngapain?"
"Nonton atau apalah?"
"Mau nonton apa? kartun?"
"Kartun sepertinya bagus kak?" perempuan itu tertawa.
"Nggak asik." gerutu Amara.
"Ah, ... kamu yang mulai nggak asik."
"Aku capek mom."
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang?" akhirnya Dygta mengalah, dan Sofia menyetujui.
"Dimitri?"
"Kalian duluan saja lah, aku menunggu Rania ganti baju." jawab Dimitri yang keluar dari ruang ganti setelah berganti pakaian.
Ketiga perempuan itu akhirnya pun pergi.
***
"Apa kamu belum selesai Zai?" Dimitri menatap ke kamar pas dimana Rania mengganti pakaiannya. Namun dia tak juga keluar setelah beberapa lama.
"Zai?" pria itu bangkit dan mendekat.
"Ee... aku... " Rania menyembulkan kepalamya Dari balik tirai.
"Kenapa?"
"Anu, ... itu..
"Apa?"
"Sletingnya susah dibuka." ucap Rania dengan ragu-ragu.
"Apanya?"
"Sleting." gadis itu membuka tirai kemudian memutar tubuhnya sehingga membelakangi Dimitri. Sambil menaikan rambutnya keatas, sehingga menampilkan pundak dan punggung bagian atasnya yang terbuka.
"Mm..
"Aku tarik gini tadi susah." Rania mencoba menariknya lagi.
Dimitri melihat sekeliling. Tampak para pegawai butik sedang sibuk melayani pengunjung, dan Cece tidak terlihat di sekitar. Lalu dia menghembuskan napasnya dengan keras, satu lagi godaan berat lainnya sebelum halal.
Duh...
"Dim!! tolong bukain!" rengek Rania dari dalam kamar pas. Terdengar seperti sebuah undangan baginya.
Kemudian pria itu datang menghampirinya. Dengan cepat menutup tirai dan melakukan apa yang diminta gadis itu.
Dia mencoba menurunkan relsleting yang memang agak sulit di buka. Namun setelah beberapa kali percobaan akhirnya benda tersebut terbuka juga.
"Tersangkut Zai." ucap Dimitri yang melepaskan beberapa benang yang saling terlilit.
"Pantesan. Nanti harus di bilangin sama ..." Rania menahan napas saat merasakan sentuhan lembut di punggungnya.
Dimitri menelusuri tulang belakangnya dari atas ke bawah dengan gerakan selembut mungkin.
"Mm... a-aku, ... kayaknya mau ganti baju dulu." Rania tergagap, kemudian dia memutar tubuh, dan berusaha menjauh di dalam ruangan berukuran hanya 2x2 meter itu.
Namun Dimitri malah terus mendekat, dan dengan cepat mendorong gadis itu hingga punggung terbukanya membentur dinding kamar pas. Dia mengurung tubuh kecil Rania diantara dinding dan tubuh tingginya. Lalu di detik berikutnya Dimitri menundukam wajah sehingga bibir mereka bertabrakan, dan segera saja dia memagutnya dengan penuh perasaan.
Rania menggumam dalam cumbuannya, dan setelah beberapa saat dia membalas ciuman yang tengah berlangsung. Mereka saling mengecap dan menyesap belahan lembut masing-masing yang terasa begitu lembut dan memabukan.
"Kamu beruntung, ini di butik seseorang." Dimitri melepaskan cumbuannya, namun menempelkan kening mereka berdua. Dengan napas yang menderu-deru dia menatap wajah Rania dalam jarak begitu dekat.
"Dan aku beruntung, pernikahan kita hanya tinggal beberapa hari lagi. Siksaan ini akan segera berakhir sebentar lagi." lanjutnya, dan dia mengecup bibir basah milik Rania beberapa kali.
"Cepat ganti bajumu, dan kita pulang. Terlalu lama bersama membuat aku semakin tersiksa, Zai." katanya lagi, kemudian dia keluar.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Duh?
Ayo... gasskeun!!! kirim like, komen sama hadiah yang banyak.
lope lope sekebon cabe 😘😘