All About You

All About You
Permintaan Rania



🌹


🌹


Dimitri mencoba untuk bersikap acuh, ketika memperhatikan para karyawan yang berada satu lift dengannya tampak berbisik-bisik di belakang. Hal itu dia lihat dari pantulan dinding lift yang mengkilat.


Ini pasti karena aroma parfumnya yang tak seperti biasanya. Pasalnya pagi itu memang dirinya tak memakai parfum miliknya, melainkam parfum milik Rania yang beraroma lembut dengan campuran sedikit manis dan girly. Belum lagi semua sabun dan shampo miliknya, dan apapun yang beraroma maskulin sudah Rania buang tanpa sepengetahuannya. Jadilah dirinya harus menggunakan semua peralatan mandi dan kebutuhan pribadi milik Rania karena perempuan itu tak bisa mencium bau maskulin yang akan membuatnya mual setengah mati.


"Ada apa denganmu ini? pagi-pagi sudah cemberut?" Arfan yang masih harus menyelesaikan pekerjaan terakhirnya hingga akhir bulan itu mengamati adik iparnya sejak dia tiba di ruang kerja.


Dimitri hanya mendelik. Percuma juga dia bicara karena sudah bisa dipastika siapapun yang diajaknya bicara mengenai masalah ini akan mendukung apa yang sedang Rania alami.


"Apalagi yang Rania lakukan sehingga membuatmu se cemberut ini?" tanya Andra yang muncul beberapa saat kemudian berbatengan dengan Clarra.


"Rania?" sahut Arfan.


"Apa dia minta ayam geprek di tengah malam? atau capucino cincau diwaktu subuh?" Clarra menimpali.


"Apa?" kemudian Arfan tertawa.


"Lebih parah dari itu." akhirnya Dimitri pun buka suara.


"Dia minta apa sekarang?"


"Hhh ... akhirnya aku merasa lebih baik dia meminta dibelikan makanan itu dari pada harus seperti ini." pria itu menjatuhkan bokongnya diatas kursi.


"Memangnya apa yang dia lakukan?" Arfan ikut bertanya.


"Tunggu sebentar, apa kalian mencium aroma wangi yang lain?" Clarra kengendus area di dekatnya. "Wanginya sangat lembut, dan ... manis. Apa bapak memakai parfum kak Dygta?"


"Apa? tidak mungkin. Aku memang menyukai wanginya tapi tidak mungkin juga akan memakainya. Mau ditaruh dimana wibawaku ini? cukup waktu anak ini di dalam kandungan saja merepotkan aku seperti itu." katanya seraya menyentakan kepalanya ke pada Dimitri.


"Apa?" Clarra dan Andra tertawa.


"Kalian tahu, dia sangat merepotkan sewaktu masih dalam kandungan ibunya." Arfan setengah berbisik.


"Hey, aku masih dengar ya?" Dimitri bereaksi.


"Kalau bukan bapak, lalu siapa?" tanya Clarra.


"Memangnya bukan kamu ya?" Arfan balik bertanya.


"Saya tidak memakai parfum dengan wangi ini." gadis itu menjawab lagi.


"Lalu ...


"Aku!" Dimitri bergumam.


"Apa?"


"Mungkin itu wangiku."


"Hah?"


"Sejak semalam Rania memintaku memakai semua hal yang dia pakai, dia bilang aku bau padahal sudah mandi. Dia bahkan menyuruhku mandi lagi dan menggunakan sabun dan shampo miliknya. Dan tebak, pagi ini bagaimana kelakuannya?"


Tiga orang di depannya menggelengkan kepala.


"Dia membuang semua peralatan pribadiku hingga tidak ada yang tersisa, dan aku terpaksa harus menggunakan miliknya." pria itu mendelik.


"Apa?" Arfan dan Clarra saling pandang kemudian mereka tertawa bersamaan, begitu juga Andra.


"Ish, senangnya kalian!" Dimitri bersungut-sungut.


"Tidak usah marah-marah, Dim. Paling ini hanya berlangsung sebentar saja." ucap Arfan kemudian.


"Benarkah? berapa lama?"


"Paling tidak tiga bulan."


"What?"


"Nikmati saja. Anak kalian sedang balas dendam saat ini." Arfan sedikit mengejek.


"Balas dendam apanya?"


"Karena ketidak pekaanmu sebagai suami." Clarra menjawab.


"Apa hubungannya?"


"Kemarin kemarin kamu nggak mau menuruti keinginannya, sehingga dia memendam semua. Dan seperti inilah akibatnya." ucap Clarra lagi.


"Haaahhh, ..." pria itu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kenapa harus ada acara seperti ini sih? bukannya aku tidak bersyukur dengan kehamilannya. Tapi kenapa harus serumit ini. Unbelievable!" keluhnya.


"Ini lebih ringan daripada apa yang papimu alami ketika mamamu mengandungmu, tahu?"


"Aku tahu, seluruh gedung harus memakai parfum yang sama dengan mama." jawab Dimitri.


"Benarkah?"


"Bukan cuma itu, kehamilan mamamu mnyusahkan semua orang, terutama kakak iparmu ini." Arfan menunjuk dirinya sendiri.


"Selain harus memakai parfum yang sama dengan mamamu, papimu sangat memusuhi om, bayangkan kamu harus bekerja dengan orang yang memusuhimu? kamu pikir bagaimana rasanya?"


"Jangan mengeluh terus, kamu akan merasa terbebani. Tapi nikmati saja, ini juga karenamu kan? bayangkan perjuangan dia akan lebih keras nanti di saat melahirkan. Lebih dari sekedar meminta makanan atau hal aneh lainnya. Ada dua nyawa yang dia perjuangkan, dan nyawanya sendiri yang dia pertaruhkan demi anak kalian." Arfan dengan penjelasannya.


"Kamu dengar itu bapak Dimitri? mau menyangkal lagi? ini bukan pembelaan untuk Rania lho, tapi penggambaran secara umum. Iyakan pak?" Clarra menimpali.


"Itu Clarra lebih mengerti. Padahal dia belum menikah, belum punya pengalaman hamil atau melahirkan juga."


"Hanya baca di internet pak."


"Tapi bagus, pengetahuanmu jadinya luas, dan kamu tidak akan menganggap sepele pada apa yang orang lain alami. Karena hamil dan melahirkan itu bukan hanya soal memberikan keturunan kepada pasanganmu, tapi lebih dari itu. Bagus Cla."


Gadis itu tersenyum, sementara Dimitri hanya terdiam.


"Baklah, bukankah hari ini kita ada pertemuan diluar?" Arfan mengalihkan pembicaraan.


"Ya pak. Dengan pihak pengembang dari perumahan yang baru. Dan Dimitri dengan orang dari pabrik makanan instan." Clarra memeriksa jadwal yang sudah dia tentukan sejak semalam.


"Baik, ayo kita selesaikan hari ini? kamu dengar itu Dim?"


"Ya om."


"Ayo, ... semangatlah. Tidak boleh seperti ini." Arfan meyemangatinya.


"Yeah, ... baiklah."


"Ish, kamu ini? sudah kehilangan baru nanti terasa."


"Jangan berkata begitu om."


"Hanya memperingatkan. Jangan sampai ketika dia sudah tak menginginkanmu, kamu malah ingin dia meminta banyak hak kepadamu."


Dimitri kembali terdiam, dia ingat dengan yang satu itu.


"Hmmm ...


"Ayolah kita bekerja, harus lebih semangat lagi, karena kamu sendirian mulai awal bulan depan."


"Baik om."


🌹


🌹


"Terimakasih, senang sekali bekerja sama denganmu, semoga ini tidak berlangsung sementara." mereka bersalaman setelah sama-sama sepakat dengan perjanjian kerja antar perusahaan.


"Yeah, aku juga, Ren. Semoga hasilnya memuaskan."


"Kamu tahu, anak-anak di kelas kita dulu akan mengadakan reuni, kau mau ikut?" Reno, anak pemilik pabrik yang juga merupakan teman sekelas Dimitri sebelum sekolah di Rusia.


"Benarkah?"


"Ayolah, sepertinya akan seru. Yang lain sudah pasti akan ikut, hanya kamu yang sulit dihubungi. Kalau hari ini kita tidak bertemu mungkin aku tidak tahu jika itu benar kamu, Dim."


"Kapan?"


"Lusa."


"Dadakan sekali?"


"Memang. Karena sebagian anak-anak juga dari luar kota."


"Entahlah, apa aku bisa."


"Bisa, bawa saja istri pembalapmu itu, kalau kamu takut dia akan marah jika ditinggal pergi." Reno tertawa.


"Kamu ini!" Dimitri meninju pundaknya, dan dia pun ikut tertawa. "Bukan begitu tahu? tapi baiklah, akan aku pikirkan nanti."


"Jangan hanya dipikirkan, tapi datang Dim."


"Baiklah, baik. Akan aku usahakan, berdoa saja istriku mengijinkan. Karena akhir-akhir ini moodnya sedang kurang stabil."


"Begitulah perempuan, makanya aku tidak mau menikah dulu, apalagi dengan yang usianya lebih muda. Mereka manja dan merepotkan." Reno tertawa lagi.


"Baiklah ...


"Kita bertemu lagi di reuni nanti ya?" mereka kembali bersalaman.


"Yeah, ... semoga bisa."


"Harus bisa, karena akan seru nantinya."


"Sudah aku katakan akan aku usahakan."


"Baiklah, aku tunggu usahamu." ucap Reno lagi, kemudian mereka berpisah.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


ada apakah di reuni nanti?


like komen sama hadiahnya seperti biasa oke?


lope lope sekebon cabe 😘😘