All About You

All About You
Insiden



🌹


🌹


"Tiga minggu, Ran." Angga melipat kedua tangannya di dada, setelah mendengarkan penjelasan dokter kandungan saat putrinya menjalani pemeriksaan lanjutan beberapa saat yang lalu.


"Kamu tahu nggak, kalau ini sangat berbahaya? berbahaya buat diri kamu sendiri. Masa hamil ikut balapan?" lanjut Angga, dan semua orang yang ada di ruangan itu terdiam.


Sedangkan Rania terus menatap dua foto hasil USG kandungannya yang masih berupa titik-titik hitam yang tak begitu jelas. Bersama Dimitri di sampingnya yang tak pernah melepaskan tangan dari pundaknya.


"Itu dua janin lho, kamu berani menantang maut padahal di dalam perut kamu ada dua janin. Dimana sih pikiran kamu?" Angga terus berbicara. Dia tak habis pikir dengan tindakan putrinya.


"Aku cuma mau beresin musim ini aja, pah. Setelah itu, udah." Rania menjawab.


"Udah, karena ketahuan hamil. Kalau nggak ya diterusin." sergah Angga dengan nada kesal.


"Aku ... cuma nggak mau bikin papa kecewa."


"Kecewa? jelas papa kecewa."


Semua orang menatap Angga secara serentak. Sofia bahkan sudah membuka mulutnya untuk menjawab semua perkataan besannya tersebut, namun Satria meremat tangan perempuan itu untuk menahannya.


Angga mendekat, kemudian duduk di tepi ranjang.


"Papa kecewa, kenapa nggak menyadari tanda-tanda itu? kamu yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur, makan buah-buahan. Dan lebih manja dari biasanya. Papa kecewa karena nggak terlalu peka dengan keadaan kamu. Seharusnya papa tahu, sehingga papa bisa melarang kamu ikut balapan lagi, apalagi keadaan di lintasan sekarang benar-benar membahayakan. Bisa gila papa kalau terjadi sesuatu sama kamu."


Rania kembali terdiam.


"Kamu juga." pria itu kini beralih kepada menantunya.


"Kamu sudah tahu Rania hamil sebelum berangkat ke sini?" dia bertanya.


"Tahu." Dimitri menjawab.


"Terus kenapa kamu biarin istri kamu pergi? bukannya dilarang?"


Sofia kembali bereaksi, dia merasa tak terima sang besan mengomeli putranya di depan matanya. Namun lagi-lagi Satria menahannya. Perempuan itu sempat menoleh dan melihat suaminya menggelengkan kepala.


Sementara Dimitri hanya terdiam, dia bingung harus memberikan jawaban seperti apa karena jawaban apapun sepertinya tidak akan merubah pandangan Angga kepada dirinya.


"Aku takut papa marah, makanya aku nggak bilang. Aku juga minta Dimi nggak bilang biar aku tetep bisa balapan. Karena kalau nggak, pasti papa marah sama dia." akhirnya Rania yang menjawab.


"Marah? orang gila macam apa yang marah waktu tahu anaknya hamil? memangnya papa ini sinting apa?"


"Masa?" Rania kini berani mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sang ayah.


"Yang membuat papa marah atau kecewa bukan karena kamu hamil, tapi ketidak jujuran kamu tentang keadaan kamu. Ini bahaya, Rania! kamu membahayakan cucu papa!" pria itu kemudian menghembuskan napasnya seolah dia merasa begitu lega.


"Hanya keajaiban yang bisa melindungi kamu sehebat ini. Mana ada, yang jatuh kayak kamu masih selamat kayak gini? herannya cuma lecet-lecet doang lagi?"


"Selamat, Dim. Kamu akan menjadi ayah. Mulai sekarang harus bisa menjaga dia yang keras kepala ini lebih ekstra lagi. Jagan biarkan keras kepalanya ini menguasai kamu." ucap Angga kepada Dimitri, dan kini suaranya lebih tenang dari biasanya. Membuat sang menantu mendongak dengan rasa terkejut.


"Ya sudah, papa mau mengurus kasus kemarin. Ini harus cepat di selesaikan biar nggak berlarut-larut." Angga bangkit dari duduknya.


"Kasus?"


"Kamu nggak nyadar ya, penyebab kamu jatuh itu apa? kalau pembalap dari Itali itu nggak nendang motor kamu, nggak mungkin kamu bisa jatuh."


"Ditendang?" kini Satria bereaksi.


"Ya." Angga memutar tubuh. "Galang sedang mengumpulkan bukti, dan kita sudah melayangkan protes. Semua selebrasi ditunda sampai ada kepastian, walau jelas Rania melewati garis finish terlebih dulu waktu dia terguling."


"Ada yang bermain curang? padahal ini ajang internasional?" sambung Sofia.


"Akan selalu ada pihak yang tidak sportif di ajang manapun, sekalipun di ajang bergengsi seperti ini. Apalagi melihat Rania sebagai pembalap baru, tentu ada pihak yang merasa terancam."


"Kamu sudah tahu dari awal?" Satria bertanya.


"Di beberapa balapan terakhir lebih jelas, pak."


"Sudah lapor federasi?"


Angga menggelengkan kepala.


"Kenapa tidak lapor? hal seperti ini tidak boleh dibiarkan."


"Kita harus punya bukti yang cukup untuk melapor. Karena pada beberapa kasus, kecurangan halus seperti ini dimaklumi sebagai insiden biasa dilintasan. Meski jatuh korban nyawa sekalipun." Angga menjelaskan.


"Kita tidak bisa membedakan antara kecurangan atau insiden, karena memang sulit melihatnya juga, makanya harus ada penyelidikan dan bukti yang banyak." lanjut pria itu.


Terdengar suara pintu diketuk, lalu terdorong dari luar, dan sosok Galang yang muncul setelahnya.


"Maaf Om, ..


"Om mau kita lapor sekarang?" ujar pemuda itu diambang pintu.


"Sudah dapat bukti?"


"Lengkap om."


"Baik, hubungi penerjemah dan beberapa orang. Kita akan lapor ke federasi." Angga beranjak.


"Macem-macemin anak gue, mati mereka semua!" pria itu terdengar menggeram.


"Kalian tunggu disini, papi akan ikut Angga." Satria pun bangkit.


"Apa aku juga harus ikut?" Dimitri hampir mengikuti sang ayah.


"Tidak usah, kamu disini saja. Biarkan kami yang mengurus masalah ini." ucap Satria, yang kemudian segera mengejar besannya yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lebih baik, kita adakan konferensi pers dan segera melakukan selebrasi, ketimbang mengurusi hal tidak penting seperti ini." penerjemah menerangkan ucapan beberapa orang di forum FIM, federasi yang menaungi balapan motor dunia. Termasuk empat manager dan promotor dari empat pembalap yang disinyalir melakukan pelanggaran di balapan kemarin. Pertemuan itu dilakukan di area sirkuit pada sore hari.


"Keadaan seperti ini masih memikirkan selebrasi? dimana pikiran mereka?" Angga menggerutu.


"Kecelakaan di lintasan itu hal biasa. Bayangkan saja, 30 pembalap melesat dalam waktu yang bersamaan dan masing-masing dari mereka berjarak tidak lebih dari 30 senti saja antara satu sama lainnya." manager pembalap Itali membela diri.


"Ya, kalau pembalap lain yang mengalaminya bisa dikatakam begitu, tapi kalau pembalap sendiri yang mengalaminya?" sergah Angga.


"Mr. Anggara, kita harus objektif dalam hal ini, tidak bisa begitu saja melayangkan tuduhan." ketua federasi menanggapi.


"Objektif? silahkan anda lihat rekaman cctv, saya yakin setelah ini tidak akan ada yang mengatakan bahwa kita harus objektif." pria itu mengisyaratkan kepada Galang dan anggota crew lainnya untuk menunjukan bukti yang mereka miliki lewat proyektor yang tersedia.


Dimana ketika Rania hampir saja mencapai garis finish, pembalap dibelakang yang berhasil dia susul mengulurkan kakiknya dengan cepat hingga menyentuh bagian belakang motor perempuan itu. Dan menyebabkannya tergelincir beberapa detik kemudian.


Lalu manager dari Itali berbicara.


"Itu hanya refleks, saat motor pembalap anda berjarak terlalu dekat dengan pembalap kami, dia tidak sengaja melakukannya." belanya.


"Tapi ini hampir finish." sergah Angga.


"Semuanya kebetulan saja terjadi. Kami minta maaf dengan kejadian ini, tapi sebaiknya kita tidak memperpanjang masalah ini. Lagi pula Rania finish di urutan pertama 'kan? apa itu tidak cukup?" si penerjemah menyampaikan ucapan dari manager lainnya.


"Anda pikir jadi finish di urutan pertama itu cukup untuk saya? sayangnya tidak sama sekali, karena terjadi kecurangan di dalamnya." Angga menjawab.


"Mr. Anggara! jangan menuduh tanpa bukti. Anda bisa kami tuntut karena tuduhan sembarangan kepada pembalap kami."


"Apa ini bukan bukti?" Galang kembali memutar rekaman lainnya, dimana empat pembalap mengapit Rania dari depan dan belakang, seolah memagari pergerakan perempuan itu.


"Itu biasa, persaingan di lintasan memang seperti itu, kita tidak bisa menghindari hal tersebut. Apa anda tidak tahu itu, Mr. Anggara?"


"Oh, ... kami lupa, pembalap anda kan baru di lintasan internasional, jadi belum tahu hal seperti ini sering terjadi ya?" yang lainnya menambahi.


"Empat balapan terakhir, dan pembalap saya mengalami hal yang sama? saya rasa itu bukan sebuah kebetulan." jawab Angga lagi.


"Mr. Anggara, ... persaingam dan kecelakaan itu biasa di lintasan manapun. Jika kita mengangggap semua kejadian sebagai kecurangan, lantas apa yang bisa dijadikan acuan bagi pembalap kita? kita tidak bisa berhati-hati dalam hal ini, segala yang terjadi tidak bisa kita hindari. Semuanya sudah resikonya. Kalau tidak bisa menerima itu, saya sarankan anda menyuruh pembalap anda berhenti saja. Karena nyali saja tida cukup disini, kita butuh sportifitas juga untuk menerima setiap insiden yang terjadi."


Angga mengetatkan rahangnya, bahkan beberapa bukti lengkap pun telah mereka tunjukan, namun tak ada satupun yang melihatnya sebagai kecurangan.


"Jadi, ... kita sudahi saja masalah ini. Semuanya insiden biasa dalam lintasan, dan kami minta maaf jika hal itu mengganggu anda. Tapi kami yakinkan tidak ada satupun kecurangan di dalamnya."


"Kalian ini buta ya?" pria itu bangkit dari tempat duduknya.


"Insiden, Mr. Anggara, hanya insiden." ucap manager Itali lagi.


"Jelas-jelas mereka berempat mengurung pembalap saya, dan diakhir anda semua melihat nagaimana dia menjejakan kakinya di motor. Dan kalian masih menyebutnya sebagai insiden biasa? sulit dipercaya!" Angga menggelengkan kepala.


"Anda sebaiknya fokus pada pemulihan Rania, dan memulihkan mentalnya agar tak memandang hal ini sebagai kecurangan."


"Mental anak saya baik-baik saja, dia bahkan tidak merasa takut sedikitpun setelah kejadian ini. Justru mental anda semua yang harus di perbaiki." Angga melemparkan beberapa kopian bukti yang dimilikinya keatas meja.


"Permisi!" katanya, yang kemudian segera keluar meninggalkan tempat tersebut.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Selamat hari Senin, ingat dong ritualnya apa? like, komen, kirim hadiah yang banyak, juga vote.


lope lope sekebon cabe.😘😘