
🌹
🌹
Rania masih betah duduk di sofa ruang tengah, menunggu kabar yang belum tentu mereka terima hari itu, atau hari-hari lainnya. Sementara yang lainnya tetap melakukan kontak dengan siapa pun yang memungkinkan untuk bisa di mintai bantuan. Walau harapannya kecil, namun berusaha mereka pertahankan demi mengenyahkan keputus asaan.
Segala cara di tempuh, semua pihak di mintai bantuan, dan segala hal di lakukan untuk mencari keberadaan pesawat yang di tumpangi Dimitri.
"Istirahatlah, ..." Angga kembali membujuknya, walau dia tahu itu tidak akan berhasil, sama seperti beberapa saat sebelumnya.
Rania bergeming, dia masih tetap menunggu kabar dan kemungkinan terburuknya.
"Atau se nggaknya kamu makan, dari pagi kamu belum makan. Apa kamu nggak lapar?" ucap Angga, namun Rania menggelengkan kepala. Jangankan makan, perasannya pun kini tak menentu. Dan dia merasa sedang tidak baik-baik saja.
"Badai di Samudera Hindia, tapi mereka hilang kontak di Laut Jawa?" Arfan bergumam, dan dia menatap layar televisi yang menayangkan berita tentang menghilangnya pesawat yang di tumpangi oleh Dimitri dan Andra.
Tampak tim SAR dan polisi laut yang tengah menyisir wilayah perairan dimana titik koordinat terakhir pesawat terdeteksi. Hingga Anfkatan lautpun ikut di turunkan untuk memaksimalkan proses pencarian.
"Apa ada kemungkinan pesawatnya di bajak?" Satria buka suara.
"Tidak mungkin. Karena jika itu terjadi, kurang dari lima jam saja pelakunya akan mengabari dan meminta tebusan." sanggah Arfan dengan matanya yang masih fokus pada layar televisi.
"Jatuh dan tenggelam?" sahut Angga, yang membuat semua orang memalingkan pandangan kepadanya.
"Hanya mengira-ngira. Di tempat seperti itu apa saja bisa terjadi, bukan?" katanya lagi.
"N-33 itu canggi, di lengkapi peralatan paling modern dan tidak mungkin bisa jatuh dengan mudah." sergah Arfan dengan begitu yakin.
"Sinyal darurat di terima oleh menara pengawas pada pukul 03.15 dini hari tadi, dan ketinggian pesawat menurun drastis sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari radar." seorang pembaca berita berbicara di depan kamera.
"Pesawat yang di tumpangi oleh Dimitri Alexei Nikolai, Andra Permana, pilot dan co-pilot, juga empat crewnya lepas landas dari bandara internasional Dubai pada pukul 15.15 sore waktu setempat. Sempat menunda penerbangan karena badai di wilayah Samudera Hindia, namun memutuskan untuk mengudara begitu badai mereda. Hingga setelah hampir 9 jam menempuh perjalanan, pesawat Boeing 767-33A ER berkapasitas 30 orang tersebut tak lagi terdeteksi setelah memasuki wilayah udara Indonesia. Penerbangan tersebut membawa salah satu pewaris Nikolai Grup, Dimitri Alexei dan asistennya, Andra Permana yang terakhir kali mengirim sinyal darurat sebelum akhirnya menghilang tepat di atas Laut Jawa." lanjut sang pembaca berita secara terperinci.
Suasana hening langsung mendominasi ruangan besar di kediaman Nikolai tersebut. Tak terdengar suara lain kecuali ucapan pembaca berita di televisi yang menayangkan secara langsung pencarian besar-besaran pesawat yang di tumpangi oleh Dimitri. Sofia bahkan tak kuat untuk tetap berada di sana, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Menagisi putra kesayangannya yang belum di ketahui keadaannya.
Sekuat mungkin Rania menahan diri, namun akhirnya dia menyerah juga. Air mata menganak sungai, diikuti isakan lirih keluar dari mulutnya. Angga datang menghampiri, dan dia segera memeluk putrinya.
"Doakan Ran, doakan yang terbaik." dia mengusap-usap punggung Rania, sementara perempuan itu semakin sesenggukkan.
"Padahal kemarin siang masih video callan. Kami udah janjian, dan dia mau jemput aku di villa. Tapi kenapa malah gini?" Rania meracau seraya membenamkan wajahnya di dada Angga.
Sang ayah tak mampu mengucapkan hal lain kecuali untuk menguatkan putrinya. Walau itu tampak tak akan berhasil, tapi setidaknya mereka sudah mencoba.
"Nggak mungkin dia meninggalkan aku kaya gini, pah. Nggak mungkin!" Rania dengan isakannya.
"Iya, doakan saja." ucap Angga lagi, lebih menguatkan.
Galang tampak bangkit dari tempat duduknya setelah menerima sebuah panggilan, kemudian kembali menatap layar televisi.
"Ada apa?" Satria bereaksi.
Pemuda itu mendongak, dan dia menatap pria paruh baya di depannya.
"Galang!" Angga memanggil.
"Pesawatnya ...
"Pesawatnya kenapa?" Satria maju mendekat."
"Pesawatnya ... ditemukan di kedalaman 40 meter." Galang dengan suara bergetar.
Semua orang terhenyak, terutama Sofia yang baru saja memutuskan untuk kembali berkumpul di ruang tengah. Menerima kabar buruk tersebut tentu saja merupakan kiamat baginya.
Bagaimana tidak, putra pertama mereka mengalami hal terburuk di usianya yang masih semuda itu, namun tak ada yang mampu menghalangi takdir Tuhan, bukan? hal ini tidak ada hubungannya dengan usia ataupun status seseorang. Jika harus terjadi, maka terjadilah segalanya tanpa di duga, dan tanpa di rencanakan.
"Tidak! Dimitri anakku!" Sofia histeris, dan dia segera tak sadarkan diri. Penjaga dan asisten rumah tangga membawanya kembali ke kamarnya di lantai dua.
Satria pun hampir saja limbung, jika saja Arfan tak sigap menahannya, sudah bisa di pastikan pria itu akan terjatuh ke lantai.
"Tidak mungkin, Dim!" Satria hampir berteriak, dan Arfan berusaha menenangkannya sebisa mungkin.
Sementara Angga terus memeluk Rania semakin erat. Menghindarkannya dari kemungkinan histeris dan panik berlebih. Walau jelas tangisannya kian mengeras seiring berita terbaru yang kembali muncul.
Kapal selam angkatan laut dan beberapa teknisi di turunkan untuk menemukan benda tersebut, terlebih lagi beberapa penyelampun terjun untuk menemukan para penumpang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pasukan gabungan yang terdiri dari Komando Pasukan Katak dan Tim SAR pusat telah menemukan badan pesawat yang tenggelam di perairan Laut Jawa, di kedalaman sekitar 40 meter dibawah laut dengan kondisi baling-baling dan sayap kirinya hancur. Tidak ditemukan para penumpang baik dalam keadaan hidup ataupun meninggal." berita terbaru kembali ditayangkan setelah hampir dua jam keberadaan pesawat di temukan.
"Setidaknya ada kemungkinan mereka masih hidup bukan?" Satria yang menolak untuk meninggalkan tempat berkumpul anggota keluarganya. Meski berat, dia merasa harus menghadapi ini bersama mereka.
Sebuah kapal tanker berlogo Nikolai tengah berusaha mengangakat bangkai pesawat dari perairan dangkal tersebut secara perlahan. Sementara tim lainnya kembali berpencar menyisir seluruh Wilayah Laut Jawa hingga ke perbatasan paling jauh untuk mencari penumpang yang disinyalir selamat setelah para penyelam meyakinkan tak ada satupun jasad dari penumpang di dasar laut sekitar bangkai pesawat.
Dan hal tersebut mengembalikan harapan mereka, bahwa masih ada kemungkinan orang yang nereka sayangi masih hidup.
"Pualnglah, Dim. Dalam keadaan selamat. Aku janji, nggak akan pergi-pergi lagi setelah ini." gumam Rania, cukup pelan. Sambil terus memeluk perutnya dengan posesif seolah merasa takut kehilangan mereka.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...