All About You

All About You
Perasaan Yang Sama



🌹


🌹


Galang tiba-tiba saja merasa menyesal saat dia tiba di depan sebuah rumah besar yang sudah ramai. Mengapa dirinya mengikuti ajakan dua temannya untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun adik kelas mereka? walaupun mereka memang kenal dengan sang tuan rumah karena dia merupakan anggota sebuah perkumpulan mahasiswa, namun hal ini malah terasa canggung baginya.


Bukan apa-apa, pasalnya Amara juga berada disana. Dia takut jika gadis itu akan mengira bahwa dirinya mengikutinya kesana. Walau pada kenyataannya dia memang ingin, tapi Galang merasa jika dirinya tak memiliki hak untuk mengikutinya.


Siapa gue? batinnya.


"Ngelamun aja bro! makan kenapa?" beberapa orang temannya menghampiri. Dan salah satu diantara mereka menyodorkan minum kaleng kepadanya.


"Dedek emesh lu anteng sama temen sekelasnya," seorang yang lainnya menyentakan dagu ke arah depan. Dimana Amara tengah asyik bercakap-cakap dengan beberapa temanya.


Gadis itu menoleh, dan dia memang menyadari kehadiran pemuda itu disana. Namun Amara enggan mendatanginya. Dan dia hanya mencoba bersikap biasa.


"Kenapa? lagi marahan ya?" ucap teman yang lainnya, yang sejak tadi memperhatikan gelagat Galang sejak dia masuk kedalam rumah itu.


"Apaan?"


"Kali lu marahan, nggak biasanya kayak gini."


"Nggak, siapa yang marahan?"


"Biasanya dia ngintilin lu mulu, Lang."


"Hah?"


"Lu putus sama dia?"


"Putus?"


"Hu'um."


"Kagak. Eh, maksudnya, gue nggak pernah jadian sama dia, kenapa bisa putus?"


"Serius? gue pikir lu pacaran sama Amara, abisnya kemana-mana selalu barengan."


"Hah? kelihatannya gitu ya?"


"Iya."


Galang terdiam dengan dahi berkerut. Sejenak dia berpikir, apakah mereka terlihat sedekat itu? Karena rasanya dia bersikap biasa saja, dan Amara pun tampaknya sama. Hanya saja, mereka memang sering jalan berdua, dan pulang bersama. Selebihnya, tidak ada hal lainnya diantara mereka.


Iyakah?


Dia kembali menatap Amara yang tampak asyik bersenda gurau dengan teman-temannya. Hal yang sangat jarang dia lihat. Terutama karena memang mereka jarang bertemu. Apalagi akhir-akhir ini dirinya disibukan dengan pekerjaannya sebagai crew balapannya Rania.


Ada yang terasa mengganjal dihati, kala gadis itu tertawa terbahak-bahak, tapi tidak bersama dirinya. Melainkan dengan orang lain.


Seorang teman pria merangkul pundaknya, kemudian berfoto bersama gadis itu, yang entah mengapa segera membuat dada Galang bergemuruh.


"Apa yang ..." dia bereaksi, dan hampir saja mendatangi mereka berdua. Namun pemuda itu cepat tersadar.


Siapa juga dia itu ya? kenapa gue merasa bermasalah? suka-suka dialah. batinnya bermonolog.


Kemudian dia memutuskan untuk mundur, dan memutar langkahnya ke arah pintu.


"Kemana lu?" seorang temannya bertanya.


"Baliklah."


"Acaranya belum selesai, pea!"


"Serah lu dah, gue ada urusan." Galang keluar dari dalam rumah.


"Urusan apa?"


Pemuda itu menghentikan langkahnya.


Urusan hati, yang mesti gue yakinin. namun dia hanya bergumam dalam hati, lalu melanjutkan langkahnya ke tempat dimana motor kesayangannya terparkir rapi.


***


Sebenarnya, Amara merasa senang saat melihat Galang juga berada di tempat itu. Namun sayangnya dia masih merasa kesal dengan sikapnya tempo hari. Apalagi saat ini, pemuda itu malah tetap bersama teman-teman perkumpulannya, bahkan tanpa menyapanya seperti biasa.


Dia berusaha acuh, namun tetap saja sesekali Amara melirik untuk memastikan kalau dia memang berada disana. Entah mengapa perasaannya kini lebih condong kepadanya. Dia ingin perhatian, tapi Galang tetap tak menghiraukannya.


Lalu pandangannya dia edarkan ke sekeliling ruangan saat tak lagi menemukan sosok Galang di tempat semula.


"Mmm ... tadi aku lihat Kak Galang, bener nggak sih?" Amara menghadang salah seorang yang dia kenali sebagai teman satu komunitasnya Galang.


"Keluar." jawab pemuda tersebut.


"Keluar?"


"Pulang."


"Pulang?"


"Katanya sih gitu." dia menyentakan dagunya ke arah luar. Tampak Galang yang telah menaiki motor, lalu mengenakan helmnya.


Amara terdiam untuk berpikir, kemudian dia memutuskan untuk mengikuti pemuda itu.


Galang telah menjalankan sepeda motornya ke arah luar, ketika Amara tiba, dan hampir meninggalkan tempat itu sebelum akhirnya Amara melemparkan minuman kaleng ditangannya yang hampir kosong ke punggungnya.


Pemuda itu berhenti, lalu menoleh ke arah kaleng minuman yang tergeletak di dekat kakinya, kemudian beralih kepada si tersangka. Dia mengerutkan dahi demi mendapati gadis itu berdiri di belakang dengan raut tak biasa.


"Ada masalah apa?" Galang hampir berteriak.


"Seharusnya aku yang tanya, kakak ada masalah apa?" Amara balik berteriak.


"Lho? yang lempar kaleng minuman kan kamu, bukan aku?" ucapnya, sedikit emosi.


"Sikap kamu yang bikin aku kesel, dan bukan kaleng minuman yang sebenarnya mau aku lempar."


"Lah, kok ngegas?"


"Dasar cowok nggak peka!" Amara mendekat.


"Dih?"


Gadis itu kemudian naik dibagian belakang motornya.


"Kamu mau kemana? pestanya belum selesai." Galang sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu.


"Kakak mau kemana? aku ikut." jawab Amara, yang kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Galang.


"Hah?"


"Kayaknya kita perlu bicara. Aku harus bicara sebelum semuanya terlambat, dan kakak terlanjur jadi milik orang lain." ucap Amara kemudian.


"Maksud kamu?"


"Udah, cepet jalan aja, kenapa sih?"


"Apa maksud kamu barusan?"


"Aku nggak mau ngomong disini. Kita ngomong di tempat lain aja."


"Dimana?"


"Terserah."


"Lah?"


"Cepetan dudul!"


"Mmm ...


"Begitukan, cara kak Rania memanggil kamu? Dudul! dan kamu sangat menyukainya, padahal jelas dia udah jadi milik orang lain." gadis itu menepuk punggungnya dengan keras.


"Ni maksudnya apaan sih, nggak ngerti."


"Makanya kita ngobrol yang bener biar kamu ngerti. Jangan cuma mesin sama Rania aja yang kamu ngerti. Tapi mengabaikan orang lain."


"Apaan?"


"Kamu terlalu banyak bergaul dengan mesin makanya jadi oon kaya gini!" dia kembali menepuk punggung pemuda di depannya lebih keras.


"Sakit Ra!" protes Galang.


"Dan rasanya aka jadi lebih sakit lagi kalau kita nggak ngomong yang bener."


"Ngomong apa?"


"Jalan aja dulu!"


"Mm ...


"Jalan!!"


Tanpa banyak bicara lagi, Galang kembali menjalankan mesin beroda duanya. Mereka melaju membelah kota pada hampir sore itu, tanpa arah dan tujuan. Hanya terus saja berjalan hingga akhirnya, setelah beberapa lama, mereka tiba di suatu tempat yang belum pernah Amara kunjungi.


Sebuah tempat di bagian barat kota Bandung yang dikenal sebagai kawasan wisata, dengan pemandangan alam liar seperti biasa. Udara dingin segera menyegap begitu mereka tiba, jelas saja bukit dan hutan menjadi dominasi paling besar di tempat tersebut. Dan The Lodge menjadi pilihan Galang saat dia memutuskan untuk mengikuti keinginan Amara.


Galang menyodorkan sebotol minuman ringan yang dia beli di sekitar, semantara Amara duduk di kursi kayu tak jauh dari beberapa bangunan khas tradisional yang terlihat begitu asri, cocok dengan suasana hutan sejuk itu.


"Aku nggak marah, cuma kesel aja."


"Aku pikir itu nggak terlalu penting. Lagian akunya lagi kerja kan?"


"Aku nggak tahu, kenapa aku merasa kalau itu penting. Tapi tahu pesan yang aku kirim nggak kakak bales karena sibuk nemenin sahabat kakak balapan itu kok rasanya kesel."


"Lho? itu kan kerjaan aku. Lagian dari mana juga kamu tahu kalau aku nemenin Rania? aku disana kan dibutuhkan karena tugasku cek mesin sama mastiin semuanya beres. Bukannya cuma nemenin Rania."


Kenapa ini rasanya kayak lagi jelasin masalah sama pacar yang cemburu ya? batin Galang.


"Aku lihatnya gitu, dan kalian masih bisa bener-bener akhrab kayak sebelum kak Rania nikah."


"Lah? aku sama Rania emang gitu dari kecil. Terus dimana salahnya? terus kamu lihat dimana juga?"


"Waktu dia videocallan sama kak Dimitri."


"Hum?"


"Kebetulan ya? aku lagi sama kak Dim, dan kakak lagi sama kak Rania." gadis itu menyesap minumannya. Entah mengapa tenggorokannya terasa seperti tercekat.


"Terus?"


"Aku kok merasa kecewa, lihat kakak masih seakrab itu sama dia. Sementara aku, ... kadang merasa canggung kalau ketemu kak Dim. Padahal kami juga sama-sama akrab sejak kecil, bahkan ..." Amara menggantung kata-katanya.


"Bahkan apa?"


"Mm ... nggak." gadis itu menggelengkan kepala.


Kenapa juga aku harus cerita masalah itu ya? nggak penting.


"Terus sekarang ini intinya apa?"


"Etis nggak sih kalau aku ngungkapin perasaan aku sama cowok?"


"Hah, apa?"


"Kalau aku bilang aku suka sama kakak salah nggak?"


Galang tiba-tiba saja membeku.


"Aneh." gadis itu terkekeh. "Karena patah hati, aku malah suka sama korban patah hati lainnya."


Pemuda itu mengerjap perlahan. Mencoba mencerna secara benar kata-kata yang keluar dari mulut gadis di depannya.


"Malah diam?" gumam Amara.


"Coba ulang lagi apa yang kamu bilang? kayaknya aku salah dengar?" ujar Galang.


"Ish, ... dasar."


"Malah ngambek?"


"Habisnya kamu nggak peka!"


"Aku cuma mau memastikan akalau aku nggak salah dengar. Dan nggak cuma baper sendiri." kata-kata itupun akhirnya meluncur juga dari mulutnya.


Amara mendongak.


"Selama ini aku cuma takut, kalau aku cuma kebaperan. Punya perasaan ini sendirian, dan tahu-tahu orang yang aku suka udah sama orang lain. Aku takut."


Amara mengulum bibirnya kuat-kuat.


"Dan aku juga takut, kalau apa yang aku rasa ini merupakan satu bentuk pelarian karena patah hati. Cuma pengalihan dari rasa sakit yang aku alami karena menyayangi seseorang sebelah hati. Dan yang paling menyakitkan dari itu adalah ketika menyadari bahwa perasaan ini hanya sementara, dan akhirnya aku akan menyakiti diriku sendiri."


"Aku nggak yakin dengan perasaan aku sendiri. Apa kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri?" dia kemudan bertanya. "Aku takut kita akan saling menyakiti setelah ini."


"Kamu mengatakan perasanmu, seolah kamu nggak pernah mengalami patah hati sebelumnya. Kamu mengatakanannya dengan mudah. Sementara aku, masih berusaha meyakinkan diri. Bukan karena masih patah hati, tapi karena masih memilih mana perasaan yang benar, dan mana yang cuma pelampiasan. Kebayang nggak, kalau ternyata semua yang kita rasa ini cuma pelampiasan?"


"Kakak bilang kita harus move on, nggak boleh mikirin patah hati terus. Dan sekarang, itulah yang lagi aku lakukan."


"Dengan mengalihkan perasan kamu kepadaku?"


"Bukan gitu maksudnya."


"Tapi aku menangkapnya gitu Ra."


Amara terdiam. Dia sendiri bingung, tapi dia juga yakin dengan perasaannya sendiri. Bahwa ini bukan sekedar pengalihan perasaan atau yang diucapkan Galang sebagai pelampiasan dari sakit hati. Perasaannya sudah tertaut kepada pemuda itu, hal tersebut jelas dari apa yang dialaminya selama mereka terpisah jauh. Dan dia mampu memahami perasaannya sendiri. Hanya saja dia tak mampu menjabarkannya seperti apa.


"Kakak punya perasaan nggak sama aku?" Amara kemudian bertanya.


"Kan udah aku bilang ...


"Jawab aja, kakak suka nggak sama aku?" dia dengan ketegasannya.


"Su-suka sih, tapi ...


"Suka atau nggak? jangan pakai tapi. Suka sebagai cowok sama cewek, perasaan untuk lawan jenis, bukan sebagai teman, apalagi adik. Karena buat aku, nggak ada hubungam biasa aja diantara dua lawan jenis selain didalamnya ada perasaan lebih untuk saling memiliki."


"Ucapan kamu ketinggian Ra."


"Ck! jawab aja deh. Kalau misalnya kakak nggak punya perasaan kaya yang aku jelasin tadi, aku nggak akan mendekat lagi. Aku pastikan aku akan menjauh." gadis itu bangkit.


"Kok gitu?" Galang bereaksi.


"Ya ngapain, aku punya perasaan yang besar sama kakak, tapi nggak dapat balasan yang layak. Malah nanti kakak sama orang lain. Kan aku jadi sakit lagi, karena untuk kedua kalinya aku jagain jodoh orang."


Galang terkekeh.


"Aku serius. Harus ngalamin hal kayak gitu lagi kayaknya lebih sakit. Jadi mendingan aku menjauh sebelum perasaan ini menjadi semakin besar. Jadi aku nggak akan patah hati lagi."


"Cara kamu nyatain perasaan itu aneh, Ra."


"Ya karena kakak juga aneh."


"Aneh sebelah mananya?"


"Udah nggak peka, nggak mau ngaku lagi."


"Lho?"


"Jadi, jawab aja. Kakak suka aku atau nggak? jangan pakai tapi."


Galang menggigit bibir bawahnya dengan keras.


Apakah dia harus menjawab sesuia dengan perasaannya atau tidak? karena dua-duanya membuat dilema.


"Nggak ya? ya udah kalau gitu." Amara memutar tubuhnya dengan perasaan kecewa.


"Eh, ... mau kemana?" Galang menarik tangannya.


"Pulang lah, ngapain?"


"Kok pulang? kan aku belum jawab?"


"Pasti jawabannya nggak. Perasaan kakak sebesar itu sama kak Rania, mana mungkin aku bisa ngalahin? beruntungnya jadi dia. Semua orang sayang sama dia."


"Hmmm ... belum apa-apa udah cemburu?"


"Nggak cemburu, tapi itukan kenyataan." dia menarik tangannya yang masih dalam genggaman Galang.


"Aku suka sama kamu." pemuda itu bergumam.


"Dia keren, juara terus, terkenal lagi. Jelas semua orang sayang sama dia. Mama Fia aja sayang banget kayaknya."


"Aku juga suka sama kamu." Galang mengulangi kalimatnya.


"Dia jadi model di Majalah, dapat endorsan juga lagi, ahh ...


"Aku juga suka sama kamu." ucap Galang lagi dengan perasaan gemas.


"Hah? apa?"


"Aku juga suka sama kamu, jangan ngeluh terus dan fokus lihat orang lain, tapi diri kita sendiri diabaikan."


"Mmm ..." Amara terdiam.


"Ayo kita move on sama-sama?" Galang tersenyum, lalu dia mendekat sehingga jarak diantara mereka hampir menghilang.


"Kakak!!" Amara merangkul tubuh pemuda itu dengan erat, dan jarak diantara keduanya benar-benar menghilang.


Tingginya yang hanya se dada Galang membuatnya tenggelam saat pemuda itu membalas pelukannya tak kalah erat.


Amara mendongak, bersamaan dengan Galang yang sedikit menunduk, lalu mereka berdua tertawa.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Hadiahnya? 🤭🤭