All About You

All About You
AAY 8 : Keretakan



Resti kembali pada rutinitasnya. Tapi, ia tidak mundur seincipun dari langkahnya selama ini. Karier yang dia bangun, dan pengorbanannya harus membuahkan hasil. Persetan, dengan kebodohan Ayahnya dulu, toh semua harus berjalan ke depan. Langkahnya terhenti saat barisan Ryan yang diikuti puluhan bodyguard melewati dirinya.


Dia mematung. Sebenarnya ia cukup takut. Keluarga Perwira, mereka bisa saja menghabisinya seperti sang Ayah, dan... ia teringat pada nasib Delista. Gadis itu juga nyaris tewas kalau Gilang tidak menolongnya.


"Resti?" Suara Felish membuyarkan pikirannya. "Kau tidak apa?" tanyanya lagi.


"Felish!!!" Suara pekikan Viola langsung terdenger setelahnya, Sherly menyenggol sahabatnya untuk tidak menarik perhatian penumpang lainnya. Tapi, memang Vio tidak ingin Felish berlama-lama bercengkrama dengan wanita perusak hubungannya itu.


"Baiklah,," Felish menjauh dari Resti dan datang menghampiri mereka, lalu melenggang pergi.


Resti tidak peduli. Dia masih bisa bertahan tanpa adanya teman. Bahkan sebelumnya juga seperti itu. Jadi, untuk apa memusingkannya.


*****************


Gisella tidak terlalu menikmati sarapannya. Setelah kejadian malam itu, mereka langsung pulang tanpa mengatakan apapun, pagi ini Ryan sudah harus terbang ke Taiwan untuk mengunjungi cabang disana.


"Nyonya? Apa kau baik-baik saja? Apa makanannya kurang enak?" Suara Victoria tidak membuatnya bergeming, hingga akhirnya wanita itu menyentuh pundaknya untuk memastikan keadaannya.


Gisella tersadar, "Hm... maaf. Aku baik-baik saja, aku hanya tidak berselera makan." Gisella membersihkan mulutnya dengan tisu. "Kapan Ryan pulang?"


"Saya kurang tau, Nyonya. Tuan tidak mengabariku tadi. Tapi sepertinya, bukan masalah serius. Mungkin dia akan pulang lebih cepat seperti biasanya." Jawab Victoria meyakinkan.


Gisella menarik nafasnya dalam-dalam. Apa Ryan menghindarinya? Hanya itu yang mengusiknya, jika saja dia tidak melakukan hal memalukan seperti kemarin, apa Ryan tetap pergi?


Matanya melirik ponsel yang sedari tadi diam, tidak ada notifikasi, tidak ada pesan, ataupun telfon dari laki-laki itu. Seperti dugaannya hari-hari akan kembali membosankan.


*******************


Bandar Udara Internasional Taoyuan Taiwan. Resti dan rekannya tiba pukul 2 siang waktu setempat. Gadis itu lagi-lagi bertemu dengan Ryan dan rombongan. Sepertinya, pemuda itu memang dijadwalkan terbang ke sini.


Ryan memang benar-benar ada jadwal kunjungan rutin di perusahaan cabang Taiwan, tapi kejadian semalam diluar dugaannya. Jika saja tidak ada jadwal penerbangan hari ini, entah bagaimana ia bisa berhadapan dengan gadis itu.


"Tidak ada masalah kan dari rumah?" Tanya Ryan pada Wildan, laki-laki itu menggeleng. "Bagaimana dengan Gisella?" lanjutnya


"Dia tidak menghubungimu sama sekali,"


Ada rasa lega menyelimuti hatinya, "Baguslah." Pandangannya teralihkan ke arah lain, matanya menangkap sosok Resti yang juga menatap dirinya. Tapi, itu bukan prioritasnya. Dia tidak peduli.


**************


Gisella memutuskan untuk ikut Victoria berbelanja kebutuhan. Dia bosan dirumah terus. Wanita itu memasukkan beberapa bahan makanan yang sudah ia teliti, cukup baik di konsumsi ke troli.


"Kenapa ada banyak sekali bahan yang kau beli Victoria? Apa aku makan sebanyak itu?"


Dia hanya tersenyum, "Kami tidak hanya melayanimu Nyonya, Tuan juga terkadang pernah terbangun tengah malam hanya untuk membuat sandwich. Jadi, aku lebih banyak berjaga-jaga."


"Ryan? Dia terbangun tengah malam?"


"Tuan mengalami Insomia. Sulit tidur, katanya suka bermimpi buruk, atau memang menghabiskan waktu membaca dan lupa waktu." Gisella menghela nafas, ia bahkan tidak tau mengenai hal itu. "Kau tau... aku pernah memergokinya tidur dikamarmu."


"Hahh??"


"Entah mungkin seminggu yang lalu, 5 hari berturut-turut. Dia terbangun dan membuat Sandwich, aku yang masih terjaga kebetulan melihatnya masuk ke kamarmu." Victoria kembali memasukkan beberapa timun ke dalam troli. "Saat subuh, aku sudah bersiap menyiapkan sarapan dan keperluan pagi, dan.... Tuan keluar dari kamarmu."


"Apa?? Aku bahkan tidak tau?"


Victoria terkekeh, "Mungkin kau membuatnya bisa tertidur lelap. Makanya dia memilih menggunakan cara itu, pantas saja, wajahnya selalu segar dan bersemangat setiap pagi."


"Lain kali, akan kupastikan." keduanya tertawa.


"Kau...." Seseorang datang menghampiri Gisella dan Victoria. Tawa mereka terhenti. Hera. Wanita itu datang menyapa, sembari mencoba mengingat wajah Gisella yang menurutnya tidak asing itu. "Kau bukankah temannya Resti?"


"Ah,, Hallo. Senang bertemu denganmu."


"Bagaimana kabarmu?" Hera terlihat senang bisa bertemu Gisella,


"Aku baik."


"Oh iya." Dia merogoh saku sweternya, lalu menyerahkan secarik kartu nama pada Gisella. "Datanglah ke Butikku. Minggu depan pembukaannya, aku senang kalau kau bisa datang mendukungku."


Gisella menatap cermat, kartu nama pemberian Hera. Ia tersenyum, "Akan usahakan"


"Baiklah, terimakasih. Aku akan menunggumu." Hera kemudian berlalu.


"Kau mengenalnya nyonya?"


"Ibu Resti, saudara tiriku. Istri dari ayah tiriku." jawab Gisella. Victoria hanya menggumamkan ah yang panjang, "Ada lagi yang kita butuhkan?"


"Sudah tidak ada,"


"Baiklah, mari kita hentikan." Gisella menyimpan kartu nama Hera di sakunya dan mengikuti Victoria ke bagian kasir.


Tanpa ia sadari, Hera berbalik menatap dirinya. Menatap penuh arti.


************************


Resti memisahkan diri dari rekannya, lagipula mereka juga tidak peduli jika Resti pergi. Gadis itu memilih untuk mencari restoran dan pilihannya jatuh pada restoran Mume, tempat ini merupakan restoran terbaik yang populer dengan bintang Michelin. Terdaftar sebagai salah satu restoran terbaik di dunia sekaligus restoran khas Taipei. Mume menggabungkan bahan baku khas Taiwan dengan sentuhan khas Nordic, ini akan membangkitkan selera makannya.


Tapi, itu tidak sebanding dengan pertemuannya dengan Ryan. Laki-laki itu baru saja datang bersama Wildan. Dia juga terlihat sama kejutnya.


"Uwahh,, kalian juga makan malam disini?" Sapa Resti, ia memamerkan sederet gigi membentuk senyuman manis.


"Kau juga makan malam disini?" Tanya Ryan, Resti mengangguk. "Baiklah, ayo kita pindah Wildan." Laki-laki itu langsung balik kanan tanpa menunggu respon temannya itu.


"Dirgayoga."


Ryan terhenti, begitu juga dengan Wildan. Keduanya kompak menoleh.


Resti menggenggam tas tangannya erat, "Kau... tau nama itu kan, Tuan?" Tanya Resti dengan nada berat.


Ketiganya kini sudah pindah ke salah satu meja VIP, makanan disajikan dengan mewah dan menggugah selera. Tapi, bukan itu tujuan mereka. Ryan menatap lurus Resti yang duduk dihadapannya.


"Aku sudah tau semuanya. Lalu apa yang kau inginkan? Kau ingin balas dendam?"


Resti memiringkan senyumnya, "Tidak. Itu murni kesalahan ayahku, dia yang tidak bertanggungjawab atas keluarganya. Aku tidak ingin membahas itu,"


"Lalu?"


"Delista."


Tatapan mata Ryan bertambah dingin, ia tidak boleh lengah sedikitpun di depan wanita ini. "Kau ingin kembali mempertanyakan hubunganku dengan Delista dulu? Kau terlalu ikut campur..."


"Kau sudah tau kan, kalau dia adalah Putri Ferry Agrariansyah?" Potong Resti cepat. "Makanya kau menjaganya sampai sedemikian rupa. Karena kesalahan ayahmu dulu kepada ayahnya." Resti meneguk sedikit air putih miliknya, "Lalu, aku kembali menemukan sesuatu yang ganjil." Ia meletakkan kembali gelasnya. "Gisella Arvaletta... Nama itu adalah nama asli Delista."


Ryan mengepal tangannya geram. Ketakutan mulai datang dari hulu hatinya. Gadis di depannya memang membuatnya frustasi. Sementara Wildan yang menunggu diluar, mendengar semuanya juga memasang wajah tegas. Resti benar-benar tidak mau mundur.


"Lalu? Kau menganggap tunanganku adalah Delista?"


Resti menyandarkan punggunya ke sandaran, "Mungkin? Ada banyak hal yang bisa kau lakukan Tuan, orang kaya sepertimu bahkan bisa lepas dari hukum dan menyalahkan orang lain. Tentu saja, mengubah identitas dan membuat semuanya menjadi asli juga bukan hal sulit untukmu."


Ryan menyilangkan tangannya, "Sebenarnya apa yang mau kau utarakan? Apa yang mau kau lakukan jika itu benar? Dan... apa untungnya buatmu melakukan hal itu? Aku bahkan tidak pernah menyinggung masa lalu orangtua kita dan membiarkanmu bekerja di maskapaiku, lalu? Apalagi?"


"Aku mau kau kehilangan segalanya."


Ryan melepaskan silangan tangannya dan lengannya bertumpu pada meja.


"Sama sepertiku. Kehilangan orang yang kau cintai, membuatmu dibenci dan dipandang menjijikkan." Ujar Resti penuh keyakinan. "Tidak masalah jika kau memecatku atau membunuhku seperti yang dilakukan ayahmu dulu. Tapi, aku berjanji akan bertahan hidup sebelum melihat kau kehilangan semuanya."


"Lucu. Geli rasanya mendengar hal itu keluar dari mulutmu. Lalu apa bedanya denganmu? Kau hanya putri seorang penipu. Apa yang dilakukan ayahmu memang salah, dan kau tau itu. Dan... urusan ayahku dan Tuan Ferry bukan urusanmu sama sekali. Kenapa kau terlalu memusingkannya? Kau ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ayahmu dulu? Mengorbankan karier untuk mengembalikan keadaan? Apa kau mau terlihat seperti manusia sekarang?"


"Apa?" Resti menggeram, wajahnya merah padam menahan emosi.


"Kau meninggalkan Delista di tepi kota sendirian. Kau membuat rencanaku berantakan. Aku awalnya memang mau menjemput Delista ke pelukanku, dan memberikan segala haknya. Tapi, aku nyaris kehilangannya dan itu adalah salahmu. Kau....hanya iri dengan prestasinya, bahkan sama sekali tidak tau kalau kau sudah kalah darinya sejak awal. Delista dan kau beda level." Pernyataan panjang Ryan membuat Resti tertunduk, ini merupakan tamparan keras baginya.


Kali ini giliran Resti yang mengepalkan tangannya geram, "Kau....menyelamatkan Delista?"


Ryan memajukan posisi tubuhnya mendekat. "Iya. Aku menyelamatkannya."


Sebaris kalimat itu membuat Resti tak berkutik. Dugaannya benar. Laki-laki itu memperlihatkan senyum sinisnya.


"Iya. Dugaanmu memang benar, Gisella adalah Delista. Gadis yang menjadi tunanganku adalah adik tirimu. Kau sudah mengetahui faktanya kan? Memastikannya hanya membuang waktumu. Harusnya kau tetap pada tempatmu, tidak perlu riuh seakan kau menang melawanku."


"Bagaimana mungkin? Wajahnya berubah dan dia hilang ingatan? begitukah?"


"Iya. Aku mengubahnya. Aku orang kaya yang bisa mewujudkan apapun keinginnya."


Resti menatap Ryan,"Kau... Apa kau benar-benar tidak takut kehilangannya?"


Ryan menelan ludahnya, pertanyaan Resti cukup membuatnya kembali takut, tapi tidak dia perlihatkan. "Tidak. Karna cepat atau lambat memang perpisahan adalah kata yang pas untuk kami berdua. Bagaimana ya, usahamu memang sia-sia Resti. Aku memang berencana melepaskan semuanya, karna itu memang bukan milikku. Aku tidak serakah seperti Ayahku,"


Resti mendelik ikutan sinis, "Kau akan serakah pada waktunya, Tuan. Buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya. Persiapkan dirimu untuk hal terburuk sekalipun, aku juga akan mempersiapkan diriku." Gadis itu bangkit dari tempat duduknya.


Wildan bertemu dengan Resti di depan. Tidak berkata apa-apa. Resti langsung melengos pergi tanpa menoleh. Laki-laki itu melirik ke dalam ruangan, disana dengan tenang Ryan memulai makan malamnya.


Dengan hati-hati, Wildan duduk berhadapan dengan Ryan. "Kau menceritakan kelemahanmu padanya. Kau sadar?"


"Aku sadar. Aku mengikuti carimu. Jika kau melakukannya sendiri, aku akan melakukannya melalui perantara. Itu, jika Resti bisa mengungkapkannya." Jawab Ryan tenang. Wildan tak lagi berkomentar,


*******************


Gisella menatap kartu nama Hera, wanita itu sekarang tengah meniti karier di bidang fashion, yang ia dengar dari Wildan adalah Hera mempunyai perhitungan cepat. Rumah lama mereka dijual dan hasilnya menutup perusahaan dan membayar gaji karyawan. Sementara uang asuransi ayah tirinya digunakan untuk membuka bisnis baru.


Ia mengehela nafas dalam-dalam, otaknya buntu. Ingin sekali rasanya membuka batok kepalanya dan membedah isi otak, terutama bagian memorinya. Ia butuh ingatannya kembali.


"*Jika ayahku tidak begitu. Aku pasti akan mencintainya dengan mudah."


Alis dan dahi Wildan berkerut, "Kau... benar-benar mencintainya? Semudah itu?"


"Sejak dulu. Rasa ingin melindunginya sudah ada. Makanya aku tidak tertarik pada wanita lain selain dirinya. Hingga akhirnya takdir mempertemukan kami, dia datang setelah aku mulai lelah mencari." Tubuhnya dicondongkan kedepan, "Kau tau, betapa leganya hatiku ketika aku menemukannya*."


Gisella ingat percakapan Wildan dan Ryan tempo itu. fokusnya pada masalah Ayah Ryan, yang membuat laki-laki itu mempunyai alasan kuat tidak memperbolehkannya membalas cinta pemuda itu.


Dia hanya tau, nama Ayah Ryan adalah Candra perwira dan meninggal karna serangan jantung, ibunya? sudah lama bercerai dan tinggal di Jepang. Hanya itu yang Victoria ceritakan. Wanita itu tidak pernah memperlihatkan foto Ayah Ryan, jadi sulit menggambarkan sosok pria yang membesarkan Ryan itu.


Apa yang diperbuat Ayah Ryan? bagian mana yang salah?


Lamunannya buyar ketika, petir terdengar. Hujan lalu menguyur bumi detik itu juga. Angin kencang bertiup membuat tirai jendela ruangan kerja berderai. Gisella bangkit menutup jendela, setelah itu kakinya melangkah meninggalkan ruangan itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan Gisella masih berdiri tegak di depan kamar Ryan. Kalau dipikir-pikir, ia tidak pernah masuk ke ruangan ini selama dia tinggal disini. Perlahan gadis itu membuka pintu kamar Ryan dan melangkah masuk.


Aroma mint yang menyegarkan membuat hidungnya betah berlama-lama di kamar ini. Nuansa biru dongker menjadi warna dominan, sisanya diwarnai warna hitam, kesannya benar-benar misterius.


Gisella duduk ditepi ranjang kemudian merebahkan diri. Lembut, hangat, dan nyaman. Tangannya menggapai guling, memeluknya erat seakan itu adalah tubuh Ryan.


"Hmmm... wanginyaa..."


Saat matanya terbuka, pandangannya mengarah pada sebuah frame foto di nakas samping tempat tidur. Ia bangkit menghampiri. Ada foto Ryan bersama orangtuanya, mungkin. Foto itu diambil saat Ryan wisuda, laki-laki itu mengenakan jubah kebesaran dengan selempang cumlaude, wajahnya terlihat bahagia.


Matanya mengarah pada wajah pria disampingnya. Inilah wajah Ayah Ryan. Tapi, terasa tidak asing dan seperti pernah bertemu, entah kapan.


Drrrtttt drrrtttt


Gisella cepat-cepat menyambar ponselnya. Senyumnya melebar. Telfon yang ia tunggu-tunggu. Ryan.


"Hallo!"


'Kau dimana?'


"Hm.. bukankah harusnya aku yang bertanya padamu?"


'Maaf.. aku harus ke Taipei, tanpa sempat mengabarimu. Abis, kau tidur pulas-pulasnya jadi aku tidak tega membangunkanmu.'


"Baiklah. Kau benar-benar ada urusan disana ya?"


'Lalu? Apa aku sengaja menghindarimu karna ciuman kita?'


Gisella meletakkan kembali frame foto pada tempatnya, lalu beringsut meninggalkan kamar Ryan. Dia mengigit bibir saat mendengar pertanyaan tak terduga.


"Mungkin?"


'Tidak, aku tidak menghindar. Memang ada yang harus ku kerjakan disini. Ngomong-ngomong, sesekali aku harus mengajakmu kemari. Makanan disini benar-benar enak.'


"Makanan buatan Victoria lebih enak."


'Hmm.. kau sedang dikamarmu?'


"Memangnya kenapa?"


'Aku akan mencoba fitur video call, '


Tanpa menunggu jawaban Gisella, Ryan mengalihkan panggilan ke video call. Cepat-cepat, ia menggeser layar menerima permintaan laki-laki itu.


"Uwaaaahh,, indahnya. Kau dimana?"


'Aku di pencakar langit Taipei 101. Ini disini benar-benar Indah.'


"Kau benar,,"


Kamera berganti posisi, dan kini wajah tampan Ryan menghiasi layar ponselnya. Rindu. Satu kata dari dalam hati Gisella.


"Kau kapan pulang?"


Ryan menarik nafas dalam-dalam, dari ekspresi wajahnya terlihat dia tidak terlalu suka dengan pertanyaan darinya. 'Dari Taipei aku harus terbang lagi ke London, mungkin...minggu depan aku baru bisa pulang. Kau merindukanku?'


Deg.


"Iya. Aku merindukanmu."


Ryan cukup lama terdiam, tapi akhirnya tersenyum, 'Ingat..kau tidak bo...'


"Kenapa? Apa karna ayahmu?"


Kali ini, Ryan pindah ke dalam ruangan. Entahlah, laki-laki itu seperti mencari tempat yang nyaman. 'Apa...yang kau bicarakan?'


"Maaf,, aku mendengar percakapanmu dengan Wildan kemarin. Kau mengatakan, jika bukan karna Ayahmu, kau bisa mencintaiku dengan leluasa."


Laki-laki itu menarik nafasnya, memalingkan pandangannya dan akhirnya kembali ke layar. 'Kau...mendengar yang lain?'


Gisella menggeleng. "Kenapa? Apa yang dilakukan ayahmu?" tanya Gisella pelan, ia tidak mau terlalu memaksa Ryan, tapi karna pembicaraan mereka mengarah pada hubungan mereka, ia terpaksa membuka suara. Ini tidak nyaman. Sangat.


Ryan terdiam lama, ia seperti tidak sanggup menjawab, dan tidak tau mengalihkan pembicaraan seperti apa.


"Baiklah, tidak usah dijawab. Aku tidak memaksa. Seharusnya tidak aku bahas." ujar Gisella.


'Maaf...'


Hanya itu yang keluar dari mulut Ryan, Gisella memaksakan segaris senyum. "Tidak apa. Baiklah, aku ingin tidur, kau jaga kesehatanmu disana. Jangan terlalu keras bekerja."


'Oke, akan kuingat itu.'


Hubungan telfon mereka berakhir. Dibelahan bumi yang berbeda, keduanya sama-sama menghela nafas berat.


Gisella membaringkan tubuhnya ke kasur, untuk pertama kalinya Ryan menghubunginya melalui video call harusnya, mereka bisa membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan lebih lama. Tapi, Gisella malah merusak suasana.


Disisi lain, Ryan hanya bisa menatap layar ponselnya dengan wajah datar. Sejak pertemuannya dengan Resti, hatinya sama sekali jauh dari kata tenang. Haruskah ia ikuti cara Wildan? Tapi apakah dia sanggup kehilangan wanita yang bertahun-tahun telah menjadi penghuni hatinya?


*******************


Resti menarik kopernya, langkahnya tiba-tiba ditarik paksa seseorang. Wildan. Dengan sekut tenaga gadis itu mencoba melepaskan diri. Mereka menjadi tontonan penumpang lainnya, tapi Wildan tak peduli. Ia menarik Resti ke tangga darurat.


"Lepaskan!!"


"Apa kau gila!" Hardik Wildan, nafasnya terengah-engah, wajahnya menahan emosi.


"Ada apa denganmu!" Resti balik menghardik, ia bukan wanita yang gampang dijatuhkan.


Wildan mendekap bahu Resti kuat. "Tak bisakah kau berfikir sebelum bertindak? Orang yang kau hadapi itu adalah Adryan."


Resti mencoba melepaskan diri, lalu dengan sekali hentakan wanita itu menampar keras Wildan. Laki-laki itu mengelus pipinya dan meringis kesakitan.


"Aku sudah bilang padamu, untuk tidak menghiraukan aku. Kenapa kau keras kepala sekali? Berhentilah mengurusi hidupku...."


Wildan mendorong keras wanita itu ke dinding. Memojokkannya, "Kau tau, hidupmu sudah berada ditepi jurang. Apa kau tidak sadar? kau sudah menimbulkan banyak masalah. Kau sudah dikecam oleh rekan-rekanmu dengan ketidakpedulianmu terhadap ayah tirimu..."


"LAKI-LAKI ITU BUKAN AYAHKU!!" Pekik Resti


Wildan terdiam sejenak, lalu menjauhkan dirinya "Kau tau, Ibumu membunuh laki-laki itu?"


Resti mematung. "Bohong! Itu tidak benar!"


"Ryan tau tentang hal ini. Ibumu merencanakan ini, dan menyulapnya seolah-olah laki-laki itu benar-benar mati karena serangan jantung. Supaya bisa mengklaim asuransi Tuan Gilang. Tapi, dia tidak mau ikut campur, hanya Gisella yang berhak menghukum kalian."


"ITU TIDAK BENAR!!"


"Itu adalah fakta Resti. Bahkan Ibumu mencoba menipu dan berusaha mengklaim asuransi milik Delista. Apa kau tidak curiga? tiba-tiba ibumu bertanya soal uang itu?"


Mata Resti membulat, rahangnya mengeras dan tangganya mengepal kuat hingga menyakiti telapak tangannya.


"Apa... kau yang mentransfer uang Delista ke panti asuhan?"


"Iya. Atas perintah Ryan. Seperti yang kau katakan, kuasa Ryan memudahkan semuanya. Banyak yang sudah dilakukan Ryan." Wildan memberi jeda, "Lalu kau menyewa detektif kan?"


Resti menoleh cepat, "Darimana kau tau?"


"Semua yang kau lakukan diketahui Ryan. Jadi kumohon..." Wildan memegang bahu gadis itu dan menatap dengan memohon, "Berhenti peduli, atau kau akan semakin jatuh ke jurang."


"Dari dulu... kau memang tidak pernah berpihak padaku"


"Karna kau memang salah melangkah Resti!"


Gadis itu menyingkirkan tangan Wildan dari tubuhnya. "Aku harus cepat naik pesawat, aku sudah terlambat." Ia langsung keluar dari pintu darurat meninggalkan Wildan yang lemas ditempat.


********************


Setibanya di Seoul, Resti langsung menginjak pedal gas ke rumah Ibunya. Tidak butuh lama untuk menemui sang Ibu yang sedang santai menikmati film di ruang tamu.


"Kau baru pulang?"


Resti mencengkram bahu Hera kuat. "Ibu,, jawab pertanyaanku.."


Hera yang tidak tau apa-apa hanya meringis kesakitan, "Resti, lepaskan dulu. Ini sakit, nak."


"Apa benar ibu membunuh laki-laki itu?"


Hera terdiam, tangan yang berusaha melepaskan cengkraman Resti terjuntai jatuh. "Kau....tau darimana?"


"Apa? Ibu... kau benar-benar melakukannya?"


Hera melepaskan cengkraman Resti, lalu balik mencengkeram anaknya, "Kau... Kau tau darimana?"


Resti menepis tangan Ibunya kuat, "Orang yang menjadi atasanku. Putra dari Candra Perwira itu!!! Dia tau bu,, DIA TAU PERBUATAN IBU!!" Nada Resti meledak, ia memegangi kepalanya lalu menghusap rambutnya asal. "Kenapa? Kenapa ibu melakukannya? KENAPA??"


"KARNA DIA TIDAK MENGANGGAPMU RESTI!! IBU MUAK PADANYA!!" Suara Hera ikut meninggi. "Dia mementingkan anak pungut itu, daripada anakku sendiri."


Resti mengigit bibirnya geram, "Lalu? Apa ibu sadar perbuatan ibu? Anak pungut? Delista yang kau sebut anak pungut itu..... ADALAH PUTRI PEMILIK ERTAIN SESUNGGUHNYA!!"


Hera terpaku, bibirnya bergetar. "Ba...ba..barusan.... kau bilang apa?"


"Tidak sampai disitu,," Resti menelan ludahnya kuat, matanya panas, air matanya ingin keluar. "Delista... dia masih hidup. Dia... sekarang menjadi tunangan Ryan bu! Aku kalah telak! Aku sudah kalah darinya!!"


Ia menghusap pipinya yang basah dengan kasar, "Dan kau...kau malah membunuh laki-laki itu? Keluarga Perwira bisa menghancurkan keluarga kita dalam semalam. Lalu apa menurut Ibu Delista tidak bisa" Gadis itu menjambak rambutnya frustasi.


"Apa yang sudah kuperbuat pada kehidupan sebelumnya, hingga aku harus menderita seperti ini!!" Setelah mengucapkan itu, Resti langsung mengambil tasnya dan berlari pergi.


"Resti!! Resti.... Ibu belum selesai bicara!! Jelaskan pada Ibu dulu nak!"


Terlambat, Resti sudah pergi jauh meninggalkan kediaman ibunya. Hera menggeram marah. Ayah dan anak sama-sama menghancurkan kehidupannya yang damai.


Dia harus melakukan sesuatu.


******************


Malamnya, Victoria mendatangi Gisella yang sibuk menyulam, "Nyonya, ada paket untukmu."


Gisella memutar kepalanya yang tegang, "Paket untukku?"


"Dari Ryan."


Wajahnya berubah sumringah. "RYAN?" cepat-cepat ia menyambar paket itu dan membukanya. Victoria hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan kamar gadis itu.


Gisella membuka bingkisannya. Ekspresinya berubah saat mengeluarkan isi paket. Bukan hadiah seperti dugaannya. Hanya sebuah koran, surat dan beberapa foto.


Tangannya meraih sebuah surat bertulis tangan,


'Ayah tirimu. Gilang. Tewas karnamu.'


Gisella meremas kertas itu dan membuangnya jauh-jauh. Ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian beralih pada kertas yang lain.


'Ferry Agrariansyah ditemukan tewas tertembak oleh anak buah Candra Perwira'


Matanya dengan cepat membaca isi berita, setelah itu kembali beralih ke yang lain lagi. Ada foto masa kecilnya bersama seorang pria, ia membalikkan foto yang bertuliskan.


'Aku bersama Putri kecilku'


Pria yang mendekapnya memiliki wajah yang sama dengan korban pembunuhan di koran. Gisella terdiam, ia tak mampu berkata apa-apa. Banyak fakta mengejutkan yang ia terima. Kepalanya pusing. Puing-puing puzzle yang misterius akhirnya terkumpul.


*****************


"Apa katamu!!" Ryan berdiri dari tempatnya, kabar yang ia terima membuatnya panik. "Gisella pergi menyetir? Apa yang kau lakukan Giandra!!"


Diseberang sana, Giandra menjawab dengan terbata-bata. "Nyonya,,, Nyonya meminta kunci mobil dengan paksa. Aku menawari diri membawanya, tapi dia berteriak memakiku."


"Apa?"


"Lalu... sebelum itu..." Giandra menyerahkan telfonnya pada Victoria.


"Tuan,, ini aku. Victoria. Kau... mengiriminya paket?"


"Paket? Apa maksudmu?"


"Pa.. paket itu ditulis atas namamu Tuan, Nyonya pergi setelah menerima paket itu. Aku mengecheknya... dan paket itu berisi.." Kata-kata Victoria mengambang, membuat Ryan semakin menggila.


"BERISI APA!!"


"Semuanya Tuan. Semua tentang Gisella, semua yang kau sembunyikan!"


Ryan membeku, petir seakan baru saja menyambar kepalanya. Ia menggusap wajahnya kasar. "CARI GISELLA!! JANGAN KEHILANGANNYA, ATAU KALIAN AKAN KEHILANGAN NYAWA KALIAN SEBAGAI GANTINYA!!"


Hubungan terputus, Wildan datang tergopoh-gopoh. "Kau kenapa?"


"Kita pulang ke Seoul, sekarang!" Perintah Ryan tegas. Ia menyambar mantelnya dan berjalan mendahului Wildan, tanpa berniat memberitau penyebabnya.


********************


Sedangkan orang yang dicari, Gisella. Ditengah derasnya hujan Gadis itu berlari diantara pohon-pohon yang menjadi tempat peristirahatan. Tidak peduli tubuhnya basah kuyup. Matanya mencari nama Gilang.


Gisella tidak berhenti menangis. "A.. Ayaahh...maafkan aku.. Ayahh.." Tangis Gisella berderai, berkali-kali menghusap wajahnya untuk memperjelas pandangannya. "Ayah.." Tangisannya semakin menjadi saat menemukan pohon yang dicarinya. Disinilah, abu sang Ayah di kuburkan.


Tubuhnya lunglai dan jatuh ke tanah berlumpur. Tidak ada yang ia pedulikan. "Ayaahh... Apa yang terjadi padamu.. Ke.. kenapa ini bisa terjadi. Ayah tolong maafkan aku.."


Ia meremas gaun tidur miliknya, perlahan bangkit dan meninggalkan tempat itu. Dadanya sesak, kepalanya pusing dihujani rintikan hujan yang seolah menghukum kebodohannya.


Gisella menginjak pedal gas pergi. Selanjutnya. Ini adalah yang terpenting. Puzzle terbesar yang selama ini belum terjawab akhirnya ia temukan.


'*Perusahaan ini milikmu, aku hanya menggantikanmu'


'Kau adalah saudara tiri Resti, tapi laki-laki yang kau panggil ayah juga bukan ayah kandungmu.'


'Rumah ini milikmu,'


'Jika saja ayahku tidak begitu, mungkin aku bisa mencintainya dengan mudah*'


Serpihan kalimat Ryan muncul memenuhi kepalanya. Laki-laki itu. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Jadi, inilah yang disembunyikan Ryan selama ini. Inilah alasan sebenarnya Gisella tidak boleh mencintai Ryan.


*****************


Resti meneguk Winenya hingga tandas, ia menghadap gemerlapnya malam ditengah hujan. Menertawakan keadaan dan hidupnya yang terasa menggelikan.


******************


Langkah Gisella tertatih. Ia akhirnya berhadapan langsung dengan ayah kandungnya. Lebih tepatnya hanya Abu sang Ayah yang tersimpan rapi di gedung krematorium.


Gisella menyilangkan tangannya ke depan, lalu menunduk memberi hormat. Menahan tangisnya. "Hallo, A..ayah. Aku datang." Ia mengerjapkan matanya, tidak ingin menangis lagi. "Maaf... Aku datang terlambat."


Gadis itu mengelum bibirnya kuat-kuat. Menarik nafasnya kuat-kuat. "Aku membuatmu kecewa kan?" Nafasnya tercekat, "A...aku hidup nyaman bersama keluarga yang menghancurkan hidup kita...."


Ia menghusap air matanya yang berderai tiada henti, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis di depan Ayah kandungnya. Ferry Agrariansyah.


**********************