All About You

All About You
Rindu Dan Taman Belakang



🌹


🌹


Angga tertegun diambang pintu dapur begitu dia turun dari kamarnya. Tampak tiga anaknya yang sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan mereka pagi itu. Dua anak kembarnya Adel dan Amel merapikan meja, menata peralatan makan dan membuat minum. Sementara Rega sibuk di depan kompor memasak makanan untuk mereka.


Memasak?


Tunggu! Sepertinya ada yang salah?


Pria itu mengerutkan dahi.


"Kalian lagi apa?" dia bertanya.


"Masak." jawab Rega yang menoleh sebentar.


"Masak apa?"


"Goreng ayam, goreng tahu, ngoseng sayuran," jawab remaja tampan itu, lalu kembali pada pekerjaannya.


"Sejak kapan kamu bisa masak?" Angga mendekatinya. Tampak Rega hampir menyelesaikan pekerjaannya.


"Udah lama."


"Papa Kok baru tahu?"


Rega hanya tersenyum sekilas.


"Kakak, aku mau omlet." Pinta Adel kepadanya.


"Kan udah ada ayam?"


"Mau tambah omlet juga." sahut Amel.


"Nambah deh kerjaan kakak?"


"Sekali-kali kak."


"Kalau ada mama, kalian pasti nggak berani minta tambahan lain?"


"Ya makannya aku minta sama kakak." jawab Adel sambil tertawa.


"Ya udah, ambilin gih telornya."


Kemudian dia kembali mengolah bahan yang disodorkan oleh sang adik. Mencampur telur, keju, bawang dan bumbu-bumbu yang dia tahu, lalu memasaknya hingga jadilah omlet yang diminta dua adik kembarnya itu.


"Papa nggak mau sarapan?" tawar Rega kepada sang ayah yang masih tertegun di dekat lemari pendingin.


"Emangnya kamu masaknya lebih?"


"Iyalah, disini kan ada empat orang, masa aku cuma masak buat tiga orang doang?" remaja itu menyuapkan makanannya.


Lalu Angga akhirnya ikut bergabung.


***


Pria itu kembali dibuat takjub karena setelah acara sarapan mereka selesai, ketiga anaknya segera membereskan meja. Membersihkan bekas makan mereka, lalu Rega mencuci semua peralatan yang mereka pakai.


Ketiganya sangat teratur, dan terlihat begitu terbiasa melakukanya. Amel si bungsu bahkan menyapu lantai hingga ruang makan mereka kembali rapi seperti tak pernah ada yang menggunakan.


Angga baru mengetahui hal tersebut. Selama ini dirinya hanya sibuk mengurus usaha, dan fokus menangani Rania. Entah itu karir balapannya, atau pergaulannya. Tapi tidak terlalu memperhatikan ketiga anaknya yang lain.


Dia merasa jika Maharani mampu melakukannya sendirian, dan terbukti perempuan itu memang bisa. Ketiga anak ini tumbuh sangat baik, dan mandiri ketika ibu mereka pergi.


Lain halnya dengan Rania. Anak sulungnya itu memang agak berbeda dari anak kebanyakan. Sejak kecil dia memiliki minat yang besar terhadap bidang otomotif ketimbang mainan yang lain. Dari sifatnya saja Rania sangat berbeda. Dia agak keras kepala dan tidak mudah di kendalikan jika itu tak sejalan dengan kemauannya. Gadis itu lebih masa bodoh dengan apapun. Lebih mirip dirinya, dibanding ibunya.


Sedangkan ketiga anaknya yang lain lebih penurut, dan lebih mudah dikendalikan. Mungkin karena mereka ada dalam pengawasan Maharani secara penuh. Tentu saja sifatnya juga memang menurun.


Ah, tiba-tiba saja dia rindu perempuan itu. Selama pernikahan Maharani tak pernah pergi jauh tanpa dirinya, apalagi sampai menginap di tempat orang lain. Mereka selalu pergi kemanapun bersama, membawa ke empat anak mereka, tanpa meninggalkan salah satunya dirumah.


Kecuali beberapa bulan belakangan, saat Rania memulai karir balapannya di sirkuit. Dia bahkan meninggakannya berhari-hari diluar negri untuk mendampingi anak sulung mereka, dan memfokuskan segala hal kepadanya. Dan seolah melupakan jika dirumah dirinyapun memiliki tiga anak yang lain. Dan Angga baru menyadari hal itu.


"Papa Kok ngelamun? Karen mama ya?" goda Amel, setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Papa cuma baru tahu kalau kalian bisa kerjain kerjaan rumah."


"Iyalah, kan papa jarang dirumah. Nggak tahu juga ya kalau beresin rumah tugasnya Amel sama Adel?" Adel muncul Kemudian.


"Oh ya?"


"Kalau kak Ega tugasnya masak sama mama."


"Masa?" Angga melirik anak laki-lakinya yang telah berada di halaman belakang rumah mereka. "Ega kan pulang sekolah latihan bola?"


"Kalau nggak latihan."


"Mama bilang kalau nanti kak Ega sekolahnya jauh harus bisa sendiri."


"Emangnya Ega mau sekolah jauh?"


"Mau. Kan sebentar lagi ikut seleksi timnas." jawab Amel.


"Seleksi timnas?"


"Iya."


"Kapan?"


"Minggu depan."


"Kok papa nggak tahu?"


"Kan bukan papa yang antar, biasanya mama."


Angga merasa tubuhnya menegang. Seolah dia telah mendapatkan hal yang cukup mengejutkan.


Bagaimana tidak, selama ini yang dia tahu hanyalah sebatas kegiatan anak-anaknya, dan tidak menyangka jika salah satu dari mereka, atau malah ketiga anaknya yang lain selain Rania akan melakukan hal diluar dugaan.


***


Rega sudah sibuk dengan si kulit bundar kesayangannya. Melatih skill tendangannya, juga mengasah instingnya sebagai pemain bola, yang telah menjadi cita-citanya sejak dia TK, dan sejak saat ini remaja tampan itu telah memulai langkahnya untuk mewujudkan mimpi.


Anak itu berhenti saat dia merasa sudah cukup. Kemudian duduk di teras mengistirahatkan tubuhnya.


"Minum?" Angga menyodorkan segelas air putih kepada putranya, yang langsung diterima Rega, lalu di tinggaknya hingga hampir habis.


"Papa baru tahu kalau kamu mau ikut seleksi timnas?" Angga duduk disampingnya, lalu memulai percakapan.


"Hmm...


"Junior?"


"U-16."


"Siapa yang daftarin?"


"Mama sama Pak Ben."


"Pak Ben?" Angga mengerutkan dahi.


"Pelatih aku." Rega mengeringkan keringat di dahinya. "Dia yang nyaranin untuk ikut waktu ketemu mama pas ngantar aku latihan."


"Kok papa nggak tahu?"


"Mama bilang papa pasti setuju. Lagian waktu itu papa kan sibuk ngurusin balapannya kakak."


Deg!


Kenapa rasanya seperti tak dianggap?


"Kapan seleksinya?"


"Sabtu depan."


"Dimana?"


"Lapangan Siliwangi."


"Berapa orang dari klub kamu?"


"Katanya enam orang, tapi nggak tahu."


"Berapa klub yang ikut?"


"Banyak."


Lalu mereka berdua terdiam. Rega menggulir-gulirkan bola dengan sebelah kakinya.


"Nggak yakin aku bisa masuk. Yang ikut pasti banyak, dan mereka bagus-bagus." anak itu kembali berbicara.


"Tapi mama bilang dicoba aja, kita kan nggak tahu. Ya udah... " Rega kemudian bangkit. "Aku mau ke Gasibu ya?" katanya.


"Ngapapain?"


"Latihan sama temen-temen, mereka udah kumpul disana sekarang." anak itu kemudian pergi.


***


"Kalian lagi ngapain?" kini pria itu beralih kepada anak kembarnya yang telah berada di sebuah ruangan khusus penuh lukisan dan alat-alatnya. Amel memang memiliki hobby melukis sejak kecil, sementara Adel memutar musik di sisi lainnya dan melakukan pemanasan. Sepertinya dia akan berlatih menari? Dan Maharani memang menyalurkan hobby anak-anak mereka dengan baik.


"Latihan." keduanya bersamaan.


"Sibuk amat? ini kan hari minggu. Ega malah pergi ke Gasibu. Kalian nggak mau jalan-jalan gitu?"


"Nggak. Harus latihan, minggu depan ada lomba."


"Lomba?"


"Hu'um." Amel mulai membuat sketsa.


"Lomba apalagi?"


"Aku lomba lukis, Adel lomba dance di alun-alun." jawab Amel.


"Astaga! sibuk bener kalian ini?"


"Emang."


"Papa telat ah, bukannya bilang dari pagi. Kan tanggung aku udah mulai." Amel bersungut-sungut.


Anggapun terdiam, dan dia mulai merasa kesepian.


🌹


🌹


"Kayaknya kita jogingnya kejauhan deh?" Rania mensejajari langkah Dimitri. Pagi itu mereka sengaja melewati pagi hari dengan berjoging ria di halaman belakang rumah Satria.


"Nggak, kan masih di halaman belakang?" jawab Dimitri.


"Tapi rasanya kok jauh amat ya?" gadis itu melihat ke belakang dimana pepohonan rindang yang cukup rapat menghalangi pandangan.


"Nggak, tuh genteng lantai dua masih kelihatan." Dimitri menunjuk atap yang masih bisa dia lihat dari kejauhan.


"Mana?" Rania memanjangkan lehernya untuk melihat. "Nggak kelihatan Dim! kehalangin pohon mangga. Tinggi amat deh duh pohon!" keluhnya.


Dimitri terkekeh, menurutnya ucapan gadis itu sangat lucu. Lalu tanpa aba-aba dia mengangkat tubuh Rania dari belakang hingga gadis itu bisa melihat atap rumahnya dari tempat mereka berdiri.


"Tuh, kelihatan?"


"Oh iya, tapi tadi nggak." jawab Rania.


"Iya, habisnya kamu kan pendek, mana bisa lihat?"


"Ck! ledekin ya?" gadis itu mendelik.


Dimitri hanya tertawa.


"Lagi pula, sejauh-jahnya kita lari nggak kan tersesat kok, masih di dekat rumah."


"Dekatnya versi kamu, bukan versi aku. Halaman belakang rumah aku cuma beberapa meter. Sedangkan ini kayaknya cukup untuk bikin tiga rumah lagi yang segede rumah kamu deh?"


"Memang."


"Lagian punya rumah gede amat?"


"Sengaja, kan anak mama dan papi banyak. Butuh ruang gerak yang luas untuk tumbuh. cucunya juga sudah banyak."


"Masa? anak kakak kamu berapa selain Ara?" mereka kembali berjalan semakin kedalam hutan mini di belakang rumah besar Satria.


"Empat, kembar semua."


"Wow?"


"Kalau kumpul semua rumah rasanya masih kurang besar. Apalagi anak-anaknya kakak aku aktif semua."


"Masa? bangun lapangan sepak bola aja sekalian biar luas." ucap Rania sekenanya, membuat Dimitri tertawa lagi, dan kali ini lebih keras.


"Iya, mungkin nanti kalau kita sudah menikah, aku akan membangun lapangan sepak bola biar aku dan anak-anak bisa main bola sepuasnya." jawabnya, yang kemudian membuat langkah keduanya terhenti.


"Kamu kalau mikir suka kejauhan." ucap Rania.


"Memangnya kenapa? nggak mau kalau aku ajak nikah?'


"Kejauhan lah, masih panjang ini urusannya."


"Padahal gampang lho, tinggal bilang iya, nanti semuanya aku yang urus."


"Nggak kepikiran ke arah sana."


"Belum."


"Kenapa sih kamu udah mikirin soal pernikahan? umur kamu berapa?"


"Kenapa nggak? tahun ini aku 25, dan setelah ketemu kamu, aku jadi mikirnya kesana terus." jawab Dimitri.


"Iya kenapa? pacaran aja baru mau tiga bulan."


"Nggak tahu." kemudian mereka berhenti lagi ketika menemukan sebuah area cukup luas dengan bunga-bunga yang tengah bermekan.


"Taman favoritnya mama." Dimitri bergumam.


"Rumah kamu kayak cagar alam, Dim."


"Bagus kan?"


"Hu'um, bagus kalau buat pacaran, banyak tempat tersembunyi. Dimana aja bisa mesra-mesraan. Eh, ..." Rania segera menutup mulut dengan tangannya.


"Apa kamu bilang?" Dimitri dengan seringaiannya yang muncul tiba-tiba.


"Masih pagi Pak, jangan mikir yang aneh-aneh."


"Dekat kamu selalu bikin aku berpikir yang aneh-aneh kok?"


"Apaan?"


"Banyak. Tapi karena nggak bisa melakukan semuanya akhirnya bikin aku gemas sendiri." dia menjatuhkan bokongnya diatas rumput diantara bunga-bunga yang bermekaran.


"Hmm... kayak semalam." Rania mengikutinya, dan kini mereka duduk bersisian.


"Iya, ...hahaha." Dimtri tergelak, ketika dia teringat lagi kejadian semalam. Saat melanjutkan cumbuan di dalam mobil begitu mereka tiba di pekarangan sebelum masuk kedalam rumah.


"Bukankah itu menyenangkan?" pria itu tersenyum lebar, sedangkan Rania tak menjawab. Namun kedua pipinya merona saat dia juga mengingat kejadian itu.


"Dan akan lebih menyenangkan lagi kalau kita sudah menikah."


"Masa?"


"Hmm...


"Kenapa?"


"Karena beda."


"Apa bedanya?"


"Karena lebih ...


"Lebih?"


"Hmm... lebih."


"Lebih apa?"


"Lebih... " dan dengan sendirinya jarak diantara mereka menghilang begitu saja. Dan di detik berikutnya bibir mereka sudah menempel dan saling memagut.


Rania sempat memundurkan kepalanya saat dia sudah merasa cukup, namun Dimitri segera meraih pinggangnya, dan menariknya hingga gadis itu naik kepangkuan dan duduk dengan posisi mengangkang tanpa melepaskan cumbuan.


"Ng ..." gadis itu sedikit menggumam saat merasakan sesuatu yang mengganjal di pangkal pahanya. Dia sejenak melepas tautan bibir mereka lalu menunduk untuk melihat.


"Bukan apa-apa, itu hanya naga ajaibku." Dimitri segera membingkai wajah Rania.


"Naga ajaib?" gadis itu mengerutkan dahi.


"Iya, naga ajaibnya bangun setiap kali ada di dekatmu."


"Hum?"


"Dan aku nggak tahu apa aku akan bisa bertahan lagi setelah ini."


"Kenapa?"


"Karena naga ajaibnya sulit dikendalikan."


"Mmm...


"Karena kamu." Dimitri kembali meraup bibir menggoda Rania yang masih basah bekas cumbuannya yang sempat terjeda. Mel*matnya dengan rakus, dan menyesapnya dengan ganas. Berlomba dengan gejolak di dada yang semakin bergelora.


Kedua tangannya sudah bergerilya dibalik hoodie yang menempel di tubuh Rania, menyentuh kulit tubuh gadis itu yang memanas dan mulai berkeringat.


Sementara Gadis itu mencoba untuk tetap mempertahankan kesadarannya.


Tapi mengapa ini rasanya indah sekali? batin Rania, dan dia mati-matian bertahan.


Napasnya menderu-deru, dan dadanya naik turun. Tubuhnya semakin memanas seiring sentuhan pria itu yang semakin berani. Menjelajah setiap lekukan yang dia temui lalu berhenti ketika telapak tangannya menemukan gundukan itu.


Rania menahan napasnya sejenak. Lalu kedua mata mereka terbuka dan saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Lalu dengan perlahan Rania merasakan tangan panas Dimitri mulai meremat lembut dadanya.


"Ah, ..." ******* kecil lolos dari mulutnya, dan Rania sedikit mengejang saat dia merasakan sengatan di dalam tubuhnya, membuat pria itu mengerjap. Kemudian melanjutkan cumbuan menjadi semakin intens.


Rania mencoba menghentikannya dengan menarik tangan Dimitri agar terlepas dari dadanya, dan berhasil. Namun yang terjadi malah semakin gila. Pria itu mencengkeram kedua tangannya, kemudian mendorongnya hingga mereka jatuh saling menindih diatas rumput yang masih basah karena embun.


Dimitri menahan kedua tangan gadis itu dan mencengkeramnya diatas kepala dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain merayap diperutnya. Lalu naik dan kembali menyentuh bulatan indah di dalam bra. Kemudian merematnya dengan lembut.


Jelas sekali Rania sudah terbawa suasana, dia tampak pasrah dibawah sana, dan segalanya berlangsung begitu intens. Sepertinya kali ini dia akan berhasil. Gadis itu bahkan memejamkan mata, dan tampak sudah tak bisa berkutik lagi. Perasaannya sudah diliputi hasrat, begitu juga dengan dirinya.


"Dim!! kalian Dimana?" suara Satria samar menginterupsi. Segera saja keduanya mengerjap dan kembali pada kesadaran. Melepaskan tautan bibir dan melepaskan rangkulan yang sebelumnya begitu erat.


Dimitri kemudian bangkit dan menarik Rania agar mereka kembali pada posisi duduk seperti sebelumnya.


"Ah, ... kalian disini rupanya?" pria paruh baya itu tiba, diikuti Sofia dan Maharani yang berjalan di belakang, dengan stelan olah raga sama seperti mereka.


"Apa?" Dimitri mencoba bersikap tenang, meski dadanya masih berdegup begitu kencang karena hasratnya harus terhenti detik itu juga.


"Tidak, hanya mau mengingatkan jangan sampai terlambat untuk pemotretan." sahut Sofia.


"Nggak. Ini juga mau pulang." jawab pria itu, yang kemudian bangkit. "Kamu juga mau pulang Ran?" tanya dimitri kepada Rania, dan gadis itu hanya menjawabnya dengan anggukan. Kemudian mengikutinya yang berjalan menjauhi orang tua mereka yang baru saja tiba.


"Mereka itu kenapa? marahan ya? sepertinya baru saja bertengkar?" Sofia menatap kepergian anaknya yang menjauh dengan raut wajah cemberut.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


jiah, ... masih selamat 🤣🤣🤣


like, komen sama hadiahnya jangan lupa kirim ya. lope lope sekebon. 😘😘