All About You

All About You
Sugar Baby Dan Sugar Daddy



*


*


"Kenapa sih kamu harus turun tangan juga lihat semua ini? Bukanya ada Om Andra ya? Bisa kali nyuruh dia?" Mereka memasuki hotel pinggir pantai yang baru selesai di bangun, dan kini sedang dalam tahap finishing. Setelah mampir ke rumah sakit terlebih dahulu untuk check up dan memenuhi jadwal pemasangan alat kontrasepsi bagi Rania. Perempuan itu tidak mau kecolongan lagi kali ini, agar dirinya bisa kembali ke lintasan balap di musim depan.


"Aku hanya mau memastikan kalau semuanya sesuai dengan yang aku rencanakan Zai." Dimitri menjawab, dengan pendangan yang tak dia lepaskan dari sekeiling hotel yang dalam waktu satu minggu ke depan akan segera di buka itu.


"Menurut aku udah bagus." Rania juga melakukan hal yang sama.


"Benarkah?" Pria itu menoleh kepadanya, lalu dia tersenyum.


"Iya, baru sampai lobby, tapi suasananya udah bagus begini. Apa lagi kalau di kamarnya."


"Hmm ... kamu pikir begitu?"


"Iya,"


"Well, ini sebagian rancanganya adalah ideku dan Papi, jadi ...


"Pantesan."


"Apa?"


"Nggak biasa."


"Apa?" Dimitri terkekeh.


"Apa ini untuk hotel bintang lima?" Perempuan itu kemudian bertanya.


"Tentu saja, masa aku membuat hotel melati?" jawab Dimitri sekenanya.


"Dih, tahu juga hotel melati? Pernah nyoba main di sana ya? Sama temen bobo yang mana? Masa Dimitri Alexei ngajak temen bobonya ke hotel melati sih? nggak level." Rania mencibir.


"What?" Pria itu tertawa lagi.


"Ya kali anggota keluarga Nikolai bikinnya hotel melati? Kasih buat orang lain aja, kita mah mainnya internasionalan."


Kata-kata perempuan itu membuat tawa Dimitri semakin keras.


"Ada-ada saja kamu ini, Zai Zai." Dia menggelengkan kepala sambil mengusak puncak kepalanya.


"Eh, udah ada yang kerja juga ya?" Rania melihat beberapa orang yang berlalu lalang membawa beberapa barang. Karyawan hotel yamg tengah menyekesaikan tugasnya.


"Sudah, mereka merapikan beberapa hal. Minggu depan hotelnya sudah di buka."


"Beneran? Cepet amat? Nggak tahu kamu bikin hotel, tapi udah pembukaan aja?" Mereka berkeliling area lobby di lantai satu hingga ke luar bangunan. Dimana terdapat taman yang cukup luas dan kolam renang berukuran besar.


"Itulah kenapa aku sering pulang malam, banyak hal yang aku usahakan, dan ada beberapa proyek yang di rencanakan." jelas Dimitri.


"Hmm ... kamu keren Papi." Rania memeluk tubuh pria itu dengan erat.


"Sekarang bilang keren, tapi kemarin-kemarin marah-marah karena aku sering pulang malam?" Dimitri mengingatkan beberapa kejadian yang membuat mereka hampir bertengkar.


"Aku kan nggak tahu gimana kerjaan kamu. Yang aku tahu kamu pergi pagi, pulang malam."


"Sekarang tahu kan? Salah satunya untuk membuat hal seperti ini." Dia berjalan di depan, lalu menatap puas keadaan sekitar.


"Iya iya aku tahu. Maaf ya?" Rania bergelayut manja di lengan suaminya.


"Maaf untuk apa?"


"Karena aku sering marah-marah kalau kamu pulang kerja." Rania mendongak.


"Ah, nanti juga kamu marah-marah lagi. Besok-besok kan aku masih sibuk, dan pasti pulang malam." Dimitri mendelik.


"Kenapa gitu?"


"Masih banyak proyek lain yang dalam proses pengerjaan, yang baru akan di mulai, dan yang sedang di selesaikan."


"Kenapa kamu yang sibuk? Kan orang lain yang bangun? Emang kamu ikut ngerjain juga ya? Aneh, masa direktur ikut bangun proyek?"


"Kalau pegawai bekerja keras untuk mendapatkan gaji dan bonus, maka aku harus bekerja lebih keras agar perusahaan bisa terus bertahan. Tidak bisa hanya membiarkan pegawai saja yang bekerja keras."


"Kamu kan pemiliknya, staff kamu banyak. Kenapa nggak suruh mereka aja yang kerja, jadinya kamu bisa santai. Kayak CEO-CEO di novel gitu. Yag santai dan bisa menikmati hidup mewah."


"Tidak bisa begitu Zai, kalau aku sebagai pemilik hanya bersantai-santai saja, bisa hancur perusahaan. Bayangkan kalau papi tidak bekerja keras selama ini, maka aku tidak mungkin bisa seperti sekarang. Kak Dygta, dan adik-adikku akan sengsara."


"Hmmm ...


"Mengerti sekarang, kenapa aku begitu sibuk?"


"Ngerti sih, tapi aku pusing mikirinnya."


"Ya sudah, tidak usah ikut memikirkan soal itu. Biarkan saja aku yang bekerja, sementara kamu balapan saja." Lalu dia tertawa.


"Kamu ketawa terus deh? Kayak habis dapat lotere." Rania dengan segala kepolosannya.


"Kamu tidak tahu sebahagia apa aku sekarang ini." Dimitri berujar.


"Oh ya? Kenapa? Beneran menang lotere ya?"


"Lebih dari lotere Zai."


"Hmm ... apaan?"


Pria itu menatap wajah Rania dengan perasaan berdebar-debar. Dan semakin hari perasaannya menjadi semakin bertambah saja.


"Huh, aku tahu otak kamu lagi kemana sekarang ini." Rania mengusap wajah suaminya saat dia faham dengan tatapannya.


"Apa?"


"Nggak salah lagi, inimah pasti!"


"Iya apa? Bicaramu kadang tidak jelas."


"Dih, masih nggak jelasan kamu lah."


Dimitri tersenyum.


"Eh, anak-anak gimana ya, apa mereka nggak rewel aku tinggal? Ini kan pertama kali aku pergi?" Rania baru ingat dengan bayi kembarnya yang mereka tinggal di rumah bersama mertuanya. Lalu dia memutuskan untuk melakukan panggilan video kepada Sofia.


"Ah, ... mereka pasti baik-baik saja. Kamu tahu sendiri bagaimana Mama dan Papi."


"Iya sih, mereka kan lebih anteng sama Mama dan Papi ya?"


"Itu tahu?"


"Ya Ran?" Wajah Sofia mendominasi layar ponselnya setelah panggilan tersambung.


"Mama? mereka nggak rewel?" Rania langsung bertanya.


"Lihat saja." Sang ibu mertua mengalihkan kamera ke arah belakang di mana tampak Satria tengah duduk santai setengah berbaring dengan dua cucu kembarnya dalam dekapan, di kursi malas di belakang rumah besarnya.


"Mereka tidur?"


"Iya, si kembar tidak mau lepas dari Papi. Tadi saja menangis waktu di pindahkan. Jadi ya sudah, Mama biarkan saja seperti itu."


"Aku kirain rewel, dari tadi ingat terus?"


"Tidak ada ceritanya mereka rewel, jadi tidak usah khawatir."


"Iya Ma."


"Jadi bagaimana hotelnya? Apa sudah selesai?" Sofia kemudian bertanya.


"Proses finishing Mom, minggu depan bisa kita buka." Dimitri yang menjawab.


"Ooo, cepat juga ya?"


"Ya, begitulah."


"Baiklah, itu bagus."


"Yes Mom. Oh iya, tidak apa-apa jika kami pulang agak terlambat? Masih ada beberapa hal yag harus aku lihat di sini." Dimitri berujar.


"Tidak apa-apa, tenang saja. Pastikan semuanya sesuai dengan apa yang kita mau, terutama Papimu. Tahu sendiri kan bagaimana Papi?"


"Ya Mom, aku tahu." Dimitri menganggukkan kepala.


"Baiklah, kerjakam saja apa yang perlu di kerjakan. Jika bisa membuat hotel lebih baik."


"Baik Mom."


"Ya sudah, Mama tutup telefonnya, mau menyiapkan su*u mereka, siapa tahu sebentar lagi bangun."


"Oke Ma." Lalu panggilan pun berakhir.


"Dengar kan? Mereka pasti akan baik-baik saja denga Mama, tidak usah khawatir." Dimitri berujar.


"Iya sih, tapi kadang aku nggak enak karena mereka lebih sering sama Mama dari pada sama aku."


"Kenapa kamu merasa tidak enak?"


"Ya seharusnya kan mereka aku yang urus, tapi ...


"Apa kamu yang minta kepada Mama untuk mengurus anak kita?"


"Bukan, mama sendiri yang mau."


"Terus, apa ada yang kamu tidak setujui dari cara Mama da Papi mengurus anak kita?"


"Nggak juga, orang tua kamu mengurus si kembar dengan baik. Malah mungkin lebih bak dari aku."


"Jadi apa masalahnya?"


"Sebenernya sih nggak ada." Rania tertawa.


"Jadi apa yang kamu keluhkan?"


"Aku nggak ngeluh, cuma lagi mikir aja."


"Soal apa?"


"Kita nggak dosa gitu, biarin anak kita di urus sama Mama dan Papi?"


"Kenapa dosa?" Dimitri menjengit.


"Ya, seharusnya kan mereka tanggung jawab kita, tapi malah di ambil alih sama orang tua kamu."


"Apa salah kalau nenek kakek mengurus cucunya, tapi tanpa kita minta. Mereka yang mau sendiri."


"Umm ... kayaknya nggak. Tapi nggak tahu juga sih."


"Aku tahu, cuma ...


"Dan lagi di rumah banyak yang membantu kan? Dua suster juga besok datang untuk mengasuh anak-anak, jadi Mama dan Papi tidak akan kewalahan."


"Udah ada ya?"


"Kabar dari bu Sandra begitu."


"Hmmm ...


"Jadi, apa yang harus kita khawatirkan?"


"Segampang itu ya?"


"Gampang lah, kenapa harus di buat sulit?"


"Hmm ...


"Jadi, ayo kita kencan?" Dimitri tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Apaan?"


"Kencan pertama." Pria itu tergelak.


"Kencan pertama?"


"Iya, kencan pertama setelah kamu melahirkan?" Dia menggerak-gerakkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah.


"Duh, perasaan aku nggak enak nih?" Rania berusaha menghindar meski tetap saja pria itu dapat menghentikannya.


Dimitri menuntunnya memasuki gedung hotel yang belum benar-benar rampung itu. Membiarkan lift melesat membawa mereka hingga ke lantai paling atas bangunan tersebut.


"Sepi Yang, ... " Rania mengikuti langkah suaminya menuju ke satu-satunya unit di lantai teratas itu.


"Memang, itulah mengapa aku meilih lantai paling atas." Dimitri menjawab.


"Ah, ... kalau siang-siang gini di bawa ke hotel aku berasa jadi sugar baby." Rania terkikik geli karena pikirannya sendiri.


"Ya anggap saja begitu." Dimitri pun tertawa.


"Iya sugar baby halal. Hahaha ..." Dia kembali bergelayut pada lengan suaminya.


"Itu tahu?"


"Oke, sugar daddy. Kita mau ngapain aja di sini?"


"Apa saja boleh." Dimitri menempelkan selembar kartu pada gagang pintu, yang kemudian membuat benda tersebut terbuka dengan sendirinya.


"Wah, ... kamu nggak main-main kalau bikin sesuatu ya? canggih!"


"Hmm ... sudah tahu kan hasilnya? contohnya Anya dan Zenya." Pria itu tergelak, lalu menariknya ke dalam ruangan besar nan mewah tersebut.


"Hmm ... serius Pak." Rania tertegun untuk beberapa saat. Melihat pemandangan di dalam ruangan tersebut yang jauh dari bayangan.


Suit room kelas satu dengan segala fasilitas mewahnya. Dan segala hal sudah tersedia seperti mengetahui akan di kunjungi oleh pemiliknya. Dan ini bahkan lebih dari sekedar hotel bintang lima.


"Kamu beneran nggak main-main." Katanya lagi, begitu mereka tiba di sebuah ruangan dengan jendela besar bertirai indah tersebut.


"Hmm ... kamu tahu ... kalau aku selalu serius akan segala hal." Dimitri menariknya perlahan hingga tubuh mereka kini tak berjarak. Lalu dia memeluknya dengan penuh perasaan.


"I miss you, Zai." Pria itu berbisik.


"Setiap hari kita ketemu kan?"


"Hmm ... but in a diferent way." Dia mendekatkan wajahnya.


Rania mengatupkan mulutnya rapat-rapat, namun pandangannya berbinar. Dadanya tentu saja berdebar kencang dan dia mulai merasa gugup.


"Kamu tahu, aku merasa gugup sekarang ini." Dia malah mengutaraka perasaannya.


"Apa?" Dimitri tertawa.


"Iya, ini kayak kita mau malam pertama, tapi bedanya ini siang-siang." Rania dengan kekehan kecilnya.


"Anggap saja begitu."


"Apa rasanya akan sakit kayak pertama kita melakukannya?" Rania dengan kepolosannya.


"Aku tidak tahu, aku belum pernah melakukanya dengan yag sudah melahirkan."


Lalu Rania memukul dada Dimitri dengan keras.


"Aww! Kenapa kamu memukulku Zai?" keluh pria itu, yang menahan tangan Rania.


"Ya kali kamu udah punya anak sama orang lain?"


"Tidak Zai, aku hanya bercanda."


"Candaan kamu nggak lucu."


"Aku bukan pelawak."


"Eh tapi ada kelakuan kamu yang bikin ngakak?"


"Apa?"


"Waktu kamu ...


"Ah, cerewet!" Dan kesabaran Dimitri pun hampir habis setelah mendengarkan ocehannya.


Dia segera menarik pinggang Rania, seraya menundukkan wajah untuk meraih bibirnya yang menggoda. Dan suara decapan tentu saja segera mengudara di ruangan tersebut.


Dimitri mendorongnya ke arah kamar tidur yang terletak di depan mereka. Lalu dia mengungkungnya saat tubuh Rania membentur daun pintu. Dan pria itu memperdalam ciumannya saat di rasa Rania mulai terbawa suasana.


Sebelah tangannya sudah merayap di balik kemeja yang rania kenakan, sementara tangan lainnya menekan handle pintu sehingga benda itu terbuka. Dan di menit berikutnya, mereka sudah saling menindih di atas tempat tidur.


Dengan tergesa Dimitri melepaskan pakaiannya sendiri, seolah dia tengah berlomba dengan waktu. Dia tak mau momen ini gagal untuk ke sekian kalianya karena suatu hambatan yang mungkin akan mengganggu mereka.


"Kamu kenapa sih cepet-cepet? Nggak sabaran amat?" Rania beraksi di bawahnya.


"Umm ..." Dimitri terdiam menegakkan tubuhnya sebentar, dan dia baru ingat saat ini mereka berada di mana. Lalu pria itu terkekeh.


"Aku pikir kita di rumah." Katanya, yang melemparkan kemeja dan kausnya ke belakang hingga terjatuh di lantai berkarpet bulu itu.


"Masih merasa ada anak-anak kah?" Rania pun bangkit seraya mendongakkan kepala.


Pria itu mengangguk pelan.


"Padahal udah jauh-jauh bawa aku kesini biar nggak ada gangguan. Tapi tetep aja ...


"Hmmm ... kita sudah terbiasa ada anak-anak."


Kini Rania yang mengangguk.


Dimitri kemudian kembali menundukkan tubuhnya untuk melanjutkan cumbuan. Dan dia mendorong tubuh Rania hingga terlentang di atas tempat tidur. Dengan kedua tangannya yang berusaha melucuti pakaian yang menempel di tubuh perempuan itu.


Dia tertegun sebentar demi menatap pemandangan yang terpampang di depan mata. Tubuh berisi dengan dada dan pinggul yang lebih besar, berbalut kain tipis berwarna merah yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Umm, ...


"Apa kamu suka? Aku baru membelinya kemarin di ..." Tanpa aba-aba pria itu membungkamnya dengan cumbuan.


Menarik tengkuknya sehingga ciumannya terasa begitu dalam, lalu menyentuh tubuhnya yang pasrah di bawahnya.


"Dasar kamu nakal!" Bisik Dimitri sambil terkekeh. Tentu saja dia menyukai hal tersebut. Bagaimana tidak? Hal inilah yang paling dia tunggu selama beberapa minggu belakangan. Dan perasaannya kian membuncah setiap kali kulit tubuh mereka bersentuhan.


"Ahh, ..." Des*han Rania segera mengudara seiring cumbuannya yang semakin intens. Dan dia menggeliat ketika Dimitri mengecupi leher, dan kemudian pria itu menenggelamkan wajah dibelahan dadanya.


Sebelah tangannya meremat pay**aranya, sambil mempermainkan puncaknya yang telah mengeras.


"Jangan keras-keras nanti ..." terlambat, karena pria itu sudah melakukannya seperti yang memang selalu dia lakukan. Meski Dimitri merasa dia melakukannya denga lembut, namun tetap saja hal itu membuat air s**unya keluar dengan sendirinya.


"Ups, maaf." Pria itu berbisik, seraya mel*mat bulatan indah itu, lalu menyesapnya perlahan.


"Ah, ...Yang!" Rania meremat rambut di kepala pria itu untuk menyalurkan hasratnya yang kian menanjak seiring dengan sentuhannya yang semakin liar.


Jari-jarinya menari-nari, menyentuh setiap bagian tubuh Rania hingga ke yang paling sensitif. Hingga membuatnyamerasa tak tahan lagi.


Dimitri menatap wajahnya yang sudah memerah, napasnya menderu-deru, dan dadanya naik turun dengan cepat, lalu dia bangkit untuk bersiap.


"Umm ..." Rania menahan perut pria itu saat dia sudah mengarahkan naga ajaib pada miliknya, hampir saja dia mengurungkan niat untuk melanjutkan percintaan hari itu ketika mengingat proses persalinan lebih dari satu bulan yang lalu.


Namun pandangam Dimitri sudah berkabut, dan dia tidak mungkin akan berhenti. Tidak kali ini! Dirinya sudah sengaja membawanya ke tempat aman, yang memungkinkan tidak akan ada siapa pun yang mengganggu.


Tidak gedoran ibunya di pintu, tidak juga rengekan bayi mereka yang kehausan.


"Not now!" ujarnya, dan dia mendorong miliknya perlahan.


"Tapi pelan-pelan, aku ... Ah, ..." kepala Rania tersentak ke belakang begitu alat tempur pria itu menerobos pusat tubuhnya.


Ada rasa sakit, juga ngilu yang menyerangnya, juga sedikit ketakutan setiap kali dia mengingat saat-saat dirinya menjalani proses persalinan dua bayi kembarnya. Yang ke semuanya becampur menjadi satu, membuat adrenalinnya berpacu dengan kencangnya.


"Ngh, ..." erangnya saat Dimitri mulai bergerak.


Perlahan tapi pasti, tubuh mereka sudah bertautan dan kemungkinan tidak akan terlepas dengan mudah.


Dimitri kembali merunduk, mengungkung tubuh Rania di antara kedua tangannya. Memulai kembali cumbuan, dan melanjutkan hentakan.


Kedua tangan Rania menggapai-gapai tubuh di atasnya. Lalu mencengkeram kuat bahu kokoh pria itu sehingga dada mereka saling menempel dan bergesekan.


Des*han dan erangan terus mengudara pada hampir tengah hari tersebut. Menghantarkan dua sejoli yang saling merindu itu pada puncak percintaan yang begitu indah setelah tertahan selama berminggu-minggu.


Rania bahkan sudah lupa dengan ketakutannya, yang kini berganti dengan semangat. Rasa ngilu dan sakit di pusat tubuhnya berubah menjadi rasa nikmat dan ketidak sabaran yang terus mendominasi. Sehingga dirinya secara refleks menggerakan pinggulnya. Membuat Dimitri tertegun untuk menatapnya sebentar, lalu sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya.


"Hmm ... Yang, ..." rengeknya ketika dia merasakan sesuatu yang begitu mendesak.


Sesuatu di bawah sana bahkan mulai beerdenyut kencang seiring perasaannya yang kian membuncah, dan Rania sudah tak bisa lagi menahan diri.


Tubuhnya bergetar dan cengkeramannya pada Dimitri menjadi semakin kencang kala pelepasan itu memghantamnya dengan begitu hebat.


Sementara pria di atasnya terus berpacu. Apalagi setelah menyadari bahwa Rania sudah mendapatkan kl**aksnya. Dia menambah hentakannya menjadi lebih keras dan lebih cepat. Yang setelah beberapa saat menjadi tak terkendali. Dan sampai jugalah dia pada puncaknya.


Dimitri menekan pinggulnya dengan keras sehingga naga ajaibnya terbenam seluruhnya pada Rania. Diikuti geraman rendah saat dia juga membenamkan wajah di ceruk leher perempuan itu.


*


*


*


Hadeh, ... udah pengantenan lagi🤣🤣