
🌹
🌹
"Dandanan aku udah bener nggak sih?" Rania membenahi pakaiannya.
Celana panjang berwarna hitam dipadukan dengan tanktop dan blazer berwarna putih. Dia juga mengenakan sepatu kets berwarna senada dengan blazernya. Dengan make up tipis seperti biasanya. Dan terakhir dia mengoleskan lipgloss pada bibir mungilnya.
Sementara Dimitri pun berpenampilan semi formal namun juga santai dengan kemeja hitam yang lengannya dia gulung sampai sikut.
"Sudah." Dimitri berdiri di belakangnya, merapikan rambut panjang Rania yang dia buat bergelombang hasil kreasi orang suruhan Sofia yang dikirim perempuan itu setelah mereka bertelfon ria sehari sebelumnya.
"Beneran? apa aku nggak akan bikin kamu malu nanti disana?" Rania menoleh sedikit.
"Bikin malu?"
"Iya,"
"Kenapa kamu bikin aku malu?"
"Karena penampilan aku."
"Penampilan kamu?"
"Ini." Rania menunjuk dirinya sendiri, kemudian menggerakan tangannya dari atas ke bawah.
"Apa ada yang salah?"
"Penampilanku nggak kayak perempuan lain."
"Lalu? masalahnya dimana?"
Rania terdiam.
"Thats why i like you. Kamu nggak seperti perempuan lain." Dimitri memeluk pundaknya dari belakang, lalu mengecupi puncak kepalanya.
"Gombal deh?" Rania dengan pipinya yang merona.
"Serius." pria itu mengeratkan pelukannya.
"Okelah, ...
"Kenapa sih perempuan suka insecure dengan penampilan? aku heran." dia melepaskan rangkulan tangannya.
"Aku cuma takut nanti disana ada yang lebih cantik, lebih gaya, lebih seksi."
Dimitri tertawa.
"Malah ketawa? temen-temen kamu pasti cantik-cantik."
"Nggak tahu."
"Kok nggak tahu?"
"Kan sudah lama tidak bertemu? terakhir kali sebelum aku berangkat ke Rusia."
"Kapan itu?"
"Kelas 2 smp."
"Oh, ... pasti waktu itu mereka lucu-lucu ya?"
"Lumayan."
"Dan sekarang jadi cantik."
Dimitri terdiam, dia memikirkan kalimat apa yang harus diucapkan? jangan sampai dirinya salah berucap sehingga membuat istrinya ini mengalami perubahan mood yang buruk seperti hari-hari kemarin saat bertanya apakah Clarra itu cantik atau tidak.
Dan saat dia menjawab dengan sejujurnya bahwa sepupunya itu memang cantik, maka bencana besar datang kala mereka hampir saja pergi tidur.
Dan kemarahan Rania sembuh saat dengan terpaksa dia mengijinkannya mengendarai motor lagi di area belakang rumah mereka.
Dimitri menghela napas pelan.
"Kenapa?"
"Aku bingung jawabnya."
"Bingung kenapa?"
"Nanti kalau aku jawab cantik kamu pasti marah lagi, tapi kalau aku jawab nggak tahu kamu akan menyebutku bohong." ucap Dimitri, yang ternyata membuat Rania tertawa.
"Sikap aku sering bikin kamu bingung ya?" kayanya.
"Hu'um." pria itu menganggukan kepala.
"Maaf, salahin aja anak-anakmu nih, yang bikin aku kayak gini." Rania memajukan perutnya yang masih rata.
"Apa?" Dimitri tertawa. "Masa aku mau menyalahkan mereka? nggak mungkin." dia menyentuh perut yang mulai terasa mengecang itu.
"Terus siapa yang mau kamu salahin sekarang?"
"Nggak ada yang bisa disalahin, karena siklus normalnya seperti itu, bukan?"
"Hmmm ...
"Ternyata banyak sekali yang aku nggak tahu, dan banyak hal yang seharusnya kita baca sebagai calon orang tua. Jagan sampai salah pemikiran."
Rania hanya tersenyum.
"Aku hanya bisa memahami hal-hal logis yang memiliki penjelasan ilmiah dan masuk akal, tapi aku lupa kalau nggak semua hal di dunia ini bisa dijelaska secara logika. Beberapa diantaranya masalah ini." Dimitri meraup pinggang perempuan itu hingga jarak mereka tak lagi tersisa.
"Mitos ataupun fakta, pada kenyataannya semua terjadi dan aku alami sendiri, disamping pengalamannya papi dan om Arfan juga."
"Masa?"
"Iya."
"Kalau dipikir lagi aneh ya? kenapa coba harus gitu? tapi kita nggak tahu kan?"
"Iya benar."
"Jadi, kamu masih mau kan kalau aku suruh pakai parfumku lagi?"
"Astaga?" Dimitri menengadaka kepalanya ke atas. "Apa aku tidak bisa menolak?"
"Nggak. Nanti aku mual lagi kalau kamu pakai parfum punya kamu."
"Ya ampun!"
Rania tertawa.
"Baiklah ... demi kamu, hanya parfum kan? tidak dengan pakaiannya?"
"Hu'um."
"Oke oke."
Rania tersenyum seraya menyentuh wajah Dimitri dengan gemas. Kemudian dia menyemprotkan parfum beraroma lembut nan manis itu ke pakaian yang dikenakan suaminya.
"Ah, ... wangimu enak sekali papi!" perempuan itu segera saja merangkul tubuh Dimitri dengan erat.
"Hmm ..." sementara Dimitri tersenyum karenanya.
Nikmati saja, Dim. Nikmati, bukankah kebahagiaaannya segalanya bagimu? lantas kenapa perkara sepele seperti ini harus menjadi masalah? batinnya bermonolog.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah hotel di tengah kota Jakarta menjadi lokasi reuni hari itu. Keadaan sudah ramai saat mereka juga tiba, dan beberapa orang menyapa. Begitu juga Reno yang datang menghampiri mereka berdua.
Orang-orang langsung mengenali Dimitri, apalagi dengan kehadiran Rania disampingnya. Siapa yang tidak tahu pembalap nasional yang hampir saja menjadi juara dunia jika saja tak terjadi insiden mengerikan di lintasan beberpaa minggu sebelumnya? yang membuatnya dengan terpaksa harus mundur dari lintasan, dan semua orang tahu itu.
Segera saja mereka menjadi sorotan, karena ini pertama kalinya pula pasangan itu tampil di depan publik setelah pernikahan mereka yang cukup menyita perhatian.
Beberapa orang menyapa Dimitri, sementara yang lainnya mendekati Rania, yang tiba-tiba saja menjadi tamu khusus pada petang itu.
Kamera ponsel berhenti diarahkan kepada Rania, dan mereka semua mulai menyingkir.
"Ah, ... aku menyesal datang kesini. Tiba-tiba saja mereka semua menjadi akrab, dan itu membuatku sangat kesal." gerutunya setelah Rania berada dalam rangkulannya.
Dan perempuan itu malah tertawa karenanya.
"Kamu senang sekali huh? jadi terkenal seperti ini sangat menyenangkan ya untukmu?" Dimitri menempelkan keningnya pada kepala Rania.
"Temen-temen kamu lumayan asik, dan aku seneng ketemu banyak orang. Bukan cuma Mbak Lina sama temennya doang."
"Asik ya huh? itu karena kamu sangat terkenal."
"Iyakah?"
"Mungkin." pria itu tergelak, "Hanya hati-hati saja, tidak semua orang sebaik penglihatanmu."
"Hmm ...
"Aku serius."
"Baiklah."
Dan acara segera dimulai dengan ramah tamah dari si pembawa acara yang berlangsung selama beberapa menit. Kemudian berlanjut pada acara lainnya. Mengenang masa-masa SMP yang penuh warna dan peristiwa.
Tentang mereka yang jadi bintang pada masanya, tentang anak-anak yang menjadi langganan konserling karena selalu bermasalah. Tentang mereka yang jadi idola di kalangan teman-temannya, juga mereka yang selalu berbuat onar.
"Dan bapak yang satu ini, cukup terkenal juga di antara kita. Apalagi di kalangan para gadis. Meskipun dia tidak menyelesaikan sekolahnya bersama kita karena harus melanjutkan pendidikan diluar negeri, tapi kehadirannya saat ini cukup mengobati kerinduan akan masa-masa itu bukan?" Reno berbicara di depan khalayak.
Kemudian kamera menyorot kepada Dimitri dan seketika tepuk tangan pun riuh bersahutan.
Rania mendongak ke arahnya.
"Serius?"
"Mereka berlebihan." Dimitri tertawa.
"Tidak menyangka juga dia akan menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar di usia semuda itu, membuat sekolah kita pasti merasa bangga karenanya."
Tepuk tangan kembali bergemuruh.
"Sukses untukmu Dim! dan balapannya." ucap Reno lagi, kemudian tertawa.
Dimitri dengan terpaksa bangkit dari kursinya, kemudian menatap sekeliling sambil membungkukan badan dan sesekali melambaikan tangan.
"Ya ampun, kenapa aku datang ke acara semacam ini?" pria itu bergumam. Tiba-tiba saja dirinya merasa canggung.
Lalu mereka melanjutkan acara ke beberapa sesi berikutnya. Acara makan yang diiringi musik live dari panggung di depan ballroom.
"Kamu nggak suka makanannya?" Dimitri bereaksi saat melihat Rania tak melanjutkan kegiatan makannya.
"Hu'um, ..."
"Mual?"
"Nggak. Cuma nggak suka aja."
"Baiklah, mau aku ambilkan yang lain?"
"Nggak usah. Aku mau ke toilet dulu ya?" Rania kemudian bangkit.
"Sendiri bisa? toiletnya ada di ujung sana."
"Bisa, aku nggak akan nyasar."
Dimitri terkekeh.
***
"Huh, nyebelin nggak sih, niat aku datang kan karena ada dia. Tapi masa dia datang sama istrinya, aku pikir dia datang sendiri."
"Aku pikir juga begitu, niatnya mau deketin dia lagi, kan lumayan tuh kenal sama bos besar. Untung buat kita."
"Memangnya bisa ya?"
"Bisa lah,"
"Dia sudah punya istri."
"Laki-laki tetaplah laki-laki. Mau dia singel ataupun berkeluarga. Di goda dikit, pasti ikut. Sayangnya dia datang sama istrinya, jadi susah deh mau godain dia."
Tiga orang perempuan terdengar bercakap-cakap di dekat wastafel selagi Rania menyelesaikan urusannya di salah satu toilet.
Rania menggelengkan kepalan sambil tertawa pelan mendengar percakapan tersebut.
"Bisalah, nanti juga pasti dapat. Gampang kalau soal itu." mereka terdengar berbicara lagi.
"Namanya juga laki-laki, biarpun udah punya istri, kalau digoda pasti luluh juga. Apalagi istrinya kayak gitu."
"Masa? tapi dia lumayan cantik juga."
"Apa? kamu bilang cantik? dandanannya norak begitu? mana betah Dimitri lama-lama sama dia, tahu sendiri reputasinya gimana."
Rania membulatkan matanya.
"Iya, kali mereka nikah cuma pura-pura. Itu biasa kan di kalangan mereka? biar cepet dapat warisan?"
"Beneran ya? nggak mungkin banget? masa Dimitri Alexei seleranya jadi turun dan malah tertarik kepada pembalap seperti dia." kemudian mereka tertawa.
Rania mengepalkan tangannya, tidak menyangka sedikitpun bahwa yang sedang mereka bicarakan adalah suaminya. Dan dengan jelas dirinya bahkan di jelek-jelekan seperti itu.
Sabar Rania! dia menghela napas pelan, kemudian menegak tubuh.
Berpikir!
Kendalikan emosimu, jangan sampai mempermalukan suamimu. dia terus bermonolog.
Kemudian sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya.
Rania mengintip lewat celah pintu dan melihat tiga perempuan cantik dengam penampilan sempurna. Mengenakan gaun indah yang tampak mahal dan make up mempesona. Tapi siapa sangka kelakuannya tak lebih dari perempuan murahan.
Perempuan itu kemudian menyalakan nada dering di ponselnya, sengaja sekeras mungkin agar mereka yang sedang berdiskusi di sana mendengarnya.
"Halo?"
"Oh, ... iya. nggak usah, nanti aku aja yamg kesana." dia membuka pintu toilet.
"Nggak usah, biar aku aja. Jadi pengen tahu secantik apa sih dia sampai-sampai berani godain suami aku." Rania keluar lalu mondar mandir di area toilet dimana ketiga perempuan yang tengah membicarakannya berdiri terkejut di depan wastafel.
"Oh, ..nggak usah, pakai cara aku aja." dia melirik sekilas.
"Iya, mau aku gilas di lintasan, atau gusur pakai motor aku aja, biar dia tahu kalau gangguin suami orang itu salah."
"Iya, sayang banget wajah cantiknya itu bakal rusak permanen kena aspal lintasan." dia memdekat ke wastafel kemudian pura-pura bercermin. "Masih beruntung kalau dia masih hidup. Korban terakhir aku buang ke Kali Angke."
"Ya apalagi? kalau dibiarin bisa ngelunjak. Biar dia tahu juga lagi berhadapan dengan siapa." dia menyentuh wajahnya sendiri.
"Oke, bawa aja ke tempat latihan ya? nanti aku langsung kesana setelah selesai nemenin suami aku reunian. Sekalian lagi nandain juga, kayaknya disini banyak yang kayak gitu. Kita jalankan rencananya lagi setelah ini, oke?" kemudian dia menyudahi percakapan palsu tersebut, kemudian keluar dari toilet sementara ketiga perempuan di sebelahnya terdiam dengan wajah memucat.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
hadeh, macam-macam sama si oneng, abis lu pada. 🤣🤣🤣
like komen sama hadiahnya lagi atuh😉😉
lope lope sekebon jahe 😘😘