All About You

All About You
Berenang



🌹


🌹


Mereka tiba di Bandara Internasional Zainudin Abdul Madjid, Praya, Lombok Tengah pada malam hari. Setelah menempuh perjalanan tak lebih dua jam saja dari Jakarta.


Suasana berbeda menyambut para penumpang begitu keluar dari Bandara. Tentu saja kota itu telah berbenah diri sedemikian rupa hingga kini tampak lebih baik dari sebelumnya.


Malam terus merangkak naik, namun keadaan kota pantai yang telah lama menjadi kota wisata itu tampak meriah. Lampu-lampu kota menambah semarak dan aktifitas para penduduk tak terhenti hanya karena waktu yang beranjak larut.


Mereka tiba di hotel terdekat Mandalika, yang hanya berjarak sekitar 13 menit saja dari sirkuit tersebut.


Lokasinya yang cukup dekat dengan pantai membuat tempat tersebut terasa begitu khas. Dengan nuansa tropis yang mendominasi setiap ruangan, yang memiliki view kolam renang di dekat kamar yang menenangkan.


"Kok aku berasa kita lagi bulan madu ya?" Rania membuka pintu kamar vvip mereka dan membiarkan angin pantai menerobos ke dalam. Dia kemudian keluar dan menemukan pemandangan khas pinggir pantai yang menyenangkan.


"Ya anggap saja begitu." Dimitri mengekorinya, dan dia melakukan hal yang sama.


Suara deburan ombak terdengar di kejauhan. Menghadirkan suasana yang memang lain dari biasanya.


"Ini kalau siang pasti bagus." Rania menatap keremangan malam di depan matanya.


"Iya, pasti."


Mereka terdiam menikmati keheningan itu untuk beberapa saat.


"Apa kamu tidak terkena jetlag?" Dimitri kemudian bereaksi.


"Hum?"


"Karena rasanya aku masih jetlag. Kepalaku sedikit pusing." pria itu bermaksud kembali ke dalam.


"Terbang hampir 40 jam ke Argentina nggak jetlag. Tapi cuma terbang dua jam dari Jakarta kesini malah jetlag?" Rania bergumam.


"Ini ulah si kembar." Dimitri terkekeh.


"Apa hubungannya?"


"Karena mereka aku jadi begini."


"Dih, nyalahin." cibir Rania, dan dia bermaksud mengikuti suaminya.


"Memangnya kamu tidak?"


"Nggak. Terbang kesini sama aja kayak naik motor dari Bandung ke Subang, atau dari Bandung ke Jakarta. Sama dua jam."


Dimitri tergelak.


"Sudahlah, aku mau tidur. Kepalaku pusing." pria itu berujar.


"Serius?"


"Hmmm ...


"Nggak akan ... itu dulu?" ucapnya, sembarangan.


"Hum?" Dimitri berhenti berjalan kemudian memutar tubuh.


"Renang maksudnya, hehe ..." ucap Rania yang kemudian melepaskan pakaiannya, lalu menceburkan diri ke dalam kolam.


"Dingin Zai." pria itu sedikit terhenyak dengan kelakuan istrinya, kemudian dia kembali ke pinggir kolam, berniat menarik Rania agar naik ke daratan.


Namun perempuan itu tak mendengarkan, dan dia malah bergerak semakin ke tengah.


"Zai, ... jangan berbuat konyol. Nanti kamu masuk angin!" katanya lagi.


"Ini seger tahu, airnya nggak sedingin kolam renang di resortnya om Arfan." Rania menjawab, diikuti senyuman aneh di bibirnya.


"Kamu sedang mengodaku heh?" Dimitri bereaksi ketika teringat kejadian tersebut.


"Apa? nggak. Aku kan lagi renang, bukan lagi menggoda kamu." Rania sambil terkekeh.


"Tapi kamu seperti sedang menggodaku tahu?"


"Apaan ih, kamu ke geeran." perempuan itu menenggelamkan seluruh tubuhnya sebentar, kemudian kembali ke permukaan. Dia mengusap kepala dan wajahnya yang basah.


Lalu di menit berikutnya Rania tampak melepaskan bra berwarna biru muda itu dari dadanya. Dia mengangkatnya ke atas, kemudian melepaskannya hingga benda tersebut mengapung di air. Dan hal yang sama pun dia lakukan pada cel*na dal*mnya. Dan dia telanjang sekarang.


Dimitri menelan ludahnya dengan susah payah, rasa pening di kepala kini berganti menjadi rasa yang lain. Dadanya bahkan berdegup begitu kencang saat ini.


"Kamu katanya mau tidur?" Rania menginterupsi lamunan pria itu.


"Nggak jadi?" dia sedikit menyeringai.


Dia berenang mengitari kolam yang remang-remang, hanya mendapatkan pencahayaan dari lampu kecil di sudut.


Dimitri mengetatkan rahangnya hingga giginya bergemeletuk. Imannya benar-benar melemah saat ini, dan dia tentu saja terpancing menatap Rania dalam keadaan seperti itu.


Tubuh yang telanjang, dan berada di dalam air. Tentu saja membuatnya merasa frustasi.


Tanpa pikir panjang dia pun melepaskan pakaiannya pula, kemudian mengikuti perempuan itu menceburkan diri ke dalam air.


Rania berputar, dan mendapati suaminya yang melesat dengan cepat menghampirinya. Dia mundur dan sedikit terkejut. Perempuan itu mengira apa yang di lakukannya tidak akan membuat Dimitri terpancing.


"Mmm ...


"Kamu benar-benar memancingku heh?" pria itu sudah begitu dekat dengannya. Dia bahkan meraup tubuh telanjang Rania hingga kulit mereka saling menempel di bawah air.


"Nggak, aku cuma ..." Rania menahan napas ketika merasakan tangan Dimitri merayapi tubuhnya.


"Berenang?" Dimitri dengan suara rendahnya, kemudian Rania mengangguk pelan.


"Hmm ... aku juga jadi mau berenang." katanya yang kemudian melepaskan boxernya seperti yang dilakukam oleh Rania beberapa saat sebelumnya.


Rania menggigit bibirnya kuat-kuat, sepertinya dia tidak akan selamat malam ini. Padahal tadi hanya berniat mengerjainya saja.


Satu menit berikutnya bibir mereka sudah bertemu. Dimitri segera memagutnya dengan ganas tanpa memberikan kesempatan bagi Rania untuk mengambil napas telebih dahulu. Hasratnya sudah meningkat dan dia merasa harus segera melampiaskannya.


Kedua tangannya sudah menjelajah, menyentuh setiap lekuk tubuh Rania di dalam air. Merematnya dengan gemas karena perempuan itu selalu mampu memancing dirinya untuk melakukan apa yang memang selalu dia inginkan.


"Uji cobanya besok jam berapa?" Dimitri menjeda cumbuannya.


"Ja-jam sepuluh." Rania segera menghirup udara sebanyak yang dia bisa.


"Hmm ... kita punya banyak waktu kan?" Dimitri dengan seringaian khasnya.


"U-untuk apa?" perempuan itu tergagap.


"Untuk bersenang-senang." Dimitri berbisik di telinganya, lalu mengecupnya pelan.


Namun hal tersebut malah membuat Rania mulai kehilangan akal. Dia mendes*ah seketika itu juga.


"Kamu benar-benar membuatku terpancing Zai." Dimitri menggeram, lalu dia kembali melanjutkan cumbuan.


Menyesap bibir kemerahan milik Rania sepuas hati dan segera mendapatkan balasan yang sama dari perempuan itu.


Lidah keduanya saling membelit dan merasai setiap detiknya sebagai ritual yang menyenangkan. Tentu saja mereka sama-sama saling menginginkan.


Rania memekik ketika Dimitri mengangkatnya. Pria itu kemudian berjalan ke arah tangga dan membawanya keluar dari air. Dia bergegas masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuh Rania diatas tempat tidur.


Tubuh mereka segera saja bertautan, kemudian bergerak dengan intens.


Des*han dan erangan langsung mengudara, diikuti bunyi penyatuan tubuh keduanya yang menambah suasana menjadi semakin erotis di dalam sana.


Diiringi deburan ombak di pantai, dan angin malam yang terus berhembus, keduanya asyik berlomba mencapai kepuasan. Yang selalu lebih indah dari sebelumnya, lebih mengasyikan, dan lebih menyenangkan.


Si pria menghentak dan berpacu, sementara si wanita menggeliat-geliat di bawahnya. Suara percintaan mereka bahkan menjadi lebih nyaring seiring semakin lamanya mereka bergumul.


Perasaan keduanya telah melebur dan mereka terus berusaha untuk mencapai pelepasan bersama.


Keringat sudah membanjiri tubuh keduanya, menggantikan air yang berangsur mengering. Namun tak ada bedanya, sebab mereka tak mempedulikan hal itu. Yang ada hanya perasaan yang begitu menuntut dan menggiring keduanya untuk berpacu lebih lagi.


"Hmmm ... oh, ... Dimi!!" des*h Rania dengan kepalanya yang tedongak. Dia semakin merasa frustasi dengan pergumulan ini. Perasaan ingin meledak saat itu juga mulai menguasai, namun dirinya harus berusaha menahan diri. Melihat pria diatasnya yang tampak belum akan menyudahi percintaan mereka.


"Ngh!!" erangnya ketika perasaannya semakin tak tertahankan.


Matanya tertutup dan terbuka dengan perlahan sementara mulutnya terus meracau. Kedua tanggannya sudah menggapai-gapai tubuh di atasnya, dan dia segela mencengkeram erat untuk menyalurkan perasaannya.


"Oh, ... sayang!!" katanya, yang memeluk erat tubuh Dimitri saat klim*ks menghantamnya tanpa ampun.


Dimitri mempercepat hentakannya kala dirasakannya pula denyutan hebat di bawah tubuhnya. Dia menggeram dengan giginya yang merapat, merasakan kenikmatan yang lagi-lagi membuatnya segera hilang kendali. Lalu di detik berikutnya pria itu menekan keras dan membenamkan naga ajaibnya pada pusat tubuh Rania dengan diiringi lenguhan ketika benda itu menyembur hebat di dalam sana.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


besok uji coba lhoπŸ˜²πŸ™„πŸ™„


maaf aku telat, ada kerjan di dunia nyata.


lope lope sekebon toge😘😘