All About You

All About You
Kolam Air Panas



🌹


🌹


Mereka tiba pada hampir sore setelah mampir dulu ke beberapa tempat sebelumnya. Mengisi perut dengan makanan, juga membeli beberapa helai pakaian karena keduanya memang tak membawa barang apapun dari awal. Bahkan Rania meninggalkan tas berisi pakaian miliknya di kamar hotel. Lebih tepatnya, keduanya seperti sepasang remaja yang kabur dari orang tua mereka.


"Orang lain Liburannya di akhir pekan, ini minggu sore baru kesini?" Dygta menyambut mereka di depan villa.


"Kemarin tanggung kak." jawab Dimitri yang memeluk sang kakak bergantian dengan Rania.


"Tanggung apanya? bukannya kamu ambil cuti ya?"


"Ngak jadi, aku masuk kerja."


"Lho? bukannya juga kalian ke Labuan Bajo?" Sahut Arfan yang muncul bersama empat anak mereka. Yang langsung menyerbu adik iparnya itu secara bersamaan.


"Om Dimi!!" teriak ke empat bocah tersebut.


"Nggak jadi om." jawab Dimitri, yang berusaha menyingkirkan tangan-tangan kecil itu yang sedang berusaha memeluknya.


"Kenapa?"


"Mm... " pria itu sibuk menyingkirkan keponakannya yang langsung saja menempel.


"Akunya sibuk. Ini juga baru pulang dari Sentul." Rania menyela.


"Pengantin baru pada sibuk? kapan pacarannya ini?" Dygta menggelengkan kepala.


"Ini mau pacaran, makanya aku ajak Rania kesini." Dimitri dengan cengiran khasnya.


"Apaan?" sementara wajah Rania memerah.


"Hmm... mau yang gratis." Dygta bergumam.


"Itu tahu." sang adik tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang memerah.


"Ck. Jangan mau Ran, kalau dia ngajak yang gratis-gratis. Rugi kamu." sang kakak kepada adik iparnya.


"Gratis apanya? kan sudah aku borong sekalian. Mana plus Bugati lagi."


"Itu nggak termasuk, Dimi! lagian di borong, memangnya bangunan?" Dygta mendorong pundak adiknya dengan ujung telunjuknya.


"Terserah kakak lah."


"Ya sudah, kalau mau menginap, sudah pegawai siapkan di atas. Nanti ada yang antar." Arfan menarik anak-anaknya. "Aksa, Asha!" katanya pada kembar kecil yang hampir mendekati Rania.


"Kalian sendiri mau kemana?''


"Pulang ke Jakarta lah, besok sudah mulai kerja lagi."


"Aku kira masih disini?"


"Tidak, besok ada banyak pekerjaan." jawab Arfan.


"Setiap harinya juga selalu banyak pekerjaan." Dygta bergumam lagi.


"Dan akan selalu seperti itu sampai Dimitri siap nanti." jawab Arfan seperti biasa.


"Tapi entah kapan siapnya."


"Nanti kak."


"Nantinya kapan?"


"Ya nanti lah."


"Kakak harap secepatnya."


"Iya."


"Baiklah, kami pergi dulu." pamit Arfan kepada dua orang tersebut. Juga Dygta yang mengikuti langkah suami dan anak-anaknya.


"Bye om Dimi, bye tante Rania." ke empat anak kembarnya melambaikan tangan.


***


"Wow." Rania menatap bangunan milik Arfan setelah seorang pegawai resort mengantarkan mereka ke salah satu villa yang berada di atas bukit.


"Bagus kan?" Dimitri tergelak, Lalu mereka masuk dan dia meletakan totebag berisi barang-barang yang sudah dibelinya dalam perjalanan tadi.


"Sepi amat?" Rania melihat-lihat setiap ruangan yang ada.


"Namanya juga villa, kalau mau ramai ya pasar." Dimitri sekenanya.


"Bener juga. Hehehe..."


Pria itu merogoh ponsel di saku celananya kemudian berjalan ke area belakang villa sambil melakukan panggilan telfon. Semenatara Rania mengekorinya dari belakang dan menemukan pemandangan indah disana.


Sebuah kolam renang di sisi tebing menghadap ke gugusan pegunungan. Dan tempat mereka berada kini di kelilingi hutan dengan pohon-pohon pinus raksasa.


"Kolam renang!" perempuan itu kegirangan melihat air yang bening didalam kolam yang indah. Segera saja dia melepaskan pakaiannya hingga hanya tersisa cel*na dalam dan branya saja. Kemudian menceburkan diri kesana.


Namun dia memekik saat merasakan airnya yang sedingin es terasa bagai menusuk hingga ketulang. Membuat Dimitri tertawa terbahak-bahak.


"Kalau sudah sore, air disini sangat dingin Zai." katanya, yang meletakan ponselnya di atas meja ketika sudah selesai dengan urusannya.


"Kenapa nggak bilang? kan aku nggak akan langsung nyebur." Rania bersungut-sungut.


"Lagi pula kamu seperti tidak pernah melihat kolam renang. Di apartemen kita juga kan ada?" dia berjongkok di pinggir kolam.


"Iya, tapi nggak sebagus kayak disini. Lagian di apartemen aku belum pernah nyoba renang." Lalu dia perlahan naik ke permukaan dalam keadaan basah kuyup dan menggigil kedinginan.


"Aku memang jarang menggunakannya kan?" Dimitri menatap pemandangan tersebut dengan berdebar. Keadaan Rania yang basah dan setengah telanjang membuat dirinya terliat begitu menggoda.


"Nggak ada kolam air panas gitu? biasanya tempat kayak gini suka ada kolam air panasnya?" katanya, dan dia semakin menggigil.


"Ada." ucap Dimitri.


"Mana?"


Pria itu bangkit lalu berjalan ke sisi lainnya, dimana sebuah kolam kecil yang bagian dalamnya berundak-undak berada.


Dimitri menekan sebuah tombol diatasi meja yang terhubung ke kolam tersebut, dan segera saja air keluar dari lubang di dinding. Dengan asap tipis yang mengepul di udara.


"Ini keren!! kolam air panas pribadi!" Rania berlari kecil menuju ke arah kolam tersebut. Kemudian segera menceburkan diri. Dia seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru.


Dimitri menatapnya dengan gemas, bagaimana tidak, tingkah perempuan yang statusnya kini telah menjadi istrinya itu memang selalu membuatnya gemas.


"Apa kamu mau terus disitu?" ujar Rania, kala suaminya hanya berdiri menatapnya di pingggir kolam.


Dimitri mengulum senyum, kemudian dia berjalan mendekat sambil melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga hanya menyisakan boxer hitam yang membungkus ar*a pribadinya dengan erat. Lalu dia ikut menceburkan dirinya kedalam air hangat dimana Rania sudah berada. Meraup sedikit air lalu mengusapkan ke wajah dan kepalanya.


"Kita beneran mau nginep disini?" Rania memulai percakapan.


"Iya."


"Berapa hari?"


"Maunya sebulan."


"Kelamaan. Aku kan harus latihan, terus balapan juga minggu depan."


Lalu keadaan mulai hening.


"Bercanda." Dimitri tergelak. "Besok juga pulang. Bisa kena amukan papa kamu kalau kita pergi selama itu. Makin benci saja dia kepadaku."


"Dim, ... papa nggak benci sama kamu."


"Aku merasanya begitu Zai. Sepertinya dia tidak pernah menyukai aku."


"Papa cuma belum mengenal kamu dengan baik, makanya bersikap begitu."


"Hmm... " Dimitri mengerucutkan mulutnya. "Apa dia tahu ya, bagaimana aku dulu sebelum bertemu kamu?" dia duduk di samping Rania yang hanya berjarak setengah meter saja darinya.


"Oh ya?"


"Bukannya papa kamu itu sahabatnya Om Andra?"


"Iya."


"Menurut kamu, ada kemungkinan Om Andra mengadu kepada papamu bagaimana kelakuanku?" Dimitri tertawa lagi.


"Jangankan Om Andra, papi dan mama juga tahu."


"Apa??"


Dimitri malah kembali tertawa.


"Dih, bangganya punya kelakuan jelek kayak gitu?" cibir Rania.


"Tapi sekarang aku merasa menyesal." Dimitri merebahkan kepalanya pada pinggiran kolam, menatap langit resort yang mulai menggelap, namun masih menyisakan semburat jingga keemasan di ufuk barat ketika matahari mulai tenggelam pada petang itu.


"Bisa menyesal juga?"


"Bisa lah, aku ini manusia biasa tahu?"


"Masa? aku kirain iron man." Rania mendekat, kemudian tertawa.


"Haha, apa itu?" dia mengalihkan pandangan kepada Rania yang jaraknya sudah cukup dekat.


"Di saat seperti ini aku baru merasa menyesal karena telah melakukan banyak hal bodoh. Karena tidak semua orang dapat menerima masa lalu buruk seseorang dengan hati lapang. Sebagian orang malah selalu menghubung-hubungkan masa lalu itu dengan kejadian masa kini. Seperti papa kamu misalnya. Mungkin sikapnya yang seperti itu karena dia memang sudah tahu kelakuan aku sebelum ketemu kamu."


"Menurut kamu begitu?"


"Ya, aku yakin begitu."


Rania terdiam.


"Tapi aku bersyukur karena kamu sudah tahu dari mulutku sendiri." pria itu menegakan tubuhnya. "Aku bersyukur bukan orang lain yang mengatakannya. Apalagi papa kamu. Bisa kacau urusannya kalau kamu tabu dari orang lain."


"Kenapa memangnya kalau aku tahu dari orang lain?"


"Karena perspektif setiap orang itu berbeda-beda, tergantung siapa yang menyampaikan. Bisa saja kamu akan salah faham jika mendengarnya dari mulut orang lain."


"Gitu ya?"


"Hmm... Dan aku juga bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan baik seperti ini. Apalagi setelah mendapatkanmu." dia mengulurkan tangannya di bawah air ke pinggang Rania, lalu menariknya hingga jarak mereka menghilang.


"Ya teba lyublyu ( aku mencintaimu )." katanya.


Rania menatap wajah pria itu dengan hati berdebar.


"Aku nggak ngerti apa yang kamu bilang." katanya, malu-malu. "Kemampuan bahasa asingku terbatas. Hanya mengerti percakapan pasif dalam bahasa Inggris." dia tertawa.


"Makanya aku nggak mau lanjutin kuliah, pusing. Mending ngutak-atik mesin lah, ganti oli, sama ganti ban. Itu lebih gampang dari pada harus mikirin mata kuliah yang bikin otak ngehank."


Dimitri ikut tertawa.


"Tapi kok aku jadi minder ya?"


"Kenapa?"


"Karena banyak hal yang nggak aku bisa. Sementara kamu...


"Ssstt, jangan bahas itu." Dimitri menempelkan ibu jarinya di bibir basah Rania. Kemudian menyentuhnya perlahan hingga perempuan itu memejamkan mata. Merasakan desiran aneh di dalam dadanya.


"Sial!" Dimitri mengumpat saat dia juga merasakan hal yang sama. Naga ajaibnya bahkan kembali terbangun dibawah air dengan cepat.


Segera saja dia menarik kepala Rania dan meraup bibirnya yang menggoda. Yang langsung mendapat sambutan dari perempuan itu.


Keduanya saling menyesap dengan semangat, merasai sentuhan hangat bibir mereka dengan penuh perasaan. Tangan Dimitri menekan tengkuknya hingga ciuman mereka menjadi semakin dalam. Sementara tangan yang lainnya menarik pinggang perempuan itu sehingga dia naik ke pangkuannya.


Dimitri menarik tali bra nya, hingga benda itu terlepas, dan segera menyentuh benda bulat yang berada dibaliknya.


"Eummhh ..." Rania menggumam. Sentuhan tangan pria itu mengaburkan kesadaranannya. Dengan cepat dia terhanyut dan terbawa suasana.


Cuaca yang dingin saat malam merayap itu berangsur menghangat seiring dengan semakin intensnya cumbuan diantara keduanya. Membuat kolam air panas itu semakin memanas saat sentuhan mereka tak lagi terkendali.


"Apa masih sakit?" Dimitri berbisik, dia menjeda cumbuannya sekejap.


"Mm... sedikit." jawab Rania yang berusaha mati-matian mempertahankan kesadarannya.


Dimitri menyeringai, lalu menarik kain terakhir yang menutupi tubuh bagian bawah perempuan itu. Dan Rania sedikit mengangkat pinggulnya agar suaminya bisa melepaskan cel*na dalamnya.


Dimitri kemudian terkekeh, merasa senang karena perempuan ini mulai memahaminya.


Kemudian kedua tangannya bergerak ke belakang, menyentuh bokong lalu merematnya dengan gerakan sensual. Membuat Rania beberapa kali bergerak karena merasakan sensasi yang lain. Sedikit geli tapi nikmat juga.


Sial! batinnya berbisik.


Dia mulai merasakan tubuhnya yang mudah tergoda, setiap indera yang dia miliki menjadi sensitif setiap kali pria itu menyentuhnya di bagian tubuh manapun.


"Ah, ... " Rania mulai mendesah saat cumbuan Dimitri turun menyusuri leher hingga dada, menciumi dan menyesap kulitnya hingga meninggalkan bekas memerah disana. Dan rematan di dadanya berlanjut beberapa saat kemudian.


Dimitri meraih tangannya, dan membimbingnya ke bawah air hingga dia menemukan sang naga ajaib yang sudah sangat menegang. Entah sejak kapan dia telah melepaskan boksernya, Kemudian membuat Rania menyentuhnya tanpa dia sadari.


Namun sesaat kemudian dia terdiam dan menahan napas. Matanya terbuka dan dia menatap wajah suaminya dari jarak yang begitu dekat, yang tengah tersenyum dalam cumbuannya.


"Just touch it." bisik Dimitri dengan bibir mereka yang masih menempel, lalu membuat Rania menggenggam alat tempurnya yang sudah mengeras itu.


"Mmm... " wajah Rania seketika memerah menahan malu. Segala yang dia lakukan bersama pria itu memang benar-benar pertama kali. Dan itu membuatnya sering merasa terkejut.


"Just touch it." ulang Dimitri sambil membimbing Rania untuk menggerakkan tangannya di bawah sana.


Perempuan itu menurut. Dia melakukan apa yang Dimitri ajarkan. Walau canggung, dan sedikit malu-malu, namun akhirnya dia melakukannya juga. Dengan tatapan yang dia tujukan pada wajah pria yang tengah memangkunya tersebut. Yang berkali-kali menutup dan membuka matanya perlahan. Menikmati sentuhan Rania pada alat tempurnya.


Napasnya berembus cepat, dan lama-kelamaan dia merasa tak tahan juga. Yang akhirnya membuat Dimitri mengangkat pinggul Rania dan mengarahkannya pada kem*luannya.


Secara perlahan dia menekan dan menerobos inti tubuh perempuan itu dari bawah.


"Ahhh!!" Rania mendesah keras setelah benda itu masuk seluruhnya.


"Move it Zai!" Dimitri kemudian berbisik, dan dia merapatkan kening mereka berdua.


Sementara Rania masih mengatur napas dan menyesuaikan diri. Posisi ini tentu sangat asing baginya.


Baru pertama kali berhubungan badan dengan pria ini tadi pagi, dan malam ini mereka melakukannya lagi dengan posisi yang sangat aneh. Tapi...


"Move it Zai!" Dimitri mengulangi kata-katanya, saraya menggerakkan tangannya pada pinggul perempuan itu agar dia bergerak seperti kemauannya.


Rania mencoba melakukan apa yang dia minta, menggerakkan bagian bawah tubuhnya ke depan dan kebelakang, dengan kaku dan tidak teratur. Namun bimbingan tangan Dimitri membuatnya terbiasa dan akhirnya dia melakukannya dengan benar. Setidaknya itu yang dia rasa saat menatap wajah suaminya yang tampak puas. Jelas senyuman tersungging di bibir merahnya.


"Ya, good girl! you are a good girl." des*h pria itu yang kemudian menenggelamkan wajahnya di belahan dada Rania. Yang kemudian kembali menyentuh dan mempermainkan bulatan kenyal itu dengan penuh penghayatan. Kembali menyesapnya seperti biasa, yang kemudian membuat perempuan yang tengah bergerak di pangkuannya mengerang dan mendes*h nikmat.


Sesekali Dimitri mengimbanginya dengan menghujamkan naga ajaibnya dari bawah saat merasa Rania memelankan gerakannya.


"Oh, ... Dim! aku... mau.. aku mau... ahhh... " dia meracau dan mempercepat gerakan pinggulnya saat merasakan pelepasan hampir menggulungnya.


"Yes baby, just did it!" pria itu menyemangati. Sehingga Rania memacu tubuhnya semakin cepat, yang akhirnya tiba juga dia di puncak percintaan yang gila itu dengan perasaan yang membuncah.


Rania menekan pusat tubuhnya dengan keras pada Dimitri saat pelepasan itu tiba padanya terlebih dahulu, sambil memeluk pundak pria itu dengan sangat erat, dan lenguhan panjang keluar dari mulutnya. Kemudian terdiam.


"Are you oke?" Dimitri berbisik di telinganya.


Rania masih menikmati sisa pelepasan yang menguasai tubuh dan pikirannya, namun memaksa untuk menarik kepalanya sejenak, dan kembali menatap wajah Dimitri. Dadanya masih naik turun dengan cepat dan napasnya pun masih memburu.


"Kamu... belum?" keningnya menjengit keras.


Dimitri menyeringai.


"Kita akan mengulanginya." katanya, seraya bangkit, namun tak melepaskan tubuhnya Rania dari pangkuannya.


"Hah?"


"Tapi nggak disini." katanya, yang kemudian membawa perempuan itu keluar dari dalam air, dan melangkahkan kakinya yang basah masuk kedalam villa.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


hadeh, ... baru juga pertama kali udah diajari yang aneh-aneh. Dimi, Dimi!! 🙄


jangan lupa klik like komentar dan kirim hadiah, jangan keasyikan bayangin kegiatan anu nya doang. 😂


kabuuurrrr...