
*
*
Suara mesin meraung-raung memecah keheningan pada pagi hari di rumah besar milik keluarga Nikolai pada pagi itu.
Rania sudah menggeber Ducati hitamnya, yang sengaja Dimitri bawa ke rumah besar, sementara kedua mertuanya asyik berjalan-jalan dengan si kembar di dalam stroller.
"Haih, ... rupanya dia serius mau latihan?" gumam Dimitri yang turun dari kamarnya di lantai dua.
"Mama dan Papi pergi bawa si kembar jogging?" Pria itu menghampiri Rania yang masih mengutak-agik motor supernya di halaman belakang kediaman Satria. Mereka memutuskan untuk menunda kepulangan hingga Anya dan Zenya sudah cukup besar untuk di asuh sendiri. Karena tampaknya bayi kembar itu belum bisa di jauhkan dari kakek neneknya.
"Ya, kemana lagi ..." Perempuan itu menoleh ke arah suaminya yang sudah rapi, lalu dia mengerutkan dahi.
"Perasaan ini hari Sabtu deh, kenapa kamu udah rapi aja? Ada kerjaan lagi ya?" Rania menatap curiga. Kemudian dia mengendus tubuh pria itu.
"Wangi benerrrr." sindirnya, seraya menghentikan kegiatannya.
Menatap tubuh tegap suaminya yang sudah berpakaian rapi. Mengenakan celana panjang dengan kemeja putih yang melapisi kaus berwarna biru cerah di dalamnya. Sementara rambutnya pun sudah di tata sedemikian rupa .
Dan jangan lupakan juga dengan wajahnya yang begitu cerah, secerah mentari pagi itu.
"Beneran ya, ada kerjaan? Ck! Di weekend juga?" protesnya, seperti biasa.
"Tidak Zai," jawab Dimitri dengan senyuman yang begitu manis yang dia sunggingkan kepada istrinya yang masih mengerutkan dahi itu.
"Terus kenapa udah rapi gini?"
"Memangnya tidak boleh ya? Mandi pagi-pagi itu baik untuk kesehatan tahu?"
"Yang baik untuk kesehatan itu olah raga pagi Papi, bukan cuma mandi. Tuh lihat oma opa nya anak-anak, setiap pagi mereka olah raga makanya sehat."
Dimitri terkekeh.
"Malah ketawa? Kamu lagi seneng ya? Baru dapet lotere ya?" Rania mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu.
"Jangan dekat-dekat Zai, tangan kamu kotor." Dimitri mundur beberapa langkah. Menatap ngeri kedua tangan perempuan itu yang penuh dengan oli mesin dari motornya yang sedang dia perbaiki.
"Nih!!" Namun Rania menyodorkan busi berlumur kotoran itu ke dekat suaminya.
"No! Kamu akan membuatku kotor lagi Zai!"
"Biarin, kamu tahu nggak kalau berani kotor itu baik?"
"Istilah dari mana itu? Aneh sekali kalimatnya?"
"Yeee, .. dia nggak tahu ya kalau berani kotor itu baik?"
"Yang pasti kotor Zai, dan harus cepat di bersihkan. Kalau tidak ya kamu jadi jelek."
"Dih? poho nya, baheula olohok panggih di bengkel keur ngomean mobil? (lupa ya dulu melongo pas ketemu di bengkel lagi benerin mobil?)"
Dimitri memutar bola matanya, kebiasaannya setiap kali Rania berbicara dalam bahasa Sunda yang tak pernah bisa di mengertinya.
"Apaan?"
"Kamu kalau bicara pakai bahasa yang aku mengerti lah." Pria itu berujar.
"Kamu juga suka ngomong pakai bahasa yang aku nggak ngerti?"
"Kebiasaan Zai."
"Ya aku juga sama. Aku kan orang Sunda, ya biasa pakai bahasa Sunda lah."
Dimitri mencebikkan mulutnya.
"Eh, bukannya mama juga orang Bandung?"
"Iya."
"Berarti mama juga orang Sunda dong?"
"Mungkin."
"Nah, berarti kamu juga orang Sunda sebenarnya. Tapi kamu mah Sundanya murtad."
"Sunda murtad? Apa lagi itu?"
"Orang Sunda tapi nggak bisa bahasa Sunda."
"Ah, ada-ada saja kamu ini?"
"Iya, kamu orang Sunda tapi nggak bisa bahasa Sunda. Aneh."
"Aku kan nggak tinggal di Bandung Zai. Malah sebagian besar masa remaja sampai dewasa di Rusia. Ya bahasa sana lah yang aku bisa."
"Tapi bahasa Indonesianya lancar?"
"Iyalah, itu bahasa dari kecil."
"Emangnya selain bahasa Indonesia, mama ngajak ngomong kamu pakai bahasa Rusia ya? Rasa-rasanya aku belum pernah denger Mama pakai bahasa itu deh?"
"Mama memang nggak bisa bahasa Rusia."
"Masa, udah 20 tahun lebih nikah sama Papi nggak bisa?"
"Nggak menjamin Zai."
"Terus, berarti cuma Papi yang ngomong sama kamu pakai bahada Rusia?"
"Kalau itu aku juga tahu."
Dimitri tertawa lagi.
"Eh, aku belum pernah ketemu Ded selain waktu nikahan kita. Apa beliau sehat?"
"Sehat."
"Dari mana kamu tahu?"
"Kemarin aku dengar Papi menelefon."
"Oh, ... kalau Ded baik sama kayak papi nggak? Kelihatannya galak?"
"Uuhh jauuuhh. Jangan coba-coba mendekat, atau kamu nanti di gigit."
"Hmmm ... masa Ded gigit orang? Memangnya Ded itu beruang?"
"Iya, Ded kan beruang Rusia, makanya galak." Pria itu tertawa dengan keras.
"Dasar cucu nggak ada akhlak!" Rania menepuk dada suminya dengan keras.
"Hey, sudah aku bilang jangan sentuh, jangan dekat-dekat! Tangan kamu kotor Zai! Aku sudah rapi-rapi masa kamu kotori lagi sih? Kacau kamu ini!"
"Alah, kalau kotor ya cuci lagi. Lebay amat?"
"Eh, apa kamu tidak mau ikut?" Dimitri berbicara lagi.
"Nah kan, aku bilang juga apa? Kamu pasti mau pergi kan?"
"Iya Zai, aku tanya apa kamu mau ikut?" Dimitri mengulang pertanyaannya.
"Ikut ke mana? Pasti ngurusin kerjaan."
"Sedikit Zai. Aku mau lihat hotel baru yang mau di buka minggu depan."
"Tuh kan? Kamu gitu, mentinginnya kerjaan terus. Padahal ini akhir pekan?"
"Dari pada kamu, mengurusi motor terus, padahal tiap hari juga ketemu motor?"
"Hmm ...
"Ayo, mumpung anak-anak dengan Mama dan Papi, kita pergi?"
"Heleh, tiap hari anak-anak juga sama mama terus. Di kasih ke aku cuma pas mereka haus."
"Ya bagus, itu artinya mama pengertian dengan kita."
"Pengertian apanya?"
"Biar kita bisa berduaan lagi." Dimitri menusuk-nusuk lengan Rania dengan telunjuknya, kemudian tertawa.
"Tiap malam juga cuma berduaan. Si kembar kan tidurnya sama Mama." Rania mendelik.
"Tapi ini berduaannya beda."
"Beda apanya? Sama aja."
"By teh way, umur si kembar sudah berapa hari yang sampai sekarang?" Dimitri mengalihkan perhatian.
"Nggak tahu, sebulan mungkin? Atau ... " Rania menggerak-gerakan jari tangannya seperti orang sedang menghitung.
"Sebulan lebih dua belas hari. Jadi ... empat puluh dua hari." Dia tertegun kemudian mengaihkan pandangan matanya kepada Dimitri yang tersenyum sambil menggerakkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah.
"Apaan?"
"Ayo kita pergi?" ucapnya, dengan senyuman yang belum hilang dari bibirnya.
"Pergi kemana?"
"Kemana sajalah." Dimitri meraih tangan Rania, kemudian menariknya ke dalam rumah dan segera melesat ke kamar mereka di lantai dua. Dia bahkan lupa dengan tangannya yang tadi di sebutnya kotor itu.
"Kok kemana aja?" Mereka masuk ke dalam kamar.
"Cepatoah mandi, lalu dandan yang cantik. Kita akan pergi ke suatu tempat."
"Apaan?"
Namun Dimitri tak menjawab, dan malah mendorong Rania ke dalam kamar mandi mereka.
"Yang?" Perempuan itu mengetuk pintu yang tertutup rapat.
"Cepat mandi Zai, aku menunggumu di sini." Pria itu berteriak.
"Tapi kan aku ...
"Aku menyiapkan pakaianmu, kita akan pergi untuk kencan pertama." katanya lagi, namun Rania malah mengerutkan dahi.
*
*
*
Kencan pertama? Anu pertama kali Pak? 😂😂