All About You

All About You
Hukuman Rania



🌹


🌹


Dimitri duduk di teras belakang, memperhatikan Rania dan anak-anak yang kembali datang pada keesokan harinya. Dengan membawa layangan dan permainan lainnya yang bahkan tak pernah dikenalinya.


Perempuan itu bahkan tertawa terbahak-bahak bersama anak-anak tersebut dan tampak menikmati permainan yang mereka lakukan. Kulit putihnya telah memerah terkena cahaya matahari namun dia tak peduli. Rania asyik dengan dunianya sendiri.


"Masa sih kalian nggak mau ngalah sekali aja? kelereng aku tinggal dua biji, tahu?" protes Rania yang berjongkok dengan sebuah kelereng di tangannya.


"Mana ada main kelereng ngalah? ya nggak bisa lah."


"Sekali doang, Dit. Aku juga kan mau menang." ucap Rania lagi.


"Teteh kalau kalah dan kelerengnya habis lagi bisa beli di Afif, dia kelerengnya banyak di rumah. Ada se ember."


"Masa?"


"Beneran."


"Kamu beli banyak kelerengnya?" Rania beralih pada anak yang satunya.


"Nggak."


"Terus dapat dari mana?"


"Ya karena menang terus kalau main."


"Emang sejago itu ya kamu?"


"Iya lah."


"Dih, rugi amat beli kelereng kita sendiri gara-gara kalah?" cibir Rania.


"Ya nggak rugi lah kalau tetehmah, kan duitnya banyak, lima pulih tibu dapat setengah ember."


Perempuan itu mencebik.


"Lagian kalau menang balapan itu dapet duit nggak sih?"


"Ya dapet lah." Rania menjawab.


"Banyak?"


"Banyak lah."


"Sebanyak apa?"


"Mmmm ...." Rania berpikir.


"Bisa beli layangan se mobil? atau kelereng satu drum?"


"Lebih."


"Satu truk?"


"Lebih Afif!"


"Jadi berapa banyak?"


"Banyak. Sampai-sampai kamu bisa beli apapun yang kamu mau." ucap Rania yang kemudian duduk di atas tanah tempat mereka bermain.


"Kalau dapat duit banyak dari balapan, kenapa teteh malah berhenti? kan sayang jadinya nggak dapat duit lagi?" celetuk yang lainnya, dengan lugunya.


Rania terdiam, kemudian menoleh kepada Dimitri yang diam tak jauh di belakangnya. Dengan laptop dan ponsel yang menyibukannya sejak pagi.


"Kamu ngaco, mana ada perempuan hamil yang balapan motor? cari mati!" celetuk yang lainnya.


"Nggak boleh sama aa bulenya ya?"


Rania hanya tersenyum.


"Sekarang lebih seru main layangan sama main kelereng sama kalian dari pada balapan." dia kemudian tertawa.


"Apa tidak bisa di undur? setidaknya sampai besok?" Dimitri terdengar bercakap-cakap di sambungan telfonnya.


" ...


"Tidak, aku rasa mungkin itu harus di tinjau lagi sebelum kesepakatan di tanda tangani."


"...


"Tidak mungkin, aku tidak bisa ...


"...


Dimitri mendengus kesal.


"Tunggu sampai besok mungkin?" Dimitri bernegosiasi. Namun pria itu mengusap wajahnya, dan memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri setelah mendengar jawaban dari seberang.


"Baiklah." dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


Dia kembali memperhatikan istrinya yang masih asyik bermain-main dengan bocah-bocah seumuran adiknya.


"Zai?" pria itu bangkit.


"Ya?" jawab Rania seraya mendongak.


"Aku harus pergi."


"Oke," Rania tanpa ekspresi.


"Sore ini."


"Iya."


"Ke Dubai."


Perempuan itu tertegun untuk beberapa saat.


"Sekitar tiga hari."


"Oh, ... oke." Rania menjawab.


"Kamu serius masih mau di sini?" pria itu meyakinkan.


"Iya."


"Apa tidak mau pulang dulu ke Jakarta?"


"Untuk apa? paling nanti di sana sendirian lagi kan? mending di sini aja."


"Kamu bisa ke rumah mama dan menginap di sana."


"Nggak ah, nanti banyak di tanya-tanya. Aku males."


"Tidak akan."


"Nggak mau."


"Zai, ...


"Kamu mau maksa aku?"


"Mmm ...


"Kalau gitu mendingan aku pulang ke Bandung aja. Aku nggak akan sungkan nolak jawab kalau misalnya papa dan mama tanya-tanya soal kita, dan mereka pasti ngerti. Tapi kalau sama orang tua kamu takutnya nanti aku di sebut nggak sopan. Sama mertua kok gitu?"


Dimitri menarik dan menghembuskan napasnya dengan perlahan.


"Baiklah, terserah kamu saja." akhirnya dia mengalah.


***


"Aku hanya khawatir. Apa kamu akan baik-baik saja aku tinggal di sini?" Dimitri hampir saja masuk ke dalam mobilnya setelah memastikan barang-barang bawaannya masuk semua. Padahal hanya tas berisi beberapa potong pakaian dan tas laptop untuk keperluan pekerjaan.


"Apa?"


"Nggak, hehe." perempuan itu kemudian menutup mulutnya, sementara Dimitri menatapnya dengan kening yang berkerut dalam.


"Udah sana, katanya harus kejar pesawat? eh lupa, kan ada Dimitri airlines ya?" dia tergelak.


"Kamu serius tidak merasa takut aku tinggalkan?" ucap Dimitri yang merasa sedikit kesal karena tak nampak raut kesedihan di wajah istrinya, padahal mereka akan berpisah untuk beberapa hari.


"Kenapa harus takut? emangnya kamu mau apa? kerja kan? bukan mau pergi liburan sama perempuan lain?" jawab Rania, sekenanya.


"Zai!!!" des*hny, frustasi.


"Iya, iya maaf. Nggak kok. Aku pasti akan baik-baik aja nggak usah khawatir. Kayak mau ke mana aja deh? di sini aman."


"Hmmm ..." Dimitri menggumam, seraya menoleh ke arah pagar ketika terdengar suara motor berhenti dan pintunya terbuka. Kemudian tampaklah wajah yang dua hari belakangan di kenalinya sebagai cucu si penjaga villa.


Pria itu memutar bola mata, sebal.


"Paling cuma antar makan." Rania memahami raut tak suka suaminya saat melihat Gaza membawa masuk motor bebek milik kakeknya.


"Hallo, konnichiwa. (selamat siang)." pemuda itu turun dari motor bebeknya.


"Ambu suruh aku antar makan siang." dia mengangkat totebag berisi makanan seraya berjalan ke arah mereka. "Abah lagi ke tempat saudara, mungkin pulangnya malam."


"Oke, makasih Gaza." Rania menerimanya, dan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


"Haik." dia membungkuk seperti biasa. Lalu Gaza memiringkan kepalanya ke arah belakang di mana terdengar suara anak-anak yang riang.


"Cuma anak-anak yang lagi main." Rania menjelaskan.


"Oh, ... i thought ...


Dimitri melingkarkan tangannya di pinggang Rania kemudian menariknya hingga mereka hampir merapat.


"Oke then, ... aku pulang. Ambu bilang tidak boleh lama-lama." ucap Gaza.


"Oke, makasih."


"Sama-sama." pemuda itu kembali ke motor bebeknya.


"Orang Jepang tapi namanya Gaza." Dimitri bergumam.


"Emangnya kenapa?"


"Kan kalau orang Jepang itu namanya khas."


"Dia kan keturunan. Bapaknya orang sini, emaknya yang orang Jepang."


"Sama saja."


"Serah kamu lah."


"Baiklah, aku juga harus pergi. Om Andra sudah menunggu." Dimitri pun berpamitan.


"Hum, oke."


Pria itu menatapnya lekat-lekat.


"Cepetan, katanya mau pergi." Rania melepaskan tangan pria itu yang masih melilit pinggangnya.


"Tidak sampai kamu mengucapkan selamat tinggal." Dimitri dengan suara pelan.


"Oke, selamat tinggal." Rania menurut.


"Bukan itu."


"Terus apa? katanya ucapan selamat tinggal?"


"Mmm ..." Dimitri menunggu.


"Hhh ..." Rania memutar bola matanya, namun dia segera mengulurkan tangannya untuk memeluk pundak suaminya.


"Hati-hati." bisiknya, dan dia hampir saja menarik diri. Namun Dimitri menahannya untuk sesaat.


"Udah Yang, ...


"Not the kiss." pria itu mendekatkan wajahnya.


"Nggak mau." tolak Rania.


"Why?"


"Malu tahu!"


"Memangnya kenapa?"


"Ini bukan Jakarta."


"Ck!" Dimitri berdecak. "Hanya sedikit."


"Nggak mau."


"Come on! aku mau pergi jauh untuk beberapa hari, dan kita bahkan baru saja berdamai. Tapi kamu tidak mau membekali suamimu?" pria itu berujar.


Rania menggelengkan kepala.


"Tidak ada siapa-siapa." rayu Dimitri.


"Anak-anak."


"Mereka di belakang."


"Tapi ...


"Mereka tidak akan melihat."


"Kamu ini!"


Dimitri terkekeh sambil mendekatkan wajahnya, namun Dalam sekejap Rania menabrakan bibirnya dan dengan cepat mengecup bibir milik pria itu.


"Udah." katanya, dan dia benar-benar melepaskan pelukannya.


"Zai ...


"Apa? mau lebih? ngak bisa. Kamu masih aku strap." ucap Rania seraya mendorong tubuh suaminya ke dalam mobil


"Strap?" Dimitri mengerutkan dahi.


"Aku hukum."


"Karena apa?"


"Karena egois dan nggak peka." katanya, dan dia berhasil membuat pria itu masuk.


"Sekarang, cepat pergi kerja dan cari uang yang banyak. Aku nunggu di sini sampai kamu pulang." dia menutup pintu mobilnya.


"Baiklah mommy." Dimitri pun mengalah.


Dia menyalakan mesin kemudian melajukan benda tersebut keluar dari pekarangan villa. Dan pergi setelah melambaikan tangan kepada Rania. Dimitri bahkan memacunya dengan kencang ketika melewati Gaza yang melaju santai dengan motor bebek tua kesayangan kakeknya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


cuma mau bilang, selamat berpuasa bagi yang menjalankan.


Jan lupe like komen sama hadiahnya ya😘😘