
🌹
🌹
WARNING!!
Part paling bawah ada degan dewasa, jadi bijaklah memilih bacaan. Bagi yang berpuasa lebih baik bacanya malam setelah taraweh ya.
Piss 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dimitri berjalan tergesa menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Setelah tak mendapati Rania menyambutnya saat pulang bekerja sore itu. Sengaja, dia menyelesaikannya dengan cepat agar bisa pulang awal dan tak terlambat seperti biasanya. Pasalnya, perempuan itu di minggu-minggu terakhir mulai tak lagi mengeluh dan mengomel saat dirinya pulang larut. Malah, Rania bersikap biasa saja seperti tak ada yang terjadi. Meskipun kini mereka memang jarang bertengkar, namun membuat Dimitri sedikit khawatir juga.
Namun dia menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga saat mendengar suara gelak tawa dari arah belakang rumah besar orang tuanya itu.
Dimitri melihat lewat kaca besar di belakang tangga, terlihat Rania tengah berbincang dengan Satria di halaman belakang di dekat mobil yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Pria itu kemudian kembali ke bawah seraya melepaskan jas dan dasinya yang kemudian dia sampirkan di kursi santai sebelum pintu keluar.
"Ada apa ini?" tanya nya, setelah jaraknya dekat dengan istri dan ayahnya.
"Eh? kamu udah pulang?" Rania memiringkan tubuh, kemudian meraih lengan kiri Satria untuk melihat jam di pergelangan tangan ayah mertuanya tersebut.
"Baru jam lima. Tumben?" dia mengerutkan dahi.
"Apa begitu caramu menyambut suami?" Dimitri berujar.
"Lho? aku salah ngomong ya? kan emang biasanya juga pulang tengah malam? jadi kalau misalnya kamu pulang jam segini, ya aku nanya lah. Terus salahku di mana?" dia menoleh kepada Satria, meminta pembelaan. Dan pria itu menggelengkan kepalanya.
"Ck! kamu tidak senang aku pulang lebih awal? aku berusaha keras lho agar tidak harus lembur malam ini, demi kamu." Dimitri bersungut-sungut.
"Demi aku?" Rania munjuk wajahnya sendiri.
"Iya lah, masa demi Bu Lily?" jawab sang suami, sedikit kesal.
"Ya kali, kamu pulang demi sop iga buatan bu Lily yang tadi aku jadiin status?"
"What?"
"Eh, kamu nggak lihat status aku ya?"
Dimitri menggelengkan kepala.
"Hmmm ... pantes."
"Memangnya kenapa?"
"Jadi, belum tahu ya kalau aku baru aja beresin custom mobilnya?"
"Custom mobil?" Dimitri mengerutkan dahi.
"Ini." Rania menujuk mobil sedan dengan model standar namun telah berubah penampilan. Denga warna mencolok, desain interior dan tambahan teknologi di dalam maupun mesinnya.
"Serius?"
Rania menganggukkan kepala.
"Kapan kamu mengerjakannya?" Dimitri menunduk untuk melihat benda tersebut.
"Beberapa minggu ini lah." jawab Rania.
"Bagaimana kamu mengerjakannya, i mean, ..." pria itu menatap wajah sumringah Rania.
Aku lupa siapa dia. Tidak ada yang tak bisa dia lakukan kecuali pekerjaan perempuan. Dan mesin adalah keahliannya.
Astaga! aku menikahi pembalap sekaligus mekanik, bukan? gumamnya dalam hati.
"Jangan bilang karena aku hamil jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau begini aku bisa tahu?" Rania mendelik.
"Mm ... i-iya iya, Zai. Kamu bisa melakukan apapaun, selama itu tidak membahayakan kehamilanmu." Dimitri menyentuh perut perempuan itu yang kini telah berusia enam bulan.
"Jadi kapan kamu mengerjakannya? kenapa aku nggak tahu?" Dimitri bertanya lagi.
"Ya kalau kamu pergi kerja sampai sebelum kamu pulang." Rania menjawab.
"Dan kenapa aku tidak tahu?"
"Nggak kenapa-kenapa, kamu kan sibuk. Jadi nggak akan tahu."
"Maksudku kenapa kamu tidak mengatakannya? kalau kamu sedang mengerjakan sesuatu?"
"Soal itu ... aku pikir nggak penting buat kamu, jadi ya ..." Rania berpikir.
"Lagian aku ngerjainnya di rumah, sama papi juga." Rania menoleh kepada ayah mertuanya, mencoba untuk meminta pertolongan karena tampaknya Dimitri merasa tidak senang dengan apa yang dia kerjakan.
"Pih?"
"Ck! tidak usah di permasalahkan. Dari pada dia melamun atau pergi ke luar, lebih baik mengerjakan sesuatu di dalam rumah, kan?" ucap Satria.
"Kalian bersekongkol!" Dimitri mendelik.
"Yang penting Rania senang, dan hidupmu aman. Apa lagi?"
Sang anak mencebikkan mulutnya, membuat Satria tertawa terbahak-bahak.
"Lagi pula dari mana juga kalian dapat mobil bekasnya? memangnya papi ada kenalan tukang mobil bekas?"
"Sembarangan! ini bukan mobil bekas tahu!"
"Maksudnya?"
"Papi mengambil dari dealer kita untuk di jadikan sampel kompetisi otomotif bulan depan. Dan hasilnya, kamu lihat sendiri 'kan?" Satria dengan bangganya.
"Kalian ini kompak sekali ya?" Dimitri merangkul pundak Rania. Tiba-tiba saja dia merasa sedikit terancam dengan kedekatan sang ayah dengan istrinya.
"Bagus kan? papi senang, karena sejak kalian tinggal di sini papi jadi punya kegiatan setelah Rania meminta mobil untuk dia modifikasi. Bukan hanya mengganggu mamamu saja." Satria tergelak.
"Lalu apa yang mama lakukan sekarang setelah papi berhenti mengganggu?"
"Tuh." Rania menunjuk ke bangunan tak jauh di belakang mereka. Tampak Sofia tengah sibuk dengan kain-kain dan manekinnya. Dia asyik membuat rancangan pakaian baru untuk di produksi dan diberi brand namanya sendiri.
"Serius?"
"Sepertinya mamamu lebih senang dengan kain-kain dan sketsa pakaiannya." ucap Satria.
"Iya, sekarang mama lagi bikin brand baju bayi sama anak-anak."
"Benarkah?"
"Katanya gitu. Buat si kembar biar nggak harus beli di tempat lain." Rania menyentuh perutnya sendiri.
"Astaga."
"Bagus kan? mamamu juga jadi punya kegiatan, dan dia semakin bahagia." ujar Satria lagi.
"Iya, tapi aku jadi terabaikan. Padahal hari ini aku sengaja pulang siang karena ingin berkumpul denganmu. Sudah berminggu-minggu aku sibuk bekerja sampai malam, bahkan di hari libur sekali pun." Dimitri dengan nada kecewa.
"Dih, lebay. Giliran orang lain yang di abaikan kamu biasa aja?" timpal Rania.
Sementara Satria hanya tertawa menyimak percakapan tersebut.
🌹
🌹
Dimitri keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggang. Kulit putihnya masih basah, dan dari rambutnya masih mengalir titik-titik air yang menuruni pundak lebar dan punggung kokohnya. Menghampiri Rania yang berdiri di depan lemari tengah mengambil pakaiannya.
"Bagaimana si kembar hari ini?" pria itu memeluknya dari belakang dan memegangi perut Rania.
"Baik. Gerakannya udah mulai kerasa."
"Benarkah?"
"Itu artinya bagus 'kan?"
"Kata dokter Reyhan bagus. Mereka aktif."
"Ish!!" Dimitri sedikit memicingkan matanya.
"Kenapa?"
"Kesal sekali aku mendengarmu menyebut namanya."
"Kenapa? dia kan dokter kandungan aku."
"Tidak tahu, apa lagi kalau aku ingat wajahnya. Dia terlihat sangat menyebalkan."
"Aneh-aneh aja kamu." Rania tertawa. Dia meraih handuk di rak penyimpanan, lalu menyampirkannya ke kepala Dimitri, kemudian mengusak rambut basahnya sementara pria itu tak melepaskan rangkulan tangannya.
"Serius, kalau tidak ingat dia dokter kandunganmu rasanya kesal sekali. Apalagi tahu jika dia yang akan menangani proses persalinanmu nanti. Tidak bisakan kamu ganti dokter kandungannya dengan dokter perempuan saja?"
"Apaan? bercanda ya? nggak mau ah, lagian aku udah cocok sama dokter Reyhan." ucap Rania, sekenanya.
"Apa? cocok?" pria itu setengah berteriak.
"Ish, ... berisisk!"
"Dia dokter kandungan!"
"Iya, terus?"
"Dan kamu merasa cocok dengan dokter kandunganmu. Lalu bagaimana dengan aku?" Dimitri menunjuk dirinya sendiri.
"Ish, ... suka lebay deh reaksinya!"
"Habis kamu bilang begitu?"
"Cocok dalam arti yang lain, Yang."
Dimitri terdiam.
"Dia kan cuma dokter, sedangka kamu ..." Rania menyentuh wajah Dimitri. "Suami aku." katanya sambil tersenyum.
Dimitri merapatkan mulutnya untuk menahan senyum, dan hidungnya tampak bergerak-gerak menghembuskan napas yang cukup keras.
"Hidungnya biasa aja, nggak usah kembang-kempis kayak gitu." Rania menutup wajah pria itu dengan tangannya, kemudian tertawa.
Dan Dimitri segera menariknya dari wajahnya.
"Cepatlah pakai bajunya, sebentar lagi makan." Rania mengalihkan pandangan ke arah lain ketika suasana mulai terasa canggung.
Canggung? kayak pengantin baru. dia terkikik dalam hati.
"Makan?" Dimitri membeo.
"Iya," Rania meganggukkan kepala. "Bu Lilly udah masak makanan kesukaan kamu."
"Apa?"
"Sop iga."
"Oh, ... aku kira yang lain."
"Emangnya ada lagi ya?"
"Hu'um." kini Dimitri yang mengangguk.
"Apa?"
Pria itu menunduk lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Rania.
"Kamu." dia berbisik.
"Mm ..." gumam Rania dengan pipinya yang tiba-tiba merona. "Kamu konyol." katanya.
Dimitri menggelengkan kepala.
"You are my favourite thing now."
"Gombal."
"Serius."
Rania mencebikkan mulutnya.
"Memangnya kamu mengerti apa yang aku bilang?" pria itu kembali menunduk.
"Ngertilah, cuma gitu doang."
"Apa?"
"Apanya?"
"Yang aku bilang."
Rania menggigit bibir bawahnya dengan keras.
Lalu Dimitri semakin menunduk lagi yang kemudian berhasil meraih bibir menggoda milik Rania dan menyesapnya sesuka hati. Tubuh mereka menjadi tak berjarak dan semakin merapat. Bahkan perempuan itu merasakan seauatu mengganjal di perutnya.
"Naga ajaibnya bangun." pria itu berbisik dalam cumbuannya, membuat Rania tersenyum sekilas.
"I misa you." ucap Dimitri lagi, kemudian meneruskan cumbuannya ketika mendapat sambutan hangat dari Rania.
Mereka saling memagut untuk beberapa lama, merasai sentuhan lembut nan menggoda, yang segera membangkitkan hasrat keduanya. Cumbuan itu berlangsung begitu intens, begitu mesra, dan begitu dalam dan menghanyutkan sehingga tanpa sadar keduanya telah berada di atas tempat tidur dalam keadaan sudah sama-sama telanjang.
Dimitri mengungkung tubuh Rania dan melanjutkan cumbuannya hingga keduanya sama-sama terlena.
"Ngh, ..." Rania mengerang ketika merasakan pria itu memasuki dirinya. Yang selalu membuatnya merasa penuh dan sesak.
Dia mendes*h ketika Dimitri mulai bergerak dan sebelah tangannya terus menjelajahi tubuhnya. Menyentuhnya hingga ke bagian yang paling sensitif. Sementara tangan yang lainnya menahan bobot tubuhnya agar tak terlalu menindih perempuan itu.
Seluruh tubuh Rania meremang, dan semua indera di tubuhnya telah sangat sensitif, hingga dapat merespon dengan baik setiap sentuhan pria di atasnya.
Rania menggeliat tak karuan sementara Dimitri terus menghentak. Dengan des*han yang terus mengudara memenuhi langit-langit kamar pada petang itu. Mengiringi pertautan tubuh dua manusia yang selalu di kuasai hasrat setiap kali mereka bersentuhan.
"Sayang, ..." Rania meracau ketika pergumulan itu menjadi semakin tak terkendali. Kedua tangannya mencengkeram keras pinggul Dimitri yang terus berpacu mengobrak-abrik bagian terdalam dari tubuhnya.
Sementara pria itu menahan geraman hingga kedua rahangnya mengetat dan giginya bergemeletuk. Ujung hidung mancungnya menyusuri setiap jengkal kulit di tubuh bagian atas Rania. Sesekali mengecup dan menghisapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Kemudian dia menemukan gundukan indah yang semakin hari tampak semakin menggoda, yang puncaknya sudah mencuat. Yang menggodanya untuk bermain-main di sana.
Rania mengerang ketika Dimitri menyesap puncak dadanya dan merematnya secara bergantian. Dia menjadi semakin gelisah dan perasaannya semakin frustasi ketika pria itu seolah tak ingin berhenti bermain-main dengan tubuhnya.
"Sayang, ..." dia kembali meracau dengan tangannya yang menggapai-gapai tubuh di atasnya ketikan pelepasan hampir tiba.
Dimitri merasakan area di bawah sana berkedut-kedut dan mencengkeram naga ajaibnya dengan kencang, membuatnya hampir kehilangan akal, yang kemudian menjadikannya tidak sabar.
Dia mempercepat hentakannya walau masih berusaha untuk tetap berhati-hati saat mengingat dua janin yang sedang tumbuh di dalam tubuh perempuan di bawahnya. Namun di detik berikutnya dia sudah tak bisa lagi menahan diri, hingga akhirnya Dimitri menekan pinggulnya dengan keras ketika dia tiba pada klim*ksnya. Bersamaan dengan Rania yang membiarkan pelepasan menghantamnya tanpa ampun.
🌹
🌹
🌹
anu ... 😆😆😆
masih ada beberapa ekstra part lagi gaess, aku harap kalian masih mau baca.
oh iya, mampir juga ke novel baru aku ya, masih di NT kok.