
Gisella duduk manis menunggu kedatangan Resti. Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Apakah keputusannya benar?
"Kau datang lebih awal? Apa sudah lama?"
Gisella mendongak, ia tersenyum. "Tidak. Ada perlu apa kau menemuiku? Aku tidak bisa berlama-lama."
Resti tersenyum, ia melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Latte-nya satu" Pelayan itu mencatat pesanannya dan berlalu. "Aku hanya ingin minta maaf. Kesalahanku tempo lalu, harus membuatmu turun tangan."
"Hanya itu? Aku tidak keberatan, lagipula aku bisa jalan-jalan gratis berkatmu." Pesanan Resti datang, setelah itu.
"Aku... masih penasaran denganmu, jadi aku mencari tahu sedikit tentangmu."
Deg.
Gisella berusaha tetap tenang, "Bukankah ini aneh? Aku tidak mengusikmu, bahkan tidak terlalu mengenalmu. Aku hanya tunangan dari CEO tempatmu bekerja. Apa menurutmu ini normal?" Ia menyesap Cappucino miliknya sebentar, "Apa kau memang terlalu menyukai tunanganku?"
"Tapi, ceritamu tempo lalu mengusikku."
"Cerita?"
"Novel yang kau ceritakan. Aku menemukannya. Tapi.." Ia memberi jeda, selama itulah jantung Gisella berdetak tidak normal. "Harusnya dia dibunuh...bukan ditinggalkan."
Ujung jari Gisella memainkan bibir cangkir dengan elegan, ia tersenyum miris. "Kenapa kau merasa terusik? Kau malah repot-repot mencari, padahal aku hanya iseng menceritakan...." Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ada apa? Apa kau pernah melakukannya? Karena itulah kau terganggu."
Resti menegang, ia kemudian mengambil Latte-nya dan menenguk seperempatnya. Gadis itu lalu ikut mencondongkan tubuhnya kedepan, menatap lekat-lekat lawan bicaranya. "Iya. Aku pernah melakukannya."
Gisella menyilangkan tangannya, "Apa-apaan ini, kau baru saja mengakui perbuatanmu? Tunggu...bukankah kau anak tunggal. "
"Aku punya adik angkat. Tidak. Lebih tepatnya adik pungut. Kau pasti mengenalnya, Delista. Dia anak pungut laki-laki yang menjadi ayah tiriku. Begitulah, aku bertahan. Aku... tidak sudah ada yang menghalangi jalanku, dan langit mendukungku." Penjelasan Resti membuat Gisella mengepal tangannya kuat.
Gisella kemudian mendesis geli, "Begitukah menurutmu? Lalu bagaimana jika dugaanmu meleset? dan bagaimana jika Ryan tau, gadisnya hilang karna kau menyingkirkannya?" gadis itu tersenyum penuh arti. 'Aku masih hidup, sis.'
Resti tersenyum sinis, "Dia akan percaya? Anggap saja kalau dia percaya. Lalu kau? Bagaimana denganmu? Kau hanya akan menjadi bayang-bayang dari cinta pertama tunanganmu. Hanya sebagai pengganti"
Gisella menggeram, haruskah aku keluarkan kartu As-ku?
"Dengar...."
"Apa yang kau lakukan disini?" Keduanya menoleh. Ryan. Laki-laki itu menghampiri kedua gadis itu dengan setelan casual lalu duduk di samping Gisella. Ucapannya harus terpotong karna kehadiran Ryan. Tapi, ia bisa bernafas lega, setidaknya Ryan membuat mulutnya diam.
"Kau tau darimana aku disini??"
"Giandra memberitahuku. Kenapa kau begitu mudah bertemu dengan orang lain? Padahal kau punya begitu banyak agenda penting?" kata Ryan sedikit menyindir keberadaan Resti.
Resti sedikit tersindir lalu bangkit, "Aku permisi,"
Setelah gadis itu pergi, Ryan langsung menoleh dan mendekatkan diri ke Gisella. "Apa kau gila? kenapa kau bertemu dengannya?"
Gisella juga menoleh membalas tatapan tunangannya. "Mau bagaimana lagi? apa aku harus lari? dia tertarik padaku sekarang. Mungkin lebih tepatnya curiga padaku. Di depanku. Dia mengakui perbuatannya Ryan."
"Lalu? kau mau mengaku bahwa kau Delista? Selanjutnya apa? Kau mau memenjarakannya? Atas dasar apa? Itu akam sia-sia, dan kau tau itu. Dia hanya ingin mengetesmu, Gisella." Gadis itu menelan ludahnya, ada raut kecemasan dari wajahnya. Ryan menggenggam tangan Gisella, "Jangan takut, ada aku bersamamu."
*****************
Resti melenggang keluar, ia tidak boleh terburu-buru mengambil keputusan. Karier yang dia bangun selama ini bisa hancur karna hal yang tidak penting. Selanjutnya akan lebih baik ia menunggu detektif suruhannya mengabarinya.
"Kau membuat masalah lagi?" Wildan sang pemilik suara datang menghampiri Resti,
"Bukan urusanmu. Kau... sampai kapan kau akan menjadi pesuruh?" Resti menabrak punggung laki-laki itu dan pergi meninggalkannya.
"Berhentilah mengganggunya, dan perbaiki karier pramugarimu. Bukankah, itu yang lebih penting?" Ujar Wildan, Resti berhenti lalu berbalik.
"Apa yang kau tau tentangku? Urusi saja pekerjaanmu yang jadi tukang suruh itu. Jangan menggangguku!" Gadis itu cepat-cepat pergi dari hadapan Wildan, setelah matanya melihat Ryan dan Gisella keluar dari restoran.
Pasangan serasi. Hatinya meronta. Ini tidak adil. Gadis yang datang entah darimana, langsung dengan mudah mendapat hati Ryan. Sedangkan dia? dia sudah melewati panjangnya karier pramugari, bekerja keras dan berharap bisa satu pesawat dengan CEO-nya itu. Tapi, usahanya sia-sia. Delista. Ibunya dan sekarang Gisella. Semuanya, tidak ada yang sesuai rencananya.
*****************
Hera meletakkan barang-barangnya, punggungnya sakit karena seharian ini ia sibuk mengurusi kepindahannya. Rumah mantan suaminya itu ia jual untuk melunasi hutang kebangkrutan dan gaji para karyawan, untunglah sejak menikah ia rajin menabung lalu uang asuransi peninggalan suaminya cukup untuk membeli apartemen.
Drrrttt Drrtttt
Telfon begetar, panggilan masuk dari Rest.
"Hallo,"
'Ibu dimana? kenapa rumah kita sudah terjual? Ibu benar-benar menjualnya?'
"Ibu akan memberikanmu alamatnya, datanglah."
Hanya butuh 15 menit menemui sang Ibu. Resti mengedarkan pandangannya takjub melihat isi apartemen. "Kau membelinya, bu?"
"Iya. Dari uang tabunganku."
"Lalu uang asuransi laki-laki itu?"
"Ibu gunakan untuk membuka usaha." jawab Rena. "Ah. iya, apa kau sudah melakukan apa yang Ibu perintahkan?"
"Aku sudah mengeceknya, tapi nihil. Uang Delista kosong sama sekali. Tidak ada yang tersisa." Jawab Resti.
Hera mendelik curiga, "Kau tidak. berbohong kan?"
"Ck, tidaklah. Aku punya uang sendiri."
"Aneh. Bagaimana mungkin Delista tidak punya uang sepeserpun?"
"Dia menariknya"
Hera menoleh kaget, "Berapa banyak?"
"Semuanya. Dia tidak menariknya secara pribadi, uangnya langsung ia setorkan ke Panti asuhan. Mungkin, tempatnya berasal. Kenapa? Ibu mau apa dengan uang Delista?" Tanya Resti balik curiga.
Hera tergagap. "Aku hanya ingin memastikannya. Tapi...baru kau bilang apa? Dia menyetor ke Panti asuhan?" Resti mengangguk.
"Panti Asuhan 'Kenangan Bunda'. Ada apa?"
"Kenapa dia menyalurkannya kesana?"
"Mungkin, itu tempat tinggalnya dulu. Bukankah Ibu yang bilang kalau dia anak angkat?"
"Itu benar, tapi ayahmu tidak membawanya dari Panti asuhan manapun. Delista benar-benar dipungut ayahmu dari taman. Ayahmu bercerita, kalau dia ditemukan hampir tewas karena kehilangan banyak darah." Jelas Hera.
"Mungkin dia sudah muak dengan uang." Jawab Resti tak acuh. "Aku akan tetap tinggal di apartementku. Aku masih mau bebas, jika ada waktu luang, sesering mungkin akan ku kunjungi Ibu. Carilah kesibukan, supaya kau tidak bosan. Aku pergi dulu."
"Hei. Kau tidak makan malam dengan Ibu?"
"Tidak. Lain kali saja."
**************************
Setelah pertemuan Gisella dan Resti, Ryan memutuskan untuk menambah jadwal gadis itu. Mulai ikut dengannya ke segala acara, sesekali mengajak pergi berlibur dan yang terakhir memberinya banyak tugas dirumah.
Gisella tidak banyak berkomentar, ia memilih untuk menikmati segala rencana Ryan. Sedikit lebih banyak mengetahui sifat laki-laki itu. Ambisius, keras kepala, tegas dalam pekerjaan dan santai saat berteman. Senyumnya juga tidak kalah menawan, walaupun Gisella jelas-jelas berada di sampingnya, gadis-gadis muda masih mencoba mengerubungi Ryan dan memberi segala macam kode. Untungnya, Ryan tidak tertarik. Syukurlah.
"Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?" Ryan datang menghampirinya saat dirinya tengah disibukkan membaca komentar netizen.
"Ah. Tidak apa-apa."
"Kau ada rencana hari ini?"
Gisella pura-pura berfikir keras. "Sayangnya ada."
Ryan mengangkat sebelah alisnya, "Rencana apa?"
"Aku akan makan siang dengan Sherly, Felish dan Viola. Mungkin setelah itu kami nonton film atau sekedar berkeliling untuk shopping. Kau ingin ikut?" Tawaran Gisella membuat Ryan mendelik. Mengekori sekumpulan wanita yang sedang shoping, itu....mengerikan.
"Kau tidak serius mengajak kan?"
"Tentu saja tidak. Kalau aku serius, kau benar-benar mau ikut?"
"Terimakasih atas tawaranmu, tapi aku memilih waktu libur berhargaku dirumah." Ryan bangkit dari tempatnya, ia mendekat dan mencium puncak kepala Gisella, "Selamat bersenang-senang."
Deg.
"Apa-apaan ini, kau bilang aku tidak boleh jatuh cinta, kalau seperti ini, bagaimana......"
"Jangan lakukan yaa,," potong Ryan melambaikan tangan dan pergi.
Gisella mengakui sisi Ryan yang lembut, dia tidak segan-segan mencium pipi, kening atau kepalanya. Laki-laki itu santai tanpa terbebani, tapi dia tidak bisa seperti itu. Memang status mereka sebagai tunangan, tapi Ryan membatasi balasan Gisella.
'Ini tidak adil'
********************
Pusat perbelanjaan seoul ramai dikunjungi pengunjung. Suasana jauh dari kata sepi. Gisella, Felish, Viola dan Sherly berbaur dalam keramaian, masuk dari toko satu ke toko yang lain. Makan siang, menonton film, menikmati Spa, memilih baju, dan menyicipi jajanan.
"Uwah,,aku lelah sekali." Sherly meregangkan otot-ototnya. "Tapi ini menyenangkan."
"Sama. Aku benar-benar menikmati perjalanan keliling Mall kali ini," Lanjut Felish.
Felish menggandeng tangan Vio, "Ayo, kita pulang."
"Sudah mau pulang? Ahh.. aku masih ingin bermain-main sampai pagi" Keluh Viola,
"Kau tidak mengkhawatirkan kekasihmu? Dia pasti menunggumu dirumah." ucapan Sherly langsung membuat Viola tambah tidak bersemangat
"Aku sudah putus dengannya sudah lama." Jawabnya lemah.
"Apa!! Sejak kapan?" Felish dan Sherly berkoor kompak.
"Sudah lama. Katanya dia sudah punya pacar sekarang."
"Siapa??" Felish dan Sherly kembali berkoor. Gisella juga ikut menyimak.
"Entahlah. Mungkin dia lebih menarik dariku."
"Siapa kekasih Viola? apa aku mengenalnya?" Gisella akhirnya buka suara, menatap 3 rekannya.
"Trias. Salah satu kopilot kita. Seharusnya kau sudah pernah bertemu. Dia juga datang ke pesta jamuan makan malam." jawab Felish.
"Iishh...Aku tidak peduli lagi dengannya. Semoga saja dia juga dibuang kekasihnya!!" Vio mengepal tangannya dengan penuh tekad.
"Kalian semua disini?" empat gadis itu serentak menoleh. Resti. "Sedang jalan-jalan? Tanpa mengajakku?" Felish, Sherly dan Vio terlihat bersalah. Resti tidak cukup peduli dengan ketiganya, lalu melirik ke Gisella. "Ahh,, teman baru?"
"Resti, bukan itu maksud kami.."
"Tidak perlu dijelaskan. Itu hak kalian untuk berteman. Lagipula, aku tau kalau kalian sangat menyukai teman yang KAYA." Ujar Resti dengan menekankan kata 'Kaya'. Tentu saja ini membuat ketiga wanita itu merasa tersindir.
"Sayang!!!" Suara itu kompak membuat seluruhnya menoleh. Melongo. Terpanah.
"TRIASS!"
"Eh, Hai.." Pemuda itu terlihat salah tingkah, ia juga membungkuk memberi hormat pada Gisella, "Hallo,"
"Sayang?? Jadi....wanita yang kau maksud itu...Resti? Senior kita??"
Resti menyingkirkan poninya dengan gaya kemenangan, sedangkan Trias dengan malu-malu merangkul Resti dan akhirnya mengangguk.
"Resti!!" Viola setengah memekik. wajahnya merah padam menahan amarah. Ia tidak menyangka seniornya menikung hubungannya.
"Kenapa? Bukankah kalian sudah putus? Lalu apa lagi masalahnya? Jangan salahkan aku, jika kau tidak pandai menjaga laki-lakimu sendiri." Ucap Resti.
Jawaban Resti membuat Viola mengepal tangan geram. Saat ia ingin menampar wajah sang plakor itu, Gisella cepat-cepat menyela. "Bukankah itu sudah wajar? Dia mungkin sedang belajar bagaimana cara merebut dari level terendah, sebelum ke level yang benar-benar tinggi."
"Apa?" Resti tidak mengerti.
Sherly tampaknya mengerti arah pikiran Gisella, "Benar juga. Bukankah katamu, kau ingin merebut Ryan dari Gisella?" Viola dan Felish sama-sama melipat tangan mereka.
Trias menoleh cepat ke arah Resti, "Sayang...apa maksud mereka?"
"Aku mencium bau-bau sampah akan dibuang ketempatnya." ujar Viola melirik ke arah Trias.
"Benar, karma berlaku." balas Felish.
Gisella merasa tidak lagi ada yang dibicarakan, ia lalu berlalu diikuti Felish, Viola dan Sherly.
"Kau lebih baik hati-hati." Ucapan Resti menghentikan langkah Gisella. "Aku bisa saja menggantikan posisimu."
Dengan mantap, Gisella berbalik, ia tersenyum meremehkan. "Cobalah. Aku ingin tau kemampuanmu."
"Sayang, apa maksud mereka? Kau memanfaatkanku? Kau benar-benar ingin mengejar Tuan Ryan?" Ucapan Trias tidak digubris oleh Resti, ia menatap lawan bicaranya lurus-lurus.
Ditantang seperti itu, Resti balik tersenyum. Sikap percaya diri Gisella membuat dirinya semakin ingin meruntuhkan benteng pertahanan gadis itu. Lihat saja nanti, kali ini dia harus menang. Seperti kemenangannya terhadap Delista.
*****************
Ryan duduk bersama Wildan di ruang kerja. Keduanya berhadapan dan sama-sama menatap papan catur.
"Kau sudah memikirkan caranya?"
"Cara apa?" Jari Ryan menangkap salah satu pion dan menggerakkannya ke lahan lawan.
"Rencana awalmu."
Dia menghela nafas. "Aku bahkan lupa rencanaku. Aku menikmati hari-hariku bersamanya."
"Ya, sudah. Mudah. Tetaplah seperti ini." Wildan mengajukan pembalasan pada permainan catur Ryan.
"Itu juga tidak bisa. Kita tidak tau kapan ingatan Gisella kembali. Itu seperti bom waktu."
Wildan melirik, "Resti. Dia menyewa detektif untuk mengumpulkan informasi Gisella dan Kau."
"Gadis itu. Dia bukan tipeku sama sekali. Sikap tidak mau kalahnya, membuatku muak. Kenapa dia begitu gigih melakukannya. Padahal, kita belum bergerak sama sekali." Ujar Ryan.
"Gisella memancingnya."
Jemari Ryan terhenti, "Dengan cara?"
"Kurasa ingatannya perlahan pulih. Dia ingat bagaimana Resti membuangnya dulu."
Ryan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Mendelik takjub dengan kemampuan Wildan mencari informasi. "Bagaimana bisa kau tau? Apa dia cerita padamu?"
"Siapa?"
"Pokoknya ada. Untuk Gisella, aku menyarankan untuk cepat pergi dari sisinya. Dengan tempramennya yang seperti itu, memaafkanmu mungkin terdengar sulit baginya." Ujar Wildan.
"Jika kau jadi aku. Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ryan.
Yang ditanya hanya mengedikkan bahu, lalu mengelum senyum, "Mungkin, aku langsung pada intinya. Aku tidak mau sepertimu, yang membuat kenangan manis untuknya. Dia akan mencintaiku, dan bukankah itu akan lebih sulit? Apalagi jika kau juga mencintainya." Wildan memberi jeda sejenak, "Itu tidak akan mudah, bung! Lebih baik katakan intinya dan pergi dari dunianya."
**************
Gisella dihampiri Victoria dari dapur, wanita itu membantunya membawakan belanjaan. "Ryan ada dirumah?"
"Tuan ada di ruang kerja."
"Katanya mau istirahat, kenapa dia malah diruang kerja?" Gisella memberikan semua barangnya dan lekas melangkah menemui laki-laki itu.
"Aku tidak mau menyakitinya dengan cara seperti itu. Kau gila, Wildan."
Langkah kaki Gisella membeku di depan pintu ruang kerja, suara Ryan terdengar sampai keluar. Dan kakinya urung untuk masuk dan memilih menguping pembicaraan dua orang itu.
"Lalu? Kau masih mau bermain-main dengannya? Kau tau sendiri, kalau Gisella pasti tidak akan berdiam lama jika mulutnya sudah gatal untuk menanyakan sesuatu. Saat kau sudah terpojok nanti, apa yang akan kau lakukan?"
Ryan memaksakan segaris senyum, "Jika ayahku tidak begitu. Aku pasti akan mencintainya dengan mudah."
Alis dan dahi Wildan berkerut, "Kau... benar-benar mencintainya? Semudah itu?"
"Sejak dulu. Rasa ingin melindunginya sudah ada. Makanya aku tidak tertarik pada wanita lain selain dirinya. Hingga akhirnya takdir mempertemukan kami, dia datang setelah aku mulai lelah mencari." Tubuhnya dicondongkan kedepan, "Kau tau, betapa leganya hatiku ketika aku menemukannya."
"Ryan...."
"Kau disini rupanya?" Suara yang hadir diantara mereka, membuat Wildan urung melanjutkan ucapannya.
"Kau sudah pulang?"
Gisella mengangguk, "Barusan. Kau sudah makan malam?"
"Sudah. Kau?"
"Aku juga sudah. Aku akan langsung istirahat." Ryan mengangguk mengiyakan.
Gisella melenggang keluar, meninggalkan dua pria itu kembali bermain atau kembali pada pembicaraan mereka. Ia memang punya banyak pertanyaan, dari awal dan sekarang pertanyaannya bertambah banyak. Apa keputusannya untuk mempercayai laki-laki itu sudah benar?
******************
Resti menghampiri salah satu meja, disana Harris detektif yang ia tunggu kabarnya memberinya pesan untuk segera bertemu, dan itu langsung disambut baik gadis itu.
"Apa yang kau dapat?"
Laki-laki itu mengeluarkan foto yang didapatnya dari Resti. Foto Ryan adalah yang pertama diarahkannya. "Dia putra dari Candra Perwira. Berita terkait tentang ayahnya memang benar adanya. Ayahmu.... Dirgayoga bukan?"
Resti mengangguk,
"Ayahmu pernah bekerja sama dan berinvestasi dengan perusahaan Ayah Ryan. Tapi gagal, karna ayahmu menggelapkan dana dan mencoba menipu. Candra mengetahuinya, langsung menghabisi perusahaan Ayahmu dalam satu malam. Tapi, itu bukan tanpa alasan."
"Apa maksudmu?"
"Ayahmu ternyata berteman baik dengan Ferry Agrariansyah. Dia adalah pemilik sesungguhnya Maskapai ErTain, perusahaannya direbut secara tidak adil oleh Candra. Walaupun begitu, itu sesuai hukum dan tidak bisa dibawa ke meja persidangan. Mungkin, Ayahmu ingin mencoba merebut kembali perusahaan sahabatnya, dan mengembalikannya. Tapi, malah berakhir bangkrut. Temanku yang menjadi penanggungjawab kasus itu, mengatakan bahwa Ferry dibunuh oleh bawahan Candra." Dia berhenti sebentar, "Ayahmu.. setelah Ibumu bercerai darinya, kau sudah tidak mendapat kabar lagi kan, setelah itu?"
Resti mengangguk, "Aku hanya tau Ayahku meninggal."
"Ayahmu, juga disingkirkan oleh Candra."
Sebaris pernyataan itu membuat tubuh Resti menegang. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Apa... Candra dihukum?"
"Dihukum, lalu dibebaskan. Frans menjadi tersangka utamanya. Lalu, 2 tahun kemudian, Candra meninggal karna serangan jantung."
"Orang kaya memang seperti itu. Mereka mencari kambing hitam untuk menjadi tamengnya."
"Tapi, aku merasa ada yang aneh." Harris melanjutkan penjelasannya.
"Apa?"
"Saat itu Ferry mempunyai anak perempuan berusia 4 tahun. Dan menariknya..... nama anak perempuannya sama dengan gadis ini." Harris mendorong foto Gisella, "Nama mereka sama....Gisella Arvalleta," Harris mengeluarkan sebuah foto, menampilkan seorang anak kecil manis dengan berbalut dress selutut berwarna pink.
Resti memperhatikan foto itu, dan Harris melanjutkan penjelasannya, "Terlebih lagi, hanya mayat Ferry yang ditemukan saat itu, anak gadisnya hilang entah kemana. Jika Ferry meninggal, bagaimana nasibnya sekarang." Harris memasang wajah terkejut, "Apa mungkin....Gisella yang menjadi tunangan Ryan sekarang adalah anak kandung Ferry?"
Penjelasan terakhir Harris membuat minat Resti naik, "Kau mencari tau tentang Gisella?"
"Sudah, tapi bersih. Dia sesuai dengan data yang kau berikan. Tidak ada yang aneh tentang dirinya. Aku mengira seperti itu sebelumnya, bahwa Gisella bisa saja Delista. Tapi, setelah mencocokkannya, mereka berbeda."
"Kau yakin?"
"Aku yakin."
Resti membuang muka keluar jendela, ia masih belum puas. Bagian Ayahnya memang sudah terpenuhi. Jelas bahwa ini kesalahan murni Ayahnya yang mau berkorban tanpa berfikir panjang kalau dia juga punya keluarga yang perlu diurus. Tapi, untuk bagian Gisella, ia belum menemukan titik kelemahannya.
Resti menoleh kembali ke Harris. "Lalu bagaimana dengan wanita satu lagi?"
"Ah, maksudmu Delista? Ayahmu dulu pernah datang ke kantor polisi untuk melaporkan anak hilang, Delista adalah anak yang ditemukan ayahmu. Dia tidak berasal dari panti asuhan manapun seperti dugaanmu."
"Kau tidak bisa menelusurinya lebih dalam lagi? Bagaimana mungkin Delista ditemukan ayahku tanpa ada satupun keluarganya yang mencari?" Resti masih penasaran.
"Kau punya foto kecilnya? Foto saat dia sudah di adopsi oleh ayahmu? Aku akan berusaha lagi."
"Akan ku cari lagi"
************************
Gisella dengan enteng membawa paper bag cukup besar, langkahnya diiringi tatapan karyawan Ryan. Berkali-kali dirinya tersenyum dan menyapa ramah. Ini pertama kalinya dia kesini. Ke perusahaan Ryan. Sebenarnya Wildan yang disuruh, tapi karna tidak ada kerjaan, Gisella menawarkan diri menyiapkan apa yang dibutuhkan laki-laki itu.
"Kena...." Kata-kata Ryan mengantung, saat Gisella hadir. "Apa yang kau lakukan disini?"
Gadis itu memperlihatkan paper bag yang dia bawa. "Wildan mengatakan padaku, kalau kau butuh pakaian ganti."
Mata Ryan membulat sempurna. "Kau yang menyiapkannya!!"
Gisella mengangguk.
"Semuanya??"
Gisella kembali mengayunkan kepalanya atas bawah. "Kemeja, celana, jas, dasi, jam tangan, dan.... cel..."
"Stop!!" Ryan buru-buru mengambil paper bag dari tangan Gisella, "Itu tugas Wildan, harusnya kau tidak perlu repot-repot menyiapkannya." Wajahnya bersemu merah. Ini memalukan. Seorang gadis menyentuh celana dalamnya. Astaga.
"Kenapa wajahmu memerah?"
Ryan tergagap, "Ti...tidak.. apa maksudmu, mungkin aku hanya kepanasan saja."
Gisella menaruh tasnya, ia berkeliling menatap ruangan laki-laki itu. 3 kata untuk tempat ini. Luas, nyaman dan adem. Ruangan berukuran 6x5 dengan interior maskulin benar-benar mencerminkan diri seorang Adryan Perwira,
"Kau mau minum apa? Latte? Kopi? Teh?" tanya Ryan.
"Aku ingin minuman bersoda."
Gisella menatap ke luar jendela, dari sini ia bisa melihat pemandangan kota dan seisinya. pemandangan ini akan menyenangkan di malam hari. Sejuknya kaleng minuman mengalir dipipi, gadis itu cukup kaget dan memukul bahu Ryan dengan gemas.
"Kau akan lembur hari ini?"
"Iya, aku banyak pekerjaan menjelang tahun baru. Maaf, aku tidak bisa menemanimu."
"Tidak apa. aku bisa mengerti."
Ryan kembali ke kursi kebesarannya, tapi tidak menyentuh laporan yang sudah berserak menghias mejanya.
"Hmm.. apa kau tidak mau menyuruhku membantu?"
"Kau mau? Tapi, ini butuh ketelitian. Kau bisa sakit mata melihat angka."
Gisella menatap kegirangan, tawarannya disambut baik oleh laki-laki itu. Ia langsung duduk manis di sofa tamu, "Berikan padaku. Akan kutunjukkan padamu, kemampuan belajarku."
Ryan sedikit ragu awalnya, tapi tangannya mulai memilah pekerjaan yang paling mudah dikerjakan gadis itu. Dihampirinya Gisella, ia menyerahkan map tebal padanya, saat gadis itu berusaha menyambut, Ryan menariknya kembali, "Kau harus teliti."
"Siap, Bos!!"
Ryan menyerahkannya kembali, "Ini laporan semua komentar positif dan negatif penumpang Ertain. Kau bisa memilahnya dan merangkumnya. Apa yang perlu kita tambahi dan apa yang perlu kita kurangi. Itu saja dulu."
"Apa-apaan ini, kau memberikan tugas termudah?"
Ryan mendelik kaget, "Mudah? Kau terlalu percaya diri, itu sudah diringkas oleh sekretarisku, daannn..... sebenarnya aku mau mengetes tingkat otak kritismu dulu, anggap saja kau pemanasan. Jika kau berhasil, aku akan memberikanmu hadiah!"
Gisella mengerling sinis, "Hadiahku harus mahal. Akan kutunjukkan bahwa belajarku tidak sia-sia!!" ungkapnya semangat.
Ryan tersenyum penuh arti, melihat gadis itu bersemangat, ia juga ikut bersemangat.
*********************
"Ibu!!! Bu!!!" Resti berteriak memanggil Ibunya, setelah pertemuannya dengan Harris, ada satu hal yang harus dipastikan olehnya.
"Ada apa? kenapa kau berteriak malam-malam." keluh Hera saat keluar dari kamarnya,
"Ibu. Apa ibu punya foto Delista saat kecil. Sekitar 4 atau 5 tahun?"
Hera berfikir sebentar, "Mungkin masih ada. Kenapa?"
"Berikan padaku," pinta Resti sedikit memaksa.
Alis dan kening Hera berkerut. "Untuk apa?"
Resti mengalahkan tangannya, meminta, "Berikan saja padaku. Aku mau lihat."
Hera kembali ke kamarnya, diikuti Resti dari belakang. Ia mengambil album foto berukuran besar dari kotak. Wanita itu membolak-balik album foto pelan dan mengamati gambar yang dia cari. "Harusnya ada disini, ayahmu pernah menyimpannya disini."
"Laki-laki itu bukan ayahku."
Hera terdiam, ia tidak mau bertengkar dengan anaknya.
"Ini dia!" Ia berseru lalu melepaskan secarik foto. Disitu seorang anak duduk manis dipangkuan Gilang, tersenyum penuh keceriaan. Resti merampas foto itu.
Matanya membulat sempurna. Membeku. Lidahnya kelu. Hatinya tersayat sakit tertusuk ribuan pisau. Cepat-cepat ia mengeluarkan foto lainnya dari dalam tasnya. Nafasnya berderu, apa yang ia cari tak juga ia sentuh, Resti kemudian mengeluarkan semua isi tasnya, tidak peduli barangnya berserakan. Fokusnya hanya satu. Memastikan.
"Ada apa?? Apa yang kau cari?" Hera bertanya di sela-sela dirinya mencari sesuatu.
Foto yang diberikan Harris siang tadi langsung dicocokkan dengan foto pemberian Ibunya.
Tidak. Ini Tidak Mungkin.
Hera ikut melihat, lalu ekspresi heran keluar dari wajahnya. "Darimana kau mendapatkan foto itu?"
"I.. ibuu.." suara Resti terbata memanggil sang Ibu
"Kenapa? Ada apa Resti?"
"Kau.. pernah berkata padaku.. kalau laki-laki itu menemukan Delista kan? Delista hampir sekarat waktu itu kan?" Tanya Resti, keringat dingin keluar membasahi keningnya.
"I..iya.. itu yang ayahmu ceritakan padaku. Kenapa? Ada apa? Ceritakan pada ibu! jangan membuat ibu takut!!"
Tubuh Resti terduduk, tangannya menjulur lemas ke lantai, wajahnya pucat dan linglung.
"Resti!!! Ada apa iniii!! Resti! Sadarlahh!!"
"Ibu... taukah kau? Delista... anak pungut itu... adalah putri kandung dari pemilik Maskapai Ertain." ucapnya lemah.
"Apa katamu!!"
"Dia...pemilik maskapai dimana aku bekerja sekarang, bu.." Resti tidak bisa mengendalikan kekacauan dalam dirinya. Ini tidak bisa dia terima. Dari awal, dia memang sudah kalah.
********************
Ryan menyelesaikan setengah pekerjaannya, pertemuannya dengan pemegang investor selesai tepat pukul 10. Langkahnya dipercepat menuju ruangannya. Wildan disuruhnya untuk mengantar pulang investor tadi. Dia meninggalkan Gisella di ruangannya, terakhir gadis itu masih berkutat fokus pada pekerjaannya. Entah perempuan itu sadar atau tidak kalau tadi dia minta izin keluar untuk menghadiri pertemuan.
Pintu ruangannya ia buka, Gisella tidak lagi diposisi mendalami pekerjaannya. Tapi malah sudah terlelap di atas sofa. Ryan tersenyum geli. "Inikah yang ia sebut belajar tidak sia-sia?"
Ryan menghampiri Gisella, diselimutinya gadis itu dengan perlahan. Ia duduk bersila dilantai, memeriksa pekerjaan Gisella. Ternyata pekerjaannya sudah selesai, ia merangkum semua dengan rapi dan hanya sampai 3 sheets
"Bagaimana menurutmu??"
Ryan terkejut, menoleh, "Kau mengagetkanku! Aiish,, apa aku membangunkanmu?"
"Tidak,, aku hanya lelah berhadapan dengan laptop. Jadi menutup mataku sebentar. Apa kau mengira aku tertidur?"
"Iya, aku kira kau kelelahan."
Gisella tidur menyamping, jarak kepala mereka hanya seukuran penggaris 30 cm. "Bagaimana pekerjaanku?"
Jari Ryan menyetuh layar kursor dan menariknya kebawah, "Lumayan, ini cukup simple dan bahasanya mudah dipahami."
"Sudah kubilang kan, aku ini pintar dalam belajar. Aku tidak akan menyia-nyiakan apa yang kupelajari."
"Terserah kau sajalah. Ayo pulang, biar kau bisa istirahat juga." Ryan ingin beranjak dari tempatnya, namun ia kembali terduduk karna Gisella menariknya kembali.
Ryan dan Gisella sama-sama terkejut, karna mereka menyikirkan jarak dan lebih dekat dari sebelumnya.
"A...ada.. apa?" Ryan bertanya dengan suara terbata.
"Mana hadiah yang kau janjikan?" Tanya Gisella pelan,
"Aku.. harus membelinya dulu, bukankah kau tdai bilang harus mahal?" Ryan menelan ludahnya, tubuhnya tidak bisa ia kontrol dan semakin ingin mendekati wajah Gisella.
Cup.
Gisella dengan cepat mengecup bibir Ryan sekilas, ia tersenyum menjauhkan wajahnya. "Ini sudah cukup. Harganya cukup mahal, bukan?"
Ryan mematung, "Kau yang memulainya duluan."
Hanya itu. Tanpa berfikir panjang, Ryan menarik kepala Gisella dan mencium bibir gadis itu lembut. Gadis itu kaget, walaupun akhirnya dia menutup mata dan memilih menikmati malam ini.
'Maaf... sepertinya aku jatuh cinta padamu Ryan. Aku mungkin menyesal nanti, tapi aku tidak mau kehilangan moment ini, kau satu-satunya orang yang berada disisiku. Apapun yang terjadi kedepannya, terjadilah,,'