
Adryan Perwira, CEO perusahaan salah satu maskapai penerbangan termuda. Sejak dia menjabat, laba perusahaan naik 2 kali lipat, dan menjadikannya sebagai CEO muda berkompeten di jajaran 10 besar pemimpin se-asia. Langkah kaki yang berirama secara stabil menunjukkan kelayakannya profesionalitas dimata karyawannya.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Belum ada"
Ryan menyeruput kopinya, mata hitamnya menatap keramaian lalu lintas. Ia lalu berbalik, dihadapannya seorang pria terlihat gelisah karna tak mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" Ryan meregangkan dasinya "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi" Ujarnya datar.
************
"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan ErTain Air M-539 dengan tujuan Korea Selatan. Penerbangan ke Korea Selatan akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 10 jam 40 menit, dengan ketinggian jelajah 32.000 kaki di atas permukaan air laut. Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan ErTain Air ini adalah tanpa asap rokok, sebelum lepas landas kami persilahkan kepada Anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan Anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama Pesawat ErTain, kapten Adira Sanjaya dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama kami." Suara salah satu pramugari terdengar, Delista Anjaya sang pemilik suara mengakhiri demontrasi Take Off. Ia lalu kembali duduk ditempatnya dan memasang sabuk pengaman, karna sebentar lagi pesawat akan lepas landas.
"Ada apa dengan suaramu?" Yoo Ra memalingkan pandangannya, "Kau terdengar tidak sehat"
Resti Stefanny, senior pramugari dengan julukan nenek sihir itu, duduk di samping Yoo Ra dan memasang sabuk pengaman. "Jika kau sakit, lebih baik tidak usah bekerja. Harusnya kau lebih profesional dalam pekerjaan"
"Aku minta maaf. Ini adalah hari pertamaku datang bulan,"
Resti menoleh tak senang, "Aku memberitahumu, bukan menanyai alasanmu"
Delista memilih diam, tidak ada gunanya berdebat dengan wanita disampingnya, ini akan membuat sirkulasi Haidnya semakin jelek.
Sesaat kemudian, laju pesawat sudah berubah menjadi kecepatan 100 persen. Beberapa kali guncangan terjadi, hingga akhirnya pesawat lepas landas.
"Pesawat M-539 ini di lengkapi dengan delapan pintu dan jendela darurat, dua pintu darurat di kabin bagian depan, empat jendela darurat di kabin bagian tengah, dan dua pintu darurat di kabin bagian belakang. Baju pelampung anda terdapat di bawah kursi dan hanya dipakai pada saat pendaratan darurat di perairan....."
Selagi teman-temannya memberikan safety demonstration, Delista berkeliling memeriksa kebutuhan para penumpang. Setiap layanan yang dia berikan selalu mendapat reaksi positif dan membuat Resti semakin iri.
***********
Dilain tempat, Ryan beserta beberapa pengawalnya termasuk Wldan sang sekretaris, melewati kerumunan manusia. Kedatangan laki-laki itu disambut antusias para penumpang lainnya dan memilih mengabadikan moment langka tersebut.
"Wahh,, dia tampan sekali"
"Sekretaris Do juga tampan"
"Ahh,, siapa yang nantinya akan menjadi wanitanya"
Ryan duduk ruangan VVIP yang sudah disiapkan, "Selamat untukmu sekretaris Do, kau membuat mereka berpaling dariku" Gurau Ryan
"Terimakasih atas pujiannya" balas Wildan
"Aiish,, ini sedikit membuatku kesal. Kau sudah memberitahu Sanjaya?"
"Sudah. Mereka akan tiba 15 menit lagi"
****************
Pesawat ErTain Air M-539 tiba di bandara, terlambat dari waktu yang seharusnya. Langkah Sanjaya sebagai pilot utama lebih cepat sehingga membuat jajarannya juga ikut melangkah cepat.
"Dari semua pilot, kenapa harus aku?" ujarnya kesal. "Kita harus terbang ke Jepang lagi, karnanya" Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia berbalik. "Ini penerbangan pribadi VVIP, dan hanya satu pramugari yang boleh ikut denganku, yang lainnya kembali pulang dan istirahat"
"Baiikk!"
Resti merasa percaya diri dan tetap tinggal. Sedangkan yang lain memilih untuk pergi dengan cepat sebelum captain mereka berubah pikiran.
"Delista!" Gadis itu berhenti, raut wajah Resti langsung berubah kesal seketika. Itu tidak mungkin kan?
"Ikutlah denganku!"
"Apa!! Aku?"
"Captain! Ini tidak masuk akal. Aku masih seniornya, tapi kau malah menunjuk Delista?" protes Ae Ryung.
"Kenapa? Kau tidak suka? Aku memilihnya atas izin dari Sekretaris Presdir, dia yang menyuruhku memilih Delista. Jika kau tidak suka, proteslah padanya! Ayo ikut denganku Delista!"
"Apa maksudmu? Sekretaris Presdir? Mungkinkah? VVIP itu..... Adryan Perwira?"
"Iya. Dia memintaku untuk menjadi Pilot utamanya. Lebih baik kau pulang, bukankah itu bagus? Ayo Del, kita sudah terlambat!"
"Iya"
Resti menatap kepergian keduanya dengan kesal. Ini adalah kesempatan emas baginya. Melayani Direktur utama. Jika pelayanannya bagus, itu pasti akan mendatangkan promosi yang baik untuk kariernya.
"Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku?"
Delista mengikuti sang Captain, ia sedikit ragu dan akhirnya membuka suara, “Benarkah, kalau aku ditunjuk sendiri oleh sekretaris Sekretaris Presdir? Aku merasa ada yang aneh disini”
“Kau gugup?”
“Sedikit. Rumornya susah sekali melayani Tuan Kim.”
“Aku memang berbohong!”
“Apa!”
“Dia tidak menyuruhku. Tapi, aku mau kau ikut denganku. Anggap saja ini latihan, jangan terlalu peduli dengan apa yang diucapkan Resti, dia hanya iri, dan kau bersikaplah seperti biasa atau kau akan mengacaukan semuanya. Kau tau sendiri kan? Seperti apa Tuan Kim itu, dia benar-benar perfeksionis” Ujar Captain Lee.
Delista kembali tenggelam di pikirannya, mendengar penjelasan laki-laki itu membuatnya tambah gugup.
*********************
Suasana pesawat VVIP milik Adryan Perwira terasa sunyi. Sang pemilik hanya duduk manis sambil memeriksa beberapa berkas. Tidak banyak komentar, tidak ada topik pembicaraan dan tidak ada keperluan yang membuat Delista harus kerepotan melayani pemuda itu. Dia sudah melakukan yang terbaik, dan ia cukup menahan ini semua sampai mereka tiba di Jepang. Apapun yang terjadi, dia tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun.
Perjalanan 1 jam 2 menit itu ditempuh dengan kecepatan 900 km/jam oleh Sang Captain. Ryan segera bersiap untuk turun, dirinya sempat menyapa Sanjaya dengan santai.
“Inilah yang aku sukai darimu, Captain. Terimakasih kau sudah mau melayaniku. Bisakah kau tinggal beberapa hari disini? Aku pergi bersamamu, dan harus pulang bersamamu juga!” Ungkap Ryan.
“Tidak masalah, selagi aku digaji.” Jawab Sanjaya santai.
Ryan tersenyum, pandangannya beralih ke Delista. “Kau sudah bekerja keras, sampai ketemu 1 minggu lagi!” Sang Captain dan Delista membungkuk memberi hormat. Setelah VVIP pergi, keduanya lunglai bersamaan.
“Wahh,, ini sangat melelahkan!”
“Kau benar. Ini pertama kalinya aku merasa terimidasi. Lalu bagaimana selanjutnya?” Tanya Delista.
“Tentu saja kita harus beristirahat!”
"Apa ini benar-benar liburan?"
"Permisi!" Suara itu membuat Sanjaya dan Delista berdiri. Sekretaris Presdir, Wildan datang menghampiri keduanya. "Ini hadiah dari Pak Ryan untuk kalian, nikmati liburannya dan jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku akan menghubungi kantor supaya membuat jadwal penerbangan ulang, jadi jangan pikirkan apa-apa dan bersenang-senanglah!"
"Terimakasih!" setelah laki-laki itu pergi, Sanjaya membuka amplop coklat, isinya adalah tiket penginapan dan beberapa voucher belanja.
"Kita harus menggunakan kesempatan emas ini untuk berlibur!" Ujar Sanjaya.
"Tokyo I'm Comming!!!!!!"
Entah apa yang merasuki presdir yang baru ia temui itu, tapi jujur ia sangat senang. Sudah lama gadis itu memimpikan liburan seperti ini. Sebagai seorang pramugari, penerbangan internasional memang sudah berkali-kali ia tempuh, tapi itu hanya sekedar bekerja dan besoknya juga sudah harus terbang kembali.
Disneyland, Disneysea, Museum Fujiko, Okinawa Churaumi Aquarium, dan banyak lagi wisata yang ingin ia kunjungi. Kesempatan ini memang tidak boleh disia-siakan.
"Ada banyak tempat yang ingin ku kunjungi. Apa kau mau bergabung di Tour-ku Capt?" Tanya Delista pada Sanjaya.
"Bisakah kau melakukannya sendiri?"
"Ada apa? Kau tidak mau ikut?"
"Hehe,, aku perlu bertemu dengan kekasihku disini. Setelah meletakkan barang di hotel aku akan menemuinya. Apa tidak apa kalau kau kutinggal?" Jelas Sanjaya.
"Baiklah, jangan pikirkan aku."
"Jika ada apa-apa, langsung hubungi aku!" Delista mengangguk. Perjalanan sendiri itu? bagaimana rasanya?
***********
Dibelahan dunia yang lain, Resti mengamuk. Hera sang Ibu hanya bisa pasrah saat mendengar anaknya memaki-maki nama Delista berkali-kali.
"Brengsek!! Anak sialan itu!! Kenapa hidupku tidak ada yang mulus karna kehadirannya!!"
"Apa kau tidak lelah? memakinya hanya membuatmu tambah stres!" Ucap Hera.
"Ibu, dari sekian banyak laki-laki. Haruskah ibu menikahi ayah Adel? Jika Ibu mampu mengurus keuangan dengan baik, Ayah tidak akan pergi meninggalkan kita dengan wanita lain!!" ucap Resti dengan nada tinggi,
"Resti! Apakah kau harus berbicara seperti itu? Ayah Adel adalah pahlawan kita. Jika ibu tidak menikahinya, bagaimana bisa kau melanjutkan perkuliahan"
"Ini semua gara-gara Ibu! Hidupku, sekolahku, teman-temanku, dan pacarku semuanya tidak ada yang berjalan dengan lancar!"
"Resti"
"Keluar dari kamarku! KELUARRRR!!!" Gadis itu dengan kasar mendorong Ibunya pergi meninggalkan kamar lalu menutup pintu dengan keras.
"Resti! Buka nak! Jangan seperti ini,"
Tidak ada jawaban dari sang Putri, Hera langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Delista. Belum lagi, hubungannya tersambung, pintu kamar Resti terbuka.
"Kau ingin makan sesuatu?"
Tanpa basa-basi lagi, Resti merebut ponsel ibunya dan membantingnya keras.
"Resti!!"
"Jangan hubungi ****** itu, bu! Apa aku harus terlihat seperti pengemis dimatanya? Haruskah ibu menghubunginya dan menceritakan keadaanku? Apakah Ibu tau? Jika Ibu menghubunginya, dia pasti akan merendahkanku!"
"Resti, bukan itu maksud ibu, nak!"
"Ahh~~ Resti sang senior dikalahkan oleh juniornya, apa seperti itu?" gadis itu menatap Ibunya kesal, dan memilih kembali masuk kekamar. Hera hanya bisa menghela nafas, Ibu mana yang tenang jika anaknya diusik? tentu saja ia harus melakukan sesuatu.
Resti kembali ke kamarnya. Gadis itu bahkan menangis. Ini tidak adil menurutnya, ia sudah bekerja keras sampai saat ini, tapi hasilnya selalu sama. Delista merampas semua miliknya. Gadis itu meraih ponselnya, beberapa notifikasi muncul.
'Aku sangat iri pada Delista, dia menikmati liburan yang super mewah dari Presdir!'
Resti mengulir chat-nya kebawah dan menemukan foto Delista tengah berselfie ria di area Okinawa Churaumi Aquarium, tempat yang terkenal sebagai akuarium terbaik di Jepang. Mata Resti kembali berlinang, hingga akhirnya membanting keras ponselnya.
"DASAR BRENGSEK!!!"
*******************
Seorang Pria berusia 40 keatas tengah bersiap meninggalkan kantornya. Dia berhenti saat ponselnya berdering, pesan dari sang Putri yang mengabari keberadaannya.
'Ayah! Sekarang aku sedang berada di Disneyland Tokyo! Ini benar-benar menyenangkan. Tapi, aku juga merindukan Ayah.'
Pria itu langsung menelfon sang Anak.
'Ayah, apa aku menganggumu?'
"Tidak, Ayah baru saja selesai dari Kantor. Bagaimana bisa kau di Tokyo? bukankah harusnya kau di Seoul?"
'Sesuatu yang tak terduga terjadi padaku hari ini. Captain menyuruhku untuk ikut dengannya mengantar VVIP'
"Benarkah? Hmm.... apa sebentar lagi kau akan dipromosikan?"
'Hahaha,,, berhentilah menggodaku Yah! Aku juga tidak terlalu mengharapkannya. Sebenarnya.......' nada Delista mengantung
"Ada apa? Apa ada masalah?"
'Sebenarnya, aku tidak enak dengan Resti.'
"Resti? ada apa dengannya?"
'Dia seniorku, tapi malah aku yang ditunjuk pergi. Ayah bisakah kau membelikan makanan kesukaan Resti nanti, aku merasa bersalah padanya'
"Tenanglah, Ayah akan bicarakan padanya. Tidak usah khawatir dan bersenang-senanglah" Ucap Gilang, sang Ayah. Laki-laki itu sedikit berfikir lalu dengan cepat meninggalkan kantornya.
***************
Hubungan telfon dengan sang Ayah terputus. Delista memasukkan kembali ponselnya dan melanjutkan tour-nya. Langkahnya terhenti. Matanya menangkap sosok pria bertubuh tinggi tak jauh dari tempatnya berdiri. Adryan Perwira, CEO muda itu tampak santai dengan style casual-nya, dan sekarang adalah bagaimana jika pemuda itu melihatnya? atau haruskah ia menyapa atasannya itu terlebih dahulu? tapi bagaimana mana caranya? Delista tidak kenal dekat dengan Ryan dan dia juga bukan tipe pemulai topik yang baik. Tiba-tiba Ryan bergerak, tepat disaat itulah, Delista langsung menutup matanya.
Tunggu.
Menutup mata? Apa-apaan ini? alih-alih lari atau tersenyum manis, gadis itu lebih memilih menutup matanya rapat-rapat. Delista kemudian menghitung 1 sampai 10 jeda singkat itu bisa membuat pikirannya tenang untuk langkah selanjutnya.
"1....2....3....4....5....6....7....8....9....10!!"
Perlahan ia membuka kelopak matanya. Seperti Yang diharapkan Ryan menghilang dari tempat dimana ia menemukan pemuda itu. Hatinya lega, Delista harus membayar kejadian ini dengan pelayanan yang lebih baik. Tubuhnya berbalik dan saat itulah laki-laki yang tidak ia harapkan muncul, telah hadir dihadapannya, tubuhnya kehilangan keseimbangan karna terkejut. Jika saja, Ryan tidak menangkap pinggangnya mungkin sekarang Delista akan menjadi bahan tontonan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ryan. Delista yang masih dalam dekapan Ryan hanya bisa menelan ludah. Laki-laki itu langsung menangkap sinyal tak nyaman dari Delista dan langsung melepaskan tangannya. "Kau baik-baik saja?"
"A...aku baik-baik saja Presdir" Jawabnya terbata-bata.
"Kenapa kau tadi menutup mata? Apa melihat Hiu membuatmu takut?" Ryan kembali bertanya, mata hitamnya menatap lurus gadis berambut pendek itu.
"Aku......aku tadi berdoa! Aku berdoa, seandainya bisa mengajak keluargaku kemari!"
Mendengar jawaban Delista, laki-laki itu hanya mengerutkan keningnya mencoba memahami. "Kau lapar?"
"Iya!!" Delista menjawab cepat, dan itu membuatnya langsung menutup mulut seketika. "Aku minta maaf," Ia malu setengah mati, tapi perutnya memang benar lapar sekarang.
"Hahaha,, tidak apa-apa. Ayo ikut aku!"
"Haah??"
"Aku mengenal tempat kuliner yang enak disini. Kau suka Ramen?" Delista mengangguk. "Baguslah, ayo!"
Delista sedikit ragu awalnya, tapi menolak juga tidak bagus, hitung-hitung dirinya bisa makan gratis. Ia lalu mengikuti presdir keluar dari Okinawa Churaumi. Langkah Ryan yang besar membuatnya harus berlarian kecil untuk menyeimbang kecepatan bosnya itu. Keduanya menuruni lift menuju basement ,
"Tidak. Ini sudah ke 3 kalinya, tapi untuk berlibur inilah adalah yang pertama kalinya untukku" Ryan hanya tersenyum, dari pantulan lift Delista bisa melihat pemuda itu tersenyum manis.
Mobil Lexus LS 460L seri terbaru sudah menunggu sang pemilik, Ryan membukakan pintu untuk Delista. "Masuklah, aku akan menjadi supirmu malam ini" Gadis itu tersenyum kikuk mendengar tawaran Ryan. Bukan meragukan kemampuan menyetir pemuda itu, ia hanya mendengar kalau Ryan selalu membawa Wildan sang Sekretaris sebagai supirnya, tapi malam ini dia malah menawarkan sesuatu yang tak terduga. Apakah setelah ini ada mimpi buruk? Delista tak terlalu menyukai hal ini, sikap Ryan memang gantle, tapi ia malah membuatnya tidak nyaman.
*****************
Dilain tempat, Hera menyambut sang suami pulang. Mereka saling berpelukan
"Dimana Resti?"
"Dia di kamar. Moodnya sedang tidak baik"
"Aku akan menemuinya," Hera langsung menahan suaminya, "Ada apa?"
"Tidak usah khawatirkan Resti. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu!" Wanita itu menarik lengan suaminya masuk ke kamar mereka.
"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Gilang.
"Apa Delista mengatakan sesuatu padamu?"
"Tidak. Dia hanya bilang kalau ia menikmati liburannya. Hanya itu," Jawab Gilang
"Itulah yang membuat Resti mengamuk. Apa salah anakku? Dia senior diatas Delista, tapi kenapa Delista yang diikutsertakan? Aku tidak tahan melihat Resti, dia begitu sakit hati karna hal ini" Jelas Hera
"Aku paham maksudmu. Tapi, bagaimana jika itu adalah keputusan langsung dari atasan mereka. Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semua mereka yang putuskan, dan kita cukup percaya saja pada anak-anak kita!" ungkap Gilang lembut
Hera menghela nafas, "Harusnya kau tidak memungutnya dari panti"
"Hera! Tutup mulutmu! Bukankah kita sudah berjanji merahasiakan hal ini!" Wanita itu langsung menutup mulutnya rapat. Ia hanya ingin suaminya sepenuhnya hanya mengkhawatirkan Resti. Hanya Resti anak mereka.
***************
Ryan membawa Delista ke ruangan dimana teaser pembuatan ramen pertama kali oleh Momotaro Ando, bagaimana dia bisa menemukan ide tentang ramen yang diseduh di air panas dijelaskan secara detail disini. Wanita itu teihat sedikit mengantuk, penjelasan ini memang diterjemahkan dalam bentuk Bahasa Inggris, tapi Delista sudah terlalu capek untuk membaca.
"Kau sudah mengantuk?" tanya Ryan.
"Hmmm....sedikit"
"Ayo akan kutunjukkan tempat dimana kau tidak akan menguap!" Ryan memimpin perjalanan dengan santai, dan Delista menurut mengekori atasanya tersebut.
Kali ini, Ryan mengajaknya keruangan pembuatan Ramen, dimana hasil ramen adalah hasil dari pembuatan kita sendiri. Dari membuat adonan, me-rolling, memotongnya, mengukus lalu menggoreng ramen diajarkan di ruangan ini.
"Langsung ambil tempatmu, kita akan membuat Ramen disini dan saling menyicipinya. Siapapun yang menang harus mengikuti kemauannya!" Ryan membuat penawaran menarik, ia sudah siap menggulung kemejanya dengan rapi, dan kembali menatap Delista, "Deal?"
"Permintaan apapun itu?" Delista mencoba mengulang topik yang dibahas Ryan, laki-laki itu mengangguk mantap.
"Apapun yang kau inginkan, aku akan memberikannya!"
"Sebaiknya Tuan menyerah, atau jangan menyesal karna aku pandai dalam hal memasak!" Ungkap Delista dengan penuh percaya diri. Ryan hanya membalasnya dengan senyuman.
Keduanya langsung menghampiri salah satu sensei dan mengutarakan keinginan mereka. Setelah memakai celemek dan mendapat arahan, baik Ryan maupun Delista langsung memulai kontes pribadi itu. Keahlian Ryan dalam menggulung adonan harus Delista akui, laki-laki itu begitu kuat hingga otot tangannya muncul dan membuat sensei yang mendampinginya tergoda. Ini sangat menyenangkan.
******************
Resti keluar dari kamarnya, ia sudah kembali berdandan rapi. "Aku pergi keluar sebentar!!" Pamitnya, Hera dan Gilang langsung keluar dari kamar mereka. "Istirahatlah, aku hanya ingin mencari udara segar. Ibu, maafkan sikapku tadi. Aku pergi dulu!"
"Jangan pulang malam-malam!"
"Okeee!!"
Gadis itu membawa mobilnya keluar dari perumahan elite dan bergabung dengan ramainya jalanan Seoul. Ia kembali mengingat apa yang dikatakan sang Ibu pada Ayahnya.
"*Harusnya kau tidak memungutnya dari panti"
"Hera! Tutup mulutmu! Bukankah kita sudah berjanji merahasiakan hal ini*!"
Bibirnya membentuk lekukkan senyum, "Dia benar-benar bukan saudara tiriku. Anak panti? Apa ini? Bagaimana bisa aku dikalahkan oleh anak yang dibuang orangtuanya?" Resti menginjak pedal gas dengan kekuatan penuh. Hatinya yang terluka sedikit membaik saat mendengar kabar ini.
Mobil yang dibawa Resti berhenti disalah satu diskotik besar. Setelah melewati keamanan, ia langsung bergabung dengan pengunjung lainnya di lantai dansa. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama musik.
'Aku hidup begitu mewah dulu, Ayahku Bos besar di perusahaan ternama se-Asia hingga apapun yang aku inginkan selalu mudah kudapatkan. Tapi, itu hanya sampai umurku 18 Tahun, Perusahaan ayah bangkrut dan Ibu langsung meminta cerai. Lucukan? Wanita yang terbiasa hidup mewah kini harus kembali ke titik Nol. Saat itulah, aku membenci Ibu. Perempuan yang hanya mengandalkan harta suami adalah perempuan yang lemah, sama seperti sekarang! Tekadku adalah menjadi wanita karier yang dilimpahkan uang dan tidak aku sama sekali tidak membutuhkan seorang pria'
*****************
"Aku akan kembali bekerja, terimakasih sudah menemaniku malam ini." Ucap Ryan, Wildan akan menjemputnya 15 menit lagi.
"Aku juga berterimakasih untuk oleh-olehnya, Tuan. Aku tidak menyangka liburanku akan menyenangkan seperti ini. Berkatmu, aku merasa bersyukur, Tuan" Balas Delista.
"Ahaha,, apa itu sudah cukup? kau tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi."
"Ini sudah lebih dari cukup"
Beberapa orang yang keluar dari gedung sempat melirik Delista dengan tatapan ragu dan kasihan. Ryan yang memperhatikan hal itu merasa ada yang aneh. Ia langsung mengambil langkah mundur untuk melihat situasi, mungkinkah?
Delista yang belum mengetahui keadaan, kaget saat Ryan melingkarkan jaketnya ke pinggangnya. Parfum maskulin laki-laki itu merasuki rongga hidungnya. Wangi.
"Kau sedang Haid?" bisik Ryan, mata Delista membesar shock. "Kau tembus" lanjutnya.
Ini memalukan.
"Terimakasih"
"Apa kau membawa ganti?" Tanyanya. Delista langsung mengechek tas, wajahnya mulai panik. "Kau tidak membawanya?"
Gadis itu menggeleng lesu, "Sudah kupakai semua ternyata."
"Tunggulah disini!"
"Hahh! Kau mau kemana tuan?" Delista langsung menahan laki-laki itu. Sedikit kikuk, perlahan ia melepaskan tangannya.
"Tunggulah disini! Aku tidak akan lama, jika Wildan datang sebelum aku, katakan padanya untuk menungguku sebentar." Ujarnya. Laki-laki itu langsung berlari menjauh, meninggalkan Delista.
"Ini benar-benar memalukan. Tunggu. Dia mau kemana?" Ia berfikir keras menyamakan maksud kepergian Ryan, "Itu tidak mungkin kan?"
**********************
Ryan pergi mencari Apotek terdekat, untungnya suasana Apotek sepi pengunjung. Perlahan ia mendekati Apoteker,
"Bisakah kau memberikanku...." ucapannya menggantung, ia sedikit malu mengutarakan niatnya, "Ehmm... yang sering digunakan wanita....setiap bulan...."
"Pembalut?"
"That's right, tolong bungkuskan aku satu!" pipi Ryan memerah menahan malu, untungnya petugas apoteker itu cukup memaklumi dan tidak banyak bertanya. Ia langsung bergegas memberikan apa yang diminta Ryan,
"Ini, aku juga memberikan obat pereda nyeri dan tisu" ucapnya.
"Baiklah, terimakasih!" Setelah membayar Ryan segera pergi. Ini adalah pengalaman pertamanya. Ia kembali ke Delista dan menyerahkan apa yang ia beli untu gadis itu. "Maaf aku lama, Apoteknya ternyata cukup jauh dari sini"
Delista menerima pemberian Ryan, "Maaf aku sudah merepotkanmu, Tuan"
Ryan mengambil nafas dan menggeleng, "Tidak apa," tepat saat itu Wildan datang dengan mobilnya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Entah apa yang diberikan apoteker tadi, tapi katanya ampuh untuk kalian."
"Haha,, aku cukup tersanjung dan sekali lagi terimakasih banyak. Aku berutang padamu, Tuan!" Jawab Delista. Ryan tersenyum, dan langsung bergegas menghampiri Wildan, masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan gadis itu.
Setelah mobil tuannya pergi, Delista sekali lagi mengechek, "Padahal, pembalut saja sudah cukup. kenapa dia membeli semuanya?"
Di mobil, Wildan memberikan tab-nya pada Ryan, "Ini Informasi yang kudapat"
Ryan menerima tab pemberian Wildan dan mengulir layar. "Kerja bagus!" laki-laki itu lalu melempar pandangannya ke luar. Lebih cepat lebih baik, beban yang sudah ia tanggung selama ini harus dikembalikan ketempat semula, tidak peduli apapun itu, Ryan sudah lama menantikannya.
"Bagaimana kondisi keluarganya?"
"Ayahnya memiliki perusahaan bergerak dibidang jasa. Bisa dibilang pengantaran barang dari luar kota maupun luar negeri, cukup terkenal dan bisa dibilang lebih maju dari pengantaran yang lain. Keuntungan yang didapat juga diatas rata-rata, Ibunya hanya seorang perumah tangga" Jawab Wildan.
"Hmm,, aku sedikit kecewa mendengar dia hidup dengan baik, jika saja hidupnya berantakan karna ulah ayahku dulu, mungkin dia akan sangat membutuhkanku"
"Mungkin tidak?"
"Kenapa?"
"Kalau kau jadi dia, apa kau akan terlihat sengsara setelah dibuat bangkrut?" Tanya Wildan.
Ryan terdiam, "Jaga ucapanmu, kau sekretaris sekaligus teman, tapi apapun alasannya aku tetap atasanmu,"
"Baiklah, maafkan aku!"
**********************
Waktu berlalu begitu cepat, dan waktu liburan sudah usai. Delista dan Sanjaya kembali bertugas. Langkah keduanya diiringi tatapan para penumpang lainnya, baik Delista atau Sanjaya mereka selalu bangga saat menggunakan seragam, walaupun tanggungjawab dan beban kerja cukup menguras tenaga mereka.
"Bagaimana liburanmu?"
"Sangat menyenangkan"
"Kau bisa sendiri rupanya, aku sempat merasa bersalah meninggalkanmu sendiri"
"Tidak apa, bagaimana dengan kekasihmu?"
"Kekasihku?" langkah Sanjaya terhenti, ia tampak berfikir sebentar.
"Katamu kau tidak bisa menemaniku karna bertemu kekasihmu!"
"Ahhh,,, kekasihku. Kami putus."
"Haahh!! Putus? kenapa?" Sanjaya hanya bisa menghela nafas dan menutup mata, sebagai tanda bahwa itu menjadi topik sensitif. "Apa dia selingkuh? harusnya kau memberitahuku, supaya kau bisa sekalian balas dendam padanya"
"Wahh, kau tipe pendendam rupanya?" mendengar respon rekannya, Delista hanya tersenyum.
Pesawat milik Ryan itu sudah berada di ketinggian 3.200 kaki di permukaan laut. Kali ini, pemuda itu memilih untuk beristirahat sebentar. Delista sudah kembali membawa selimut untuknya,
Gadis itu sedikit ragu, "Apa boleh aku menyelimutinya? dia terlihat kelelahan" Tanyanya pada Wildan,
"Tidak perlu, dia sudah nyaman dengan posisinya. Aku takut kau membangunkannya, tidak apa, biarkan dia istirahat" Jawab Wildan
"Baiklah, aku mengerti" Delista teringat sesuatu dan kembali ke kabin, ia menyerahkan bingkisan besar pada Wildan, "Tolong berikan ini pada Tuan, ini miliknya,"
Wildan mengechek barang pemberian Delista, "Kenapa jaketnya ada bersamamu?"
"Dia hanya meminjamkannya padaku, bukan masalah besar"
"Baiklah!"
**************
Resti menghentikan mobilnya di parkiran Bandara, bukan dalam rangka bertugas tapi dalam rangka menjemput anak pungut itu. Matanya menangkap wajah Ryan dan Wildan yang keluar dari pintu kedatangan, fokusnya teralih pada Wlidan, sisa kekesalannya masih ada untuk laki-laki itu.
"Aku memilihnya atas izin dari Sekretaris Presdir, dia yang menyuruhku memilih Delista. Jika kau tidak suka, proteslah padanya!"
Penjelasan Sanjaya waktu masih ia ingat. Apa yang sebenarnya Wildan pikirkan, apa performanya tidak cukup untuk dipilih? gadis itu langsung membawa mobilnya ke Delista,
'tiittt!!'
Resti membuka kaca mobil, "Naiklah, ayah sudah menunggumu dirumah!"
Delista langsung memasukkan kopernya ke bangku belakang dan naik ke mobil, "Bagaimana kabar ayah dan ibu? aku membelikan oleh-oleh untuk kalian semua"
"Tanpamu kami baik-baik saja" jawab Resti singkat.
"Kau masih marah padaku?"
"Tentang apa? karna VVIP itu? Apa menurutmu aku anak kecil? Kau juga tidak bisa menolak permintaan atasan itu." Delista membungkam, ia tidak mau memperkeruh masalah. Sesaat ia heran dengan jalur yang diambil saudara tirinya itu.
"Kita mau kemana?"
"Diamlah,, kau juga tau nanti"
*************
"Dia memberikannya padamu?" Tanya Ryan pada Wildan, jaket yang ia pinjamkan waktu itu sudah ada ditangannya sekarang.
"Iya, dia mengembalikannya saat kau tidur tadi. Dan ini, berkas yang kau minta" Wildan memberikan map hitam pada Ryan.
"Bagaimana caranya kau mengembalikan semuanya? Aku rasa itu cukup sulit?"
"Jika ini memang kesempatanku, aku akan melakukan apapun untuknya. Aku tidak bisa terus-terusan berlindung dari harta yang sama sekali bukan hakku"
"Ada satu lagi masalah yang baru saja ku update?"
"Tentang apa?"
"Ayahmu juga membuat bangkrut salah satu perusahaan maskapai lainnya, dengan cara yang sama"
"Apa"
"Tapi, ini lain cerita. Dia membangkrutkan perusahaan ini karna Presdir mereka berbuat kotor. Mungkin, jika kau berada di posisi beliau saat itu, aku rasa kau juga melakukan hal yang sama." Jawab Wildan, ia kembali menyerahkan berkas pada Ryan.
Ryan memeriksa berkas itu dan mencocokkannya, "Jadi, mereka berdua....?"
"Iya. Mereka saudara tiri. Tapi, seharusnya ini tidak merusak rencanamu, tidak usah pedulikan yang lain. Aku hanya merasa kau perlu tau tentang hal ini."
Ryan memijat keningnya, kepalanya pusing. "Kenapa banyak sekali korban dari keserakahan ayahku dulu?" gumamnya pelan, matanya teralih ke luar. Ia harus melakukan sesuatu secepat mungkin.
******************