
🌹
🌹
Rania kembali menikmati cumbuan itu dengan perasaan yang tak dapat dia jabarkan. Segalanya dapat dia terima dengan tenang kini. Setelah menjeda beberapa saat mereka memulainya kembali sentuhan-sentuhan melenakan tersebut.
Perempuan itu membalas setiap cumbuan yang dia terima dengan semangat. Hasratnya kembali bangkit karena godaan Dimitri yang sudah tak dapat dia hindari. Sentuhan tangan pria itu pada tubuhnya membuatnya menyerah begitu saja walau rasa sakit saat pergumulan pertama belum sepenuhnya menghilang.
"Uuhh,... sakit! pelan-pelan!" rengeknya ketika pria itu kembali membenamkan miliknya.
"Maaf, ..." Dimitri terkekeh, kemudian mencumbunya hingga dia kembali terlena. Lalu menggerakan bagian bawah tubuhnya saat yakin Rania sudah nyaman dengan dirinya sendiri.
Bunyi penyatuan tubuh pada pagi hari itu sungguh terdengar erotis, namun membuatnya semakin bersemangat untuk berpacu. Terutama bagi Dimitri yang membimbing perempuan dibawah kendalinya untuk kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Rania Mulai mende*ah saat tubuhnya merespon dengan baik setiap sentuhan yang dilakukan suaminya. Setiap indera di tubuhnya menjadi sangat sensitif, dan dia menyukainya. Rasanya indah dan menyenangkan.
"Dimi!" erangnya, dan tubuh mungilnya mulai melengkung dan bergerak gelisah. Dada indahnya naik turun dengan cepat, dan keringat mulai bercucuran di dahi dan lehernya.
Pusat tubuhnya yang sempit terasa berdenyut kencang, yang membuat Dimitri segera kehilangan kendali.
Ini sungguh gila, tak pernah dia merasakan hal yang seperti ini. Lama bertualang bersama gadis-gadis sebelumnya, tidak pernah dia merasa selepas ini. Dan kenikmatannya, terasa lebih gila lagi. Bahkan kalimat seerotis apapun tak mampu menjabarkan apa yang kini tengah Dimitri rasakan.
Menatap wajah Rania yang memerah, melihat ekspresinya yang begitu imut namun sekaligus menggoda. Dan merasakan setiap gerakan alaminya yang walaupun masih terasa kaku, namun terasa menyenangkan untuknya. Karena semuanya yang ada pada perempuan itu adalah miliknya sentuhnya.
"Oh Zai, ..." dia menggeram, cengkeraman milik Rania pada naga ajaibnya sungguh membuat gila, membuatnya semakin merasa tak tahan.
Apalagi saat mendengar perempuan itu terus mendesah dan meracau menyebut namanya.
"Sayang, panggil aku sayang... " katanya, dan dia mempercepat hentakannya.
"Hmmm... sayang." erang Rania, dan membuat pria itu semakin bersemangat.
Kedua tangannya tak pernah diam, dia terus menyentuh dan meremat gundukan indah di bawahnya. Mempermainkan puncaknya yang benar-benar mengeras seiring gairah yang terus meningkat yang di rasakan Rania. Sesekali dia menyesapnya bergantian, semakin membuat perempuan itu semakin hilang akal.
"Ooooh, ... sayang... " Rania mencengkeram pinggang pria itu dengan keras saat pelepasan kedua menggulungnya tanpa ampun. Pinggulnya bahkan terangkat dengan sendirinya, diikuti denyutan hebat, dan dia mende*ah dengan keras. Bersamaan dengan Dimitri yang menekan miliknya begitu dalam hingga terasa membentur bagian paling dalam dari Rania saat klim*ks juga menghantamnya tanpa bisa dicegah.
***
Dimitri baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar pintu diketuk dari luar. Dia bergegas menuju pintu sambil mengusak rambutnya yang basah.
"Ya?" dan Angga berdiri tepat di depan pintu dalam keadaan yang sudah rapi.
Pria itu tertegun sambil mengerutkan dahi, menatap sosok menantunya yang tak dia sangka berada di dalam kamar hotel putrinya dalam keadaan setengah telanjang. Dimitri hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Sepertinya dia baru saja mandi.
"Kapan kamu kesini?" Angga bertanya.
"Tadi subuh." jawab Dimitri, datar.
"Rania mana? sudah bangun belum?" dia menatap jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 8 pagi.
Dimitri menoleh ke belakang tubuhnya, diamana perempuan itu masih terlelap dibawah selimutnya. Dia tampak menarik kakinya dan menyurukan kepalanya, hingga tubuhnya berada seluruhnya di di dalam selimut.
"Belum." Dimitri menggelengkan kepala.
Angga mendengus.
"Bangunkan, sebentar lagi harus ketemu orang dari perusahaan suku cadang." katanya, kemudian pergi.
Dimitri kemudian menutup pintu dan kembali ke dekat ranjang dimana Rania masih meringkuk.
"Kamu dengar papamu bilang apa Zai?" Dimitri menarik selimut yang menutupi tubuh telanjang istrinya.
"Hmm... " Rania menjawab dengan gumaman.
"Ayo, cepat bangun."
"Sebentar lagi, Badanku sakit semua Dim." keluh Rania, yang masih menyembunyikan wajahnya yang memerah di bawah selimut.
Malu.
Mengingat pergumulan panas mereka yang berulang beberapa saat sebelumnya.
Dimitri tertawa.
"Cepatlah Zai nanti papamu marah. Kamu tidak melihat seperti apa wajahnya tadi saat tahu aku sudah ada disini."
"Oh ya?" Rania mengangkat kepalanya.
"Hmm...
"Gimana?"
"Tidak enak dilihat, seperti biasa." dia tertawa lagi.
"Ish, ... gitu-gitu juga papa aku loh." Rania bangkit.
"Tapi memang kenyataannya begitu." Dimitri melepaskan handuk dari pinggangnya. Seketika saja Rania terbelalak dengan pemandangan tersebut, dimana dia melihat sang naga ajaib yang masih sedikit menegang. Lalu dia memalingkan wajah ketika pria itu menoleh sambil mengenakan pakaiannya.
"Mau mandi sekarang?" tanya nya saat Rania masih termangu di tepi ranjang.
"Mm... " perempuan itu mengangguk, kemudian bangkit sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Namun dia tertegun saat merasakan sakit di bagian bawah perutnya.
"Ah, ... kenapa sakit sekali!" dia bergumam. Lalu berjalan pelan ke kamar mandi.
Dimitri tertawa lagi, dia merasa gemas dengan keadaan tersebut. Jika saja dia tidak ingat kepada Angga yang sudah menggedor pintu kamar mereka beberapa saat yang lalu, maka sudah dipastikan dirinya akan kembali menerjang perempuan itu untuk mengulangi pergumulan panas mereka.
Sabar, sabar. Nanti akan ada waktunya. batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Angga menatap tidak suka dengan kedatangan pasangan baru itu ke spot makan di sekitaran sirkuit. Mereka akan sarapan bersama pihak sponsor sebentar lagi, dan beberapa pihak lainnya yang ikut andil dalam acara balapan lokal hari itu.
Anak dan menantunya itu tampak mesra, dan dia melihat tingkah putrinya yang agak aneh. Rania seperti malu-malu dan kedua pipinya tampak berseri-seri. Sementara wajah Dimitru berseri-seri.
Ck! kayak pengantin baru! gerutunya.
Eh, ... kan mereka memang pengantin baru? dia semakin merasa kesal. Tahu mungkin sesuatu telah terjadi diantara keduanya. Mengingat Dimitri yang sangat berpengalaman, sementara putrinya yang lugunya tak ada tandingannya jika mengenai masalah seperti itu. Pria itu pasti bisa mendapatkannya dengan mudah, pikirnya.
Angga memutar bola matanya, sebal.
"Belum mulai ya?" Rania bertanya saat mereka sudah dekat.
"Belum lah, nunggu kamu." jawab Angga, ketus.
"Oh..." lalu mereka duduk.
Lagi-lagi putrinya itu bertingkah aneh, dia tampak tak nyaman dengan posisi duduknya. Terkadang juga Rania terlihat meringis, seperti kesakitan.
***
Dimitri menyentuh lutut perempuan itu ketika dia tak bisa diam di kursinya. Terus bergerak-gerak seolah mencari posisi yang nyaman untuk duduk.
"Rasanya aneh. Kayak ada yang mengganjal disini." Rania balas berbisik.
"Ssstt! janga dibahas, kamu akan membuat kita malu."
"Ini salah kamu!" perempuan itu menggerutu
"Kok aku?"
"Iya, coba kalau itunya bukan tadi subuh sama pagi, aku nggak akan gini. lagian, kenapa nggak nunggu sampai pulang aja sih?" Rania bersungut-sungut.
"Lho, yang kedua itu bukannya kamu yang mau ya? kan kamu yang narik-narik aku terus pas mau ke kamar mandi?"
"Ish, ... nyalahin. Kan kamu yang mulai?"
"Aku cuma mau ciuman, Tapu kamu maunya dilanjutkan."
"Ah, ... diamlah! katanya jangan bahas nanti bikin malu?"
"Kamu yang bahas terus."
"Ini ada apa sih, bisik-bisik terus? kalian nggak bisa diem sebentar aja ya?" protes Angga yang merasa terganggu dengan kelakuan kedua anak dan menantunya.
Dan akhirnya dua sejoli Itupun terdiam, ketika di saat yang bersamaan beberapa orang dari pihak sponsor baru tiba dan segera mengadakan pembicaraan.
Yang selanjutnya sampai pada tahap perjanjian dan penandatanganan kontrak kerjasama hingga dua tahun ke depan. Mereka akan ikut menyokong keuangan dan biaya segala macam yang dibutuhka untuk kegiatan balapan Rania. Termasuk endorse barang-barang produksi mereka untuk pembalap tersebut.
"Nilai kontraknya tetap lebih besar dari aku lah." Dimitri Dengan bangganya, setelah melihat jumlah nominal yang tertera di setiap dokumen.
"Jelas lah, kamu kan sponsor utamanya. Yaiya paing besar." Rania menjawab. "Itu mereka semua kalau digabung juga paling tiga perempat dari yang kamu kasih."
"Terus kenapa kamu terima kalau jelas jumlah dari aku yang masih lebih besar?"
"Itu papa yang terima, bukan aku. Tapi lumayan juga lah, nambah uang saku." Rania tertawa.
"Matre." Dimitri mencubit ujung hidung kecil Rania dengan gemas.
"Realistis. Apa-apa sekarang pakai duit."
"Hmm... tapi kelihatan sekali papamu ingin membuatmu tetap sibuk ya, selain balapan. Padahal dengan fokus latihan saja menurut aku sudah cukup. Kamu nggak usah memikirkan yang lain selain latihan dan balapan itu sendiri. Tapi papamu menambah dengan hal lainnya."
"Mumpung ada yang nawarin. Lagian akunya juga mau kan?"
"Tapi kamu jadi semakin sibuk. Padahal kita baru saja menikah."
"Sabar ya, nanti juga nggak kok." Rania mengusap dada pria itu dengan lembut.
"Hmm.. Minggu ini selain hari Jum'at nya berangkat ke Jeres kamu ada kegiatan apa lagi?"
"Selain latihan dua hari sekali, nggak ada lagi kayaknya."
"Benarkah?"
"Iya, aku putuskan untuk nggak ngambil tawaran iklan dulu. Capek lah. Emangnya kenapa?"
Dimitri menyeringai.
"Wajah kamu aneh."
"Ayo kita pergi?" ajak Dimitri saat banyak ide muncul di kepalanya.
"Kemana?"
"Kemana saja, sebelum kamu pergi balapan." dia menarik pergelangan tangan perempuan itu.
"Kalian mau pulang sekarang?" Angga berteriak saat anak dan menantunya itu pergi menjauh.
"Iya, kami duluan." jawab Dimitri.
"Nggak akan lihat balapannya dulu?" teriak Angga lagi.
"Tidak, terimakasih." ucap Dimitri lagi yang kemudian masuknkedalam mobil hitamnya yang mengkilat ditimpa cahaya matahari.
"Kita mau kemana?" Rania penasaran.
"Kemana sajalah, yang penting pergi."
"Jangan jauh-jauh."
"Nggak, cula sekitaran sini." Dimitri menempelkan ponselnya untuk melakukan panggilan telfon.
"Kemana?"
Pria itu tak menjawab, namun dia malah berbicara di telfon.
"Hallo Om?"
" ...
"Tidak, aku cuma mau bilang."
"...
"Aku mau ke resort ya? kebetulan sedang di Sentul. Mau sekalian mampir."
" ...
"Oke." lalu percakapan diakhiri.
Dimitri melajukan mobilnya keluar dari area sirkuit.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
like
komen
hadiah
vote!!
oke??🤣