
🌹
🌹
Amara menyunggingkan senyum begitu dia menemukan wajah yang sangat di rindukannya. Pemuda itu datang berkunjung ke kediaman Hari tepat di hari libur mereka yang kebetulan berbarengan setelah beberapa minggu tak bersua, karena dua-duanya menjalani kesibukan masing-masing. Dirinya yang mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah hotel bintang lima di Bandung, sementara Galang yang malah kini sudah resmi bekerja di Nikolai Grup. Sebagai tenaga IT paruh waktu yang menangani sebagian pekerjaan yang berhubungan dengan dunia digital.
"Aku pikir kakak nggak beneran ke sini?" mereka berjalan ke halaman belakang. Sore hari mulai sepi karena para pekerja perkebunan sudah pulang sebagian.
"Kebetulan aku lagi ada kerjaan di sekitar sini." jawab Galang yang duduk di pinggiran bale dari gazebo tempat biasa mereka bersama setiap kali dirinya datang berkunjung.
"Kerjaan apa?"
"Ada lah."
"Pekerjaan detektif?"
"Bukan"
"Terus apa?" keduanya duduk di pinggiran.
"Ketemu orang, wakilin Om Andra lihat situasi lokasi proyek barunya Nikolai Grup."
"Kerjaannya IT kok ikut ngerjain yang kayak gitu juga? bukannya duduk di depan komputer doang ya?"
"Kamu kayak yang nggak tahu aja gimana kerja di Nikolai Grup? bagian apa pun harus bisa ngerjain apa aja."
"Nah, ini yang bikin aku nggak setuju kakak nerima tawarannya papi."
"Kenapa?"
"Ya kan selain jadwalnya padat juga kakak harus ngerjain banyak hal lebih dari yang seharusnya."
"Resiko kerjaan. Di kontraknya kan tulisannya gitu."
"Kalau gini terus kapan kita sama-samanya?" gadis itu menggerutu.
"Ini lagi sama-sama."
"Baru hari ini lagi."
Galang hanya tertawa, lalu menenggak minuman kemasan yang di bawanya dari luar.
"Terus turnamen kakak gimana? masih ikutan?"
"Masih, kalau sempat."
"Emang bisa? ada waktunya?"
"Ada lah."
"Kalau untuk turnamen aja ada waktunya, kalau sama aku susah?" protes Amara.
"Lah, kamu juga kan kerja? pulang kuliah langsung ke hotel kan? ya mana sempat kita ketemu? pas sore atau hari Minggu aku ada waktu malah kamu yang sibuk? udah aku bilangin nggak usah ambil kerjaannya, fokus aja kuliah. Gimana sih?" Galang membalikkan perkatannya.
"Kalau nggak di ambil sayang kak. Kerja di sana tuh bisa jadi referensi buat pengalaman nanti cari kerja setelah lulus kuliah. Atau kalau misal track record aku di hotel bagus, aku bisa langsung di tawarin kerja dan di angkat karyawan di sana." gadis itu menjelaskan.
"Nah, ngerti kan sekarang gimana jadi aku? ke aku aja kamu protes, giliran dirinya sendiri juga sama."
Amara terkekeh.
"Intinya kita sama-sama butuh kerja. Kamu buat pengalaman, sementara aku ...ya emang butuh. Demi uang dan gelar sarjana."
"Sebentar lagi kan lulus?"
"Setahun lebih lagi."
"Habis itu pindah ke Jakarta dong kerjanya? kan udah nggak kuliah?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Nanti aku nerusin S1 nya di mana."
"Kakak mau lanjut kuliah lagi?"
"Mau lah, orang di tawarinnya itu kan. Kalau kerja di Nikolai Grup tuh semua kesempatan bisa kita dapat. Kerjaan iya, pendidikan juga bisa di tingkatin."
"Serius?"
"Iya lah. Dimana lagi coba ada perusahaan yang mendorong karyawannya untuk punya gelar lebih tinggi?"
"Makin sibuk dong?"
"Bisa jadi."
"Ah, ... makin jarang aja kita ketemu?"
"Belum tentu, kan baru rencana."
"Dari sekarang aja udah kelihatan tanda-tandanya."
"Tanda-tanda apa?"
"Tanda-tanda ldr an."
Pemuda itu tertawa lagi.
"Demi masa depan Ra. Nggak apa-apa sekarang ldr an, tapi kan nanti kita bisa terus barengan."
"Kapan? sekarang aja kita udah sibuk banget."
"Ya makanya, kamu mendingan fokus kuliah aja, nggak usah sambil kerja. Kalau aku kan emang harus."
Amara terdiam.
"Jadi kita bisa lebih sering ketemu tanpa harus menyesuaikan jadwal dulu. Kalau aku ada waktu kita bisa ketemu."
"Tapi sayang ... kesempatannya itu lho."
"Ya udah, makanya nggak usah ngeluh."
"Aku nggak ngeluh kak, cuma bilang apa yang aku rasain doang."
"Sama aja Neng." Galang mencubit pipinya yang memerah, Sementara Amara mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Jadi intinya kita ketemu ini untuk apa sih? mau berdebat apa gimana?" ucap Galang lagi yang kembali menenggak minuman kalengnya hingga hampir habis.
"Jangan ih, masa malah berdebat? Ntar ujung-ujungnya malah berantem. Nggak lucu, jarang banget ketemu, sekalinya ketemu malah beratem?"
"Ya makanya, jangan bahas itu terus dong?" Galang kembali menoleh kepada gadis di sampingnya.
"Iya maaf, nggak akan." Amara terkekeh.
"Bilang maaf dan nggak akan tapi kalau ketemu tetep aja bahas itu?" ucap Galang lagi, masih dalam posisi menatap wajah Amara.
"Nggak ih, kakak gitu, apa-apa tuh suka manjaaaaaang ..." Amara bergeser lebih dekat, lalu meraih tangannya kemudian menautkan jari mereka berdua.
"Memang, kalau mau berdebat terus ya ayo, aku layanin."
"Nggak mau ah, ... masa berdebat terus?"
"Ya habis?"
"Baikan aja, kalau berdebat aku suka stress." dia tersenyum kepadanya.
"Kamu sendiri yang bikin stress." jawab Galang, dan suasana kembali hening.
Kemudian Galang menoleh ke belakang di mana rumah bertingkat dua itu menjulang dengan kokohnya.
"Uyut dan abah di mana kalau jam segini?" tanyanya sambil memindai keadaan.
"Nonton tivi." jawab Amara.
"Kalau yang kerja?" kini Galang meyelidik ke setiap sudut perkebunan yang sudah sepi.
"Kalau jam segini udah pada pulang."
"Gitu ya?"
"Hu'um. Emangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa cuma ..." dia kembali menatap wajah Amara, lalu tanpa basa-basi menarik wajah gadis itu dan mempertemukan bibir mereka berdua.
Galang mengecupnya beberapa kali, kamudian menyesapnya dengan penuh perasaan. Lalu dia menekan tengkuk Amara untuk membuat ciuman mereka menjadi semakin dalam. Dan hal itu berlangsung cukup lama.
Sementara Amara terhenyak untuk beberapa saat, namun kemudian tersadar dan membalas cumbuannya. Mereka saling menyalurkan rasa yang mulai bermekaran di dada. Menyambut dengan suka cita apa yang selama ini berusaha di wujudkan ketika berjanji untuk sama-sama bangkit dari sakit hati.
Bukankah ini indah? kini mereka memiliki perasaan yang sama besarnya, dan sama hebatnya sehingga membuat keduanya tak ingin lagi terpisahkan.
"Ara? Galangnya di ajak masuk, Nak. Sebentar lagi magrib." suara Hari menginterupsi dan menghentikan kegiatan keduanya.
"Ara?" panggil Hari lagi.
"I-iya bah." Amara jawab berteriak.
"Sudah mau magrib."
🌹
🌹
Kedua ayah dan anak ini sama-sama tertegun ketika dua buah mobil box tiba di pekarangan rumah, setelah Lexus putih milik Sofia tiba lebih dulu. Lalu keduanya saling menatap bersamaan.
"Apa yang di beli mamamu, Dim?" Satria mulai berbicara.
"Entahlah. Rania juga membeli apa ya?" Dimitri juga berkata hal yang sama.
Namun sang ayah menggelengkan kepala.
"Eh, kamu udah pulang?" Rania turun dari mobil setelah Sofia yang menghambur ke dalam pelukan Satria.
"Ya, seperti yang kamu lihat." Dimitri segera menyambutnya yang mulai tampak kesulitan berjalan.
"Pergi ke mana saja kalian seharian ini? aku kesepian di rumah." Satria mulai merajuk, seperti biasa setiap kali Sofia baru kembali dari luar rumah.
"Kami pergi belanja, makan, lalu ke spa sebelum akhirnya ke rumah sakit memeriksakan kandungan Rania." jawab Sofia, dan mereka berjalan ke dalam rumah.
"Kenapa bisa sampai seharian?"
"Yaelah papi, namanya juga me time, healing. Ya seharian. Kalau cuma sejam namanya main doang." Rania menyahut.
"Dan kalian senang hanya pergi berdua?" tanya Satria.
"Tentu saja, kami menghabiskan waktu bersama di beberapa tempat, dan itu rasanya menyenangkan." jawab Sofia.
"Benarkah? sementara aku kesepian di sini."
"Masa?" sahut Rania lagi. "Kenapa nggak ngobrol aja gitu sama tukang kebun, atau satpam di depan? atau siapa gitu. Disini kan banyak orang?"
"Mereka sibuk tahu?" Dimitri menyela percakapan.
"Ngomong-ngomong kalian beli apa sampai dua mobil box begitu?" Dimitri mengalihkan topik pembicaraan.
"Banyak."
"Apa? perasaanku sedikit tidak enak, soalnya sejak pagi notifikasi pesan di hapeku bunyi terus. Aku pikir kamu mengirim pesan, tahunya notifikasi dari kartunya. Tapi belum aku lihat, takutnya aku terkejut sendirian." Dimitri terkekeh.
"Nggak usah di ambil pusing, cuma barang-barang kecil." jawab Rania dengan entengnya.
"Apa?"
"Apa ya ma? lupa, soalnya banyak sih."
"Huh, aku semakin deg-degan." ucap Dimitri yang mengawasi para pegawai membawakan barang yang di turunkan dari dua mobil box ke dalam rumah.
"Banyak sekali sayang?" Satria pun bereaksi, sementara Sofia hanya tertawa.
Puas sekali rasanya hari ini, dan dia merasa mendapatkan teman yang cukup berguna seperti Rania yang mampu menundukkan dua pria di rumahnya, terutama Satria. Yang selalu di hadapi oleh menantunya itu tanpa rasa segan.
"Untuk apa pakaian-pakaian ini?" Satria menunjuk tumpukan pakaian yang pertama kali dia lihat.
"Itu untuk para pegawai. Sudah lama kita tidak membelikan mereka pakaian." jawab Sofia.
"Aku rasa gaji mereka cukup untuk itu?"
"Memang, tapi alangkah baiknya jika sesekali kita belikan. Mereka pasti akan merasa senang, dan semakin betah bekerja di sini."
"Baiklah. Lalu itu?"
"Peralatan masak, dan peralatan makan baru." Sofia membuak bubble wrap yang membungkus beberapa barang. Isinya semacam peralatan dapur dengan merk terkenal dalam jumlah yang banyak.
"Apa peralatan yang lama sudah rusak?"
"Belum."
"Terus kenapa sudah membeli lagi?"
"Untuk cadangan."
"Lalu ini?" Satria menunjuk barang lainnya lagi.
"Pakaian, sepatu, aksesoris, dan segala yang aku butuhkan. Terlalu banyak jika aku sebutkan dan akan membuatmu pusing. Aku juga belikan untukmu."
"Hmm ..." pria itu menggumam.
"Dan hari ini aku senang sekali. Terimakasih sayang." Sofia merangkul pundak Satria, kemudian mengecup sudut bibirnya begitu mesra. Yang segera saja membuat pria itu terdiam dengan senyum yang dia tahan.
"Lalu kamu?" Kini Dimitri yang bertanya kepada Rania. Karena barangnya yang di masukkan kedalam rumah tidak sebanyak milik ibunya.
"Itu ... mmm ..
"Apa?"
"Ada stroller, box bayi, dan semua yang berhubungan sama bayi lah, apa lagi? kan sebentar lagi aku melahirkan."
"Benarkah?"
"Iya, kandunga aku kan udah 7 bulan, itu artinya dua bulanan lagi si kembar lahir kan?"
"Iya juga. Tadi check up?"
"Iya."
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Baik. Beratnya normal, dan semuanya bagus."
"Jenis kelamin mereka?"
"Duh, aku lupa soal itu. Tapi kalau nggak salah tadi kayaknya laki-laki sama perempuan deh."
"Oh ya?"
"Iya."
"Satu pasang kan? ah, .. leganya." Dimitri mengelus dadanya sendiri.
"Lega apanya?"
"Sudah lengkap maksudnya."
"Emangnya kenapa kalau udah lengkap?"
"Tidak apa-apa," pria itu tertawa.
"Terus yang sedang mereka turunkan itu apa? kenapa tidak di bawa masuk ke sini?"
"Itu ... eee ...
"Apa?"
"Kamu marah nggak kalau aku bilang?"
"Iya apa? kenapa aku harus marah?"
"Tadi pulang dari rumah sakit kita lewat dealer motor."
"What?"
"Dan aku lihat ada motor matic yang lucuuuuu banget. Warnanya merah ada blink-blinknya gitu. Pas aku tanya, katanya itu ada yang custom tapi nggak jadi soalnya yang mau belinya sakit dan nggak bisa pakai motor lagi. Makanya mau mereka jadiin pajangan aja di dealer."
"Terus?"
"Ya aku beli, kan lucu." Rania tanpa banyak lagi alasan.
"Hah?"
"Jadi biar hamilnya udah besar tapi aku tetap masih bisa motor-motoran."
"Astaga! kamu sudah 7 bulan Zai."
"Iya aku tahu."
Dimitri menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nggak akan ke jalan raya, cuma di sini aja. Paling ke taman belakang. Kemarin papi udah janji mau benerin jalannya pakai aspal biar mulus."
"Ya Tuhan!"
"Matic kan aman yang, aku nggak akan kebut-kebutan."
"Tetap saja Zai, ..." Dimitri tampak frustasi, kesal namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
🌹
🌹
🌹
No caption 😆😆😆